Aku Melihatnya dari Jendela episode 1

“Aku ingin pulang!” jerit suara seorang gadis.

Aku terlonjak dari tidur dan terduduk di tengah ranjang. Jantung berdebar, keringat merembas lewat pori-pori wajah. Mata memandang ke depan sana. Di atas nakas, seorang gadis berpakaian serba putih berdiri menundukan kepala, hingga rambut panjangnya menutupi muka.

Aku menelan saliva. Apa yang kulihat di dalam mimpi, ternyata nyata. Gadis itu datang … dan ingin pulang. “Ke mana? Kauingin pulang ke mana?!”

Gadis misterius itu menunjuk ke seberang jalan. Sebuah rumah besar dengan halaman luas di luar sana. Lewat jendela aku bisa melihatnya.

Kosong.

***

Mengemasi barang ke dalam koper untuk nanti dibawa. Ibu bilang, kami akan pindah ke rumah baru. Ini memang bukan kali pertama harus berpindah kediaman. Setiap kali Ayah dapat tugas ke luar kota dalam waktu enam bulan atau lebih, kami juga akan ikut pindah. Bisa dibilang, kami hidup nomaden, berpindah-pindah tempat.

Kadang aku bertanya pada mereka, kenapa harus selalu pindah. Ayah bilang, ia tak ingin selalu jauh dengan keluarga, sekalian Ibu juga tipe orang yang suka hal-hal baru—maksudnya cepat bosan. Sungguh, bagiku memang aneh.

Namun, bagaimana pun juga aku harus mengikuti apa mau mereka. Apa sih yang bisa dilakukan laki-laki seusia murid SMA kelas 2 ini, hanya bisa mengekor. Hidup berpindah-pindah seperti ini, membuatku tak bisa banyak mengikat tali pertemanan. Hingga imbasnya aku jadi terlihat seperti si pemalas yang selalu mengurung diri di dalam kamar, padahal kenyataannya tidak.

“Revan, sudah semua?” suara Ibu memanggil dari luar. Aku hanya menjawab sekenanya dan menarik koper.

Namun, sebelum pergi, kupandangi kamar yang kini kosong. Enam bulan terakhir, kamar inilah yang menjadi tempat berlindung paling aman. Sekarang, untuk yang kesekian kalinya, aku harus melupakan kenangan seperti itu.

Kaki melangkah ke luar, Ayah dan Ibu sudah menunggu di mobil. Hari ini, tujuannya sebuah kota kecil di pinggir selatan Jawa. Kata Ayah, kami akan tinggal di pesisir, artinya setiap waktu dapat melihat pantai. Mungkin karena alasan ini juga Ibu sangat bersemangat ingin segera pindah. Jika kalian pikir aku akan senang juga, salah besar! Dari dulu aku benci yang namanya laut. Melihatnya saja sudah membuatku mual, sungguh.

Pergi untuk pulang ke rumah baru.

Butuh waktu sehari, sampai perjalanan kami berakhir, mobil diparkirkan di halaman rumah sederhana yang luas. Turun dari mobil, seorang pria dengan pakaian batik rapi menyapa. Aku tak terlalu memedulikannya dan menelusur ke sekitar.

Tempatnya sejuk dengan pohon kelapa di kanan dan kiri jalan, khas pesisir. Rumah sederhana berjajar rapi di pinggir jalan selebar tiga meter itu. Tidak sesuai dengan dugaanku, tapi itu lebih baik. Jarak antara rumah ini dengan pantai lumayan jauh. Meski bau anyir air laut dan suara deburan ombak masih terdengar, tak begitu mengganggu.

Ya, tak begitu menganggu kecuali tatapan kosong dari seorang gadis di bawah pohon kelapa sana. Ia berdiri tenang dan terus memperhatikanku. Ada apa dengannya?

“Revan.” Tangan Ayah menepuk pundakku. “Ayo masuk, udah sore dan kita perlu beres-beres.”

Aku mengangguk dan kembali melihat ke arah gadis yang menatapku tadi. Tidak ada. Ke mana perginya?

***

“Ombak besar yang tiba-tiba datang, menyeret mereka secara bersamaan. Meski kedua orang tuanya selamat, tapi anaknya tidak …” tutur pria yang sore tadi menyambut kedatangan kami, Pak Kartono.

Malam ini beliau kembali ke sini sebagai bentuk pengakraban diri, mungkin. Lagi pula, pria berkumis tebal tersebut adalah pemilik rumah ini—kemudian disewa oleh Ayah.

“Korbannya orang mana, Pak?” tanya Ayah dengan mimik wajah serius.

“Sama seperti Pak Arya, mereka juga pendatang yang tinggal beberapa bulan di rumah yang saya sewakan. Rumahnya berada tepat di seberang jalan rumah ini.”

Aku mengangkat wajah. Mendengar ucapan pria setengah baya itu, membuatku sedikit tertarik, lantas bertanya, “Sekarang mereka ke mana, Pak Kartono?”

Ayah dan Pak Kartono menoleh ke arahku dengan raut aneh, mungkin terkejut dengan pertanyaanku yang tiba-tiba. Namun, entah dengan penilaian Ayah, aku lupa dengan nasihatnya kalau dilarang menyela pembicaraan orang tua.

“Mereka sudah pergi dua hari yang lalu, entah ke mana,” jelas pria itu. Aku mengangguk.

“Tapi, pas mengembalikan kunci, Pak Agung bilang ingin ke Surabaya,” lanjut Pak Kartono.

Aku mengangguk lagi, lantas percakapan dilanjut oleh Ayah. Membiarkanku kembali bungkam. Tanpa sengaja, netra ini menangkap sosok gadis bergaun putih tengah berdiri di seberang jalan. Aku menajamkan penglihatan, tapi saat angin menggerakan gorden menutupi jendela secara sekilas, setelahnya, gadis berambut panjang itu hilang.

Sebenarnya, dia siapa?

***

Perjalanan jauh tadi siang, menyisakan penat yang menyiksa. Aku merebahkan diri ke atas kasur, menatap plafon putih di atas sana. Pikiran jauh melayang ke awang-awang, kembali teringat dengan sosok gadis tadi.

Baru datang, aku sudah dua kali melihatnya. Munculnya pun juga secara misterius, semisterius caranya menghilang. Jika dia salah satu anak di desa pesisir ini, harusnya bertamu dengan membawa orang tuanya.

Hahhh … cewek desa itu memang kebanyakan pemalu.

Aku memutar tubuh dan mengambil gawai, melihat jam yang baru menunjuk angka sembilan. Meski badan terasa penat, entah kenapa mata belum menunjukan rasa kantuk. Berguling ke kanan, ke kiri, tetap saja tak bisa.

Lebih baik nulis aja. Kuambil tas, meraih buku dan pulpen di dalamnya. Tarik kursi ke arah meja belajar, dan sekarang termenung. Bingung mau menulis apa. Satu, dua, tiga, lima menit, masih setia menatap garis-garis di kertas.

Tak ada ide yang mau datang, kecuali … tentang sosok itu. Seorang gadis misterius bergaun putih, berwajah pucat, dengan tatapan mata sendu. Jika kutaksir, mungkin ia berumur 15 atau 16 tahun, tak jauh dari umurku sekarang.

Baru mulai menulis sebuah kata, kaca jendela terdengar diketuk dari luar. Aku menoleh, memastikan siapa yang malam-malam begini iseng mengetuk jendela. Namun, saat kuperhatikan, suara itu tak berbunyi. Sampai kemudian saat aku kembali menoleh ke buku, jendela kembali diketuk. Seketika tubuh merasakan ada hawa aneh yang menyelimuti, seolah ada mata yang memperhatikan entah di mana.

Jantung mulai berdebar cepat, keringat merembas keluar. Hawa dingin dan panas mendadak terasa berganti dengan cepat.

Aku menelan saliva, mendengar jarum detik pada jam yang terdengar lebih keras. Gorden jendela juga tampak bergerak meski tak ada angin.

Perasaan ini, aku takut. Takut akan suatu hal yang masih ambigu. Aku memilih berdiri dan berjalan mendekati jendela. Menyibak gorden itu untuk memastikan sendiri, ada apa di luar sana.

Sebuah halaman kosong, jalan yang sepi, dan rumah sederhana dengan lampu yang menyala?

Aku mundur menjauhi jendela. Kembali menutup gorden, dan berpikir … bukankah Pak Kartono bilang, penhuni rumah itu sudah pindah? Lantas, siapa yang menyalakan lampu itu, apakah Pak Kartono. Namun, masa iya lampu kamar juga dinyalakan?

Gawai di atas kasur tiba-tiba berbunyi, membuatku terlonjak. Kuambil dan lihat siapa yang menghubungi. Namun, saat gawai sudah di atas tangan … suara deringnya masih terdengar.

Aku mengerutkan dahi. Seingatku Ayah atau Ibu nggak memakai nada dering yang sama denganku. Lantas, itu gawai milik siapa?

Suaranya masih terdengar, sumbernya seperti dari bawah. Apa di lantai satu, tapi bukan, terlalu keras. Di kolong ranjang? Bisa jadi. Mungkin gawai milik Pak Kartono yang hilang.

Segera aku menundukan kepala dan melihat ke kolong. Namun, sesosok berambut panjang dengan wajah gosong dan mata yang hampir keluar, tampak memegang gawai yang menyala. Ia tiba-tiba memutar kepalanya ke arahku dan menyeringai lebar, hingga menunjukan taring dan lidahnya yang panjang menjulur ke arahku.

Kontan aku meloncat berdiri dengan napas tak beraturan. Bau anyir darah menusuk hidung, membuatku mau muntah. Makhluk apa barusan?! Mengerikan sekali.

Aku bergidik ngeri dan mundur hingga punggung menempel pada pintu. Makhluk di kolong kasur itu merambat ke luar, tangan hitam dengan kuku sepanjang jari itu menggores lantai, suara deritnya terdengar menyayat hati, membuatku tanpa sadar menutupi telinga serta memejamkan mata.

“Pergi! Pergi!” teriakku sebisanya, meski kuyakin suara ini hanya terdengar seperti cicitan tikus. Dada berdebar, mata melotot melihat makhluk berambut panjang itu berjalan dengan merangkak. Terus mendekat.

“Tidak! Pergi!”

Aku terlonjak dan terbangun dari kasur. Dadaku masih berdebar, hanya saja … suasananya berbeda. Aku berada di tengah ranjang dengan selimut menutupi setengah badan.

Jadi, tadi hanya mimpi?

Suara derap langkah kaki menggema di luar pintu, terdengar terburu-buru dengan perdebatan yang terdengar samar. Hingga tak lama kemudian dua orang yang sangat asing, masuk ke kamarku.

Siapa mereka, dan kenapa pria itu membawa sebilah pisau, serta seorang wanita yang tampak menangis pilu. Tunggu, tidak! Mereka berjalan mendekatiku. Aku meloncat dari ranjang … apa mereka ingin membunuhku?

Namun, saat aku menjauhi ranjang, mereka tetap mendekat tapi tak menatapku. Jelas netra melihat ke arah ranjang, di sana … gadis itu?

Gadis yang kulihat tadi sore, yang selalu diam di kejauhan seolah memperhatikan setiap gerikku. Kenapa dia mendadak ada di sini, sejak kapan?!

Pria yang seumuran Ayah itu berdiri di samping ranjang. Ia mengangkat tinggi-tinggi pisau di tangan, lantas dengan cepat menusuk tepat ke jantung gadis yang sedang terlelap itu.

Mereka bercanda, ‘kan?

“Aaaa!” jerit gadis bergaun putih, kembali membuatku terlonjak bangun, dan terduduk di tengah ranjang, dengan selimut menutupi setengah badan.

Lagi? Apa yang barusan juga mimpi?

Debar di dalam dada masih terasa, keringat juga membasahi tubuh. Kulihat telapak tangan yang bergetar. Apa aku sudah benar-benar terbangun?

Kuedarkan pandangan ke seisi ruangan. Sepi, karena memang malam, bahkan lolongan anjing di kejauhan terdengar menggema di kegelapan. Sisa ketakutan membuatku bergetar, napas terengah, dada serasa digedor terus dari dalam.

Tadi hanyalah mimpi buruk, dan sekarang sudah berakhir.

Namun, tunggu … ada sesuatu di atas nakas sana, berdiri tegap dengan tubuh mungil. Surai panjang menutupi wajahnya yang menunduk.

Aku mengulum ludah, gadis itu … dia di sini.

Aku turun dari ranjang, mendekatinya yang diam. Semakin dekat, tercium bau wangi melati. Mendadak gadis itu mengangkat wajahnya dan berteriak, “Aku ingin pulang!”

Aku tersentak dan mundur perlahan. Dengan sisa keberanian, aku membuka suara, “Pu-pulang ke mana?”

Gadis itu menoleh ke jendela, bukan, tepatnya melihat ke rumah seberang jalan. Di balik jendela sana, aku melihat bayangan siluet dua orang yang seperti berjalan mengendap. Tak berselang lama, satu di antara bayangan itu mengangkat benda runcing, lantas ditusukan ke bawah. Terdengar pekikan pelan, bersamaan dengan tangis yang tertahan.

Aku menutup mulut, masih tidak pecaya dengan penglihatan ini. Kematiannya bukan karena alam tapi ….

“Aku ingin pulang dengan mereka!” Gadis itu tiba-tiba berada di belakangku. Sontak aku terlonjak menjauh.

“Revan! Revan!”

Membuka mata, sedikit silau karena cahaya. Perih. Kenapa? Tubuhku serasa diguncang oleh sesuatu. Ibu?

“Cepat bangun!”

Cahaya hangat dari jendela dengan gorden terbuka, hari sudah pagi.

Aku mengangkat tubuh yang masih lemah, sementara otak kembali mengingat mimpi barusan. Kenapa terasa sangat nyata? Kepalaku berdenyut, terasa nyeri.

Keluar dari kamar, terdengar kegaduhan di luar sana. Dari jendela bisa kulihat wajah-wajah asing berkumpul di halaman. Raut mereka sama, seperti baru melihat sesuatu yang mengerikan. Beberapa polisi juga mondar-mandir, ada juga yang tengah menanyai salah satu warga.

“Mereka sudah menemukanku ….”

Ha? Aku menoleh ke belakang. Tak ada apapun kecuali dapur yang kosong, lantas siapa yang berbisik barusan?

Tubuhku bergidik ngeri, lantas cepat-cepat keluar dari rumah dan berbaur dengan orang lain. Masih ramai, tapi mataku langsung tertuju ke satu arah. Dua orang petugas dengan masker menutupi hidung, menenteng tandu ke luar dari rumah seberang jalan. Aku mencium aroma melati yang kuat, bau ini … sepertinya tidak asing.

“Sudah kubilang, ‘kan, aku sudah ditemukan …” bisik suara gadis yang entah ada di mana. Aku mengedarkan pandangan ke seluruh tempat, hingga mata tertuju pada jendela rumah seberang jalan. Ia berdiri di sana dengan senyum tipis, kemudian menghilang bagai asap tertiup angin. Satu hal yang pasti, di dadanya tertancap sebilah pisau, dan darah yang mengubah gaun bersihnya menjadi merah.

Gadis itu?

Tidak mungkin.

~ SELESAI ~

cerbung.net

Aku Melihatnya dari Jendela

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2020 Native Language: Indonesia
Aku ingin pulang!” jerit suara seorang gadis.Aku terlonjak dari tidur dan terduduk di tengah ranjang. Jantung berdebar, keringat merembas lewat pori-pori wajah. Mata memandang ke depan sana. Di atas nakas, seorang gadis berpakaian serba putih berdiri menundukan kepala, hingga rambut panjangnya menutupi muka.Aku menelan saliva. Apa yang kulihat di dalam mimpi, ternyata nyata. Gadis itu datang … dan ingin pulang. “Ke mana? Kauingin pulang ke mana?!”Gadis misterius itu menunjuk ke seberang jalan. Sebuah rumah besar dengan halaman luas di luar sana. Lewat jendela aku bisa melihatnya.Kosong.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset