Angus Poloso. Legenda Ki Ageng Selo. episode 43

Horror 43 - (Test V) Sorop Kematian.

Melihat kondisi Naga Geni yang tengah terkapar, mereka bertiga tanpa mempedulikan perintah Naga Geni untuk bersembunyi, langsung keluar dari tempat persembunyian mereka. Namun, setelah mereka keluar dari rerumbunan kemangi, Siti dan Ella tidak mendapati keberadaan Feby. Setelah ditengok ke belakang, mereka melihat Feby tengah ditodong oleh sebilah keris di lehernya oleh gadis kecil penjual jajan tadi, yang ternyata dia adalah Mbok Ruqayah sewaktu mudanya.

“Tak kusangka… kalau aku akan bertemu dengan cecet Nyi Wingit di sini… oleh sebab itulah, kamu harus mati~!” kata bayangan Ruqayah kecil. “Ahh… dukun sialan itu bersama Jayos, Bakrie, dan kyai Juhri membagi jiwaku dan mengurungku di tempat ini. Dengan membunuhmu, maka jiwaku dan jiwaku di alam dunia akan bersatu lagi, dan aku bisa membalaskan dendam-dendamku… terutama kepada Nyi Imas, Jayos, dan Bakrie. Ha ha ha…!!”

“Apa maksudmu?” tanya Feby yang ketakutan mendapati sebilah keris berada persis di depan lehernya. “Aku… aku tidak mengenal siapa itu Nyi Wingit,”

“Hah? Jadi kamu tidak tahu siapa leluhurmu, huh? Nhee, seharusnya kamu bertanya hal itu ke kedua orangtuamu, pastinya mereka akan menjawabnya. Itu juga kalau kamu masih hidup setelah aku gorok lehermu. Nhee,” jawab bayangan Mbok Ruqayah kecil itu tertawa ringan. “Ah, sudahlah… begitu aku membunuhmu, semua ini akan berakhir dan aku akan bebas!”

Sebelum bayangan Mbok Ruqayah kecil itu menggorok leher halus Feby, tiba-tiba sorban hijau yang dimiliki Umam langsung menghantam tubuh gadis kecil itu dari belakang. Ketika sudah terlepas, Siti dan Ella pun beranjak menghampiri Feby yang tengah kesakitan itu dan mengamankannya.

Hantaman kuat dari sorban hijau itu membuat bayangan Mbok Ruqayah kecil itu langsung terpental cukup jauh, namun hantaman itu tidak membuat luka yang berarti pada tubuhnya. “Cih! Dasar pengganggu!”

“Dasar gadis licik! Beraninya sama anak-anak tak berdaya,” kata sorban hijau itu. “Kalian, Naga Geni… bawa Feby keluar dari sini dan cari teman-teman kalian yang lain sebelum mereka semua ditumbalkan!”

Patuh, Siti dan Ella berlari sambil membopong Feby ke arah Naga Geni, sedangkan Naga Geni sendiri dengan kekuatan yang tersisa langsung berubah menjadi naga dan membawa mereka bertiga menjauh dari tempat sorban hijau dan bayangan Mbok Ruqayah kecil. Demit Cakar Mayang langsung berlari menuju ke arah sorban hijau itu dan menyerangnya. Namun sorban hijau itu tak bergeming dan ketika demit Cakar Mayang itu sudah berada setengah meter dari sorban hijau, tiba-tiba ada sebuah lubang hitam yang muncul di ruang kosong yang langsung menghisap demit-demit itu.

“Cih! Siapa kamu sebenarnya?” tanya bayangan Mbok Ruqayah kecil itu ketus. “Tak kusangka demit-demit Cakar Mayang peliharaanku mampu dimusnahkan semudah itu,”

“Kau tidak perlu tahu siapa aku, yang penting sekarang aku akan menghentikanmu di sini, nenek sihir!” kata sorban hijau itu. “Dan setelah itu aku akan menghancurkanmu, iblis!”

Sorban hijau langsung melesat menyerang bayangan Ruqayah kecil itu, yang langsung dinikmati oleh bayangan gadis kecil itu. Kita tinggalkan mereka berdua dan beralih ke Feby, Siti, dan Ella yang sedang mencari keberadaan teman-temannya yang lain. Naga Geni memberitahu mereka bertiga kalau teman-teman yang lain sedang berada di dalam sebuah dimensi yang berbeda dengan alam gaib Pegunungan Leso, namun masih berada di alam yang sama.

Naga Geni meminta izin untuk masuk ke alam itu seorang diri, namun Feby menolak, karena apapun yang terjadi, mereka datang ke sini bersama-sama, jadi mereka akan pulang bersama-sama pula. Naga Geni dengan kekuatannya yang sekarang tak mampu untuk membentak permintaan Feby tersebut, sehingga mau tidak mau, dia mengantar mereka bertiga menuju dimensi yang berbeda itu.

Sesampainya di sana, mereka semua terkejut melihat teman-temannya sedang disiksa oleh demit-demit Cakar Mayang di sebuah gua yang merobek-robek tubuh mereka dengan sadis, namun setelah beberapa saat, tubuh mereka kembali utuh kembali dan begitu seterusnya.

“Mereka semua beruntung,” kata Naga Geni sambil mengintip dari kejauhan. “Kalau saja mereka tidak diberi ilmu pegangan sama keluarga mereka masing-masing, pasti mereka sudah tewas saat itu juga dan jiwanya akan dipersembahkan kepada Pasopati!”

“Apa maksudmu itu, Naga Geni? Siapa itu Pasopati?”

“Penguasa Leso… dan raja jin yang telah membunuh kyai Juhri dan para pemuka agama yang berani menantangnya,” jawab Naga Geni yang mulai ketakutan. “Kita harus segera menyelamatkan jiwa-jiwa teman-temanmu itu sebelum mereka dibawa menuju Pasopati!”

“Bukankah mereka akan baik-baik saja? Mereka kan punya pegangan?” tanya Ella polos.

“Tidak! Sekali mereka dibawa ke sana, maka mereka sudah pasti akan mati. Pasopati mampu menghilangkan kesaktian apapun yang dipunyai oleh umat manusia dan jin, bahkan kyai Marwan harus kehilangan tangan kirinya setelah melawannya dan hasilnya seimbang. Itupun setelah dia mengorbankan nyawa para pemuka agama dan adat yang hebat di seluruh nusantara ini!”

Mendengarnya membuat mereka bertiga semua terkejut bukan main dan tentu saja sudah ketakutan. Namun setelah dijelaskan kalau Pasopati tidak akan pernah bisa meninggalkan istananya, membuat mereka bertiga sedikit merasa tenang, dan mungkin karena inilah Naga Geni bersikeras untuk menolong mereka sebelum mereka dijadikan tumbal dan dibawa ke istana Pasopati.

“Kalian tunggulah di sini, dan setelah aku pancing para demit-demit Cakar Mayang itu untuk bertarung denganku, bacalah ayat Kursi dan Surat An-Naas lalu tiupkan ke ubun mereka masing-masing lafadz ‘Laa Ilaha Illallah, Muhammadur Rasulullah’ untuk mengembalikan kesadaran mereka masing-masing!” kata Naga Geni menyuruh mereka bertiga. “Dan janganlah kalian takut pada mereka… mereka takkan pernah bisa melukai kalian jika Tuhan ada bersama kalian, percaya dirilah.”

Mereka mengangguk, mantap. Setelah puas, Naga Geni langsung muncul dan menyerang para demit Cakar Mayang yang tengah menyiksa teman-teman Feby itu. Sementara Feby. Siti, dan Ella mengendap-endap berjalan merunduk mendekati teman-temannya yang tengah dipasung.

Tak perlu lama sampai ketiganya sampai. Mereka semua segera mencoba melepaskan pasungan yang mengikat teman-temannya itu, namun seberapapun dicoba, tetap tidak bisa. Mereka kebingungan, bengong, sampai mereka mendapati Naga Geni terhempas jatuh hingga menghantam tanah, terluka parah. Melihatnya, membuat ketiganya menjerit ketakutan, memancing demit-demit Cakar Mayang untuk mengarah padanya.

“Ahh~ Tidak!!!”

“C—Cepat selamatkan teman-teman k-kalian dan segera tinggalkan tempat ini!!” Naga Geni yang sekarat itu langsung berubah kembali menjadi keris yang langsung masuk ke dalam tas Feby. Dalam kondisi sengit itu, tiba-tiba Balasadewa merasuki tubuh Siti dan melesat menyerang demit-demit Cakar Mayang itu.

“Siapa kalian ini, berani-beraninya menyakiti teman-teman keturunanku?” tanya Siti yang tengah dirasuki oleh Balasadewa.

“Siti?” ucap Feby, cemas dan khawatir.

Siti berbalik menatap Feby. “Tenanglah, Ndoro! Aku adalah Balasadewa, leluhur dari Siti. Kita sudah pernah bertemu tiga kali, ‘kan?”

“Apa kamu yakin mampu mengalahkan mereka, anu… Balasadewa? Mereka sangat kuat, bahkan Naga Geni dibuat tak berdaya melawan mereka,” sahut Ella polos, sepertinya ketakutannya kini sudah mereda.

“Hahaha…” Siti tertawa. “Bukan Naga Geni nya yang lemah, namun si pemegang keris itulah yang mempunyai jiwa yang lemah,”

Feby tiba-tiba pingsan, kehabisan tenaga. Melihatnya membuat Ella panik karena tidak tahu penyebabnya. Namun sebelum Ella berteriak, jiwanya diambil alih oleh Ninggolo Geni, yang mana Balasadewa dan Ninggolo Geni bertarung bersama untuk melindungi Feby dan teman-temannya.

Demit-demit Cakar Mayang membuktikan kalau mereka adalah musuh yang sangat kuat, sehingga sempat berkali-kali memukul mundur kekuatan Balasadewa dan Ninggolo Geni yang ada di jiwa Siti dan Ella. Meski begitu, Balasadewa dan Ninggolo Geni masih belum menyerah juga dan bertarung dengan gagah berani.

“Ini tidak ada habisnya,” keluh Balasadewa sambil menendang salah satu Cakar Mayang itu, namun saat dia menendang demit itu, demit Cakar Mayang sempat mendaratkan cakaran sehingga melukai kaki Siti. “Tak kusangka demit-demit rendahan itu mampu mendaratkan cakarannya ke arah jiwa keturunanku!”

“Balasadewa… jangan mengeluh, mereka bukanlah demit yang sembarangan, walaupun raut muka mereka menjijikkan sama seperti demit-demit kelas rendahan. Raja demit-demit itu pasti jin yang sangatlah kuat,” balas Ninggolo Geni.

Dan ketika mereka semua terpaku pada musuh di hadapan mereka, tiba-tiba serangan-serangan mendarat ke tubuh mereka dari belakang. Ketika mereka berdua menoleh ke belakang, sudah terlihat banyak sekali demit-demit Cakar Mayang yang berkumpul mengelilinginya.

Beralih lagi ke tempat sorban hijau dan bayangan Ruqayah kecil itu sedang bertarung. Sorban hijau itu mampu mematahkan setiap serangan bayangan Ruqayah kecil itu dengan mudahnya, sehingga membuat gadis kecil itu terheran-heran. Pasalnya sejauh ini, belum atau malah tidak pernah ada yang sanggup mematahkan serangan-serangannya.

“Cih! Siapakah kamu sebenarnya, sorban jelek? Tunjukkan rupamu,” umpat bayangan Ruqayah kecil. “Tunjukkan wajahmu sebelum aku membunuhmu, sehingga tidak membuatku penasaran setelah membunuhmu nantinya.”

“Sudah kukatakan kan? Kamu tak perlu tahu siapa aku, lagipula kamu takkan bisa melihatku dengan wujud asliku, Ruqayah,” jawab sorban hijau itu santai.

Dengan cepat sorban hijau itupun mengibaskan dirinya, membuat bayangan Ruqayah kecil itu terpental jauh. Setelah mengetahui kalau bayangan Ruqayah kecil itu hilang, sorban hijau itupun segera melesat menuju ke tempat Feby dan yang lainnya. Di sana, dia melihat Siti (Balasadewa) dan Ella (Ninggolo Geni) kewalahan karena serangan demit-demit Cakar Mayang yang bertubi-tubi. Dalam sekali kibasan, sorban hijau itu mampu memukul mundur para demit-demit Cakar Mayang itu.

“Rahayu, Kisanak, Nisanak,” kata sorban hijau itu setelah menghabisi demit Cakar Mayang yang mengepung Balasadewa dan Ninggolo Geni. “Tak kusangka kalau kalian adalah leluhur dari tubuh para gadis yang menjadi wadah kalian,”

“Kamu siapa?” tanya Ella (Ninggolo Geni). “Mau apa kamu dari kami?”

“Aku hanya hamba Allah SWT yang menjelma menjadi sebuah sorban hijau ini. Aku datang ke mari karena ditugaskan oleh kyai Abdurrahman untuk menolong teman-teman tuanku, dan itulah yang aku lakukan sekarang,” jawab sorban hijau itu bijak. “Kalian berdua, saya harap untuk segera meninggalkan tempat ini dan bawalah para manusia itu keluar dari sini, karena sebentar lagi adalah Sorop Kematian, yang berarti Pasopati akan segera keluar dari istananya untuk mengambil tumbal,”

“Pasopati? Raja jin yang terkenal itu, ya?” celetuk Siti yang seperti sudah tahu siapa itu Pasopati. “Tak kusangka di tempat misterius ini ada istana raja jin yang mengerikan seperti itu,”

“Pasopati? Siapakah dia? Apakah dia kuat?” tanya Ella mengernyitkan dahi, penasaran. “Maaf, bukan aku mau lancang, namun aku belum pernah mendengar nama itu sebelumnya. Pastinya umurnya jauh lebih tua daripada diriku, sehingga aku tidak mengenalnya. Namun pastinya, ibuku mengetahui siapa dia.”

“Pasopati adalah raja jin yang menguasai leso lebih dari tiga ribu tahun. Sudah banyak manusia, dedemit, dan raja-raja jin nusantara ini yang menantangnya, namun belum pernah ada yang bisa mengalahkannya, bahkan setiap yang menantangnya, kabarnya sudah tak terdengar lagi, hanya itu yang kutahu mengenai dirinya!” jawab Balasadewa terfokus. Namun menurut ramalan para sesepuh, hanya seseorang dari keluarga Immas saja yang sanggup mengalahkannya. Bahkan, kyai Marwan dan para pemuka adat di nusantara ini hanya mampu mengimbanginya saja, itupun harus dibayar dengan mahal oleh mereka semua!”

Ketika mereka bertiga termangu, tiba-tiba datang bayangan Ruqayah kecil di hadapan mereka, membawa puluhan, tidak ratusan demit Cakar Mayang bersamanya. Mereka semua terpojok, bahkan si sorban hijau sedikit kewalahan mengatasi dedemit itu, apalagi harus melindungi Balasadewa dan Ninggolo Geni yang kini berada di tubuh Siti dan Ella.

“Cih! Kita benar-benar terpojok,” umpat Siti dan Ella.

“Kalian berdua cepat keluarlah dari raga kedua gadis itu dan bantu aku menghadapi mereka, biar jiwa mereka aku kembalikan!” jawab si sorban hijau itu sambil bertarung. “Dengan tanpa menggunakan raga manusia itu, pastinya kalian bisa bertarung dengan lebih efisian dan mampu mengeluarkan seluruh potensi kekuatan kalian di sini!”

Entah mengapa, mereka pun tak mau berdebat lagi dan melepaskan kendali mereka dari kedua jiwa gadis manusia itu. Sementara mereka berganti menggantikan si sorban hijau bertarung, sorban hijau itupun membaca sesuatu, mungkin sebuah doa yang langsung memindahkan jiwa Feby, Siti, Agung, Andre, Nurul, Cici, dan Ella keluar dari alam gaib Pegunungan Leso dan mengirim jiwa mereka kembali ke dalam raga mereka masing-masing

Di dunia nyata, mereka semua tersadar dan langsung memuntahkan darah hitam yang cukup banyak, membuat Mbok Ruqayah dan siapapun yang ada di ruangan itu terkejut setengah mati. Dengan cepat, Mbok Ruqayah dan Mbah Jayos segera menolong mereka dengan membaca doa-doa untuk menyembuhkan rasa sakit yang kini mereka rasakan. Berkat bantuan dari Mbok Ruqayah dan Mbah Jayos, mereka pun akhirnya lebih baikan.

“Apa yang terjadi, nak?” tanya Mbok Ruqayah ketus. “Mengapa kalian kembali ke mari sebelum mendapatkan terompet mustika milik kyai Juhri itu?”

“Hah? Maafkan kami, nek. Kami gagal,” jawab Feby yang sebagai penanggung jawab dalam misi kali ini. “Kami dihadang oleh demit Cakar Mayang di sana, bahkan Naga Geni kewalahan saat bertarung dengan mereka… dan, bayangan nenek sewaktu nenek masih kecil ada di sana… menghadang kami semua!”

Mbok Ruqayah manggut-manggut. “Oh, ternyata ‘dia’ masih ada di sana, rupanya? Baiklah, aku akan mengurusnya. Jayos, temani aku ke pegunungan Leso sekarang juga dan memusnahkan jelmaanku di sana!”

“Ruqayah, dengan munculnya bayanganmu, itu berarti di sana tengah dalam masa Sorop Kematian, yang berarti Pasopati itu akan segera keluar,” sahut Mbah Jayos yang sedikit mengamati atas peristiwa kali ini. “Aku sudah meminta Bakrie untuk ikut bersama kita ke sana dan mencoba menyegel kembali istana Pasopati itu bertiga!”

Tak mau menunda-nunda waktu lagi, Mbah Jayos dan Mbok Ruqayah segera bersimpuh, melakukan rogo sukmo. Sebelum pergi, mereka mewanti-wanti kepada mereka semua untuk melakukan pengajian supaya mereka semua bisa dilindungi oleh Allah SWT. Tak lupa juga Mbah Jayos juga berpesan untuk meminta Mela, Abid, Mbah Gel, pak Nur, dan Mbah Imam untuk ikut berjaga karena Mbah Jayos percaya kalau bakal ada dedemit-dedemit yang datang ke mari atas absennya mereka berdua.

Setelah mereka melakukan merogo sukmo, Mela dan Wulan keluar dari kamar Umam yang masih belum sadarkan diri. Mereka menanyakan keberadaan Mbah Jayos dan Mbok Ruqayah kepada Feby, dengan lesu, Feby menjawab kalau mereka berdua sedang merogo sukmo.

“Oh, okay,” kata Mela dan Wulan.

Feby segera mencari keberadaan Mbah Gel, Mbah Imam, Mas Abid, dan Pak Nur yang malam itu sedang berkumpul di rumah Mbah Jayos. Dan tak butuh waktu lama sampai Feby menemukan yang ia cari.

“Oh, nak, kamu sudah kembali toh? Bagaimana kabar kalian di Pegunungan Gaib Leso?” tanya Pak Nur ramah.

“Itulah yang aku ingin bicarakan dengan kalian semua, bapak-bapak,” celetuk Feby yang membalas pertanyaan ramah dari pak Nur. “Misi kami di pegunungan Leso gagal karena di sana kami disambut dengan kurang baik oleh demit Cakar Mayang… dan bayangan Mbok Ruqayah waktu ia kecil,”

Mendengarnya, semua orang yang ada di ruang tamu kaget. Mereka tahu seberapa gawatnya mendapati kalau demit Cakar Mayang muncul. Feby menjelaskan lagi kalau saat ini Mbah Jayos, Mbok Ruqayah, dan Mbah Bakrie sedang menuju ke sana untuk kembali menyegel istana Pasopati. Namun Feby juga mengatakan kalau Mbah Jayos meminta kepada mereka untuk mengadakan acara pengajian dan membentengi rumah ini dengan benteng-benteng gaib yang kuat, karena dia berpikir kalau bakal ada yang menyerang tempat ini disaat absennya si tuan rumah.

Mereka pun mengangguk dan bersiap untuk menyiapkan semua-semua yang diperlukan untuk acara pengajian dan memanggil para penuntut ilmu hikmah untuk ikut membantu membuat benteng-benteng gaib di seluruh penjuru rumah.


cerbung.net

Angus Poloso. Legenda Ki Ageng Selo.

Score 0.0
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Sekitar dua abad yang lalu, saat terjadi perebutan kekuasaan antara VOC dan Britania di nusantara, ada sebuah kisah. Kisah seorang Kyai yang mampu menghentikan para demit-demit yang menghantui seluruh Jawa Timur ini. Kuntilanak, Pocong, Genderuwo, demit, jin-jin kafir, dan lain sebagainya. Dia menyegel semua demit itu di sebuah gerbang gaib yang diberi nama Angus Poloso, sebuah gerbang gaib yang memungkinkan para demit kelas atas itu tak bisa keluar dalam waktu lama. Seperti yang kita ketahui, tidak ada yang abadi di dunia ini, ya termasuk gerbang gaib itu. Oleh karena itu, setiap seratus tahun sekali gerbang gaib itu akan terbuka dan menimbulkan teror di Jawa maupun di seluruh negeri ini.Pria yang menyegel para demit-demit itu adalah Kyai Marwan, atau lebih dikenal sebagai Ki Ageng Selo. Gelar Ki Ageng Selo itu di dapatnya setelah berhasil mengalahkan Nyi Imas, seorang yang sakti mandraguna dan pengguna Santet Lemah Ireng, sebuah santet yang menargetkan setiap jiwa di sebuah wilayah tertentu. Beda dengan santet-santet pada umumnya yang hanya menargetkan targetnya dan juga keluarganya serta anak-cucunya, santet ini menyerang siapapun yang berada dalam satu kota/desa dengan si target. Sebelum lanjut, mari kita bahas dulu mengenai Santet Lemah Ireng.Santet Lemah Ireng adalah sebuah santet yang tidak memerlukan bantuan para jin, setan, dan makhluk2 halus pada umumnya, tapi santet ini hanya mengandalkan lemah ireng dan target yang berjalan di atas tanah dalam suatu wilayah, tempat di mana lemah ireng itu diambil, tempat orang yang ditargetkan itu berada. Selama orang-orang masih menginjak tanah, mereka pasti mati. Santet ini seperti gabungan dari Santet Malam Satu Suro, Santet Pring Sedapur, Santet Sewu Dino, dan Santet Janur Ireng. Selain itu, para pemuka agama (Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Buddha, Konghucu) tidak ada yang sanggup ataupun berani mengatasi santet ini.Santet ini tidak bisa diajarkan kepada siapapun, karena yang menguasai ilmu santet ini dia harus menjadi satu dengan Raja Iblis Nusantara. Raja Iblis itu akan masuk ke dalam raganya, dan apabila raganya kuat, maka dia akan memperoleh kekuatan besar, sedangkan jikalau tidak, maka mereka hanya akan mati konyol.Seratus Sebelas tahun setelah penyegelan itu, Angus Poloso yang waktu itu diletakkan (ditanam) di tanah keramat yang berlokasi di Blitar, tanpa sepengetahuan mereka, berdirilah sebuah sekolah SMA. Sebenarnya pihak pengembang sudah berkali-kali diingatkan kalau tanah tempat didirikannya sekolah itu adalah tanah berkah, yang orang2 kita sebut sebagai tanah keramat. Mendengar ucapan dari para warga setempat, pihak pengembangpun menganggap kalau ini semua hanyalah tahayul, dan terus memaksakan pembangunan itu.Dan selama beberapa tahun pembangunan, akhirnya sekolah itu berdiri juga. Berserta SMP dan Universitasnya (1976). Sebenarnya sebelah yayasan pendidikan itu sudah berdiri pondok pesantren yang didirikan oleh Kyai Marwan seratus sepuluh puluh tahun lalu sebagai antisipasi jikalau Angus Poloso itu terbuka.Sekolah megah dan luar biasa, menindih Angus Poloso yang ada di bawahnya. Karena tak bisa terelakkan, waktu itu keturunan Kyai Marwan, yaitu Mbah Wo, Mbah Carik, Cokropati, Mbah Jayos, dan Mbah Ibu, yang usianya sudah mencapai seratus tahunan, memberikan sebuah pager gaib di sekitar sekolah itu untuk mencegah terjadi apa-apa dan mencegah hancurnya segel Angus Poloso di sana. Dan tiga tahun setelahnya, Mbah Cokropati pun meninggal.Cokropati adalah anak Sulung dari Kyai Marwan dan merupakan anak yang paling cerdas dan berpengalaman dari kesemua keturunannya. Sehingga kematiannya menimbulkan lara dan kecemasan, karena sekte Immas takkan pernah berhenti mencoba mengeluarkan Nyi Imas dari segel Angus Poloso.Setelah kematian Kyai Marwan dan Cokropati, perjuangannya diteruskan oleh anak-cucunya. By the way, Kyai Marwan mempunyai tujuh orang anak dan dua belas cucu, sekaligus dua puluh empat cicit. Mereka semua adalah orang-orang hebat, dan kesemua anaknya adalah orang yang berpengaruh di daerahnya.Perjuangan mereka menggantikan Kyai Marwan bisa dirasa mudah dan sulit. Mudahnya karena demit-demit kelas atas yang paling ganas telah disegel oleh Kyai Marwan di dalam Angus Poloso, dan sulitnya adalah demit-demit kelas kecil ini terlalu banyak dan selalu bergerak di bayang2 dan selalu menggunakan cara yang licik, menyerang di balik layar daripada berhadapan langsung dengan keturunan Kyai Marwan.Puluhan tahun kemudian, ketika segel Angus Poloso sudah melemah, ada sebuah petaka yang membuat segel Angus Poloso terbuka. Yaitu Vita, cicit dari Kyai Marwan yang saat itu tanpa ia sadari telah membuka segel itu, sehingga demit-demit yang disegel di dalam Angus Poloso pun keluar dan meneror seluruh penjuru sekolah. Untunglah saat itu, Nyi Imas masih belum bisa keluar. Sementara untuk para demit2 itu, banyak di antara mereka yang tidak bisa keluar dari lingkungan sekolah akibat pagar gaib yang dipasang oleh Kyai Marwan. Meskipun begitu, teror dan kengerian selalu mengancam siapapun yang ada di sekolah itu.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset