Angus Poloso. Legenda Ki Ageng Selo. episode 39

Horror 39 - (Test IV) Mbok Ruqayah.

Setelah kembali, kami memutuskan untuk segera pergi meninggalkan tempat ini. Selain dari Arang-arang tadi, aku memang benar-benar merasakan kehadiran sesuatu atau seseorang yang tengah memata-matai kami.

Aku tidak mengatakan hal ini kepada siapapun, bahkan kepada Mela dan Feby.

Sesampainya di pertigaan, di mana semua ini bermula, tiba-tiba terjadi keanehan yang membuat bingung kami semua, karena pertigaan yang mengantar kami menuju desa Plesiran Londo, tiba-tiba berubah menjadi alas lebat, dan jalan yang menghubungkan desa itu dengan jalan tiba-tiba lenyap, tak berbekas.

Melihat kejadian aneh ini, kami memutuskan untuk segera pergi dari tempat ini, dan melanjutkan perjalanan kami menuju desa Glondong.

Dalam perjalanan, entah mengapa aku merasakan sakit di seluruh tubuhku. Aku merasa kalau tubuhku terasa sangat perih dan panas. Namun aku percaya kalau sakit ini bukanlah sesuatu yang mistis ataupun sakit pada umumnya, tetapi sakit ini sedikit membuatku mengaduh.

Syukurlah tiada seorangpun yang mengetahuinya. Dan karena tak ingin membuat mereka cemas, aku mencoba untuk menahan rasa sakit ini seorang diri.

“Kak, apa kakak baik-baik saja?” tanya Wulan padaku. “Sepertinya wajah kakak terlihat sedikit pucat?”

“Eh, Wulan… aku tidak apa-apa kok. Aku hanya merasa sedikit lelah, itu saja!” jawabku mencoba bersikap tenang. Entah mengapa Mela menatapku dengan tatapan sinis waktu itu.

“Aku benar-benar tak percaya kalau kita semua bisa keluar dari desa angker itu…” celetuk Ella tiba-tiba. Akhirnya dia terbuka juga dengan kami semua. “Padahal teman-temanku yang lain tidak ada yang bisa keluar dari desa itu. Sungguh mengerikan!”

Aku pun menepuk pundak Ella. “Akhirnya kau mau membuka diri pada kami, Ella. Kami semua bersyukur bisa melihat kalian berdua bisa selamat dari tempat itu.”

“Yah, semua ini berkat kakak dan yang lainnya,” balas Ella riang.

Kami sudah menelusuri pohon demi pohon hutan, yang terasa sepi dan menakutkan. Hanya kami saja yang saling ngobrol, memecah kesepian.

Setelah beberapa waktu berjalan, tiba-tiba ada siluet lampu dari kejauhan. Saking begitu semangatnya, Andre, Agung, dkk segera berlari untuk menghampiri tempat itu. Terkecuali aku, Mela, Feby, Nurul, dan Ella tentunya.

Ketika kami semua sampai di tempat itu, ternyata siluet lampu itu adalah warung sederhana, yang cukup rame akan pengunjung. Ketika aku hendak melangkah memasuki warung tersebut, tiba-tiba Mela memegang tanganku dan menggelengkan kepalanya, pertanda kalau ada sesuatu yang tidak beres dengan warung tersebut.

Dan saat aku melihat kembali ke warung tersebut, yang lainnya sudah pada makan lahab. Ada yang memesan rendang, ada pula soto, dsb. Duh benar-benar membuatku ngiler seketika.

Ketika aku melihat warung tersebut dengan mata batinku, aku tidak melihat apapun yang aneh sama sekali, bahkan aku tidak merasakan adanya aura jahat ataupun aura jin di sekitarnya.

“Nisanak, Kisanak… mau pesan apa?” tanya pemilik warung itu ramah. “Semua makanan yang kisanak inginkan ada di sini, kalau tidak ada… saya siap memasakannya!”

“A—Aku,” sahutku yang tiba-tiba terhenti ketika Mela mencubit tanganku. “Ah, tidak jadi. Saya menunggu di sini saja, bu.”

Kami berdua pun keluar dari warung tersebut dan berjalan menuju teras, yang mana ada kursi panjang dan sebuah paviliun yang sedikit usang, di mana Ella dan Nurul sedang asyik berbincang-bincang. Tak lupa juga, ada juga tiga keluarga, yang terdiri dari ayah, ibu, dan kedua anak-anaknya yang terlihat normal.

Darling, kamu sakit, ‘kan?” celetuk Mela tiba-tiba, membuat Ella dan Nurul terheran.

Aku menggaruk-garuk belakang kepalaku. “Apa yang kau katakan sih, Mel? Aku tak mengerti,”

Mela kemudian mencubit perutku sekali lagi, namun kali ini jauh lebih kuat, sehingga membuatku mengaduh.

“Ella, Nurul, kalian ke sinilah sebentar!” panggil Mela. Dan keduanya pun bergegas menghampiri Mela.

“Aku tahu kalau kalian berdua sudah mampu melihat ada yang ganjil di sini dengan mata batin kalian, kan? Sekarang katakan apa yang kalian lihat mengenai warung itu!”

“Eh? Sebenarnya kami tidak melihat apapun, iyakan, Nurul?” jawab Ella yang sepertinya berkilah. “Namun, kami merasakan ada sesuatu yang ganjil di sini, dan aura yang ada di sekitar warung itu terasa hambar dan panas, oleh karena itulah kami menyingkir ke sini,”

Nurul mengangguk. “Iya, kak. Kami merasa kalau pemilik warung itu adalah sesosok jin yang menghuni hutan ini. Dan teman-teman kakak… dalam masalah besar!”

Darling, cobalah kamu menutup matamu dan bacakanlah surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas, maka kau akan melihat apa yang sedang terjadi di sini!”

Aku menuruti apa yang dikatakan Mela. Menutup mataku dan membaca ketiga surat dalam Al-Qur’an tersebut. Dan ternyata apa yang dikatakan Ella dan Nurul itu ada benarnya.

Begitu aku membuka mata, pemandangan asri sebelumnya, kini berubah menjadi hutan liar. Dan pemilik warung berserta pembeli-pembelinya ternyata adalah sosok-sosok jin berkepala tiga, dan lidahnya menjulur panjang.

Namun ketika aku hendak memberitahu mereka semua, Ella dan Nurul sudah dijerat dengan ranting pohon yang membuatnya tak bisa bergerak, sementara Mela hanya duduk tenang di sana, sambil memainkan kakinya.

“T—Tolong, kak,” kata mereka berdua lirih. “Kami tak bisa bergerak, dan tak bisa bernapas.”

“Mela, apa yang kau lakukan? Kenapa kau malah diam saja?” tanyaku geram.

“Aku tidak perduli dengan mereka semua, makanya aku diam. Kalau darling ingin menyelamatkan mereka, lakukan saja!” jawab Mela simpel.

Saat itu, aku melihat ranting itu semakin mencekik leher Ella dan Nurul, membuatku panik seketika. Aku masih tidak bisa berbuat banyak, sementara Mela hanya diam, menatap kami dengan tatapan dingin dan tak peduli.

Ketika aku menyentuh ranting yang mencekik leher Ella dan Nurul, tanganku terluka robek karena ranting yang mencekik leher keduanya begitu tajam, setajam silet. Walaupun begitu, aku tetap memaksakan untuk melepaskan cekikan itu, sampai ranting baru itu muncul dari belakangku dan langsung mencekikku.

Tak butuh waktu lama sampai kepala kami bertiga terpenggal oleh ranting itu.

Dan di saat itulah, aku tersadar.

Ternyata aku hanya bermimpi buruk. Semua teman-temanku masih tertidur pulas, hanya aku sendirian yang ditemani oleh api unggun yang kobarannya masih terlihat besar membara itu. Begitu aku terbangun, aku melihat Mela tertidur di pangkuanku.

Aku sisihkan kepala Mela dari pangkuanku dan beranjak keluar tenda untuk mengamati sekitar. Dengan ditemani oleh secangkir kopi dan bulan yang bersinar terang, aku mencoba untuk menyusuri daerah sekitar, mencoba menenangkan hati dengan berkeliling.

“Ah, aku kangen kakak dan juga adik-adikku,” seruku menatap indahnya bulan, sambil meminum segelas kopi hangat. “Aku ingin tahu sedang apa mereka di sana sekarang?”

Setelah selesai berkeliling, memastikan kondisi aman, aku bergegas kembali ke tenda.
Sesampainya di sana, aku sudah melihat Mela tengah duduk di depan api unggun, menantiku.

Terlihat dari rona wajahnya, aku menyadari kalau dia baru saja terbangun. Akupun bergegas menghampiri dan duduk di sebelahnya.

“Mela, kau habis bangun, ya?” tanyaku kalem ke Mela.

“Sudah berulang-ulang kukatakan kalau aku tidak bisa tidur, selain tidur di pangkuanmu. Biasanya Rita lah yang selalu menidurkanku ketika aku ada di mansion. Namun, di luar sini, aku hanya bisa bergantung padamu, darling!” jawabnya sedikit ngambek. “Hai, darling. Apa kau ingat dengan masa-masa kecil kita? Waktu itu, Mbah buyutmu, Mbah Jayos dan Mbok Ruqayah datang ke mansion keluargaku dan menawarkan kesepakatan damai dengan kakekku?”

Aku terdiam. Masih membiarkan Mela untuk bicara.

“Waktu itu, kakekku yang menjabat sebagai puncuk pimpinan keluarga, sangat mengidam-idamkan akan kedamaian di antara dua keluarga besar. Namun sungguh disayangkan, tiga tahun setelah kesepakatan damai itu, kakekku harus meregang nyawa karena dibunuh oleh orang-orang utusan ayahku. Begitu pula ibu dan Vira.”

Mela pun menyandarkan tubuhnya ke lengan kiriku. “Ah, aku rindu akan kehangatan ini. Darling, saat pertama kali aku bertemu denganmu, aku sudah bukan lagi putri keluarga Immas, atau Ndoro Ayu yang selalu dipuja-puji oleh orang-orang sakti di seluruh penjuru nusantara. Namun, aku hanyalah seorang gadis biasa yang mencintaimu dan butuh akan cintamu!”

“Mel, aku…,” belum sempat aku bicara, aku sudah melihat Mela tertidur lelap di sampingku. Aku pun menggendongnya masuk ke dalam tenda, dan aku kembali ke tenda laki-laki untuk meneruskan tidur. “Dasar, benar-benar gadis yang merepotkan!”

Keesokan harinya, setelah berberes-beres, kami bergegas untuk melanjutkan perjalanan. Kulihat semua teman-temanku terlihat fresh hari ini, menandakan kalau tidur mereka nyenyak tadi malam.

Baru melangkah sebentar, tubuhku sudah terasa penas, begitupula pikiranku. Entah mengapa rasanya seperti dibakar. Tubuhku terasa perih dan sakit semua. aku percaya kalau sakit ini bukanlah sesuatu yang mistis ataupun sakit pada umumnya, tetapi sakit ini sedikit membuatku mengaduh.

Syukurlah tiada seorangpun yang mengetahuinya. Dan karena tak ingin membuat mereka cemas, aku mencoba untuk menahan rasa sakit ini seorang diri.

“Setelah ini… tiga… tiga kilometer lagi kita akan sampai di tempat nenek buyutku. Bersabarlah!” kataku yang sedikit terbata karena menahan sakitku. Aku tidak tahu yang lainnya, namun aku merasakan kalau Mela sedang menatap tajam ke arahku.

“Oh, tapi kakak baik-baik saja, ‘kan?” tanya Feby. “Kak Mela bilang kalau kamu mimpi buruk semalam. Mimpi apa? Kalau ada apa-apa, kakak bisa cerita pada kami semua kok.”

“Ah, tidak usah. Mimpi kemaren terlalu mengerikan untuk diceritain ke kalian semua. Aku takut kalau kalian bakal takut mendengarnya. Hehhee…!” jawabku simpel, dengan muka tenang yang dipaksakan.

Kami bersepuluh pun akhirnya melanjutkan perjalanan kami. Di Lodoyo, di zaman ini rumah-rumah masih terlihat jarang-jarang, berbeda dengan zamanku sekarang yang mana sudah padat akan rumah-rumah.

Ketika baru berjalan sejauh sekitar sembilan ratus meter, ada sebuah warung yang berdiri di bawah pohon beringin tua. Karena semua sudah pada kelaparan, aku belokkan jalan mereka ke arah warung tersebut. Lagipula warung itu aman kok, karena yang punya warung ini adalah seorang kyai. Ya, entah kyai itu tahu atau tidak, tapi pohon beringin yang ada di belakang warungnya merupakan tempat dari berbagai sosok siluman.

Panggil saja kyai itu Pak Mansyur.

“Aden-aden ini dari mana, dan mau ke mana?” tanya Pak Mansyur ramah. Setelah selesai menghidangkan makanan yang kami pesan.

“Mungkin kyai tidak akan percaya. Namun kami semua berasal dari masa depan. Kami datang dari waktu sekitar tiga puluh tahun dari sekarang!” jawabku menjelaskan. Kyai itu seperti sedikit bingung mendapati ada orang-orang dari masa depan. “Kami datang ke masa ini karena sedang menjalankan ujian Test of Faith,”

Kyai itu berdehem, mengangkat dagu. “Oh begitu. Aku pernah dengar kalau di daerah sini ada seseorang yang mempunyai karomah seperti itu. Namanya kalau gak salah sih Jayos. Iya, Mbah Jayos namanya.”

“Bapak kenal dengan kakek buyutku?” tanyaku antusias.

“Iya kenal banget malah,” jawabnya. “Kakek buyutmu itulah pernah merawatku selama tujuh tahun setelah kematian orangtuaku. Dan putraku saat ini sedang belajar di ponpesnya.”

Ketika kami selesai untuk makan di rumah makan milik kyai Mansyur, kami putuskan untuk segera melanjutkan perjalanan. Sekeluarnya kami dari warung, tiba-tiba tubuhku merasakan panas yang teramat panas, seperti terbakar. Tak hanya itu, terasa ada sebuah tangan api yang memegang jantungku dan meremas-remasnya. Membuatku berteriak kesakitan dan langsung pingsan seketika.

Membuat semua orang yang ada di sana panik.

“Kak, kamu kenapa kak?!” Feby dan yang lainnya segera datang mengerumuniku dengan kepanikan yang tergambar jelas di muka mereka masing-masing. “Astagfirullah, badannya terasa begitu panas. Sekarang apa yang harus kita lakukan?”

“Ada apa, nak?” tanya Pak Mansyur yang bergegas ke arahku.

“Woy, panggilin dokter… woy!” teriak Andre panik.

“Nggak usah, bawa dia ke masjid. Cepat!” jawab Pak Mansyur.

Aku pun dibawa menuju ke masjid yang letaknya sekitar tiga puluh meter dari warung. Mela tidak bisa berkata apa-apa lagi selain menutup mukanya, menangis. Sementara yang lain, terdiam, risau. Bingung tentang kejadian yang barusaja terjadi padaku.

Sesampainya di masjid, aku langsung dibaringkan di dalam masjid. Di sana, ada dua kyai yang sudah sepuh langsung bergegas ke arahku, sambil menanyakan apa yang terjadi kepada kyai Mansyur.

“Ada apa ini, pak?” tanya kedua kyai, kyai Burhan dan kyai Mustofa resah. “Ya Allah… ini efek ilmu kebatinan! Kita harus segera menyegel ilmunya ini, sebelum mengobatinya.”

Kyai Mansyur menatap ke arah Mela. Seperti dia tahu tentang apa yang terjadi padaku. Mela waktu itu hanya menangis, menangis, dan menangis tanpa bisa melakukan apapun untuk membantuku. Sementara yang lain, sudah siap mengikatku lima sisi dengan janur kuning.

“Ndre… pegangin yang kuat lo!” kata Agung mengingatkan. “Aku merasa akan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan sebentar lagi.”

“Tenang aja! Kalo kak Umam bisa lolos dari ini, dia benar-benar kuat berarti,” sahut Andre ngeselin.

Entah mengapa waktu itu darah berwarna merah keluar dari mulut, kuping, hidung, dan kulitku. Membuat teman-temanku yang lain pada terkena darah yang terciprat dari mulutku. Wulan dan Nanda yang menyaksikannya langsung pingsan seketika, sementara yang lain tetap bertahan.

Tak butuh lama, kyai Mansyur, kyai Burhan, dan kyai Mustofa kembali setelah membawakan bahan-bahan yang akan digunakan untuk pengobatan. Ada air zam-zam (beruntungnya saat itu ada warga yang barusan pulang haji, dan air zam-zamnya ada yang tersisa), kembang tujuh rupa, air mineral, daun bidara, dan minyak kayu putih. Kyai Mansyur menyuruh Feby dan Siti untuk menggosok-gosokkan minyak kayu putih ke dahi, telapak tangan, dan telapak kakiku. Sementara Ella dan Cici membasahi tangan, perut, dan juga kaki dengan air dari kembang tujuh rupa yang sudah didoakan.

“Ingat! Jadikan ini sebagai perantara saja, dan jangan anggap benda-benda ini bisa menyembuhkan, selain dari pertolongan Allah SWT,” kata kyai Mustofa mengingatkan. “Sementara Nona, bisakah kau untuk meminumkan air zam-zam ini, ketika kami menumbuk daun bidara?”

Mela dengan ragu-ragu pun mengiyakan permintaan kyai Mustofa tersebut. Ketika semua sudah beres, dan tinggal meminumkan air zam-zam itu, terjadi sesuatu yang fatal. Ketika air zam-zam masuk ke tenggorokanku, tiba-tiba semua orang yang ada di dalam masjid dan beberapa rumah yang ada di dekat masjid itu langsung terhempas kuat seperti diterbangkan oleh suara terompet yang begitu kuat dan besar.

Dan semua teman-temanku terluka parah waktu itu, termasuk juga Mela, walaupun dia hanya terluka seperti sayatan pisau.

“Astagfirullah, apa itu barusan?” tanya semua orang yang ada di sana terkejut dan panik, mereka bergetar hebat, ketakutan.

“Santet,” kata Mela terpaku. “Ini bukan santet pada umumnya. Ini santet Sangkala!”

Mendengar kata-kata Mela yang tiba-tiba itu, membuat yang lain pada heran. “Santet Sangkala?”

“Iya. Santet yang berdampak kepada siapapun yang menggunakan iblis Sangkala. Santet ini ada empat tahap. Tahap pertama, adalah ketika dia memanggil iblis Sangkala untuk pertama kali, dia akan pingsan selama sebulan penuh, dan sebagian ingatannya akan hilang. Tahap kedua, ketika ia memanggil iblis Sangkala untuk kedua kalinya, dia akan merasakan sakit seperti berada di neraka. Tahap ketiga, ketika ia memanggil iblis Sangkala untuk ketiga kalinya, dia akan kehilangan organ-organ dalamnya, bahkan akan hancur akibat getaran-getaran ultrasonik dari iblis Sangkala sendiri. Dan terakhir tahap keempat, ketika ia memanggil iblis Sangkala untuk keempat kalinya, dia akan benar-benar mati!” jelas Mela sembari membaringkanku di pangkuannya. “Dan yang kalian lihat saat ini adalah tahap keduanya. Sejauh yang kuketahui, hanya ada tiga keluarga yang mampu menyembuhkan santet di tahap ini. Yaitu; keluarga Marwan, keluarga Immas, dan keluarga Siswandi. Itupun hanya puncuk pimpinan keluarga itu yang mampu menyembuhkannya.”

“Lalu, apa yang harus kita lakukan?” tanya Siti panik.

“Rumah mbah buyut kak Umam ada di dekat sini. Lebih baik kita ke sana!” ajak Feby. Mela pun mengangguk setuju. “Perjalanan dari sini hanya membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit saja untuk sampai ke sana. Kita harus cepat!”

Tiba-tiba terdengar suara dari tas ransel yang kubawa. Dari tas itu kemudian melesatlah sorban hijau yang langsung berubah menjadi sebuah karpet terbang.

“Naiklah! Aku akan mengantarkan kalian semua hanya dalam kedipan mata ke tujuan kalian,” kata sorban hijau itu.

Dengan tubuh penuh luka, mereka semua mengangkat tubuhku yang masih dalam keadaan pingsan itu dan meletakkannya di atas karpet terbang dan diikuti oleh kesembilan temanku yang lain. Sebelum pergi dari sana, Feby selaku wakilku mengucapkan rasa terima kasih dan salam untuk perpisahan.

Dengan nada yang lemah, ketiga kyai itu tersenyum dan bilang, “Iya. Mungkin hanya Mahaguru yang sanggup menyembuhkan teman kalian. Kami titip salam buat Mbah Jayos dan Mbok Ruqayah ya?”

Setelah itu, karpet terbang itu melesat secepat kilat. Yang mana langsung tiba di depan rumah Mbah Jayos. Seperti sudah tahu kalau hal ini akan terjadi, Mbah Jayos, Mbah Anam, dan Mbok Ruqayah segera membawaku dan kami semua masuk ke dalam rumahnya yang sangat besar.

“Akhirnya kalian sampai juga. Cepat bawa cicitku masuk segera!” kata Mboh Ruqayah tegas dan garang.

“B-baik,” sahut mereka. Agung dan Andre kemudian membopongku masuk ke dalam ruang yang berlatar luas di dalam rumah.

Seperti sudah mengerti dan mengenal mengenai Mela, tanpa ragu-ragu sedikitpun, Mbok Ruqayah pun bertanya padanya.

“Apa yang terjadi pada cicitku, Mela? Mengapa dia sampai bisa seperti ini?” tanya Mbok Ruqayah keras dan garang. Mela hanya terdiam, membuat emosi Mbok Ruqayah memuncak. “Aku tahu kau berasal dari keturunan keluarga Immas. Dan aku juga tahu kalau kau menyembunyikan sesuatu mengenai cicitku. Aku tidak peduli semua itu sekarang. Yang pasti, kau harus mengatakan mengenai apa yang diderita cicitku sekarang!!”

Mela sedikit ragu untuk menjawab, namun pada akhirnya. “…Santet Sangkala. Dia mengalami tahap kedua dari keempat tahap santet itu!”

Kedua mbah buyutku terkejut seketika mendengar penjelasan dari Mela. Mereka berdua tak percaya kalau cicit mereka bisa melakukan pemanggilan dari iblis paling berbahaya itu, apalagi sudah dalam tahap kedua. Itu berarti di masa sebelum ini, aku sudah pernah melakukan pemanggilan Sangkala. Walaupun Mela tak tahu kapan itu terjadi.


cerbung.net

Angus Poloso. Legenda Ki Ageng Selo.

Score 0.0
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Sekitar dua abad yang lalu, saat terjadi perebutan kekuasaan antara VOC dan Britania di nusantara, ada sebuah kisah. Kisah seorang Kyai yang mampu menghentikan para demit-demit yang menghantui seluruh Jawa Timur ini. Kuntilanak, Pocong, Genderuwo, demit, jin-jin kafir, dan lain sebagainya. Dia menyegel semua demit itu di sebuah gerbang gaib yang diberi nama Angus Poloso, sebuah gerbang gaib yang memungkinkan para demit kelas atas itu tak bisa keluar dalam waktu lama. Seperti yang kita ketahui, tidak ada yang abadi di dunia ini, ya termasuk gerbang gaib itu. Oleh karena itu, setiap seratus tahun sekali gerbang gaib itu akan terbuka dan menimbulkan teror di Jawa maupun di seluruh negeri ini.Pria yang menyegel para demit-demit itu adalah Kyai Marwan, atau lebih dikenal sebagai Ki Ageng Selo. Gelar Ki Ageng Selo itu di dapatnya setelah berhasil mengalahkan Nyi Imas, seorang yang sakti mandraguna dan pengguna Santet Lemah Ireng, sebuah santet yang menargetkan setiap jiwa di sebuah wilayah tertentu. Beda dengan santet-santet pada umumnya yang hanya menargetkan targetnya dan juga keluarganya serta anak-cucunya, santet ini menyerang siapapun yang berada dalam satu kota/desa dengan si target. Sebelum lanjut, mari kita bahas dulu mengenai Santet Lemah Ireng.Santet Lemah Ireng adalah sebuah santet yang tidak memerlukan bantuan para jin, setan, dan makhluk2 halus pada umumnya, tapi santet ini hanya mengandalkan lemah ireng dan target yang berjalan di atas tanah dalam suatu wilayah, tempat di mana lemah ireng itu diambil, tempat orang yang ditargetkan itu berada. Selama orang-orang masih menginjak tanah, mereka pasti mati. Santet ini seperti gabungan dari Santet Malam Satu Suro, Santet Pring Sedapur, Santet Sewu Dino, dan Santet Janur Ireng. Selain itu, para pemuka agama (Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Buddha, Konghucu) tidak ada yang sanggup ataupun berani mengatasi santet ini.Santet ini tidak bisa diajarkan kepada siapapun, karena yang menguasai ilmu santet ini dia harus menjadi satu dengan Raja Iblis Nusantara. Raja Iblis itu akan masuk ke dalam raganya, dan apabila raganya kuat, maka dia akan memperoleh kekuatan besar, sedangkan jikalau tidak, maka mereka hanya akan mati konyol.Seratus Sebelas tahun setelah penyegelan itu, Angus Poloso yang waktu itu diletakkan (ditanam) di tanah keramat yang berlokasi di Blitar, tanpa sepengetahuan mereka, berdirilah sebuah sekolah SMA. Sebenarnya pihak pengembang sudah berkali-kali diingatkan kalau tanah tempat didirikannya sekolah itu adalah tanah berkah, yang orang2 kita sebut sebagai tanah keramat. Mendengar ucapan dari para warga setempat, pihak pengembangpun menganggap kalau ini semua hanyalah tahayul, dan terus memaksakan pembangunan itu.Dan selama beberapa tahun pembangunan, akhirnya sekolah itu berdiri juga. Berserta SMP dan Universitasnya (1976). Sebenarnya sebelah yayasan pendidikan itu sudah berdiri pondok pesantren yang didirikan oleh Kyai Marwan seratus sepuluh puluh tahun lalu sebagai antisipasi jikalau Angus Poloso itu terbuka.Sekolah megah dan luar biasa, menindih Angus Poloso yang ada di bawahnya. Karena tak bisa terelakkan, waktu itu keturunan Kyai Marwan, yaitu Mbah Wo, Mbah Carik, Cokropati, Mbah Jayos, dan Mbah Ibu, yang usianya sudah mencapai seratus tahunan, memberikan sebuah pager gaib di sekitar sekolah itu untuk mencegah terjadi apa-apa dan mencegah hancurnya segel Angus Poloso di sana. Dan tiga tahun setelahnya, Mbah Cokropati pun meninggal.Cokropati adalah anak Sulung dari Kyai Marwan dan merupakan anak yang paling cerdas dan berpengalaman dari kesemua keturunannya. Sehingga kematiannya menimbulkan lara dan kecemasan, karena sekte Immas takkan pernah berhenti mencoba mengeluarkan Nyi Imas dari segel Angus Poloso.Setelah kematian Kyai Marwan dan Cokropati, perjuangannya diteruskan oleh anak-cucunya. By the way, Kyai Marwan mempunyai tujuh orang anak dan dua belas cucu, sekaligus dua puluh empat cicit. Mereka semua adalah orang-orang hebat, dan kesemua anaknya adalah orang yang berpengaruh di daerahnya.Perjuangan mereka menggantikan Kyai Marwan bisa dirasa mudah dan sulit. Mudahnya karena demit-demit kelas atas yang paling ganas telah disegel oleh Kyai Marwan di dalam Angus Poloso, dan sulitnya adalah demit-demit kelas kecil ini terlalu banyak dan selalu bergerak di bayang2 dan selalu menggunakan cara yang licik, menyerang di balik layar daripada berhadapan langsung dengan keturunan Kyai Marwan.Puluhan tahun kemudian, ketika segel Angus Poloso sudah melemah, ada sebuah petaka yang membuat segel Angus Poloso terbuka. Yaitu Vita, cicit dari Kyai Marwan yang saat itu tanpa ia sadari telah membuka segel itu, sehingga demit-demit yang disegel di dalam Angus Poloso pun keluar dan meneror seluruh penjuru sekolah. Untunglah saat itu, Nyi Imas masih belum bisa keluar. Sementara untuk para demit2 itu, banyak di antara mereka yang tidak bisa keluar dari lingkungan sekolah akibat pagar gaib yang dipasang oleh Kyai Marwan. Meskipun begitu, teror dan kengerian selalu mengancam siapapun yang ada di sekolah itu.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset