Angus Poloso. Legenda Ki Ageng Selo. episode 40a

Horror 40a - (Test IV) Firasat Dan Kecurigaan.

[Feby POV]

“Bodoh!” umpat Mbok Ruqayah yang ditujukan ke Mela. “…Bagaimana bisa kau membiarkan cicitku untuk melakukan pemanggilan itu!?”

Mendengar umpatan itu, Mela hanya menunduk, tak tahu harus berkata apa. Melihat tatapan Mbok Ruqayah pada Mela, membuat Andre maju untuk membela Mela. Membuat Cici sedikit merasa curiga.

“Hentikan! Semua ini adalah salahku, bukan salah Mela. Kalau saja aku bisa menghentikan Umam untuk memasuki desa itu, mungkin semua ini takkan terjadi. Jadi, maafkan aku!” kata Andre menyahut umpatan Mbok Ruqayah itu.

“Hehhm… kau memang bodoh, anak muda! Kau bisa terpedaya dengan keluguan gadis keturunan keluarga Immas ini. Padahal dia—“ jawab Mbok Ruqayah geram, yang langsung dipotong oleh Mbah Jayos. Sepertinya ada yang mereka rahasiakan mengenai Mela.

“Sudah cukup, Ruqayah! Yang terpenting sekarang ini adalah menyembuhkan cicitku. Mungkin mereka bisa membantu,” kata Mbah Jayos menegur istrinya tersebut. “Suruhlah mereka untuk mencari bahan-bahan yang dibutuhkan untuk ritual penyembuhan ini. Aku akan pergi ke sawah terlebih dahulu untuk memberitahukan hal ini ke Mbah Ibu, Imam, dan Abid!”

“Abid? Maksud kakek Zaenal Abidin?” tanyaku terkejut.

“Iya. Bukankah kalian sudah tahu? Dia adalah cucuku dan menurut ilham dari diriku di masa depan, Abid lah yang akan menjadi ayah Umam kan?” jawab Mbah Jayos menjawab pertanyaanku sambil tersenyum ringan, dan kemudian langsung pergi ke sawah. “Mungkin aku akan menemui teman lamaku Bakrie untuk ikut membantu. Semoga saja dia ada waktu untukku.”

Setelah suaminya pergi ke sawah, Mbok Ruqayah pun menghela napas panjang-panjang.
“Sudah. Sebaiknya kalian semua bantu aku mencarikan bahan-bahan yang diperlukan untuk ritual nanti malam,”

“Ritual?” tanyaku.

“Iya. Ritual penyegelan. Aku akan menyegel kembali iblis Sangkala itu supaya tidak mengacau dan juga aku akan membuka segel yang dipasang oleh suamiku di masa depan yang mana telah menyegel semua ilmu kanuragan dari cicitku,” jawab Mbok Ruqayah yang mulai tenang dan kalem. “Anam, bawa cicitku ke kamar segera, biar anak-anak ingusan ini aku yang urus!”

Anam (mbah Gel) itu mengangguk dan membawa kak Umam masuk ke dalam. Sementara itu, Mela segera menyusulnya. Namun, segera dihadang oleh Mbok Ruqayah. Terjadi silang pendapat di antara keduanya, sampai Mela berniat untuk mencelakai Mbok Ruqayah.

Dengan sigap, Mbok Ruqayah yang sudah tua itu meludahkan daun sirihnya ke arah perut Mela, membuatnya kaku dan meleleh. Di saat itulah, Mbok Ruqayah menghantamkan tongkat kayunya ke arah perut Mela, membuatnya mampu bergerak kembali.

“Dasar bodoh! Apa kau pikir mampu menyerangku dengan kondisimu saat ini?” tanya Mbok Ruqayah geram, menatap Mela dengan penuh kengerian dan keinginan membunuh yang begitu kuat. “Asal kau tahu, naluri membunuhku jauh lebih besar ketimbang milikmu saat ini, Mela. Kalau kau ingin menantangku dan membunuhku, kau harus keluar terlebih dahulu dari cangkang mu itu dulu!”

Akhirnya Andre bergegas menghampiri Mela dan membawanya untuk duduk di kursi yang tak jauh dari tempatnya tersungkur.

“Mela, kau baik-baik saja?” tanya Andre yang terlihat peduli padanya.

Cici pun melangkah mendekati mereka berdua. “Sini, Andre biar aku saja yang bantu,”

Andre menolak, membuat Cici semakin merasa curiga kepada pacarnya, Andre yang dari pandangannya terlihat care banget ke Mela. Tak mau suudzon atau apa, Cici menghela napas untuk menghilangkan rasa cemburunya.

Sepuluh menit kemudian, kami semua dikumpulkan oleh Mbok Ruqayah di sebuah ruangan yang cukup luas. Di sana, dia memberikan intruksi mengenai apa saja yang diperlukan untuk ritual ini, dan kemana mereka harus mencarinya.

Pertama, mereka harus mencari janur kuning emas. Mereka bisa menemukannya di ladang angker yang ada di belakang rumah Mbah Ibu. Pak Khoiri selaku putranya mampu menunjukkan di mana tempat itu berada, walaupun dia tidak bisa menemani mereka masuk ke dalam ladang angker itu.

Kedua, mereka harus meminjam tongkat yang biasa digunakan oleh khatib saat berkhutbah. Syukurnya di tempat mereka, sudah begitu dekat dengan masjid.

Ketiga, mereka harus mencari mustika terompet kyai Juhri yang ada di kanigoro.

Dan keempat, dan ini adalah tugas paling sulitnya. Mereka harus mendapatkan pusaka milik kyai Brajah, yang konon sekarang ini dijaga oleh sosok iblis pencuri wajah bernama Ki Amor. Dan di sinilah, Mbok Ruqayah mewanti-wanti mereka semua.

“Iblis pencuri wajah adalah iblis terburuk. Kalau bertemu dengannya jangan sampai kalian menunjukkan emosi kalian, apapun terjadi. Iblis itu mampu membaca hati dan pikiran kalian, dan kalau kalian menunjukkan emosi kalian, meski di dalam hati kalian, maka emosi dan rupa kalian akan diambil oleh iblis itu. Paham?” kata Mbok Ruqayah menjelaskan sembari mewanti-wanti. “Untuk yang keempat ini, jikalau kalian bertemu dengan siapapun yang tidak kalian kenal, jangan hiraukan apapun yang terjadi. Karena dipastikan itu adalah jelmaan dari Ki Amor.”

Mendengar mengenai syarat yang keempat ini, banyak dari mereka yang takut dan menolak. Mereka semua pada takut akan iblis itu. Mbok Ruqayah sedikit bingung harus bagaimana untuk menenangkan mereka, karena pusaka itu sangat penting demi kesembuhan cicitnya. Akhirnya dengan berat hati, Mbok Ruqayah meminta perewangan dirinya untuk mengaburkan bau dan eksistensi dari kami semua. Namun, dia tetap mewanti-wanti, meski sudah dikaburkan, namun apabila mereka menjauh dari jarak pandang perewangan Mbok Ruqayah, maka iblis itu akan bergegas mendatanginya.

“Tenang saja, bocah-bocah! Aku akan mengirimkan perewangan gaibku kepada kalian. Kau, Wulan… kau adalah yang paling penakut dari kalian semua. Kau tidak kuizinkan untuk ikut. Paham?” kata Mbok Ruqayah yang begitu menyebalkan, sama seperti biasanya. “Kalian jangan sampai menjauh dari jarak pandang perewangan gaibku, karena begitu kalian menjauh, maka iblis itu akan mampu merasakan kehadiran kalian dan langsung mendatangi kalian.”

Meskipun dengan kengerian seperti itu, kami masih memutuskan untuk mencari keempat alat itu supaya kak Umam bisa terselamatkan. Kami melakukan ini semua bukan hanya karena rasa persahabatan kami yang sudah terjalin lama, namun sebagai sedikit balas budi atas apa yang telah dia lakukan pada kami.

“Baiklah, ayo berangkat!” seruku yang langsung ditanggapi antusias oleh yang lainnya. Sebelum pergi, Mbok Ruqayah memasukkan secarik kertas ke dalam sakuku dan menyuruhku membukanya apabila diriku kehilangan jalan. Aku prediksi kalau itu adalah sebuah peta, namun dugaanku salah.

Dan setelahnya, kamipun bergegas pergi.

“Kenapa kau tak mengizinkanku untuk ikut, M-Mbah? Padahal yang lain sangat berantusias untuk membantu dalam ritual, sedangkan aku di sini… hanya menunggu layaknya orang bodoh,” tanya Wulan resah. “Aku tak bisa membayangkan jikalau dalam perjalanan, mereka akan menemui kendala-kendala yang tidak mereka mengerti dan akhirnya malah membuat mereka tersesat.”

Tiba-tiba Mbok Ruqayah tersenyum licik, kemudian tertawa lirih layaknya seorang nenek sihir.

“Hehhee… hehhee… kau tidak tahu maksudku, gadis muda?” Mbok Ruqayah malah balik bertanya. “Aku punya alasan tersendiri dengan melakukan hal ini. Pertama, kau adalah penakut dan jiwamu takkan kuat berkelana ke alam kegaiban. Karena setelah mereka menginjakkan kaki keluar dari rumah ini, mereka semua sudah diteleportasi ke alam kegaiban. Kedua, aku ingin menguji mental sok kuat dari diri mereka. Beda denganmu, kau memiliki potensi yang tersembunyi dalam dirimu, hanya kau saja yang tidak mengetahuinya. Ketiga, aku ingin menjauhkan Mela itu dari cicitku!”

“Ha? Mengapa? Bukankah kak Umam dengan Mela adalah sepasang kekasih?”

“Iya, aku tahu. Namun apa kau tidak menyadari sama sekali kalau Mela yang kalian bawa kemari adalah penjelmaan dari Ki Amor?” jawab Mbok Ruqayah. “Itulah sebabnya suamiku akan memanggil Mbah Bakrie, dan Abid melalui telepati supaya ikut dalam pertarungan nanti melawan Ki Amor. Sedangkan Mela yang asli aku sudah melihatnya beberapa jam sebelum kalian sampai di sini. Dia sepertinya sedang pergi ke sebuah tempat.”

“Lalu, itu berarti teman-teman yang lain dalam bahaya dong?”

“Biarlah… mereka harus menyelesaikan rintangan ini dengan kekuatan mereka sendiri. Dan untuk Cici, kalau dia berhasil melewati rintangan ini, maka jiwa palasik yang ada pada dirinya akan ikut lenyap bersamaan dengan perasaan cemburunya.”

Kami berdelapan merasa terkejut ketika mendapati kami di teleportasi ke sebuah tempat yang dirasa asing. Namun, Nanda menggeleng. Karena sebenarnya dia tahu tempat ini.

Iya, saat ini mereka telah diteleportasi di depan rumah Pak Khoiri yang letaknya di Tulungagung. Dalam keheranan kami, tiba-tiba dari rumah, muncul seorang pemuda berusia kira-kira tujuh belas tahunan yang langsung mengetahui akan kedatangan kami.

Dia adalah Pak Khoiri sendiri.

“Tak kusangka kalau nenek reyot itu mengirim bocah-bocah ingusan macam kalian ke mari, bukan dirinya sendiri?” ujar Pak Khoiri menyambut kedatangan kami berdelapan. “Ya sudahlah, ayo kalian masuk dulu ke dalam, biar aku buatkan kopi buat kalian!”

Kami tak bisa menolaknya, karena sewaktu berada di rumah Mbah Jayos, kami sama sekali tak disuguhi makanan atau minuman apapun. Jadi kami menerima tawaran baik Pak Khoiri itu dengan ramah.

“Terima kasih,” jawab kami semua, terkecuali Mela tentunya.

“Hm… aku tahu apa maksud kalian datang ke mari, namun apakah kalian berani dan sanggup untuk mengambil janur kuning emas itu? Kok aku ragu, ya.” Kata Pak Khoiri membuka ucapannya. “Jangan salah sangka. Kalian mungkin berpikir kalau tempat itu cuman sekedar angker saja, namun sebenarnya tempat itu juga mematikan. Ada empat pemuda-pemudi yang datang dari masa depan seperti kalian yang ditemukan tewas gantung diri di sana. Apakah kalian semua yakin mau melakukannya?”

Mereka semua langsung memuntahkan kopi yang sedang mereka minum setelah mendengar penjelasan dari Pak Khoiri waktu itu. Banyak dari mereka yang enggan untuk pergi ke sana karena takut dan masih sayang nyawa. Dari mereka semua, hanya aku, Siti, dan Agung yang ikut, sementara yang lainnya sudah ketakutan, bahkan sebelum berperang. Duh!

Melihat ketiganya, Pak Khoiri pun tersenyum lebar. “Ternyata hanya kalian bertiga yang masih punya rasa empati dan keberanian, anak muda? Aku salut pada kalian. Hal ini menandakan kalau kalian akan berhasil melakukannya.”

Sebenarnya masih ada satu orang lagi. Orang itu adalah Mela. Namun, entah mengapa setelah apa yang terjadi padanya di rumah Mbah Jayos tadi, dia hanya terdiam, dan pandangannya kosong.

Setelah itu, Pak Khoiri langsung mengantar kami bertiga menuju ladang angker yang dimaksud. Sesampainya di sana, kami merasa cukup aneh karena kami tidak merasakan aura negatif apapun dari ladang yang mereka sebut sebagai ladang angker ini.

“Hal inilah yang menyebabkan ladang ini disebut sebagai ladang angker, bocah? Karena kita tidak bisa merasakan aura negatif apapun di sini, padahal kita semua tahu kalau tempat ini adalah tempat banyak orang melakukan pemujaan dan bunuh diri,” kata Pak Khoiri tersenyum puas, mendapati rasa penasaran kami.

Sebelum Pak Khoiri pergi, dia mewanti-wanti untuk mencari janur kuning emas itu di tengah hutan gaib itu. Karena setelah melangkah memasuki ladang, kami semua akan diteleportasikan menuju ke sebuah hutan gaib. Dan jikalau mereka melihat atau mendapati ada janur kuning emas di tempat yang bukan di tengah hutan, maka Pak Khoiri melarang kami untuk mengambilnya, karena itu bukanlah janur kuning emas yang mereka cari, namun sejenis jin yang menyamar. Dan pula, mereka harus mencari seorang nenek yang hidup di tengah hutan itu, karena hanya dia yang bisa mengambil janur kuning emas yang asli sekaligus satu-satunya orang yang mampu mengeluarkan mereka dari hutan gaib itu.

“Gimana nih, Feb?” tanya Agung. “Aku tahu kalau hubunganmu dengan Umam dekat, tetapi tidak juga harus mengorbankan diri seperti ini,”

“Aku tidak peduli. Aku sudah berjanji pada Danang untuk terus menjaga dan mengawasinya. Selain itu, aku tidak ingin terus-terusan berada di dekat Mela jelmaan itu,” jawabku mantap. “Lagian, bukankah kak Umam sudah melakukan segalanya untuk melindungi kita semua. Sudah wajar buat kita untuk membalas budi, Gung!”

“Nona Feby, ada sesuatu yang datang menghampiri kita. Sebaiknya kita bersiap untuk segala kemungkinan terburuk,” kata Siti memperingatkan kami berdua. “…Mereka datang sangat cepat, jumlahnya kira-kira ada tujuh!”

Belum sempat kami bertiga bersembunyi, tiba-tiba ketiga sosok itu muncul di hadapan kami. Ternyata ketiga sosok itu adalah genderuwo yang menjaga hutan gaib bagian terluar.

“Hoho… ternyata ada manusia lemah yang berani memasuki wilayah ini? Berani juga kalian manusia,” kata genderuwo itu. “Bagaimana kalau kita santap saja manusia ini sebagai makanan?”

Kedua genderuwo itu tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan dari pemimpin mereka.

“Hahaha… betul, bos. Kelihatannya mereka adalah gadis-gadis yang cantik.”

Mereka bertiga ketakutan melihat ketiga genderuwo yang tingginya setinggi pohon kelapa itu. Tidak tahu harus berbuat apa lagi, bahkan untuk berdoa sekalipun, lidah terasa membeku. Tak ada kata-kata yang bisa terucap oleh mulut.

Siti yang selaku pelayan Febtyana, telah bersumpah setia untuk melindungi tuannya itu bergegas mengambil sebuah keris dari tas kecilnya, yang mana keris itu dibalut oleh kain putih yang pastinya itu adalah kain kafan.

“Sebenarnya aku sama sekali dengan nyawa kak Umam atau yang lainnya. Namun jikalau kondisinya juga menyangkut keselamatan Nona Feby, aku akan siap berkorban diri untuk kalian!” kata Siti yang kemudian langsung melesat menuju ke arah genderuwo itu. Namun, belum sampai ia menebaskan keris itu, tangan salah satu genderuwo itu langsung menangkap dan kemudian membantingnya dengan keras ke tanah, membuatnya memuntahkan darah yang sangat banyak. Dia sekarat.

“Hmph… dasar manusia lemah. Berani juga kau menantang kami, huhh!?” dengus genderuwo itu geram. “Sebaiknya kita segera habisi saja mereka, daripada nanti bakal merepotkan,”

“Siti…!” kataku yang langsung menghampiri Siti yang tengah sekarat itu. “Kenapa kamu begitu nekad sampai seperti itu?”

Tetesan air mata mulai membasahi muka Siti yang penuh darah itu. “Aku adalah pelayanmu, dan engkau adalah tuanku. Aku telah bersumpah untuk setia padamu, Nona Feby. Bahkan, aku rela mengorbankan jiwa dan ragaku hanya untukmu!”

“….” Agung tidak berkata apa-apa, selain membuang badan, tak sanggup melihat kondisi Siti di saat terakhirnya. Dia juga terlihat tengah menangis.

“Kupasrahkan tugas ini pada kalian berdua, ya?” kata Siti yang setelahnya dia tewas.

Melihat pelayan yang juga sahabatku itu tewas, Feby tak bisa membendung tangisnya. Aku menjerit, terus-terusan memanggil-manggil nama Siti yang telah tiada itu. Dari sanalah, tiba-tiba keanehan pun terjadi.

Siti yang diyakini tubuhnya dipenuhi oleh luka dan tewas, tiba-tiba sosoknya muncul dan Siti yang ada di dalam dekapanku pun menghilang.

“Ha… untung saja aku bisa menyelamatkan keturunanku tadi, kalau kurang cepat, pastinya dia akan mati seketika waktu itu,” kata Siti yang kini berada di sampingku dan menepuk pundaknya. “Tenanglah Nisanak, Siti yang dibunuh oleh genderuwo itu adalah Raga Bayang ku. Itu hanya sebuah ilusi!”

“Cih! Balasadewa. Berani juga kau menginjakkan kaki jauh di luar daerah kekuasaanmu,” gerutu pemimpin genderuwo itu. “Aku tak menyangka kalau gadis kecil itu adalah orang dari garis keturunanmu.”

“Genderuwo Wowo Langsang. Aku tidak ingin bertarung dengan kalian. Kalau kalian membiarkan kami lewat, nyawa kalian akan aku ampuni, namun jikalau kalian melawan, maka siap-siap saja untuk mati!” jawab Siti menatap ke arah ketiga genderuwo itu garang.

“Hahaha… kau dengar itu? Balasadewa, salah satu penguasa di alas ireng berani menantang kami di wilayah kekuasaan kami, heh? Sungguh tidak lucu!” geram genderuwo itu.

Ketiga genderuwo Wowo Langsang itu langsung berjalan, mendekat ke arah Siti untuk melancarkan serangannya. Namun, Siti tidak bergeming sama sekali dan segera mencabut kerisnya dari tanah dan langsung menebas tangan ketiga genderuwo itu.

Mendapati tangan kiri mereka terpotong, membuat ketiganya mengerang dan menjerit kesakitan.

“ARRGH,” jerit genderuwo itu kesakitan. “Kurang ajar kau Balasadewa. Pasti suatu hari nanti, aku akan membalas perilakumu ini setelah kekuatan kami kembali,”

Ketiga genderuwo itu langsung menghilang. Bersamaan dengan itu, Siti pun langsung jatuh pingsan, menandakan kalau Balasadewa telah keluar dari tubuhnya. Melihat hal ini, membuat Agung terheran-heran. Bagaimana Siti mempunyai perewangan sekuat itu. Namun, aku yang mengetahuinya tak ingin menjawab kegelisahan dan rasa penasaran Agung. Mereka menunggu sampai Siti sadar.

Dan akhirnya satu setengah jam kemudian, Siti akhirnya tersadar.

“Nona Feby,” kata Siti lirih. “Apakah kita sudah sampai di tengah hutan gaib ini?”

Aku menggeleng. “Belum. Kami menunda perjalanan kami, menunggu kamu tersadar!”

Siti berusaha untuk duduk, dan aku pun membantunya. “Kita harus segera menuju ke tengah hutan, atau kita semua tidak akan pernah bisa keluar dari dunia gaib ini!”


cerbung.net

Angus Poloso. Legenda Ki Ageng Selo.

Score 0.0
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Sekitar dua abad yang lalu, saat terjadi perebutan kekuasaan antara VOC dan Britania di nusantara, ada sebuah kisah. Kisah seorang Kyai yang mampu menghentikan para demit-demit yang menghantui seluruh Jawa Timur ini. Kuntilanak, Pocong, Genderuwo, demit, jin-jin kafir, dan lain sebagainya. Dia menyegel semua demit itu di sebuah gerbang gaib yang diberi nama Angus Poloso, sebuah gerbang gaib yang memungkinkan para demit kelas atas itu tak bisa keluar dalam waktu lama. Seperti yang kita ketahui, tidak ada yang abadi di dunia ini, ya termasuk gerbang gaib itu. Oleh karena itu, setiap seratus tahun sekali gerbang gaib itu akan terbuka dan menimbulkan teror di Jawa maupun di seluruh negeri ini.Pria yang menyegel para demit-demit itu adalah Kyai Marwan, atau lebih dikenal sebagai Ki Ageng Selo. Gelar Ki Ageng Selo itu di dapatnya setelah berhasil mengalahkan Nyi Imas, seorang yang sakti mandraguna dan pengguna Santet Lemah Ireng, sebuah santet yang menargetkan setiap jiwa di sebuah wilayah tertentu. Beda dengan santet-santet pada umumnya yang hanya menargetkan targetnya dan juga keluarganya serta anak-cucunya, santet ini menyerang siapapun yang berada dalam satu kota/desa dengan si target. Sebelum lanjut, mari kita bahas dulu mengenai Santet Lemah Ireng.Santet Lemah Ireng adalah sebuah santet yang tidak memerlukan bantuan para jin, setan, dan makhluk2 halus pada umumnya, tapi santet ini hanya mengandalkan lemah ireng dan target yang berjalan di atas tanah dalam suatu wilayah, tempat di mana lemah ireng itu diambil, tempat orang yang ditargetkan itu berada. Selama orang-orang masih menginjak tanah, mereka pasti mati. Santet ini seperti gabungan dari Santet Malam Satu Suro, Santet Pring Sedapur, Santet Sewu Dino, dan Santet Janur Ireng. Selain itu, para pemuka agama (Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Buddha, Konghucu) tidak ada yang sanggup ataupun berani mengatasi santet ini.Santet ini tidak bisa diajarkan kepada siapapun, karena yang menguasai ilmu santet ini dia harus menjadi satu dengan Raja Iblis Nusantara. Raja Iblis itu akan masuk ke dalam raganya, dan apabila raganya kuat, maka dia akan memperoleh kekuatan besar, sedangkan jikalau tidak, maka mereka hanya akan mati konyol.Seratus Sebelas tahun setelah penyegelan itu, Angus Poloso yang waktu itu diletakkan (ditanam) di tanah keramat yang berlokasi di Blitar, tanpa sepengetahuan mereka, berdirilah sebuah sekolah SMA. Sebenarnya pihak pengembang sudah berkali-kali diingatkan kalau tanah tempat didirikannya sekolah itu adalah tanah berkah, yang orang2 kita sebut sebagai tanah keramat. Mendengar ucapan dari para warga setempat, pihak pengembangpun menganggap kalau ini semua hanyalah tahayul, dan terus memaksakan pembangunan itu.Dan selama beberapa tahun pembangunan, akhirnya sekolah itu berdiri juga. Berserta SMP dan Universitasnya (1976). Sebenarnya sebelah yayasan pendidikan itu sudah berdiri pondok pesantren yang didirikan oleh Kyai Marwan seratus sepuluh puluh tahun lalu sebagai antisipasi jikalau Angus Poloso itu terbuka.Sekolah megah dan luar biasa, menindih Angus Poloso yang ada di bawahnya. Karena tak bisa terelakkan, waktu itu keturunan Kyai Marwan, yaitu Mbah Wo, Mbah Carik, Cokropati, Mbah Jayos, dan Mbah Ibu, yang usianya sudah mencapai seratus tahunan, memberikan sebuah pager gaib di sekitar sekolah itu untuk mencegah terjadi apa-apa dan mencegah hancurnya segel Angus Poloso di sana. Dan tiga tahun setelahnya, Mbah Cokropati pun meninggal.Cokropati adalah anak Sulung dari Kyai Marwan dan merupakan anak yang paling cerdas dan berpengalaman dari kesemua keturunannya. Sehingga kematiannya menimbulkan lara dan kecemasan, karena sekte Immas takkan pernah berhenti mencoba mengeluarkan Nyi Imas dari segel Angus Poloso.Setelah kematian Kyai Marwan dan Cokropati, perjuangannya diteruskan oleh anak-cucunya. By the way, Kyai Marwan mempunyai tujuh orang anak dan dua belas cucu, sekaligus dua puluh empat cicit. Mereka semua adalah orang-orang hebat, dan kesemua anaknya adalah orang yang berpengaruh di daerahnya.Perjuangan mereka menggantikan Kyai Marwan bisa dirasa mudah dan sulit. Mudahnya karena demit-demit kelas atas yang paling ganas telah disegel oleh Kyai Marwan di dalam Angus Poloso, dan sulitnya adalah demit-demit kelas kecil ini terlalu banyak dan selalu bergerak di bayang2 dan selalu menggunakan cara yang licik, menyerang di balik layar daripada berhadapan langsung dengan keturunan Kyai Marwan.Puluhan tahun kemudian, ketika segel Angus Poloso sudah melemah, ada sebuah petaka yang membuat segel Angus Poloso terbuka. Yaitu Vita, cicit dari Kyai Marwan yang saat itu tanpa ia sadari telah membuka segel itu, sehingga demit-demit yang disegel di dalam Angus Poloso pun keluar dan meneror seluruh penjuru sekolah. Untunglah saat itu, Nyi Imas masih belum bisa keluar. Sementara untuk para demit2 itu, banyak di antara mereka yang tidak bisa keluar dari lingkungan sekolah akibat pagar gaib yang dipasang oleh Kyai Marwan. Meskipun begitu, teror dan kengerian selalu mengancam siapapun yang ada di sekolah itu.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset