Angus Poloso. Legenda Ki Ageng Selo. episode 12

Perjalanan Berujung Petaka.

Dua minggu berlalu semenjak kejadian yang menimpa Pramesella. Dalam dua minggu ini, aku diajak oleh Aan dan Amidanal untuk mempersiapkan perkemahan yang akan digelar esok lusa.

Sebenarnya aku tak ingin mengikuti event itu, namun karena desakan dari kepala sekolah dan para OSIS yang risau apabila terjadi yang tidak-tidak dalam perkemahan nanti, asalkan aku tak jadi pesertanya, jadi aku pun akhirnya menurut. Lagipula, aku juga ingin bertemu dengan kakak konyolku, kak Vita, karena BPM nya bersebelahan dengan kampus kakak.

*Notes : BPM adalah Bumi Perkemahan Madya.

“Kakak, sampaikan salam kami berdua ke kak Vita, ya?” pinta Tiara polos. “Kalau sudah pulang, suruh kak Vita mengantar oleh-oleh buat adik-adiknya ya? Aku ingin boneka panda yang ada di televisi itu loh!”

“Sama, kak. Aku juga ingin boneka beruang yang ada di cartoon-cartoon yang sering tayang di televisi!”

Aku tersenyum, mengiyakan permintaan kedua adik kembar siamku itu.

“Iya, tapi itu kalau kakak bisa ketemu sama kak Vita. Kalau tidak, kakak akan bawahan oleh-oleh jajan saja ya?” jawabku sembari mengelus rambut mereka berdua dengan lembut. “Karena kakak lagi tidak punya uang banyak nih!”

Mereka langsung cemberut mendengar jawabanku barusan. “Ah, kebiasaan nih kakak! Kalau pelit, tinggal omong saja, mudahkan?”

Aku langsung mengemasi semua perlengkapanku untuk esok lusa, dan kutaruh ke tas ransel yang ada di kamarku. Kupersiapkan apa-apa yang kubutuhkan dua hari sebelumnya karena aku tak ingin tergesa-gesa menyiapkan semuanya nanti, terlebih jikalau ada yang kurang, pasti bakal blepotan.

Setelah dirasa semua sudah cukup, aku masukkan tas ranselku itu ke dalam almari supaya mudah dicari, sementara itu aku turun ke lantai bawah dan bersiap untuk sarapan pagi.

“Bu, Danang ke mana?” tanyaku yang baru menyadari Danang tidak ada di ruang makan, biasanya jam segini dia pasti masih sarapan pagi.

“Oh, adikmu sudah berangkat setengah jam lalu. Katanya dia ada ujian pagi ini, jadi dia pergi bersama Ryan, Farkan, dan Bima!” jawab ibuku, Bu Erni ramah sembari menyuapi kedua adik kembarku itu. Dasar manja! Delapan tahun masih belum bisa makan sendiri.

Kesunyian terjadi setelah kami bercakap-cakap sebentar. Ketika aku sudah selesai sarapan dan berniat mencuci piringku, tiba-tiba ibu membuka obrolan kembali.

“Nak, Mbah Jayos sakit. Ayahmu sudah pergi duluan menjenguknya bersama paman dan bibimu. Kalau bisa setelah kau selesai mengikuti perkemahan itu, segera susul kami di kediaman Mbah Jayos ya?”

Aku hanya menganggukkan kepala.

Setelah selesai, aku segera berpamitan dan bergegas berangkat ke sekolah diantar oleh Pak Joko, supir pribadi keluargaku.

Seperti yang kalian tahu di chapter yang kemaren, Mbah Jayos adalah kakek buyutku, yang sekaligus ayah dari nenekku. Kini usianya telah sampai ke 98 tahun, dan di zaman sekarang orang dengan usia 90 ke atas itu sangat jarang.

Dan jikalau ada yang belum kalian ketahui mengenai dirinya ialah, Mbah Jayos adalah Mentor Utama di keluarga Marwan. Itu berarti dia adalah maha guru dalam seni ilmu kanuragan keluarga Marwan, dan dia adalah saksi hidup mengenai peperangan yang digencarkan antara 72 ahli supranatural (Pemuka Kelima Agama, Dukun, dan Jawara) yang dipimpin oleh Kyai Marwan, ayahnya, melawan keluarga Immas yang dipimpin oleh Nyi Imas.

Oke, let’s back to the story …

.
.
.

Sesampainya aku di sekolah, aku langsung menuju ke ruang OSIS untuk sekedar memberitahu kepada yang lainnya kalau semua keperluan telah beres, sekaligus mau mencari info mengenai Bumi Perkemahan yang dituju.

“Aan, gimana, kau sudah memutuskan mau memakai tempat yang mana?” tanyaku penasaran melihat Aan terus-terusan ragu dengan tepat yang hendak ia pilih.

“Iya, Mam! Ada beberapa opsi tempat yang bisa kita pilih. Tapi, yang kami utamakan ialah keselamatan bagi para peserta. Itu yang penting, namun …” jawabnya yang tak mau meneruskan ucapannya.

Aku pun ikut nimbrung, melihat opsi-opsi tempat yang bisa dijadikan tempat tujuan. Setelah kuselidik, semua tempat itu sama saja, dekat dengan telaga dan hutan lindung. Namun, kesemuanya tidak ada yang beres, karena di setiap tempat ada tugu pemujaan. Mungkin itulah yang membuat Maftukhan resah, karena dua tahun lalu, sekolah ini sempat gempar soal menghilangnya tiga siswa yang sok-sok an menantang maut dengan merusak tugu pemujaan itu.

Aku sebenarnya sedikit bergidik ngeri melihat tempat-tempat itu, karena jikalau di sana ada tugu pemujaan, itu berarti demit-demit di sana pastinya bukan demit yang sembarangan.

“Aan, kita coba BPM yang dekat dengan kampus kakakku, yuk! Di sana, tak ada yang perlu dikhawatirkan karena dekat dengan Mesjid dan tempat ibadah yang lain, ya walaupun tempatnya dirasa jauh lebih sempit dengan yang ada di brosurmu itu,” ajakku antusias.

Aan tanpa berpikir lebih lama lagi langsung menyetujui saja ajakanku itu. “Itu ide bagus, Mam. Kalau di sana ada dua orang keturunan Kyai Marwan, semua pasti akan dirasa mudah dan lancar,”

Setelah semua sepakat, Aan, Misbah, dan Amidanal bersiap menyiapkan keperluan-keperluan yang dibutuhkan untuk persami selama tiga hari itu. Karena aku bukan anggota dari OSIS maupun peserta, aku bergegas kembali ke ruang kelas untuk mengikuti pelajaran pertama.

Selesai pelajaran sejarah yang diajarkan oleh Bu Bita, aku, Bagos, dan Syaiful menuju ke kantin. Sebenarnya jam istirahat kala itu belum berbunyi karena jam pelajaran kedua kosong, jadi buat apa dihabisin di kelas?

Kami ngobrol ini dan itu, sampai aku menengahi omongan candaan mereka dengan omongan serius.

“Gos, Menden, aku punya permintaan nih,”

“Apa itu, Mam? Kok tiba-tiba jadi serius gitu sih?” sahut mereka berdua menelisik.

“Apa kalian mau ikut bersamaku ke persami esok lusa? Kayaknya aku nggak bisa ngawasin adek-adek kelas seorang diri deh, jadi …” kataku yang langsung dipotong oleh Bagos.

“Aku sih mau saja, Mam. Tapi kitakan gak punya mata batin sama seperti lo. Jadi, bagaimana kita bisa membantu lo di sana?”

Aku langsung tertawa mendengar ucapan Bagos barusan. “Oh, jadi kau ingin aku membuka mata batinmu toh? Kalau itu sih gak masalah. Pokoknya kau harus hati-hati menggunakannya!”

Obrolan kami terpecah setelah melihat Mbak Hartantik membawakan nasi goreng dan kopi pesanan kami bertiga. Selesai meletakkan pesanan di meja, diapun berlalu.

Kami bertiga segera menyeruput kopi hangat kami.

“Iya deh, gampang! Kalau aku bisa lihat hantu, pastinya aku bisa bantuin lo. Percaya deh!” sahut Syaiful tiba-tiba. “Dan pastinya aku bisa jadi idola para siswi-siswi cantik dan bahenol yang ada di kelas satu!”

“Duh dasar modus! Nuhy masih belum cukup ya?” ledekku ke Syaiful yang sudah pacaran ama Nuhy, salah satu gadis di kelasku yang cukup cantik. “Kalau karena alasan itu, aku gak mau deh, bahaya tau!”

Kami mengobrol ria sampai bel pertanda istirahat berbunyi. Karena perut sudah kenyang, aku putuskan untuk tiduran di kelas sembari menunggu jam pelajaran berikutnya berbunyi.

[SKIP TIME]

Dua hari pun berlalu dan hari yang ditunggu-tunggu datang juga. Kami berangkat dari sekolah Indratama jam setengah delapan, berharap kita bisa sampai di BPM Malang kurang dari jam setengah dua belas, karena di sana ada apel penting dan persiapan mendirikan tenda dan juga melakukan Sholat Dzuhur bagi yang beragama Islam.

Aku, Bagos, dan Syaiful ditempatkan di bus kedua mendampingi siswa-siswi kelas satu. Sementara Aan, Misbah, Fuad, dan Amidanal ada di bus pertama bersama para guru dan anggota OSIS dan PMR lainnya.

Di dalam bus, aku layaknya seorang artis yang punya banyak fans yang mengerumuninya. Siswi-siswi kelas satu pada berebutan hanya untuk berfoto denganku. Mereka semua menganggapku sudah seperti pahlawan saja. Itu pasti semua ulah Pramesella yang suka nyebarin rumor.

“Kak, sudah berapa lama kakak jadi ghost hunter?” tanya salah satu siswi itu. Dia manis, dan imut, tapi sayang pendek, ia mirip seperti loli di anime jepang. “Gimana pengalaman pertama kakak bisa menaklukkan makhluk-makhluk halus?”

“Aku jadi pemburu hantu sejak usia sepuluh tahun. Dan pengalaman pertamaku jadi pemburu hantu … kurasa baik-baik saja,” jawabku sekenanya. Jujur, aku tak suka ditanyai seperti ini. “Udah ya, dek. Kakak lagi menyiapkan stamina buat perkemahan nanti. Kalau adek-adek ingin berfoto, ayo!”

Bagos dan Syaiful menatap sinis ke arahku. Sepertinya mereka iri melihatku dikerubuti oleh gadis-gadis setiap hari. Mereka pun mengalihkan pandangannya ke luar jendela bus.

Tak disangka-sangka mereka berdua mendapati penampakan makhluk halus. Dengan cepat, mereka langsung menepuk-nepuk pundakku yang lagi asyik ngobrol bareng siswi-siswi cantik kelas satu itu.

“Mam, Umam,” mereka memanggilku dengan suara yang terdengar kalau sedang kaget dan takut.

“Ada apa sih?” tanyaku malas.

“Itu, Mam! Aku melihat penampakan hantu!” Bagos menujuk-nunjuk ke arah jendela luar sebelah kenan. “Aku melihat hantu tanpa kepala. Mengerikan sekali!”

Siswa-siswi kelas satu itu bukannya takut dan kembali ke tempat duduknya, eh malah mencoba mencari tahu dengan menengok ke arah jendela yang ditunjuk oleh Bagos.

Tapi syukurlah, tak ada diantara mereka yang bisa melihatnya. Padahal hantu tanpa kepala itu masih terus membuntuti kita dari samping bus, mengendarai kuda hitam.

Kusuruh Bagos dan Syaiful untuk tak memperdulikannya, karena demit itu hanya demit yang netral, dan hanya menganggu seperti menakut-nakuti, bukan menyerang secara fisik. Ya, walaupun kalau mereka marah, mereka bisa jadi agresif dan menyerang fisik si pengusiknya.

“Nggak usah takut, Gos, Nden! Biarkan saja dia membuntuti kita, karena tidak ada yang bisa kita lakukan sekarang ini,” jawabku yang mencoba menenangkan keduanya. “Tapi jikalau dia sudah mulai menyerang secara fisik, maka bacakanlah ayat Kursi, biar terbakar sekalian!”

Situasi semakin panik kala itu, karena anak-anak bau kencur yang barusaja kubuka mata batinnya selalu tegang dan hendak berteriak-teriak terus, membuat suasana dalam bus menjadi tak nyaman.

Tak berselang lama, hantu tanpa kepala itu pun berhenti, menatap kami dari belakang dengan puas, seolah sudah berhasil menggiring kami ke tempat tujuannya.

Dari depan, si sopir bus memintaku untuk mendekatinya. Karena ada suatu hal yang nggak beres, aku pun bergegas berjalan menuju depan, di samping si sopir.

“Ada apa, pak?”

“Anu, nak. Kita barusan melewati kabut tebal aneh. Apa akan baik-baik saja?” jawabnya yang terdengar mulai parno dengan kondisi saat ini. “Bapak merasakan firasat buruk, nak. Bapak takut akan terjadi apa-apa dengan kita semua!”

Ya, aku memang merasakan suatu yang ganjil dengan semua ini. Kuraih handphoneku yang ada di saku baju sebelah kiri, dan kucoba untuk menelepon Pak Bus maupun Aan. Namun percuma, tidak ada jaringan di wilayah itu.

Aneh!

Seharusnya di jalur sini masih banyak kendaraan yang lalu lalang, dan pemukiman-pemukiman penduduk yang berjejer rapi, namun semuanya lenyap, tak ada apapun melainkan pohon-pohon hutan pinus yang rindang dan jalan aspal yang lurus.

Tak sampai lama bus menemui dua jalan berkelok-kelok. Aku merasakan ada hal yang aneh di jalan berkelok-kelok itu, sehingga kusuruh pak sopir untuk berhenti. Mengetahui kalau diriku punya kemampuan khusus, pak sopir tanpa ragu memberhentikan busnya.

Aku perintahkan semua yang ada di dalam bus untuk turun. Pertama mereka meragukanku, namun setelah dijelaskan oleh Bu Ike, mereka pun akhirnya menurut.

“Ada apa, Mam. Mengapa kau menyuruh kami turun?” tanya Bagos yang masih belum mempercayaiku. “Padahal kita lagi enak-enaknya tidur.”

“Duh, aku ajak kau ikut persami ini untuk ikut menjaga adek-adek kelas, eh, kamu malah malas-malasan kaya gitu,” jawabku yang cukup eneg, mengetahui teman-temanmu malah enak-enakkan sementara aku lagi pusing menjadi penanggung jawab atas keselamatan adik-adik kelas. “Ada yang aneh dengan kedua jalur itu, Gos!”

“Aneh kenapa? Kelihatannya Cuma jalan berkelok-kelok biasa tuh,” sahut Syaiful yang baru ikut nimbrung obrolanku sama Bagos.

Aku menggeleng-gelengkan kepala melihat kebodohan mereka. Dengan segera kucari dan kuambil sebuah batu sebesar telapak tangan, dan kubacakan sebuah doa pelepas ilusi pada batu itu, dan kemudian kulempar ke arah jalan berkelok-kelok itu.

Dan kalian tahu apa yang terjadi …?

Jalur itu berubah menjadi jurang yang sangat curam. Kami semua, kecuali aku terkaget-kaget melihat pemandangan yang barusan terjadi di hadapan mereka, bahkan siswa-siswi kelas satu sudah ketakutan, dan minta pulang.

Kucoba tenangkan mereka dengan sebuah keyakinan kalau mereka akan baik-baik saja, selama mereka terus mengingat Tuhan mereka, dan tetap bersama-sama.

Tak berselang lama, muncul suara gagak di mana-mana yang dibarengi oleh suara lengkingan kuda. Tepat setelahnya, kabut yang tadi dilewati oleh bus, seperti berubah jadi hidup dan langsung menerkam kami.

Kami semua tak tahu apa-apa setelahnya, namun ketika kabut itu lenyap, kami tiba disebuah tempat yang tak terduga. Yaitu di BPM angker yang dulunya ada tiga siswa Indratama menghilang di sini.


cerbung.net

Angus Poloso. Legenda Ki Ageng Selo.

Score 0.0
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Sekitar dua abad yang lalu, saat terjadi perebutan kekuasaan antara VOC dan Britania di nusantara, ada sebuah kisah. Kisah seorang Kyai yang mampu menghentikan para demit-demit yang menghantui seluruh Jawa Timur ini. Kuntilanak, Pocong, Genderuwo, demit, jin-jin kafir, dan lain sebagainya. Dia menyegel semua demit itu di sebuah gerbang gaib yang diberi nama Angus Poloso, sebuah gerbang gaib yang memungkinkan para demit kelas atas itu tak bisa keluar dalam waktu lama. Seperti yang kita ketahui, tidak ada yang abadi di dunia ini, ya termasuk gerbang gaib itu. Oleh karena itu, setiap seratus tahun sekali gerbang gaib itu akan terbuka dan menimbulkan teror di Jawa maupun di seluruh negeri ini.Pria yang menyegel para demit-demit itu adalah Kyai Marwan, atau lebih dikenal sebagai Ki Ageng Selo. Gelar Ki Ageng Selo itu di dapatnya setelah berhasil mengalahkan Nyi Imas, seorang yang sakti mandraguna dan pengguna Santet Lemah Ireng, sebuah santet yang menargetkan setiap jiwa di sebuah wilayah tertentu. Beda dengan santet-santet pada umumnya yang hanya menargetkan targetnya dan juga keluarganya serta anak-cucunya, santet ini menyerang siapapun yang berada dalam satu kota/desa dengan si target. Sebelum lanjut, mari kita bahas dulu mengenai Santet Lemah Ireng.Santet Lemah Ireng adalah sebuah santet yang tidak memerlukan bantuan para jin, setan, dan makhluk2 halus pada umumnya, tapi santet ini hanya mengandalkan lemah ireng dan target yang berjalan di atas tanah dalam suatu wilayah, tempat di mana lemah ireng itu diambil, tempat orang yang ditargetkan itu berada. Selama orang-orang masih menginjak tanah, mereka pasti mati. Santet ini seperti gabungan dari Santet Malam Satu Suro, Santet Pring Sedapur, Santet Sewu Dino, dan Santet Janur Ireng. Selain itu, para pemuka agama (Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Buddha, Konghucu) tidak ada yang sanggup ataupun berani mengatasi santet ini.Santet ini tidak bisa diajarkan kepada siapapun, karena yang menguasai ilmu santet ini dia harus menjadi satu dengan Raja Iblis Nusantara. Raja Iblis itu akan masuk ke dalam raganya, dan apabila raganya kuat, maka dia akan memperoleh kekuatan besar, sedangkan jikalau tidak, maka mereka hanya akan mati konyol.Seratus Sebelas tahun setelah penyegelan itu, Angus Poloso yang waktu itu diletakkan (ditanam) di tanah keramat yang berlokasi di Blitar, tanpa sepengetahuan mereka, berdirilah sebuah sekolah SMA. Sebenarnya pihak pengembang sudah berkali-kali diingatkan kalau tanah tempat didirikannya sekolah itu adalah tanah berkah, yang orang2 kita sebut sebagai tanah keramat. Mendengar ucapan dari para warga setempat, pihak pengembangpun menganggap kalau ini semua hanyalah tahayul, dan terus memaksakan pembangunan itu.Dan selama beberapa tahun pembangunan, akhirnya sekolah itu berdiri juga. Berserta SMP dan Universitasnya (1976). Sebenarnya sebelah yayasan pendidikan itu sudah berdiri pondok pesantren yang didirikan oleh Kyai Marwan seratus sepuluh puluh tahun lalu sebagai antisipasi jikalau Angus Poloso itu terbuka.Sekolah megah dan luar biasa, menindih Angus Poloso yang ada di bawahnya. Karena tak bisa terelakkan, waktu itu keturunan Kyai Marwan, yaitu Mbah Wo, Mbah Carik, Cokropati, Mbah Jayos, dan Mbah Ibu, yang usianya sudah mencapai seratus tahunan, memberikan sebuah pager gaib di sekitar sekolah itu untuk mencegah terjadi apa-apa dan mencegah hancurnya segel Angus Poloso di sana. Dan tiga tahun setelahnya, Mbah Cokropati pun meninggal.Cokropati adalah anak Sulung dari Kyai Marwan dan merupakan anak yang paling cerdas dan berpengalaman dari kesemua keturunannya. Sehingga kematiannya menimbulkan lara dan kecemasan, karena sekte Immas takkan pernah berhenti mencoba mengeluarkan Nyi Imas dari segel Angus Poloso.Setelah kematian Kyai Marwan dan Cokropati, perjuangannya diteruskan oleh anak-cucunya. By the way, Kyai Marwan mempunyai tujuh orang anak dan dua belas cucu, sekaligus dua puluh empat cicit. Mereka semua adalah orang-orang hebat, dan kesemua anaknya adalah orang yang berpengaruh di daerahnya.Perjuangan mereka menggantikan Kyai Marwan bisa dirasa mudah dan sulit. Mudahnya karena demit-demit kelas atas yang paling ganas telah disegel oleh Kyai Marwan di dalam Angus Poloso, dan sulitnya adalah demit-demit kelas kecil ini terlalu banyak dan selalu bergerak di bayang2 dan selalu menggunakan cara yang licik, menyerang di balik layar daripada berhadapan langsung dengan keturunan Kyai Marwan.Puluhan tahun kemudian, ketika segel Angus Poloso sudah melemah, ada sebuah petaka yang membuat segel Angus Poloso terbuka. Yaitu Vita, cicit dari Kyai Marwan yang saat itu tanpa ia sadari telah membuka segel itu, sehingga demit-demit yang disegel di dalam Angus Poloso pun keluar dan meneror seluruh penjuru sekolah. Untunglah saat itu, Nyi Imas masih belum bisa keluar. Sementara untuk para demit2 itu, banyak di antara mereka yang tidak bisa keluar dari lingkungan sekolah akibat pagar gaib yang dipasang oleh Kyai Marwan. Meskipun begitu, teror dan kengerian selalu mengancam siapapun yang ada di sekolah itu.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset