Ada Seni di Meja Saji chapter 1

Chapter 1

Setelah aku lulus sekolah menengah pertama (SMP), Ayah menyarankan aku masuk Jurusan Tata Boga Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Tegal. Namun aku telanjur diterima di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 3 Tegal.

Aku menjalani masa sekolah sebagai masa yang luar biasa. Saat kelas XII, menjelang kelulusan, aku meminta saran dari orang tua untuk memilih pendidikan lanjutan dan jurusan yang identik dan dominan dengan wanita, yakni tata boga. Namun Mama kurang setuju karena biaya kuliah dan praktik di jurusan itu mahal.
Rida Allah adalah rida orang tua. Kalimat itu benar.
Aku mengikuti seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN) dan seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri (SBMPTN) dengan salah satu pilihan, masuk jurusan tata boga. Namun gagal.

Ketika mengikuti ujian mandiri untuk masuk ke perguruan tinggi yang sama, aku tidak memilih lagi jurusan itu. Aku memilih bahasa Indonesia dan sejarah. Alhamdulillah, aku diterima di Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang.
Semester satu kulalui seperti mahasiswa baru lain. Aku mengikuti organisasi dan komunitas serta rajin kuliah. Aku masuk ke organisasi kepramukaan dan komunitas seni teater di fakultas.
Aku masih gemar nongkrong hingga larut malam saat kuliah. Suatu saat, seorang kawan menyarankan aku untuk nongkrong di Kedai ABG. Itulah salah satu kedai di sekitar kampus yang unik dan nyaman untuk ngopi, baik bersama-sama maupun saat suntuk sendirian. Akhirnya aku pun sering nongkrong di kedai itu. Hingga suatu saat aku berangan-angan bisa bekerja di kedai itu, meski hanya menjadi pelayan dan tukang bikin kopi.

Melihat susu rempah yang diaduk berubah warna menjadi merah muda, cukup membuatku bungah. Saat memesan kopi susu, mengaduk, kemudian menyeruput membuatku tersenyum. Entahlah, candu macam apa yang membuatku terpana.

Hari demi hari berganti. Aku mulai jarang menyambangi Kedai ABG. Suatu saat aku mendengar kedai itu tutup. Aku merasa kehilangan. Aku rindu untuk bisa kembali ngopi di kedai itu.
Kegemaran nongkrong kulanjutkan di Nir Café & Workingspace yang dikelola Mas Ken, Mbak Ika, dan kawan-kawan. Penerimaan mereka pada pelanggan seperti pada keluarga. Mereka setia menyambut pelanggan yang datang. Hangat dan menyamankan. Sampai suatu ketika, aku diajak bekerja di Nir, menggantikan temanku yang cuti.

Seminggu pertama bekerja di Nir kulalui penuh ketegangan. Saat Mbak Ika memperhatikan dan memandang saat aku bekerja, sungguh membuatku merasa tidak nyaman dan tertekan. Aku sering salah, kena tegur, dan lain sebagainya. Namun itu justru membuatku kuat dan bertambah pengalaman.
Terima kasih, Mas Ken dan Mba Ika. Kalian sudah menjadi rekan kerja yang baik, yang mengajari aku bagaimana membuat minuman dan makanan yang indah dan nikmat.

Dari mereka, aku belajar bahwa kondimen atau bahan-bahan di dapur tidak bisa kita gunakan secara sembarangan. Kita harus menakar secara benar dan menyajikan secara indah. Soal makanan bukan cuma soal rasa. Keindahan makanan dan minuman juga penting. Begitu kata mereka.
Itu selaras dengan pernyataan dalam buku yang pernah kubaca, Sejarah Rempah karya Jack Turner. Dalam buku itu disebutkan, meja saji sama dengan panggung pertunjukan; harus ditata secara indah seolah-olah pementasan akan dimulai.

Lebih-kurang empat bulan aku bekerja di Nir. Awal Agustus 2019, saat masih bekerja di Nir, aku memperoleh tawaran kerja di tempat lain. Momo, kawanku, memintaku menggantikan dia bekerja di Kedai Kopi Kang Putu. Aku belum menjawab dan menyanggupi tawaran Momo dan masih merahasiakan kabar itu pada siapa pun.
Pengujung Agustus 2019, Mas Ken memberi tahu kami — aku dan Kombor, rekan sekerja akan menutup Nir. Malam itu juga aku memberi tahu Mas Ken dan Mba Ika bahwa Momo menawarkan pekerjaan padaku untuk menggantikan dia bekerja di Kedai Kopi Kang Putu. Mereka menyambut baik kabar itu dan mendukung penuh jika aku menerima tawaran Momo.

***

Sore itu, aku senang bisa berjumpa Kang Putu. Dia mewawancarai secara singkat dan menjelaskan mengenai hak dan kewajiban saya jika bersedia bekerja di kedainya. Dia menemuiku di tengah rutinitas harian, saat sedang menyapu halaman rumah. Intinya, saat itu pula, Kang Putu menerima aku untuk bekerja di kedainya.
Malam hari, aku pelatihan di kedai sebelum benar-benar bekerja. Namun Momo, yang bakal kugantikan, saat itu harus pulang lebih awal karena saudaranya meninggal. Adapun Kang Putu berangkat ke kantor. Aku pun akhirnya harus bekerja sendirian.

Aku masih ingat, hari pertama bekerja itu adalah Sabtu malam Minggu. Pelanggan cukup banyak. Aku hampir pusing dan bingung, tak tahu harus melakukan apa. Beberapa saat aku terdiam, memikirkan gelas apa yang harus kugunakan untuk menyajikan kopi rempah. Akhirnya aku menarik napas, memberanikan diri menggunakan gelas besar. Keputusan itu kuambil berdasar pengalamanku minum kopi rempah di Kota Lama. Tak ada masalah, karena malam itu hanya ada seorang pemesan kopi rempah.

Aku berterima kasih pada Kang Putu yang telah memercayai sepenuh hati pada awal kerjaku. Apalagi aku pun berprinsip, tidak takut salah saat berkiprah di dapur. Sebab, jika memulai dengan keraguan akan menimbulkan sesuatu yang kurang mengenakkan.

Di sela-sela kerja Kang Putu sering mengingatkan aku tentang kebersihan. Dia juga meminta saran dan kritik dari pelanggan. Bila mendapati makanan dan minuman yang kurang layak dikonsumsi, harus mengganti secara gratis. Begitu pula jika ada minuman yang tumpah atau gelas pecah. Bagi Kang Putu, itu lumrah di sebuah kedai, kafe, atau rumah makan.
Itulah yang lazim pula terjadi sejak awal popularitas table manner, penataan meja saji, di Benua Biru atau Eropa. Makanan atau minuman yang tersaji di atas meja tidak hanya indah, tetapi harus juga bersih. Peralatan dan cara memasak juga amat penting. Ketika gelas kotor atau sendok jatuh, misalnya, kami harus segera menyingkirkan dan mengganti dengan peralatan bersih. Ketika terkena flu, kami pun menggunakan masker saat memasak agar pelanggan tetap nyaman saat menikmati hidangan.

November 2019 membuat aku kembali teringat pada angan yang lama terpendam. Alhamdulillah, kini, angan itu terwujud. Ya, kini, aku bisa belajar dan bekerja di bidang tata boga tanpa harus melewati pendidikan di perguruan tinggi. Aku belajar, melayani tak sekadar basa-basi, tetapi berlandaskan ketulusan hati.

Ada seni di meja saji.


cerbung.net

Ada Seni di Meja Saji

Score 8.4
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Setelah aku lulus sekolah menengah pertama (SMP), Ayah menyarankan aku masuk Jurusan Tata Boga Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Tegal. Namun aku telanjur diterima di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 3 Tegal. Aku menjalani masa sekolah sebagai masa yang luar biasa. Saat kelas XII, menjelang kelulusan, aku meminta saran dari orang tua untuk memilih pendidikan lanjutan dan jurusan yang identik dan dominan dengan wanita, yakni tata boga. Namun Mama kurang setuju karena biaya kuliah dan praktik di jurusan itu mahal. Rida Allah adalah rida orang tua. Kalimat itu benar.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset