Angus Poloso. Legenda Ki Ageng Selo. episode 24

(Test II) Gadis Lotus Hitam

Setelah itu, mata raksasa itupun menghilang. Setelah itu pula, Siti mengarahkan senyum manisnya ke arah Feby dan juga kyai Ghofar, dan langsung pingsan seketika. Kyai Ghofar berpendapat kalau Balasadewa telah meninggalkan tubuh Siti.

“Suara itu … aku kenal suara itu,” gumam Feby lirih. Mencoba menyembunyikan hal itu dari kyai Ghofar.

Dia berpikir kalau kyai Ghofar tak tahu siapa pemilik suara itu, padahal sebenarnya kyai tua itu tahu siapa pemilik suara mengerikan itu.

Nimas Ayu.

Bergegas, Feby langsung membawa tubuh Siti yang saat itu sedang pisan itu dan bergegas untuk keluar dari dunia itu. Saat itu, para santri lainnya menawarkan diri untuk membantu Feby, namun dengan lembut ia tolak, karena dia sudah terlalu berterima kasih pada mereka semua, terutama pada kyai Ghofar.

Ketika mereka semua keluar dari gerbang Alas Ireng itu, mereka langsung disambut dengan sorakan-sorakan yang meriah dariku dan yang lainnya.

Wulan bergegas menghampiri mereka dan langsung memeluk Feby yang saat itu tengah menggendong Siti yang tak sadarkan diri itu. Khawatir, tentu saja.

“Syukurlah, kalian bisa selamat, Feby, Siti!”

“Alhamdulillah, Lan. Ada kyai Ghofar dan kelima santri yang membantuku menyelamatkan Siti. Kalau tidak, mungkin diriku sudah tinggal nama seorang,” jawab Feby.

Aku bergegas menghampiri mereka dan langsung mengucapkan rasa terima kasihku pada kyai Ghofar dan kelima santri lainnya.

“Anu, terima kasih telah menolong teman-temanku, kyai.” Ucapku pada kyai tua itu. Mengulurkan tanganku berharap kalau kyai itu mau bersalaman denganku, dan syukurlah kyai itu dengan senang hati mau bersalaman denganku. “Kalau boleh kutahu, kyai ini siapa ya?”

Dengan senyum, kyai itu pun menjawab, “Ah, namaku Ghofar bin Abdullah, di sini saya sering dipanggil sebagai kyai Ghofar. Kalau aden ini siapa ya?”

“Namaku Umam, kyai. Saya datang dari masa depan,”

Dengan segera, kak Wisnu datang dan memperkenalkanku lebih akrab dengan kyai itu. “Kyai Ghofar ini adalah adik dari kyai Umar, guruku,” dia pun menoleh ke arah kyai Ghofar. “Sedangkan Umam, dia adalah keturunan dari Kyai Marwan bin Muhammad, guru darimu, kyai.”

“Hm … wah, tak kusangka aku bisa bertemu dengan keturunan dari mahaguruku, hahaha … yang kutahu saat ini keturunannya masihlah Mbah Jayos, Mak Ju, dan Satori,”

“Satori? Maksud kyai Ahmad Satori?” tanyaku mulai tak percaya.

“Ah, iya. Satori adalah temanku. Sekarang ini sedang ada di Kalimantan bersama putra-puterinya. Apa kau ada hubungan dekat dengannya?” jawab kyai Ghofar itu sedikit penasaran.

Aku mengangguk, “Iya, kyai. Dia adalah kakekku. Aku adalah putra dari putri bungsunya.

Selesai bercengkerama bersama, kami pun kembali ke kediaman Pak Supratno yang saat itu kak Ratih sedang menunggu kak Ratna yang terus-terusan memberontak, ingin melepaskan diri.

Sementara itu, jauh di dalam alas Ireng. Lusman terpontang-panting segera menuju ke pusat hutan angker itu untuk bersemedi, menyembuhkan diri dan ilmu kanuragannya supaya dapat melawan kak Wisnu lagi.

“Sialan kau Wisnu. Lain kali aku akan buat perhitungan lagi denganmu. Dan ketika saat itu tiba, aku akan memenangkan pertarungan itu dan akan kurebut kembali Ratih dari tanganmu,” umpat Lusman sembari memegangi perutnya yang masih berdarah-darah itu. “Lihat saja Wisnu … hahahaha!”

Sesampainya di sana, Lusman mencium bau anyir darah yang masih segar. Dia pun menyelidikinya sembari berkeliling di sekitar sampai ia lihat gubuknya dipenuhi oleh cipratan-cipratan darah-darah segar yang masih mengalir deras.

Dia langsung berlari menghampiri gubuknya itu sekaligus memastikan keberadaan Nyi Ireng, gurunya.

“Guru, guru … di mana kau?” tanya Lusman resah. “Aku sudah pulang guru, guru?”

Ketika Lusman memasuki gubuk itu, dia melihat gurunya Nyi Ireng sedang disiksa dengan bengis oleh seseorang gadis. Dia memakai jubah warna hitam dan kedua kakinya sama sekali tak menapak tanah.

Apa dia hantu?

Tidak mungkin, kalau hantu tidak mungkin gurunya, yaitu Nyi Ireng bisa takluk dengan begitu mudahnya. Begitu pikir Lusman.

Dia berpikir untuk menolong gurunya kala itu, namun dengan tegas gurunya menolak, dan menyuruh Lusman untuk meninggalkan tempat itu secepat mungkin.

“Lusman, dia adalah Ndoro Ayu. Nimas Ayu Sekar Sari. Cepat lari dari sini!!” teriakan Nyi Ireng berteriak penuh harap supaya murid satu-satunya itu berhasil melarikan diri dari tempat itu.

Gadis itu hanya berucap ketus dan menoleh ke arah Lusman, “Ah, akhirnya orang yang melukai pria paling berhargaku muncul juga. Aku sudah menunggumu dari tadi, Lusman!”

“Kau …!?”

Dalam sekejap, cahaya yang menyelimuti gubuk itu yaitu cahaya lilin langsung padam, dan inilah saat pembantaian itu. Dalam sekejap muncullah teriakan-teriakan yang begitu mengerikan keluar dari mulut Nyi Ireng dan Lusman. Mereka menjerit sejadi-jadinya mendapati serangan gadis itu bertubi-tubi.

Padahal saat itu Nyi Ireng mempunyai ilmu kanuragan Pancasona, namun ilmu itu tidak berarti apapun terhadap serangan dari gadis itu. Dan inilah akhir yang mengerikan buat Nyi Ireng dan juga Lusman.

Keesokan harinya, ketika ada beberapa orang yang hendak menebang kayu di sekitar gubuk tua itu. Mereka mencium bau yang amat anyir keluar dari gubuk tua itu. Pertama-tama mereka takut untuk mengecek gubuk tua itu karena di sanalah kediaman Nyi Ireng, dukun santet yang begitu berbahaya.

Namun setelah melihat gubuk reyot itu penuh dengan darah-darah, mereka semua memberanikan diri untuk mengecek ke dalam. Dan di sana mereka menemukan mayat dua orang, yaitu Nyi Ireng dan juga Lusman. Hal ini langsung membikin heboh seluruh kampung, karena tiada seorangpun yang percaya kalau dukun santet bengis, pemilik ajian Pancasona itu bisa terbunuh dengan begitu sadis.

Peristiwa ini langsung terdengar di telinga kak Wisnu yang benar-benar tak percaya kalau sahabatnya itu telah tiada.

“Innalillahi wa innalillahi rooji’un,” ucap kak Wisnu tiba-tiba. Kami pun langsung menoleh begitu kak Wisnu berujar demikian setelah mendapat kabar dari seorang petani. “Ya Allah, Lusman… aku tak menyangka.”

“Ada apa, kak?” tanyaku memastikan.

“Ya Allah, Ya Allah … Lusman, dek. Lusman,” jawab kak Wisnu yang terbata-bata karena saking shoknya. “Lusman meninggal. Dia mati mengenaskan!”

Seketika itu pula kak Wisnu jatuh pingsan. Meski Lusman sudah banyak menyakitinya, namun kak Wisnu masih menganggap Lusman sebagai sahabatnya, bahkan dia berharap suatu hari nanti Lusman akan tersadar akan dosa-dosannya.

Namun sayang disayang, takdir Tuhan berkehendak lain. Lusman meninggal dengan cara yang begitu mengenaskan, bersama dengan gurunya. Dan untuk sekali lagi, niat kami untuk mencari Mela harus kami tunda terlebih dahulu.

Sesampainya di sana, sudah banyak warga yang ingin melihat mayat Lusman dan Nyi Ireng. Bahkan polisi-polisi sudah banyak yang berdatangan. Menurut keterangan polisi, Lusman dan Nyi Ireng mati karena terkaman hewan buas.

Tentu saja keterangan polisi tidak ada yang kami percaya. Kalau benar-benar hewan buas, bagaimana mereka bisa menyayat rapi seperti menusuk dan sebagainya, bahkan kepalanya hampir putus lagi. Duh ngeri deh pokoknya.

“Ngeri banget, cok!” Andre sudah bergidik ngeri melihat kedua mayat itu, walaupun sudah ditutup oleh tikar sehingga tak terlihat oleh mata telanjang. “Yang satu kepalanya hampir putus, dan yang satu lagi … matanya yang …”

“Jangan dilanjutin, oon! Ngeri tau!” sahut Feby sudah tak bisa membayangkan tragisnya nasib mereka.

“Andaikan waktu itu kita jangan biarkan kak Lusman kabur. Pasti kak Wisnu nyesel banget dah,” kata Wulan prihatin.

“Sebaiknya kita pergi dari sini. Biarkan kak Wisnu tetap di sini dulu. Dia butuh berduka,” ajakku yang langsung diikuti oleh yang lainnya. “Lagian kita harus mencari keberadaan Mela, ‘kan?”

[SKIP TIME]

Sehari berlalu dengan cepat. Kami harus melanjutkan perjalanan sembari mencari keberadaan Mela. Entah mengapa setiap kali aku keinget soal Mela, aku dapat firasat kalau Dark Mistress yang dibilang oleh Bagos dan Syaiful dulu adalah Mela, terlebih lagi saat aku berkunjung kerumahnya bersama dengan Aris. Banyak kejadian-kejadian aneh yang terjadi.

Meskipun begitu, pradugaku itu masih belumlah meyakinkan. Aku harus mencari bukti yang lebih kuat lagi. Dan jikalau itu benar, aku harus memastikan apakah Mela itu benar-benar titisan dari Nyi Imas seperti yang telah dikatakan kakung Satori dalam mimpi itu?

“Hm … akhirnya kalian melanjutkan perjalanan lagi, ya?” ujar kak Wisnu yang sepertinya berat banget melepas kepergian kami.

“Iya, kak. Nggak enak jikalau lama-lama tetap di desa ini. Takutnya mengganggu hubungan kakak dengan kak Ratih. Hehe!” jawabku sembari bergurau untuk terakhir kali. Walaupun aku masih berharap bisa bertemu lagi dengannya nanti.

“Oh ya, kak. Apakah di sekitar sini ada desa lain?” tanya Feby yang sudah memetakan tujuan yang akan kami tuju selanjutnya. “Pasalnya semua yang ada di sini seperti benar-benar terisolasi dari dunia luar gitu. Yang ada di sini cuman hutan, hutan, dan hutan.”

“Ada sih, namun agak jauh dari sini. Kira-kira sepuluh kilometer gitu. Mau?” jawab kak Ratih menawarkan. “Kata orang-orang sini sih … desa itu angker. Tapi gak tahu juga sih,” tambah kak Ratih yang sepertinya ragu-ragu menceritakannya.

“Nggak apa-apa, mbak. Kita datang ke zaman ini bukan karena ingin berlibur atau semacamnya, tapi kami ingin menolong sesama,” jawabku bijak. “Kalau boleh kutahu, desa apa itu namanya?”

“Desa Witiran, dek. Dulunya desa itu dijadikan pusat penyebaran agama islam di wilayah sini, namun dalam beberapa dasawasa ini desa itu berubah. Dengar-denger sih, desa itu sering disebut sebagai desa tumbal, karena banyak orang di sana menganut pesugihan, dan di sana sering terjadi perang santet.” Jawab kak Ratih menjelaskan panjang lebar.

“Iya, saat di sana, kami wanti-wanti kalian untuk tidak menerima pemberian apapun, selain nasi kuning dan air putih di sana. Jangan menerima apapun dari warga di sana, adek-adek, ya!” kata kak Wisnu memberi nasehat penting pada kami semua.

Kami pun mengangguk, dan beranjak untuk pergi meneruskan perjalanan kami selama seratus hari ini.

“Ah, anak-anak masa depan itu begitu ceria dan bahagia, ya? Aku tak menyangka kalau bangsa ini mampu menciptakan anak-anak dari generasi mereka semua,” gumam kak Wisnu pelan, suaranya mampu terdengar oleh kak Ratih. “Aku ingin bertemu lagi dengan mereka sebelum mereka pamit kembali ke masa depan dan saat aku menemui mereka di masa depan nanti.”

“Iya, Wisnu. Aku harap kita sama-sama diberi umur dan kesehatan yang panjang sampai hari itu tiba,” balas Ratih sembari tersenyum bahagia.

Sementara itu, di perbatasan desa Witiran di saat senja, seorang gadis yang terus-terusan tertunduk, yang dapat dikenali bernama Mela berjalan masuk ke desa Witiran itu dengan tatapan kosong, tanpa mempedulikan orang-orang yang menatap mesum ke arahnya.

“Aku gadis yang melukai darling … aku gadis buruk, gadis yang buruk,” gumam Mela lirih dan terus-terusan ia ucapkan. “Aku gadis yang buruk … yang dikutuk,”

Tak disangka, tiba-tiba Mela menubruk seorang pria berperawakan gendut, penuh tato, dan berjas layaknya seorang preman kampung. Mela yang tak siap itulah yang terjatuh kala itu, membuat pria gendut dan keenam bawahannya pada rame-rame mengelilinginya.

“Njir, ayu tenan wadon iki boss’e,” seru keenam bawahannya. “Belum pernah terlihat ada gadis secantik ini di desa kita, boss’e!”

“Oy, oy, gadis kecil … ada apa?” tanya si gendut itu sinis ke Mela. Dia langsung melihat belahan dada Mela yang indah itu, langsung deh syahwatnya memuncak. Dasar pria hidung belang. “Ah, mau kemana kau nona? Kalau ingin berkunjung ke sekitar sini, bang Ibun bisa kok anterin,”

Keenam bawahannya itu langsung bersorak-sorak, “Ciie, Ciie … si bos lagi kerja nih!”

Mela yang masih terduduk dan menundukkan kepalanya itu sama sekali tak menggubris ucapan dari bang Ibun itu. Dia bangkit dan meneruskan perjalanannya dengan terus mengoceh lirih dan mengutuk dirinya. Anehnya, bang Ibun dan keenam bawahannya itu tak melakukan apapun untuk mencegahnya.

“Aku gadis yang melukai darling … aku gadis buruk, gadis yang buruk,” gumam Mela lirih dan terus-terusan ia ucapkan. “Aku gadis yang buruk … yang dikutuk,”

Tak disangka, ketujuh orang itu mengikuti kemanapun Mela pergi. Walaupun dia tahu, namun dia tak menghiraukan hal itu sama sekali. Dia terus-terusan meracau akan kesalahan yang ia lakukan kemaren.

Tak berlangsung lama, Mela sampai di jalan buntu. Di sana pun akhirnya ia berhenti meracau dan memperhatikan ketujuh preman yang sedari tadi sedang mengikutinya.

“Ada apa nona? Tersesat ya?” tanya Ibun nakal. “Kalau tersesat, bang Ibun siap kok nganterin eneng, iyakan?”

“Yoi.” Jawab keenamnya.

Tiba-tiba sikap Mela pun berubah kembali. “Ara, ara, kalian ingin mengantarku rupanya? Kenapa tidak bilang dari tadi. Kebetulan nih aku sedang mencari kediaman Ki Jokoro Nula. Kalian tahu?”

Mereka terheran-heran mendengarnya. Mereka pikir tiada seorangpun penduduk desa yang mempunyai nama aneh tersebut. Ya karena cuman modus, mereka ya mengiyakan saja pertanyaan dari Mela. Dan disinilah perangkap itu dipasang. Dan mereka semua masuk dalam perangkap Mela.

Tak basa-basi lagi, Mela pun mengikuti kemanapun mereka bertujuh pergi. Pas banget waktu itu jalanan lagi sepi karena jarang penduduk desa yang lewat.

Setelah dirasa tak kunjung sampai, Mela pun mencoba bertanya ketika ketujuh orang itu berhenti. “Anu, apakah kita masih jauh dari kediamannya?”

Ketujuh preman itu berbalik dan menatap penuh nafsu ke arahnya. “Anu, nona. Sebelum kita ke sana, bagaimana kalau kita bersenang-senang dulu, hm?”

“Ara, ara … jadi kalian semua mau gituan ya sama aku?” tanya Mela menatap balik ketujuh preman itu dengan manja dan penuh hasrat. “Tapi area inikan area publik. Bagaimana kalau kita mainnya di tempat yang sepi saja. Lagian di belokan depan sana ada sawah, ‘kan?”

Ibun pun langsung memuji keberanian gadis itu. “Wah, dewasa sekali omonganmu, nona. Okelah, kita akan turuti semua maumu. Iyakan?”

“Yoi,” sahut yang lainnya.

Mereka semua pun akhirnya mengikuti Mela ke belokan depan sana yang ternyata ada sawah. Sesampainya di sana, ketika mereka hendak menyentuh tubuh Mela, tiba-tiba keluarlah tangan-tangan memedi dari perut mereka masing-masing yang langsung menghujam keluar.

Dalam keadaan keterkejutan dan ketakutan mereka, Mela menatap mereka dengan tatapan yang begitu mengerikan. Hasrat-hasrat ingin membunuh begitu kuat, bahkan mampu dirasakan oleh semua penduduk desa.

“Siapa kau sebenarnya … akh?” tanya Ibun yang barusan memuntahkan darah segar lewat mulut, mata, telinga, dan juga hidungnya.

“Apa kalian tak pernah mendengar kalau setiap sorop, jin dan setan berkeliaran? Lalu mengapa kalian semua begitu mudah terjebak dengan permainan dari seorang gadis manusia yang jauh mengerikan ketimbang makhluk-makhluk itu?” jawab Mela datar yang langsung membalikkan pertanyaan preman Ibun tadi. “Dasar! Pria mata keranjang macam kalian harusnya tak melihat seseorang dari cuman fisiknya saja, namun dari hatinya. Memang benar-benar berbeda dari darling ku yang menatapku bukan dari fisiknya, namun dari hatinya.”

Mereka semakin ketakutan. Bahkan sudah memohon ampun supaya dilepaskan. “Ampun, ampun! Maafkan kami, kami akan turuti semua kemauanmu. Bahkan untuk mengantarmu ke Ki Jokoro Nula atau apalah itu,”

Dengan nada manja, Mela pun menjawab, “Ara, ara … ternyata kalian bodoh juga, ya? Tiada seorang manusiapun yang mempunyai nama itu. Padahal awalnya kalian menyadarinya, ‘kan? Ki Jokoro Nula itu adalah nama jin, tepatnya raja jin Alas Ireng.”

“Kau mampu membaca hati kami??” tanya Ibun keheranan.

“Kalau iya, memangnya kenapa?” sahut Mela manja yang sedikit dengan nada menyerobot. “Itu adalah berkah yang diberikan Tuhan atasku, dan juga menjadi kutukanku,”

Tiba-tiba, darah-darah mereka keluar dari pori-pori kulit mereka sendiri dan mengakibatkan tubuh mereka kurus kering kerontang. Tak berhenti sampai di situ, tubuh mereka dan juga darah-darah yang keluar dari pori-pori mereka langsung berubah menjadi gumpalan-gumpalan pil kecil berwarna merah yang dengan segera melesat ke tangan Mela.

Dan kemudian, Mela pun memakan kesemua pil darah itu. “Terima kasih atas hidangannya, hm …”


cerbung.net

Angus Poloso. Legenda Ki Ageng Selo.

Score 0.0
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Sekitar dua abad yang lalu, saat terjadi perebutan kekuasaan antara VOC dan Britania di nusantara, ada sebuah kisah. Kisah seorang Kyai yang mampu menghentikan para demit-demit yang menghantui seluruh Jawa Timur ini. Kuntilanak, Pocong, Genderuwo, demit, jin-jin kafir, dan lain sebagainya. Dia menyegel semua demit itu di sebuah gerbang gaib yang diberi nama Angus Poloso, sebuah gerbang gaib yang memungkinkan para demit kelas atas itu tak bisa keluar dalam waktu lama. Seperti yang kita ketahui, tidak ada yang abadi di dunia ini, ya termasuk gerbang gaib itu. Oleh karena itu, setiap seratus tahun sekali gerbang gaib itu akan terbuka dan menimbulkan teror di Jawa maupun di seluruh negeri ini.Pria yang menyegel para demit-demit itu adalah Kyai Marwan, atau lebih dikenal sebagai Ki Ageng Selo. Gelar Ki Ageng Selo itu di dapatnya setelah berhasil mengalahkan Nyi Imas, seorang yang sakti mandraguna dan pengguna Santet Lemah Ireng, sebuah santet yang menargetkan setiap jiwa di sebuah wilayah tertentu. Beda dengan santet-santet pada umumnya yang hanya menargetkan targetnya dan juga keluarganya serta anak-cucunya, santet ini menyerang siapapun yang berada dalam satu kota/desa dengan si target. Sebelum lanjut, mari kita bahas dulu mengenai Santet Lemah Ireng.Santet Lemah Ireng adalah sebuah santet yang tidak memerlukan bantuan para jin, setan, dan makhluk2 halus pada umumnya, tapi santet ini hanya mengandalkan lemah ireng dan target yang berjalan di atas tanah dalam suatu wilayah, tempat di mana lemah ireng itu diambil, tempat orang yang ditargetkan itu berada. Selama orang-orang masih menginjak tanah, mereka pasti mati. Santet ini seperti gabungan dari Santet Malam Satu Suro, Santet Pring Sedapur, Santet Sewu Dino, dan Santet Janur Ireng. Selain itu, para pemuka agama (Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Buddha, Konghucu) tidak ada yang sanggup ataupun berani mengatasi santet ini.Santet ini tidak bisa diajarkan kepada siapapun, karena yang menguasai ilmu santet ini dia harus menjadi satu dengan Raja Iblis Nusantara. Raja Iblis itu akan masuk ke dalam raganya, dan apabila raganya kuat, maka dia akan memperoleh kekuatan besar, sedangkan jikalau tidak, maka mereka hanya akan mati konyol.Seratus Sebelas tahun setelah penyegelan itu, Angus Poloso yang waktu itu diletakkan (ditanam) di tanah keramat yang berlokasi di Blitar, tanpa sepengetahuan mereka, berdirilah sebuah sekolah SMA. Sebenarnya pihak pengembang sudah berkali-kali diingatkan kalau tanah tempat didirikannya sekolah itu adalah tanah berkah, yang orang2 kita sebut sebagai tanah keramat. Mendengar ucapan dari para warga setempat, pihak pengembangpun menganggap kalau ini semua hanyalah tahayul, dan terus memaksakan pembangunan itu.Dan selama beberapa tahun pembangunan, akhirnya sekolah itu berdiri juga. Berserta SMP dan Universitasnya (1976). Sebenarnya sebelah yayasan pendidikan itu sudah berdiri pondok pesantren yang didirikan oleh Kyai Marwan seratus sepuluh puluh tahun lalu sebagai antisipasi jikalau Angus Poloso itu terbuka.Sekolah megah dan luar biasa, menindih Angus Poloso yang ada di bawahnya. Karena tak bisa terelakkan, waktu itu keturunan Kyai Marwan, yaitu Mbah Wo, Mbah Carik, Cokropati, Mbah Jayos, dan Mbah Ibu, yang usianya sudah mencapai seratus tahunan, memberikan sebuah pager gaib di sekitar sekolah itu untuk mencegah terjadi apa-apa dan mencegah hancurnya segel Angus Poloso di sana. Dan tiga tahun setelahnya, Mbah Cokropati pun meninggal.Cokropati adalah anak Sulung dari Kyai Marwan dan merupakan anak yang paling cerdas dan berpengalaman dari kesemua keturunannya. Sehingga kematiannya menimbulkan lara dan kecemasan, karena sekte Immas takkan pernah berhenti mencoba mengeluarkan Nyi Imas dari segel Angus Poloso.Setelah kematian Kyai Marwan dan Cokropati, perjuangannya diteruskan oleh anak-cucunya. By the way, Kyai Marwan mempunyai tujuh orang anak dan dua belas cucu, sekaligus dua puluh empat cicit. Mereka semua adalah orang-orang hebat, dan kesemua anaknya adalah orang yang berpengaruh di daerahnya.Perjuangan mereka menggantikan Kyai Marwan bisa dirasa mudah dan sulit. Mudahnya karena demit-demit kelas atas yang paling ganas telah disegel oleh Kyai Marwan di dalam Angus Poloso, dan sulitnya adalah demit-demit kelas kecil ini terlalu banyak dan selalu bergerak di bayang2 dan selalu menggunakan cara yang licik, menyerang di balik layar daripada berhadapan langsung dengan keturunan Kyai Marwan.Puluhan tahun kemudian, ketika segel Angus Poloso sudah melemah, ada sebuah petaka yang membuat segel Angus Poloso terbuka. Yaitu Vita, cicit dari Kyai Marwan yang saat itu tanpa ia sadari telah membuka segel itu, sehingga demit-demit yang disegel di dalam Angus Poloso pun keluar dan meneror seluruh penjuru sekolah. Untunglah saat itu, Nyi Imas masih belum bisa keluar. Sementara untuk para demit2 itu, banyak di antara mereka yang tidak bisa keluar dari lingkungan sekolah akibat pagar gaib yang dipasang oleh Kyai Marwan. Meskipun begitu, teror dan kengerian selalu mengancam siapapun yang ada di sekolah itu.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset