Angus Poloso. Legenda Ki Ageng Selo episode 37

Horror 37 - (Test IV) Rantai Misteri.

[Third POV]

“Nah, bisakah kita mulai pertarungan ini, Ninggolo Geni? Sungguh disayangkan aku tidak boleh untuk membunuh ragamu untuk hari ini, namun meski begitu, kami semua akan tetap membuatmu menderita sampai kesetiap tulang-tulangmu!”

“Hahaha…” kata Ella tertawa lantang. “Kau pikir aku siapa, gadis kecil? Aku adalah Ninggolo Geni, penguasa rawa geni. Gadis kecil macam kau, takkan pernah mampu untuk mengalahkan, apalagi membunuhku,”

Dari sanalah pertarungan sengit dimulai. Sementara itu, Ratu Muspitasari sudah menghilang dari sana, tak kuasa bertahan karena merasakan aura hitam yang begitu kuat dari mereka berdua. Ella memulai serangan pertamanya dengan mengeluarkan ular-ular siluman dari telapak tangannya, namun Mela yang kini berjumlah puluhan bahkan ratusan itu dengan mudah menangkap setiap siluman ular yang dikeluarkan oleh Ella.

Mendapati serangannya dipatahkan dengan mudah membuat Ella sedikit mendecak kesal. Dalam keadaan demikian, dari belakangnya, muncul tangan demit yang hampir saja melesat menembus jantungnya. Syukurlah, Ella masih sanggup menghindarinya dengan melompat ke samping kiri.

“Cih! Hampir saja,” batin Ella mengumpat. “Kalau saja aku tak merasakan ada keganjilan di belakangku, pastinya sekarang aku sudah mati.”

Pertarungan dimulai kembali dengan para siluman ular itu mengeluarkan trisula dari mulut mereka dan bergegas untuk menyerang Mela, namun dengan sigap, kloningan Mela cepat menghadang siluman-siluman ular itu.

Semua kloning waktu Mela pun menarik para siluman ular itu untuk memasuki ruang dan waktu mereka. Dan kini yang tersisa tinggal satu Mela dan juga Ella seorang.

“Ah, jadi ini alasan dari Jayos untuk mengikutsertakanmu ke dalam Test of Faith ini, rupanya? Supaya Ella bisa bertemu kami dan juga meminta bantuan ke kami untuk menekan sosok Ninggolo Geni dalam tubuhnya,” gumam Mela lirih yang sedikit terdengar oleh Ella.

“Apa yang kau bicarakan, gadis kecil? Aku tak tahu apa maksudmu?” tanya Ella keheranan.

“Oh begitu, ya? Jayos mengirimmu dalam keadaan kau tertidur, sehingga kau tidak tahu apa yang direncanakan olehnya. Memang ciri khas kakek tua itu,”

Ella merasa geram melihat Mela mengacuhkan dirinya dan berbicara sendiri. Dengan cepat dia melesat menyerang Mela yang dalam keadaan terbuka lebar. Mela yang belum siap akan serangan itu, dengan mudah terkena tombak ular milik Ella yang langsung menembus tepat di jantungnya.

Darah keluar dari tempat di mana tombak itu tertancap dan juga dari mulut Mela. Ratusan tangan demit yang mengelilingi tubuh Mela berusaha melepas tombak ular itu dari jantungnya, namun percuma. Tombak itu tak bisa dilepaskan dengan mudah, terkecuali atas kehendak dari Ninggolo Geni sendiri.

“Dasar licik!” umpat Mela lemah. “Kau menyerangku di saat keadaanku lagi teralihkan. Dasar iblis bedebah,”

“Tidak ada kata licik ataupun ilegal dalam pertarungan. Kau tahu itu? Dengan ini… tamatlah nyawamu gadis kecil. Semoga kita berdua bisa berjumpa lagi di neraka.” Jawab Ella sumringah karena berhasil mengalahkan Mela. “Tapi tenang saja… hidupmu takkan berakhir dengan sia-sia karena aku akan mengambil seluruh kekuatan dan kecantikan yang ada pada dirimu. Dengan begitu, aku akan semakin kuat dan kekal abadi selamanya!”

Ella kemudian mengeluarkan sebuah cermin dari ruang kosong yang bernama Cermin Hampa. Kemudian Ella pun mengarahkan cermin itu ke arah Mela. Dan tiba-tiba dari tubuh Mela keluar banyak sekali orb-orb putih dan hitam yang langsung melesat memasuki cermin hampa itu.

Pandangan Mela pun kosong mendapati jiwanya keluar dari raganya. Ella pun tersenyum bahagia melihatnya, karena dengan ini, ilmu kanuragannya akan semakin bertambah dan kecantikannya pula akan semakin bertambah begitu ia selesai menghisap keseluruan jiwa Mela.

Setelah beberapa saat, terjadi sesuatu keganjilan yang membuat Ella keheranan. Seberapapun dia menghisap jiwa Mela, namun terasa kalau jiwa Mela seperti takkan pernah habis dihisapnya. Namun, Ella saat itu hanya berpikir akan menunggu beberapa saat lagi.

Namun, setelah lebih dari dua jam dia menghisap jiwa Mela, jiwanya tidak pernah habis. Dan malah jiwa yang ada di dalam tubuh Mela terasa semakin bertambah banyak sehingga membuat Ella kewalahan. Bahkan cermin hampa yang harusnya mampu menghisap jiwa tak terbatas, malah terasa begitu berat dan hampir pecah karena kapasitasnya hampir penuh hanya karena menghisap jiwa Mela.

“Cih! Ada apa ini?” umpat Ella kesal. “Sebenarnya seberapa banyak dan besar jiwa gadis kecil ini?”

Karena tak punya pilihan lain, Ella pun segera mengambil kembali cermin hampanya dan bergegas meletakkan tangannya ke atas kepala Mela. Dalam sekejap waktu, Mela yang belum sadarkan diri itu langsung hancur lebur menjadi abu.

Ella tertawa menggila saat itu, yang mana bahkan suaranya menggema di segala arah.

[Umam POV]

Aku terbangun mendengar suara tawa yang begitu keras dan Cumiik itu. Setelah aku tersadar, yang kudapati hanyalah Ella yang tengah tertawa sendirian bak orang gila. Namun, saat itu aku tidak menemukan keberadaan Mela di manapun.

“Mela…? Mela, di mana kau?” tanyaku sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.

Mengetahui kalau aku telah tersadar, Ella bergegas menghampiriku dan kemudian mencekik leherku dan mengangkatnya berdiri.

“Ada apa bocah kecil? Kau mencari kekasihmu itu, ya? Tenang saja… kekasihmu itu sudah berada di tempat yang cocok untuknya. Di neraka. Hahaha…!” kata Ella sambil tertawa menggila. “Sekarang giliranmu. Akan ku kirim kau ke tempat yang sama dengan gadis itu!”

Belum sempat Ella melakukan sesuatu padaku, tiba-tiba terdengar suara tertawa yang menggelegar dari segala penjuru arah. Suara tawa yang tak pernah bisa kulupakan.

Iya, suara tawa itu adalah suara tawa dari Mela.

“Apa kau pikir dengan membunuhku, aku akan mati!”

“Apa kau pikir dengan menjadi hukum dunia, aku akan tunduk padamu?”

Suara itu terus Cumiik, membuat gendang telingaku terasa agak sakit. Syukurlah, sorban hijau itu segera membalut kedua telingaku sehingga aku tak merasakan sakit sama sekali.

“Ini tidak mungkin terjadi. Tidak mungkin!?” gumam Ella tak percaya akan keadaan ini. “Bagaimana bisa manusia yang terkena ajian Lebur Jiwa masih bisa selamat? Bagaimana mungkin!?”

Tiba-tiba, ketika Ella masih dalam posisi mencekik leherku. Dari perutnya keluar tangan memedi yang aslinya transparan, namun akibat terkena darah Ella, membuatnya berwarna merah dan begitu menyeramkan.

“Eh? Bagaimana bisa?” ucap Ella yang masih tak percaya kalau Mela berhasil mendaratkan serangannya pada dirinya. Dan syukurlah dengan itu, aku bisa terlepas dari cekikannya.

Dan dari itulah, Mela berhasil memisahkan jiwa Ninggolo Geni dengan tubuh Ella.

“Darling, tangkap…!” ujar Mela sambil melemparkan tubuh Ella yang tak sadarkan diri itu padaku. Dengan cepat aku segera berlari untuk menangkap tubuhnya.

“Kurang ajar kau, gadis kecil!?” umpat Ninggolo Geni murka. Dengan cepat dia kembali memanggil ribuan pasukannya yaitu para ular dan juga siluman ular. “Sekarang aku takkan membiarkan kalian semua untuk kabur dari sini. Aku akan membunuh kalian semua di sini!!”

“Mela… kondisi Ella semakin memburuk. Aku hampir tak bisa merasakan detak jantungnya,” kataku yang begitu cemas mendapati kondisi Ella yang kian memburuk.

“Hahaha… gadis itu pernah menyerahkan jiwanya dengan sukarela padaku, jadi jikalau aku ditarik paksa keluar dari raganya, tinggal menunggu waktu saja sampai dia mati.” Sahut Ninggolo Geni sambil tertawa puas. “Bagaimanapun juga gadis itu pernah melakukan perjanjian padaku untuk menyelamatkan adiknya. Hahaha…”

Dengan tanpa emosi, Mela pun menyahut, “Oh… begitu, ya? Kalau begitu, aku tak punya beban lagi untuk membunuhmu, Ninggolo Geni!”

“Apa maksudmu?”

“Bukankah aku sudah pernah bilang sebelumnya. Aku akan membunuhmu bukan karena keluarga, sekte, atau siapapun. Aku ingin membunuhmu karena aku ingin melakukannya!”

“Tapi, Mela… jikalau kau melakukannya, maka Ella akan…” sahutku tak tega mendengar ucapan Mela barusan.

“Iya, kalau kau membunuhku, maka gadis itu akan lenyap pula. Dan rohnya akan mengambang selamanya di dunia ini sampai hari kiamat tiba!” celetuk Ninggolo Geni mencoba mencari sebuah cara supaya bisa menyelamatkan dirinya sendiri.

Di saat Mela lengah, Ninggolo Geni segera mengeluarkan sebuah pedang dari mulutnya. Dan dari itu, dia segera menyerang Mela dengan menggunakan pedang ular Rawa geni. Dan dengan mudahnya pula, dia berhasil menusuk leher Mela dengan pedang itu.

Tak lupa juga, dia juga mengeluarkan ajian Sedot Nyowo. Membuatku tak habis kaget dan panik. Namun, ketika aku hendak beranjak ke tempatnya, Mela hanya tersenyum tipis, seolah mengatakan kalau dia baik-baik saja dan serahkan semua ini padanya.

Tak terduga. Tiba-tiba pedang Rawa geni yang tadinya menusuk leher Mela, kini beralih menusuk leher Ninggolo Geni sendiri. Dan ajian Sedot Nyowo miliknya, kini malah berbalik padanya sendiri. Tubuh Ninggolo Geni mulai menua akibat ajian Sedot Nyowonya sendiri.

Tiba-tiba waktu di sana terasa berhenti, dan aku tak bisa bergerak, melihat, atau mendengarkan apapun. Entah apa yang terjadi waktu itu, namun aku menyadari kalau ini adalah perbuatan dari Mela.

“Apa yang terjadi…? kenapa aku…” ucap Ninggolo Geni sekarat.

“Ah… membosankan sekali. Aku pikir makhluk yang jadi sesembahan sekte Mata Satu akan kuat sekali. Namun, malah jauh lebih lemah ketimbang ibumu dulu, Ninggolo Geni,” jawab Mela ketus. “Apa kau tidak tahu kalau akulah yang mengalahkan dan menghabisimu ibumu dulu?”

“Kau… Nimas Ayu?”

Mela hanya mengangguk. “Ya, walaupun kini aku telah menitis ke jiwa dan raga keturunanku, sama sepertimu. Dan hanya ada satu orang di dunia ini yang sanggup membunuhku. Dan dia adalah pria itu!”

Mela pun menunjuk ke arahku.

“Hahaha… menarik sekali. Sesosok gadis yang kekuatannya sudah melampaui bumi itu sendiri, bisa dikalahkan oleh manusia lemah,” celetuk Ninggolo Geni yang benar-benar tak percaya akan apa yang barusan dikatakan oleh Mela. “Ah, sebenarnya aku ingin melihatnya. Namun, kita cukupkan sampai di sini, Nimas Ayu.”

Tiba-tiba Ninggolo Geni mengeluarkan mustika ular dari dalam tubuhnya. “Ini masukkan mustika ular milikku ke dalam tubuh Ella, dengan begitu ia akan bisa terselamatkan. Aku akan menunggumu di neraka, Nimas Ayu!”

Dan itulah akhir dari Ninggolo Geni. Seluruh tubuhnya berubah menjadi sisik-sisik ular yang mengelupas, seperti ular yang berganti kulit. Namun, sebelum tubuh Ninggolo Geni menghilang sepenuhnya, Mela mengambil darah dan juga daging ularnya. Dan Mela pun menyimpannya ke dalam liontin merahnya.

“Ini belum berakhir, Ninggolo Geni. Habis ini aku harus menghabisi Ki Bradjamana dan para antek-antek demit yang ada di belakangnya…” batin Mela tertunduk.

Setelah semua beres, Mela bergegas ke tempatku. Tanpa sepengetahuanku, dia pun kemudian memasukkan mustika ular yang diberikan Ninggolo Geni tadi ke dalam mulut Ella.

Aku yang tak tahu apa yang dilakukannya, tentu saja segera melarang. Namun, Mela seperti tak perduli dengan omonganku dan segera memasukkan mustika ular itu ke dalam tubuh Ella. Dan tanpa perlawanan sedikitpun, Ella dengan mudahnya menelan mustika itu.

“Apa itu akan baik-baik saja, Mel? Memasukkan sesuatu yang didapat dari dedemit ke dalam tubuhnya?” tanyaku yang masih saja cemas. “Aku tak bisa berkata apa-apa jikalau terjadi sesuatu padanya. Aku bahkan belum bisa mengatakan kata maaf padanya,”

Mela pun tertawa lirih. “Memang darling terlalu baik, ya? Tak usah gelisah… mustika itu mengandung berbegai obat di dalamnya kok, walaupun di dalamnya terdapat energi supranatural juga.”

Aku pun segera mengecek kembali kondisi Ella, dan ternyata benar. Kondisinya sedikit demi sedikit kian membaik. Kami berdua pun merasa begitu senang, dan segera membawa tubuh Ella ke tempat teman-teman yang lain, yang ternyata sudah sadar semua.

[Third POV]

Sementara itu, jauh di hutan larangan.

Dalam kabut yang begitu pekat dan menyayat akan kengerian horror yang ada menyelimutinya. Seorang wanita yang memakai pakaian bak seorang ratu berjalan dengan tergopoh-gopoh menelusuri setiap hutan larangan itu sampai tiba di sebuah rumah tua joglo yang ada di tengah-tengah hutan itu.

Tidak salah lagi kalau wanita itu adalah Ratu Muspitasari.

Sesampainya di rumah itu, tanpa permisi wanita itu langsung menembus tembok, yang mana tepat mengarah ke ruangan di mana Ki Bradjamana sedang melakukan ritualnya.

“Dasar dukun bajingan! Kau mau menumbalkan aku di depan bocah dan gadis itu, ‘kan!?” umpat ratu Muspitasari begitu kesal dengan dukun yang kini ada di hadapannya. “Bahkan kau dengan sengaja tidak memberitahu kalau gadis itu adalah Ndoro Ayu dan bocah itu mempunyai kekuatan untuk memanggil iblis Sangkala, sehingga membuat seluruh kerajaanku hancur berkeping-keping dengan sekali tiupan terompetnya.”

Mendengar hal itu, Ki Bradjamana hanya tertawa terbahak-bahak. “Hahaha… menarik, bukan? Sejujurnya kemunculan Ndoro Ayu dan iblis Sangkala melebihi ekspektasiku. Tujuan utamaku hanyalah untuk membangkitkan jiwa Ninggolo Geni dari tubuh cucuku,”

“Cih! Ternyata benar kalau aku cuman jadi kelinci percobaanmu, dukun tua!” balas ratu Muspitasari yang kembali mengumpat. “Lalu, apa sekarang kau puas? Mulai sekarang ini aku takkan membantumu untuk urusan yang menyangkut anak-anak itu, dukun tua. Jikalau kau masih ingin berurusan dengan mereka, suruh saja Saraswati, istri keempatmu itu!”

Dan dalam sekejap mata, sosok ratu Muspitasari pun telah menghilang.

“Saraswati,” panggil Ki Bradjamana. “Kemarilah, ndok ayu! Aku ada perlu denganmu sebentar,”

Dari belakang, muncullah seorang gadis yang masih sangat mempesona, berusia kira-kira lima belas tahunan. Ya, dia adalah Saraswati, istri keempat dari Ki Bradjamana yang merupakan kakek dari Ella.

“Ada apa? Saya lagi sibuk di dapur memasak,” jawab Saraswati sedikit menggerutu, namun dia masih mampu berbicara secara halus dan sopan kepada kakek berusia 60 tahunan itu.

“Ini bawalah dupa dan sesajen ini!” kata Ki Bradjamana sembari memberikan dupa dan sesajen kepada Saraswati. “Aku ingin kau untuk meletakkan ini di depan kuburan keramat itu. Setelah itu, kau cabut beberapa daun pohon kamboja yang ada di kuburan keramat itu dan bawa kemari. Aku ingin melakukan sesuatu terhadap para remaja dari masa depan itu. Paham?”

Saraswati hanya mengangguk dan bergegas meninggalkan tempat ritual Ki Bradjamana.

“Hahaha… ini benar-benar menarik. Aku tak pernah menyangka kalau remaja-remaja dari masa depan itu mempunyai begitu banyak potensial. Nah, sekarang kita akan melihat seberapa kuat mereka menghadapi rintangan-rintanganku berikutnya,” seru Ki Bradjamana sendiri. Suaranya bahkan terdengar ke seluruh penjuru hutan.

[Umam POV]

Setelah aku melihat kalau mereka semua sudah sadarkan diri, kami semua berencana untuk melanjutkan perjalanan lagi, yang mana tujuanku berikutnya adalah menemui Mbok Ruqayah, yang mana nenek buyutku untuk meminta bantuan menyembuhkan Cici.

Mereka sadar, namun sebagian dari mereka masih shok akan peristiwa yang barusaja mereka alami. Aku tak bisa menyalahkan mereka, jadi kubiarkan mereka tenang terlebih dahulu.

Semua anggota sepertinya sudah tahu apa yang menimpa Cici, terkecuali Andre tentunya. Aku tak berniat untuk memberitahunya juga, karena tidak penting juga dan aku tak ingin membuat suasana reguku menjadi kurang nyaman dengan pertengkaran kami.

“Ternyata kau selamat, kak? Kami semua sangat senang mendengarnya,” ujar Feby yang sedikit berlinang air mata syukur mendapati diriku baik-baik saja. “Maafkan aku yang telah memimpin menggantikan kakak, dan malah berakhir dengan begini?”

Aku menggeleng. “Tidak perlu minta maaf. Aku yakin kalau kau telah berusaha memimpin orang-orang yang sulit diatur ini dengan sebaik mungkin. Seharusnya kau malah bersyukur karena mempunyai naluri memimpin, Feb!”

“Hm… sekarang kita harus gimana, Mam?” tanya Agung yang sepertinya sudah bisa berbicara, walaupun masih sedikit shok. “Kita tidak tahu caranya untuk membuka gerbang gaib.”

“Tenang saja. Aku bisa mengeluarkan kalian semua dari sini,” teriak seseorang dari kejauhan, orang itu kemudian mendekat. Feby melihat orang itu dengan raut yang penuh dengan ketidakpercayaan. Ya, dia adalah Anggoro Aji. “Karena ratu Muspitasari telah berhasil dikalahkan, maka aku bisa bebas. Biarkan aku membantu kalian supaya bisa keluar dari sini, terus aku akan melanjutkan pertapaanku di tempat yang lain. Boleh?”

“Tentu saja nggak! Kau telah menipu kami dengan menyerahkan sebuah pusaka keris yang sama sekali tak bekerja, bahkan tak sanggup digunakan untuk mengatasi pasukan ratu Muspitasari.” Feby pun ngambek dibuatnya.

“Oh, keris Naga Sutra, ya? Hahaha… sebenarnya itu memanglah sebuah pusaka sakti, Nisanak. Mungkin hanya kalian saja yang tak bisa menggunakannya.” Ledek Anggoro Aji sambil tertawa. “Ah, kamu ya bocah yang merupakan keturunan dari kyai Marwan itu?”

Anggoro Aji menggerakkan tangan ke depan, ingin bersalaman denganku. Dan tanpa pikir panjang lagi, aku bersalaman dengannya.

“Ah, iya. Aku adalah cecet dari kyai Marwan,” jawabku sedikit ragu-ragu. “Anda siapa ya?”

“Oh, namaku adalah Anggoro Aji. Saya adalah salah satu petinggi di kerajaan Singosari. Dan saya sedang melakukan pertapaan seribu tahun,” jawab Anggoro Aji ramah. “Kalau begitu, anda adalah orang yang tepat untuk membuka kotak peti yang ada di bawah istana ratu Muspitasari. Aku yakin itu!”

“Kotak peti apa maksudmu?” tanyaku yang masih heran dengan permintaan dari Anggoro Aji. “Kalau hal itu adalah sesuatu yang mencurigakan, maka aku akan menolaknya.”

Feby menggeleng. “Tidak, kak! Itu adalah kotak peti yang dulunya ditinggalkan oleh leluhur kakak. Ki Ageng Selo,”

Semua orang yang ada di sana pada mengangguk, setuju. Terkecuali Mela, yang masih diam saja, tak menanggapi. Karena semuanya sudah sepakat, maka aku dengan senang hati ikut membantu Anggoro Aji untuk mencari tahu apa isi dari kotak peti misterius itu, yang katanya ditinggalkan oleh leluhurku.

Sesampainya di tempat yang ditunjukkan oleh Anggoro Aji, aku mengeluarkan sorban warna hijauku. Dan setelah kubacakan doa-doa, tiba-tiba sorban itu berubah menjadi tongkat, dan dengan tongkat itu, aku pukul ke tanah yang ditunjukkan Anggoro Aji padaku.

Dan setelah aku memukulkan tongkatku ke dalam tanah yang dimaksud, tiba-tiba terjadilah gempa hebat yang terjadi di seluruh kerajaan. Setelah beberapa saat, gempa itu berhenti dan tanahpun terbelah. Di sana, aku menemukan sebuah kotak peti berukuran 12×12 cm.

Dengan cepat, aku segera mengambil kotak misterius itu dan membukanya. Dan di dalamnya berisi bukan sebuah pusaka atau semacamnya, namun cuman emblem kerajaan yang tidak kuketahui.

Anggoro Aji langsung melihat emblem itu, dan dia mengatakan kalau itu adalah kunci untuk membuka gerbang gaib kerajaan Mangkupati. Dan katanya juga, masih ada dua lagi kunci seperti itu, supaya kerajaan Mangkupati bisa kembali ke dunia manusia.

“Itu adalah segel dari gapura kerajaan Mangkupati. Barang siapa yang berhasil mengumpulkan ketiga emblem itu, maka kerajaan Mangkupati yang konon dikabarkan hilang, akan muncul kembali ke dunia manusia. Ya, walaupun hanya dalam waktu tiga hari.” Jelas Anggoro Aji yang sepertinya pernah ke sana. “Kalau kalian menuju ke istana Mangkupati, saya hanya bisa mengingatkan kalau di sana tempatnya begitu berbahaya. Kerajaan itu dipimpin oleh ketujuh Raja Jin yang bengis.”

Akupun sedikit curiga. “Kau menjelaskan ke kami, seperti kamu memang sudah pernah menginjakkan kaki di sana. Apa itu benar?”

“Ya, aku pernah bertapa di sana. Namun aku diusir dari sana oleh ketujuh pengawal Raja Jin.”

“HAA…!?” Kami semua terkejut. Tak percaya.


cerbung.net

Angus Poloso. Legenda Ki Ageng Selo.

Score 0.0
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Sekitar dua abad yang lalu, saat terjadi perebutan kekuasaan antara VOC dan Britania di nusantara, ada sebuah kisah. Kisah seorang Kyai yang mampu menghentikan para demit-demit yang menghantui seluruh Jawa Timur ini. Kuntilanak, Pocong, Genderuwo, demit, jin-jin kafir, dan lain sebagainya. Dia menyegel semua demit itu di sebuah gerbang gaib yang diberi nama Angus Poloso, sebuah gerbang gaib yang memungkinkan para demit kelas atas itu tak bisa keluar dalam waktu lama. Seperti yang kita ketahui, tidak ada yang abadi di dunia ini, ya termasuk gerbang gaib itu. Oleh karena itu, setiap seratus tahun sekali gerbang gaib itu akan terbuka dan menimbulkan teror di Jawa maupun di seluruh negeri ini.Pria yang menyegel para demit-demit itu adalah Kyai Marwan, atau lebih dikenal sebagai Ki Ageng Selo. Gelar Ki Ageng Selo itu di dapatnya setelah berhasil mengalahkan Nyi Imas, seorang yang sakti mandraguna dan pengguna Santet Lemah Ireng, sebuah santet yang menargetkan setiap jiwa di sebuah wilayah tertentu. Beda dengan santet-santet pada umumnya yang hanya menargetkan targetnya dan juga keluarganya serta anak-cucunya, santet ini menyerang siapapun yang berada dalam satu kota/desa dengan si target. Sebelum lanjut, mari kita bahas dulu mengenai Santet Lemah Ireng.Santet Lemah Ireng adalah sebuah santet yang tidak memerlukan bantuan para jin, setan, dan makhluk2 halus pada umumnya, tapi santet ini hanya mengandalkan lemah ireng dan target yang berjalan di atas tanah dalam suatu wilayah, tempat di mana lemah ireng itu diambil, tempat orang yang ditargetkan itu berada. Selama orang-orang masih menginjak tanah, mereka pasti mati. Santet ini seperti gabungan dari Santet Malam Satu Suro, Santet Pring Sedapur, Santet Sewu Dino, dan Santet Janur Ireng. Selain itu, para pemuka agama (Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Buddha, Konghucu) tidak ada yang sanggup ataupun berani mengatasi santet ini.Santet ini tidak bisa diajarkan kepada siapapun, karena yang menguasai ilmu santet ini dia harus menjadi satu dengan Raja Iblis Nusantara. Raja Iblis itu akan masuk ke dalam raganya, dan apabila raganya kuat, maka dia akan memperoleh kekuatan besar, sedangkan jikalau tidak, maka mereka hanya akan mati konyol.Seratus Sebelas tahun setelah penyegelan itu, Angus Poloso yang waktu itu diletakkan (ditanam) di tanah keramat yang berlokasi di Blitar, tanpa sepengetahuan mereka, berdirilah sebuah sekolah SMA. Sebenarnya pihak pengembang sudah berkali-kali diingatkan kalau tanah tempat didirikannya sekolah itu adalah tanah berkah, yang orang2 kita sebut sebagai tanah keramat. Mendengar ucapan dari para warga setempat, pihak pengembangpun menganggap kalau ini semua hanyalah tahayul, dan terus memaksakan pembangunan itu.Dan selama beberapa tahun pembangunan, akhirnya sekolah itu berdiri juga. Berserta SMP dan Universitasnya (1976). Sebenarnya sebelah yayasan pendidikan itu sudah berdiri pondok pesantren yang didirikan oleh Kyai Marwan seratus sepuluh puluh tahun lalu sebagai antisipasi jikalau Angus Poloso itu terbuka.Sekolah megah dan luar biasa, menindih Angus Poloso yang ada di bawahnya. Karena tak bisa terelakkan, waktu itu keturunan Kyai Marwan, yaitu Mbah Wo, Mbah Carik, Cokropati, Mbah Jayos, dan Mbah Ibu, yang usianya sudah mencapai seratus tahunan, memberikan sebuah pager gaib di sekitar sekolah itu untuk mencegah terjadi apa-apa dan mencegah hancurnya segel Angus Poloso di sana. Dan tiga tahun setelahnya, Mbah Cokropati pun meninggal.Cokropati adalah anak Sulung dari Kyai Marwan dan merupakan anak yang paling cerdas dan berpengalaman dari kesemua keturunannya. Sehingga kematiannya menimbulkan lara dan kecemasan, karena sekte Immas takkan pernah berhenti mencoba mengeluarkan Nyi Imas dari segel Angus Poloso.Setelah kematian Kyai Marwan dan Cokropati, perjuangannya diteruskan oleh anak-cucunya. By the way, Kyai Marwan mempunyai tujuh orang anak dan dua belas cucu, sekaligus dua puluh empat cicit. Mereka semua adalah orang-orang hebat, dan kesemua anaknya adalah orang yang berpengaruh di daerahnya.Perjuangan mereka menggantikan Kyai Marwan bisa dirasa mudah dan sulit. Mudahnya karena demit-demit kelas atas yang paling ganas telah disegel oleh Kyai Marwan di dalam Angus Poloso, dan sulitnya adalah demit-demit kelas kecil ini terlalu banyak dan selalu bergerak di bayang2 dan selalu menggunakan cara yang licik, menyerang di balik layar daripada berhadapan langsung dengan keturunan Kyai Marwan.Puluhan tahun kemudian, ketika segel Angus Poloso sudah melemah, ada sebuah petaka yang membuat segel Angus Poloso terbuka. Yaitu Vita, cicit dari Kyai Marwan yang saat itu tanpa ia sadari telah membuka segel itu, sehingga demit-demit yang disegel di dalam Angus Poloso pun keluar dan meneror seluruh penjuru sekolah. Untunglah saat itu, Nyi Imas masih belum bisa keluar. Sementara untuk para demit2 itu, banyak di antara mereka yang tidak bisa keluar dari lingkungan sekolah akibat pagar gaib yang dipasang oleh Kyai Marwan. Meskipun begitu, teror dan kengerian selalu mengancam siapapun yang ada di sekolah itu.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset