Aku Berharap Kalian Masih Seperti Dulu episode 1

“Tahun ini kita belum bisa lebaran seperti tahun lalu anakku, air mata Sunardi membendung dipelupuk matanya…dia mencoba mengkedip-kedipkan agar tak jatuh dikepala anak terkecilnya Wulandari. Nafasnya panjang mengenang saat-saat masih punya segalanya tapi Tuhan telah memintanya lagi. Sakit hatinya dikhianati teman-teman yang klihatan mendukungnya tapi malah memporak porandakan masa depannya. ” Aku tlah bersalah tidak mendengar saran istri dan anak-anakku, aku terlalu egois.., aku terlalu suka dipuja orang-kepercayaanku…, dan aku terlalu ingin menguasai apa yang istri dan anakku inginkan.., aku suka memaksakan diri dan yang lebih jelek lagi aku terlalu over protectif pada mereka, sehingga usaha istriku bangkrut karena aku pakai uang itu, aku terlalu mengaturnya juga mendikte mereka, aku diktator…!!!. Sunardi menelan ludah tak ada orang terjahat seperti diriku ini kecuali aku,..sebenarnya aku ingin membahagiakan mereka…tapi aku salah mengambil keputusan karena menampik saran dari istri dan anak-anakku dan lebih condong  memihak karyawan dan teman yang menusuk aku….kini hanya hutang yang menyelimuti aku…..” Bajingan kamu  Atmo…pandai sekali kau kendalikan perusahaanku dan kau buat aku takluk dengan mulut manismu…”, semua karyawanku hanya ingin menggerogoti uangku…, dan aku tertipu dengan sanjungan manisnya…Bodohnya aku..ya Allah…..kini aku menangis sendiri sementara anak-anakku mencibir diriku..gak becuslah..gobloklah..tak bisa memberi kenyamanan pada mereka..dan membuatnya streess…

Aku hanya masih bisa bersandar pada istriku sebagai tempat keluh kesahku, akupun tahu kalau hatimupun jengkel dengan keadaanku, aku terlalu galak padamu…air mata Sunardi mengalir ketika mengangkat Wulandari ketempat tidurnya. Rasa penyesalannya tertumpahkan di kamar mandi, dengan membasuh muka dan menutup pakai handuk Sunardi menuju kekamarnya, istrinya Kartini tahu…tapi tak berani mendekatinya karena takut kalau suaminya marah. Kartini sementara masih menerima keadaan suaminya yang terpuruk dan mencoba memperbaiki keadaan dengan usaha seadanya.

Tukang tagih, Dept Collector dan angsuran kredit pada ngumpul didepan gerbang, Sunardi menyuruh Kartini menyelesaikan mereka….Kartini mendongkol..dasar pengecut…tapi Kartini menepis kejelekan suaminya. dan ia memaafkannya. Kartini segera menemui tamu tak diundang tersebut. Dia didamprat habis-habisan.

” Kenapa marah-marah, saya benar-benar tak tahu…” sahut Kartini

” Tapi ibu kan yang menanda tangani ini juga kenapa tidak tahu”

” Saya diancam suami saya…”

” Suami ibu itu penipu,…bajingan…” DC tersebut marah-marah

” Lo kan mas juga menerima uang suami saya…berarti mas juga penipu dong…?”

” Ibu tidak tahu itu urusan lain..”

” Kalau sudah tahu saya tidah tahu..kenapa situ marah-marah sama saya..?”

DC tersebut jengkel dengan jawaban Kartini yang selalu tidak tahu dan Kartini disuruh menyampaikan surat kecil untuk diberikan suaminya kalau pulang. Mereka pada pulang Kartini menutup gerbang rapat-rapat dan memberikan kertas kecilnya pada suami. ” Bagaimana , DC tadi marah-marah ya..?”  “Kenapa kamu menginginkan aku didamprat orang, kenapa tidak kamu sendiri yang terima dampratan itu” Kartini menangis karena sudah dipermalukan orang lain karena ulah suaminya. ” La terus aku harus bagaimana..? setiap dia datang ganti- ganti orang selalu minta uang transport, aku gak punya duwit mah..?!”  ” Salah kamu sendiri kenapa kau beri uang transport ” jawab Kartini ketus yang membuat Sunardi jadi marah dan memukul meja , ini yang membuat Kartini tertekan …”tak ada yang benar bila berbicara sama kamu..yang selalu benar sendiri dan harus menuruti kesalahan kamu…kenapa tidak kamu hadapi sendiri….yang akhirnya kita bertengkar jadinya. Anak-anak mereka mendengarkan pembicaraan orang tuanya, Dennis si sulung dan Arman anak keduanya ikutan marah ” Berisik..pusing aku, kapan tenangnya urusan seperti ini…aku juga streess mah,, pah… ” Begitu Dennis dan Arman berucap mereka membanting daun pintu. Kartini diam, Sunardi masih ngedumel dicaci anak-anaknya.

Sunardi mendapat pekerjaan kecil-kecilan dan diawasi sendiri..mengerjakan pemborongan Tempat Pembuangan Akhir berupa bak sampah , sementara Dennis dan Arman memiliki usaha sendiri dengan berjualan online produck kecantikan  dia tak mau bekerja mengikuti orang lain, istrinya menekuni usaha yang dulu ditinggalkan di consumen credit khusus pedagang kecil dengan credit mingguan, Meskipun Dennis memiliki usaha sendiri tapi ia masih membantu orang tuanya dalam administrasi, ayahnya masih bersukur anak sulungnya masih mau memperhatikan dalam batasan tertentu meski Dennis dalam membantu sambil bersungut-sungut, Pak Sunardi menerimanya dengan iklas. Kartini menjalankan usaha ia lakukan sendiri dan menagih sendiri pula. Kartini memiliki kiat sendiri cara mengelola keuangan, dengan modal satu juta dalam lima bulan bisa menjadi lima juta dan sepuluh bulan bisa menjadi dua puluh lima juta.

Ketika akhir tahun Sunardi menghitung keuntungan ada sekitar 500.juta, Kartini mengambil keuntungan 15 juta dan Dennis serta Arman mengantongi 250 juta. Mereka berniat membeli rumah dengan uang Sunardi bapaknya  dan separonya untuk membayar hutang-hutang Sunardi, Uang Dennis dan Arman untuk keperluan harian sedangkan uang Kartini dipakai sebagai dana cadangan dan di depositokan, karena Kartini khawatir uang itu bisa ikut tercampur putaran usahanya. Kehidupan mereka mendekati normal karena bertanggung jawab dengan urusan masing-masing. Pak Sunardi membeli  mobil avanza meskipun bekas karena untuk operasional proyek sepeda motornya ditaruh dirumah untuk keperluan anak-anak dan istrinya, pak Sunardi juga  menambah satu personil sebagai mandor merangkap pelaksana dan logistik.Dennis membantu sebagai  admint dan urusan kantor hanya untuk mengontrol kegiatan bapaknya agar tidak melenceng seperti dulu lagi. Tapi Dennis tetap konsen di usahanya sendiri, karena disitu ada Arman maka Dennis bisa bantu bapaknya. Wulandari tahun ini akan masuk SMP dana cadangan sudah dipersiapkan Kartini, bulan depan Wulandari ujian. Gadis kecil itu begitu tahan banting digoyah badai keluarga dan keadaan sekolahnya yang putus nyambung karena harus berpindah rumah beberapa kali. Wulandari akhirnya lulus dengan memuaskan  dan diterima di SMPN 15 Semarang, Kartini segera memberesi  semua keperluan Wulandari dan mengurus antar jemput sekolah anaknya. Dennis dan Arman senang sekali ditengah bencana melanda Wulandari masih konsen di sekolah dan semua itu tak mempengaruhi daya fikir adik perempuan satu-satunya. Dennis dan Arman merencanakan liburan yang cukup lama sekeluarga  dan  hari ini papah dan mamah akan aku ajak rundingan. Sore itu Kartini pulang agak lambat, karena ada pengajuan kredit cukup banyak untuk minggu ini sementara asistennya Debi dan Wawan pengajuannya melonjak banyak sekali, Kartini pulang sambil membawa berkas untuk di chek ke validtannya. Sebelum masuk kamar, Arman mencegat Kartini ” Mah nanti sehabis shollat Maghrib kita rapat sebentar ya..?”

” Tumben kalian mengadakan rapat, terus papah kamu pulangnya jam berapa belum jelas..?!”

“Gak apa, gampang nanti papah…pasti mau….”

” Telpon dulu…ajak bicara papahmu…siapa tahu papahmu ada ide baik juga..?”

” Mah…papah itu dikasih tahu ya…malah ngatuur…bisa mati kutu lagi kita..!?”

” Oke..kalau nanti papahmu sudah pulang ya diajak, kalau belum pulang biar mamah yang kasih tahu, tapi paling tidak papahmu akan mamah telpon dulu masih dimana dia”

” Siip… mamah atur keadaan papah ya…jangan lupa habis Maghrib, kita ketemuan dimeja makan”

Kartini segera mandi dan melakukan yoga sebentar, hape berbunyi  ia biarkan sampai beberapa kali dan akhirnya ia angkat ” Asalamu’Allaikum papah, ada apa jam sekian kan jatah pulang kok malah telpon ?”

” Ohhh..jadi agak lambat..pulangnya, padahal ini anak-anak mau mengajak pertemuan habis maghrib, gak bisa kumpul dong..?”

“Ya deh, aku pamitkan mereka…tapi segala keputusan deal ya..?”

” Oke…hati-hati pah…” Kartini mengakhiri percakapan dan segera melaksanakan shollat, Dennis mengetuk pintu agar mamahnya segera di ruang makan,

Dalam pertemuan itu Dennis meminta Kartini untuk mengeluarkan uang harian yang katanya cukup kalau separoh saja, karena uang itu akan dipergunakan untuk refresing ke Bali satu minggu kita sudah dapat tour and traveling ke Bali dan hotelnya pun sudah include jadi tolong sisihkan waktu satu minggu dan Kartini bisa mengaturnya sampai clear urusan mamah,”berarti mamah setuju kan.” Dennis dan Akbar memastikan

” Iya , mamah setuju dengan usulan kalian.” Kartini mengabulkan permintaan anak-anaknya.

Kartini menghitung keperluan Debi dan Wawan , ternyata ada 15 juta yang harus aku keluarin, aku harus bilang sama Dennis dan Arman. Ibu langsung ketemu  anaknya yang masih di ruang kerjanya dirumah. ” Iya mah gak apa, masih cukupkan buat kelanjutannya selama 10 bulan..? ” Iya insyaAllah cukup dan posisi tetap aman.” Kartini lega anak-anaknya menyetujui pengambilan uang harian untuk menambah modal usahanya, tiba-tiba Arman berteriak….Brow..brow lihat nih hasil jualan kita meledak dipasaran, pesanan menjulang di Inggris dan Norwegia ratingnya tinggi kita dapat bonus dari PT Golden Cosmetica 50.000 dolar US  dan sudah ditransfer di rekening kita brow… Arman kegirangan..Dennis melihat di E bankingnya ternyata benar sudah ditransfer. Kita bisa membuat perangkat yang lebih baik lagi agar jangkauan lebih kuat..Yeeesss..!!! Dennis memeluk Kartini dan adiknya Arman.

Bunyi klakson mobil Sunardi terdengar dari dalam, Kartini segera membukakan pintu gerbang dan menyambut kepulangannya. ” Bagaimana meeting sama anak-anak tadi..sudah clear..?” Sunardi menanyakan hasil ketemuan tadi. ” Sabarlah dahulu, masuk rumah terus mandi…bersih-bersih dulu nanti baru mamah ceritain okey..?” Sunardi segera ke dalam dan mandi, Kartini mempersiapkan pakaian suaminya selanjutnya ke kamar Wulan melihat kegiatannya,  ternyata Wulan  sedang membaca buku-buku pelajaran yang hampir ditinggalkannya. ” Mamaaaahh…..peluk maahh…Wulan kangen peluk mamah.” kebiasaan Wulan selalu pingin dipeluk Kartini kalau ke kamarnya. Wulan menemani tiduran ” Bagaimana kamu sudah siap ke Bali..? ”

” Siap..siap sekali mah..!” Kartini senang  mendengar kesiapan Wulan  dan mendengarkan cerita Wulan saat mengambil seragam barunya .

” Wulan, mamah sama papah dulu ya ?”

” Okey mamah…” Wulan menjawab dengan manjanya, dan Kartini segera kembali ke suaminya.

” Mau makan pah..?”

” Masak apa hari ini maah..?”

” Mbok Rohani tadi masak asem-asem dan goreng ikan lele ayuk makan..?!”

Sunardi makan malam di rumah , terasa damai dan nyaman sekali, Kartini menceritakan hasil ketemuan tadi. ” Ayo kita ke ruang kerja anakmu..kita harus tahu apa rencananya yang akan datang”

Sunardi canggung untuk masuk tapiKartini memaksanya masuk, ” Ternyata ruang kerja anaknya sangat mewah dan artisrik” Dia selama ini tak memperhatikan perkembangan anak-anaknya, setiap hari ia pulang malam terus tidur , dia masih jengkel karena  dibilang gak becus dan bodoh. Kartini yang selalu mendorong anak-anaknya sehingga bisa membuahkan fikiran yang sehat.

” Papaahhh…” teriak Dennis dan Arman

” Tumbeeeen..ayoook masuk ..sini..paahhh..” Sunardi merasa terharu sekali ternyata anak-anaknya tidak membencinya, perasaannya yang keliru tlah membentuk keegoisannya. dan tinggi hati serta kesombongan diri.

” Maah, ini yang akan kita lakukan selama seminggu di Bali.” Arman memperlihatkan step-step di komputer yang sangat rapi, perjalanan ke Bali, Dennis memanggil Wulan untuk menyaksikan kegiatan selama liburan di Bali dari hari pertama sampai kepulangannya.

Dennis dan Arman duduk mengapit Sunardi Kartini memeluk Wulan menyaksikan video yang dinyalakan  Arman, Dia merasa berdosa berfikiran jelek pada anak-anaknya dan memeluk erat keduanya , ” Terima kasih anak-anakku atas kepedulianmu pada papahmu yang sombong ini, terima kasih ya Allah telah Kau kembalikan mereka bersamaku.”

 

Selesai.

cerbung.net

Aku Berharap Kalian Masih Seperti Dulu

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2018 Native Language: Indonesia
"Tahun ini kita belum bisa lebaran seperti tahun lalu anakku, air mata Sunardi membendung dipelupuk matanya...dia mencoba mengkedip-kedipkan agar tak jatuh dikepala anak terkecilnya Wulandari. Nafasnya panjang mengenang saat-saat masih punya segalanya tapi Tuhan telah memintanya lagi. Sakit hatinya dikhianati teman-teman yang klihatan mendukungnya tapi malah memporak porandakan masa depannya. " Aku tlah bersalah tidak mendengar saran istri dan anak-anakku, aku terlalu egois.., aku terlalu suka dipuja orang-kepercayaanku..., dan aku terlalu ingin menguasai apa yang istri dan anakku inginkan.., aku suka memaksakan diri dan yang lebih jelek lagi aku terlalu over protectif pada mereka, sehingga usaha istriku bangkrut karena aku pakai uang itu, aku terlalu mengaturnya juga mendikte mereka, aku diktator...!!!. Sunardi menelan ludah tak ada orang terjahat seperti diriku ini kecuali aku,..sebenarnya aku ingin membahagiakan mereka...tapi aku salah mengambil keputusan karena menampik saran dari istri dan anak-anakku dan lebih condong  memihak karyawan dan teman yang menusuk aku....kini hanya hutang yang menyelimuti aku....." Bajingan kamu  Atmo...pandai sekali kau kendalikan perusahaanku dan kau buat aku takluk dengan mulut manismu...", semua karyawanku hanya ingin menggerogoti uangku..., dan aku tertipu dengan sanjungan manisnya...Bodohnya aku..ya Allah.....kini aku menangis sendiri sementara anak-anakku mencibir diriku..gak becuslah..gobloklah..tak bisa memberi kenyamanan pada mereka..dan membuatnya streess..

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset