Aku Munchausen Syndrome episode 1

Chapter 1

Rinai, itu namaku. Seorang remaja putri yang tanggung. Jika dilihat dengan kasat mata, kehidupanku cukup baik, mungkin sempurna. Lalu untuk apa cerita ini? Bukankah sempurna itu berarti tanpa masalah?

Mungkin aku beruntung terlahir sebagai anak orang kaya, mungkin juga tidak. Ayah seorang pegiat kerja sekaligus pemegang kongsi dagang furniture yang “menggila”. Bisnisnya kini sedang tinggi-tingginya, memperluas daerah kekuasaan hingga ke negeri seberang. Tak dipungkiri berapa keuntungannya perbulan. Seratus kah? Dua ratus kah? Aku tidak tahu, yang pasti jumlahnya tidak akan terhitung jari tangan dan kaki. Ibu juga sama, seorang pengusaha. Namun bergerak di restoran berbintang. Tak tanggung-tanggung, ia pemilik sekaligus koki di restorannya sendiri. Kalau ia mengingat semua kesuksesan ini, Ibu selalu bercerita tentang hidupnya dulu. Ketika ia Memulai usahanya dari dorongan gerobak lalu mulai mendirikan warteg kecil-kecilan. Hingga ibu bisa sampai di titik ini. Ia tidak mau melewatkan masa-masa gemilangnya. Oleh karena itu, dia selalu berada di restorannya dan terus bekerja. Hanya bekerja.

Orang-orang bilang sempurna itu tentang kesuksesan, materi. Tapi untukku, semua kesuksesan itu anehnya membuatku jengkel. Sepanjang hari, aku tak pernah merasakan kehangatan itu. kehangatan yang teman-temanku rasakan, lalu mereka dengan bangganya bercerita di hadapanku. Mereka bersenda gurau dengan ayah bunda, jalan-jalan, sarapan, dan makan malam bersama. Rasanya persis seperti keluargaku, namun terbalik seratus delapan puluh derajat.

Sungguh sebuah ironi sebenarnya, ketika temanku bilang, ” Enak ya jadi kamu, mau ini-itu tinggal bayar. Ga usah repot-repot bawa dagangan ke sekolah. Ga usah juga mikirin gimana uang SPP bisa lunas. Bahagia saja sepertinya bisa kamu beli. “. Bahagia? Reaksiku hanya tersenyum simpul.

Sempat aku bermimpi, seorang anak laki-laki sedang terbaring lemah di ranjangnya. Tubuhnya kurus dan mukanya pucat, sepertinya parah. Namun ia tidak tersungkur sendirian, Ayah dan Ibunya selalu disampingnya, dengan sabar merawat, memberikan semua kasih sayang, harapan, doa, dan semua waktunya demi orang yang sakit ini. Ya, hanya untuk orang yang sakit. Dan sempat aku berpikir, apakah ini sebuah petunjuk? sebuah solusi dari tuhan agar aku bisa hidup dengan kasih sayang mereka?

Aku bangun dari semua “halusinasi” itu dan segera turun menuju ruang makan. Kulihat, sepertinya aku sarapan sendiri… lagi. Hanya sepiring nasi goreng dengan daging ayam, serta brokoli, dan buah untuk pencuci mulut, tak lupa susu yang bagus untuk pertumbuhan. Sempurnalah makananku, empat sehat lima sempurna. suapan pertama, ku tatap kursi di depanku, kosong. suapan kedua, masih saja ku tatap kekosongan. Suapan terakhir, ku rasakan nasi goreng yang terasa semakin asin.

Tiba-tiba terlintas di benakku tentang mimpi itu. Mungkin memang itulah petunjuk tuhan, sebuah jalan keluar agar aku tak menatap kosong kursi meja makan lagi dan bisa menatap wajah mereka yang sedikit keriput. Apakah dengan cara memposisikan diriku dengan anak lelaki itu, aku bisa mendapatkan hal yang sama? Mungkin iya, mungkin juga tidak. Merupakan hal yang bodoh jika aku berpura-pura sakit demi perhatian mereka. Tak masuk akal juga jika mereka percaya, karena mereka pasti membawa dokter. Maka dari itu aku akan mencoba melakukan hal yang benar-benar nyata.

Hari minggu. Ku awasi keadaan sekitar, oke… Ayah sedang bergumul mengurusi perizinan-perizinan di ruang kerjanya, Ibu jam segini masih berada di restoran, dan Bi Ida asyik memasak untuk makan nanti malam, waktunya tepat. Nekat! Aku nekat sekali. Aku ambil sabun dari kamar mandi dan mulai memasukannya kedalam mulut. Erghh..rasanya aneh, tapi baunya memikat, harum sekali. Aku berusaha sekuat tenaga menelannya. Lalu pergi tertidur. Berharap aku dibangunkan oleh pusing, mual, dan sakit perut.

Benar saja, aku muntah, keluarlah semua makananku tadi siang beserta sabunnya sekalian. Aku mengerang kesakitan, meremas perutku kuat-kuat. Sedikit busa keluar dari mulutku. Bi Ida yang sedang menyapu sontak menjerit, membuat kegaduhan. Panik. Ayah segera keluar setelah teriakan yang melengking itu mengganggu pekerjaanya. Berlari ke arah sumber suara. Menatap tak percaya aku yang terbaring dengan mulut berbusa. Persis seperti adegan keracunan di film-film.

Ayah dengan cekatan menekan tombol-tombol di telepon itu. Berharap dokter pribadinya segera mengangkat. Panik!! Ayah mulai berlinang air mata. Mondar-mandir tidak karuhan sembari komat-kamit baca doa. Aku sungguh tidak percaya reaksinya akan sehebat itu. Aku terenyuh ketika melihat seorang pria menangis untukku.

“Halo? Ada apa pak?” suara dokter itu terdengar dari telepon. Ayah yang panik tidak sempat menceritakannya, langsung ke intinya. “Dok, segera ke rumah saya, Rinai keracunan.” Telepon terputus segera setelah kata siap terlontar. Ayah kembali menekan nomor telepon, Ibu kali ini. memberitakannya dengan singkat sesaat setelah telepon terangkat. Aku bisa membayangkan wajahnya, wajah penuh kerut terkejut setelah mendengar berita singkat itu. Berhasil! Rencana “gila”ku berjalan dengan lancar.

Ibu yang masih memakai apron berlari ke arahku, pipinya basah, dan wajah terkejut itu persis seperti yang aku bayangkan. Lantas memeluk erat badanku yang lemas. Dokter tak berselang lama tiba, lantas menjalankan pengobatan untuk menyelamatkan nyawaku. Orangtuaku kini benar-benar ada di sampingku. Merawat, memberikan semua kasih sayang, harapan, doa, dan semua waktunya. Tepat seperti mimpiku, namun orang yang sakit ini perempuan. Sekarang aku mengerti ucapan mereka. Ucapan tentang kehangatan yang mereka rasakan, yang sekarang sedang aku rasakan.

Di tengah kesenangan itu, esoknya dokter datang lagi untuk memeriksa keadaanku. Seperti biasa, dokter akan banyak bertanya. “Gimana Rin? Udah mendingan? Nanti jangan lupa minum obatnya, istirahat dulu, dan jaga makannya. Ngomong-ngomong, kamu makan apa sampai bisa muntah-muntah kayak gitu? Masakan Bi Ida? Iya?” Aku yakin dokter sedang bergurau tentang masakan Bi Ida. Tapi pertanyaan ini membuatku gelagapan, bingung harus menjelaskan apa.

Pikiranku berputar mencari alasan logis. Hingga suatu ide tiba-tiba terlintas di benakku, “Mmmmhh….. kayaknya, gara-gara aku minum dari botol yang masih ada sabunnya. Tapi botol itu aku yang cuci kok, bukan Bi Ida. Ini memang akunya saja yang teledor.” Pintar sekali diriku dalam berdalih, dokter dan orang tuaku saja sampai percaya. Mereka bahkan tak menanyakan hal ini lebih lanjut lagi.

Tak disangka, waktu berjalan begitu cepat seiring dengan rencana-rencanaku yang berjalan begitu mulus. Semakin lama, semakin aku ingin menyakiti diriku dengan hal-hal yang lebih ekstrem. Membakar lengan, memakan sembarang obat, hingga menusuk diri sendiri dengan benda berkarat. Aku semakin ingin perhatian-perhatian mereka. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, dibutuhkan rencana yang matang tentunya. Aku terus membuat alasan untuk mengemas rapi kejadian-kejadian itu. Membumbui kebohongan agar terlihat nyata sepertinya merupakan keahlian baruku, dan aku bingung apakah harus bersyukur dengan hal tersebut atau tidak. Aku juga mendapat semua kasih sayang mereka, semua yang seharusnya aku dapatkan tanpa melewati rasa sakit ini.

Aku terus mendorong tubuhku melewati batas. Hingga aku tak kuasa menahannya lagi. Kini, aku benar-benar terbaring lemah di rumah sakit. “Belalai-belalai” itu menusukku disana-sini. Suara mesin samar-samar terdengar. Buram, semuanya terlihat buram, ingatanku juga penglihatanku. Aku hanya ingat sepotong memori itu, rencana terakhirku. Aku ingat ketika aku memasukan obat ini dan obat itu, mencampurnya, lantas meminumnya. Lalu, aku melihat dunia dengan buyar dan samar-samar. Berputar! Semuanya bergerak tidak karuhan. Lalu hitam. Dunia menjadi gelap. Setelah gelap, terang datang. Cahaya wajah lelaki ini, orang berwajah cerah duduk takzim di ujung ranjangku. Sekarang, ia menatapku sambil tersenyum. Seolah mengenalku. Aku semakin cemas, bukan hanya karena senyumannya. Tapi pakaiannya, pakaian serba putih. Membuatku berpikir aku sudah mati.

“Tidak, kamu tidak mati, setidaknya belum, Rin. Aku akan menjelaskan sesuatu untukmu, hal yang belum pernah kamu ketahui sebelumnya. Suatu hubungan sebab-akibat. Kamu diabaikan, kamu menderita sindrom pura-pura sakit itu, kamu terkulai lemah di rumah sakit. Semua itu ada sebabnya kan?” lelaki itu memulai percakapan. Aku yang cemas tentu terkejut mendengarnya. Pikiranku buncah oleh pertanyaan. Siapa dia? Malaikat kah? Kenapa dia bisa membaca isi hatiku? Dan apa yang sedang terjadi padaku? Namun lidahku kelu, semua pertanyaan itu hanya tertahan di benakku.

“Bagaimana dengan rencana terakhirmu? Berhasil kah? Semua itu untuk memiliki semua kasih sayang mereka, kan? Namun, kamu tidak tahu rahasia mereka. Kamu hanya tahu mereka sedang mengejar dunia. Kenapa mereka tega berbuat hal itu? Kenapa mereka lebih memilih lembur daripada mendengar cerita pulang sekolahmu? Kenapa? Itu semua Karena kakak laki-lakimu, itu jawabannya,” orang berwajah cerah memulai percakapan kedua.

Kakak. Aku punya kakak? Omong kosong! Mana mungkin itu terjadi. Aku belum pernah bertemu atau melihat photonya, bahkan mendengar sedikit saja hal tentangnya pun tidak. Itu mustahil. Tapi aku lebih memilih untuk mendengarkan orang ini. Orang berwajah cerah membuka mulutnya kembali, memulai percakapan ketiga.

“Kau tahu? Dulu keluarga kalian adalah keluarga miskin. Keluarga kecil berisikan ayah, ibu, dan satu orang anak itu sedang menanggung penderitaan. Lihatlah! orangtua mu menangis karena Kakakmu sudah tertutup kain putih. Mereka menyalahkan kemiskinan. Lebih tepatnya menyalahkan diri mereka sendiri atas apa yang dideritanya. Kemiskinan ini membuat Kakakmu tidak bisa berobat. Hingga akhirnya harus menyerah melawan penyakitnya. Tunggu, apa hatimu bilang belum pernah melihatnya? Coba ingat lagi! Kamu pernah bertemu dengannya, ‘anak laki-laki yang sedang sakit’.” Aku ingat, itu mimpiku. Mimpi yang aku kira sebuah jawaban dari masalahku. Orang berwajah cerah itu melanjutkan ceritanya.

” Orangtuamu depresi dan membuang semua hal tentang Kakakmu. Mereka bahkan minggat dari kotanya itu. Apapun demi melupakan kenangan buruk yang lahir bersamanya. Mereka yang menyalahkan kemiskinan, kini bekerja siang malam demi mendapat kekayaan dunia. Lalu, kamu lahir. Sebuah kebahagiaan yang teramat sangat. Lihatlah bayi kecil itu, itu kamu. Ayah sedang menggendong bayi mungil itu, dan Ibu menyayi untuk menenangkanmu. Semua itu untukmu. Tapi mereka tidak lalai. Mereka tidak mau kemiskinan merenggut nyawa anaknya lagi. Lantas mereka larut dalam pekerjaan duniawi itu. sesuatu yang kau anggap jengkel. Itulah sedikit rahasia mereka.”

Satu bulir air mata merekah di pelupuk mataku. Menelusuri pipi hingga berkumpul dan jatuh dari dagu. Kenapa? Apa maksudnya semua ini? Tuhan, sungguh aku tidak mengerti maksud skenariomu ini. Aku menangis dalam diam. Tak bisa berucap. Orang berwajah cerah itu memulai percakapan keempat. “Apa kamu merasa puas dengan kasih sayang mereka? Kasih sayang yang kamu dapat dari semua rasa sakitmu. Yang sebenarnya membuat hati orangtua mu justru semakin perih karena mengingat memori kakakmu itu. Cemas, takut kejadiannya terulang kembali. Kamu seharusnya tak berbuat demikian. Kamu harus membuka hati mereka yang tertutup kenangan masa lalu. Bukan menambahnya dengan semua adegan cari perhatian itu. Tolong bantu mereka lepas dari kenangan yang menghantui mereka, dan tolong…tolong jaga mereka untukku, Kakakmu.”

Sekali lagi, perkataannya hampir membuat jantungku copot. Apa yang baru dia katakan? kakakmu? Hal ini semakin membingungkan. Kenapa semua hal ini muncul padaku dengan bertubi-tubi? Kenapa aku harus mendapat semua kejadian ini? Kenapa?

Di tengah kebingungan ini, aku bangun, tersadar seutuhnya. Nampak seorang ayah dan ibu yang duduk tertidur di ujung ranjangku. Pakaiannya lusuh, begitu pun raut wajah mereka. Aku bisa melihat bekas air mata di pipi itu, masih sedikit basah. Aku paksakan diriku hingga terduduk, langsung memeluk mereka. Aku membuat mereka terkejut, lalu menangis untuk ke-sekian kalinya. Tapi tangis kali ini berbeda. Mereka bahagia.

“Ibu salah, ibu sebenarnya… ibu sebenarnya… tidak benar-benar mencintai Rinai selama ini, karena cinta akan memberikan sesuatu yang paling berharga. kau tahu apa yang paling berharga? Waktu, itulah yang paling berharga. Sesuatu yang tak bisa kau putar kembali. Sesuatu yang sebanyak apapun uang itu tidak akan terbeli. Sesuatu yang orang-orang menyesal karena menyia-nyiakannya.” Kalimatnya tersendat oleh semua air mata itu. Ibu berusaha mengatur napasnya.

“Tapi tidak! Ibu tidak memberikan hal itu padamu. Ibu hanya bisa memberikan materi, uang. Sesuatu yang Ibu anggap berharga setelah–“

Kalimatnya terpotong oleh kenangan itu. Kenangan pahit sang Kakak. Tangis Ibu semakin menjadi. Ia tak bisa melanjutkannya, mulutnya tak mau membuka. Ayah menjadi sosok penenang untuknya.

Aku sembari mengusap wajah penuh kerut Ibu yang basah, juga berusaha menenangkan Ibu. Aku tak kuasa melihatnya menangis. “Aku tahu masa lalu itu bu… Aku tahu betapa menyakitkannya hal itu bagi Ibu. Ibu jangan bersedih… Tenang bu, kenangan itu, akan kututupi dengan kenangan indah bersamaku. Hanya aku, ayah, dan ibu….” Dan satu hal lagi, aku berjanji… akan menjaga Ayah Ibu untuk mu… Kakak.


cerbung.net

Aku Munchausen Syndrome

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2020 Native Language: Indonesia
Curahan hati seorang anak yang sangat minim mendapatkan kasih sayang kedua orangtuanya. Sindrom Münchhausen adalah istilah untuk penyakit mental dimana orang menciptakan gejala atau penyakit pada diri mereka atau anak mereka untuk mendapat investigasi, penanganan, perhatian, simpati dan kenyamanan dari tenaga medis. Dalam beberapa hal, orang yang menderita sindrom Münchausen memiliki pengetahuan medis yang tinggi.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset