Apakah aku seorang Pelakor ? episode 6

Mengurus Akte Kelahiran

Mayangsari sangat lelah hatinya karena boss Prayit menagih sendiri bunga pinjamannya

Boss Prayit   :” Mayang kini apa yang kau unggulkan dari Budiarto…?!”

Mayangsari  : ” Kalau boleh saya kerja lagi pak…di Parikesit”

Boss Prayit   : ” Waaaah … terlambat dulu kau memuja Budiarto, bahkan rumahmu kau buat agunkan demi Budiarto…laki-laki pengerat harta …kau telah tertipu Mayang….baiklah seminggu lagi segera di cicil bunganya dan besok yang menagih istriku kalau tak kau bayar pasti ada konsekuensinya..oke..aku pulang salamkan sama Wartinah ibumu kalau menantunya penipu…!”

Mayang menangis merenungi nasibnya…sambil menarik Jovan anaknya yang lagi bermain motor-motoran hingga Jovan kaget dan menangis, Mayang tak perduli teriakan Jovan dan membawa anaknya kedalam kamar,

” Jovan kan ibu sudah bilang kalau ada orang yang mencari ibu…. bilang pada mereka…kalau ibu tak dirumah..” , bentak Mayang sambil mencubit Jovan. Anak sekecil Jovan sangatlah jujur dan hanya mengatakan apa adanya.

Mayang stres Budiarto sudah tak pernah datang tapi rentenir Prayit mengejarnya terus , Wartinah ibunya memarahi Mayangsari karena Budiarto tak mau menengok anaknya sikecil Jovan. Mayangsari yang demen kemewahan merasa bersalah karena melahirkan saja minta rumah sakit yang mewah dan sudah di nasehati Budiarto karena hutang sama boss Prayit semakin membengkak, sekarang tak punya duwit dan selalu di damprat Wartinah ibunya sampai Budiarto tak mau datang lagi karena jemu selalu didamprat.

Budiarto  : ” Sudahlah jangan berkelahi…tak enak di dengar pak RT yang selalu mendengar keluhan ibu dan kamu yang saling uring-uringan ”

Wartinah : ” Katanya dulu kaya…ternyata …penipu…!!” sambil memandang Budiarto dengan mata melotot.

Budiarto   : ” Saya memang dulu kaya bu….. tapi sejak ada boss Prayit yang dikenalkan Mayangsari pada saya..usaha saya bangkrut karena dibantu renterir..?!” sanggah Budiarto kesal dan membanting pintu kamar. Mayang tangannya ngewel sambil memangku Jovan yang tertidur dipangkuannya.

Budiarto amat merindukan Jovan sebenarnya tapi muak sama Wartinah mertuanya yang selalu ngomel dan menjatuhkan harga dirinya apalagi mobil sudah diambil paksa oleh Arifin sehingga tak ada kendaraan sebagai trensportasi. Maria mengambil tabungannya yang mulai limit bersama Eva dia membelikan sepeda motor buat ayahnya untuk memenuhi kebutuhannya mencari kerja. Meski sudah tua Budiarto tetap semangat menjalan hidupnya karena anaknya selalu mengsuportnya dan ingin melihat bapaknya bangkit lagi.

Mayang harus mengurus akte kelahiran sendiri tapi ditengah jalan Ia ketemu Bramesti yang mencegatnya.

Mayangsari  : ” Kok kamu disini…..? ada perlu apa…..? Aku kini miskin …tak usah kau pedulikan aku…”

Bramesti       : ” Aku tak tega kepadamu…terlunta-lunta sendiri…kenapa tak menelepon aku…? ”

Mayangsari  : ” Kamu sendiri kenapa tak meneleponku…aku sudah kotor..perusak rumah tangga orang…aku menyesal….”

Bramesti       : ” Setidaknya kau menyesali atas ketololanmu …Mayang…aku akan mengantarkanmu kemana saja…aku off hari ini demi kamu”

Mayangsari  : ” Asal tak memberatkanmu..terima kasih Bram….” air mata Mayang mengalir ternyata Bramesti masih mengawasinya dan peduli terhadapnya, perlahan Mayang memeluk Bramesti perasaannya terasa layu dan menyandar dirinya ke punggung Bramesti. Terasa sejuk hati Mayangsari mendekap tubuh Bramesti yang terbalut jaket hitam usaha rental mobil Mayang Strada milik Bramesti dan yang menamakan Mayangsari bersama Bramesti.

Mayangsari  : ” Semakin maju saja usahamu…kapan-kapan tolongin aku ya…?!”

Bramesti       : ” Untukmu aku akan selalu membuka tanganku…”. Rupanya mereka sudah sampai kantor catatan sipil  dan Bramesti menungguinya sementara Mayangsari mengajukan berkas.

Petugas         : ” Wow…sudah terlambat lama sekali mengajukannya…biar saya cek dulu kevalidtannya ” ternyata sudah lengkap datanya….dan Jovan Arif Pambudi adalah anak dari Mayangsari karena Mayang tak membuktikan surat kawin dan tak ada darah daging secara tertulis kalau Jovan anak Budiarto dan hanya tertulis anak Mayangsari saja.

Sakit hati Mayangsari karena Diana tak memberi izin menerima Mayang sebagai istri kedua Budiarto hal itu dianggapnya biasa, karena petugas mengetiknya amat santai dan banyak yang terjadi dalam hidup ini anak tanpa bapak karena masih dalam permasalahan dan amat menyakitkan bagi Mayangsari. Sampai sore surat akte baru selesai dibuatnya dan Mayang menerima serta membaca berulang-ulang hampir tak percaya kalau dia adalah seorang pelakor karna anak dalam akte tersebut adalah namanya saja tidak bersama Budiarto.

Bramesti ikut membacanya dan memandang Mayangsari dan menuntunya pulang.

Mayangsari  : ” Aku adalah pelakor …mengapa sampai begini…?”

Bramesti       : ” Sudahlah Mayang…inilah nasibmu…kalau mau baik lagi  tersenyumlah…meskipun badanmu kurus masih cantik kok…asal kamu percaya diri saja…ayok pulang aku ingin melihat putramu siapa namanya tadi..?”

Mayangsari  : ” Jovan Arif Pambudi…”

Bramesti       : ” Ayok kita pulang dan membelikan baju serta makanan untuknya ” Mayang bersyukur masih ada orang yang menolongnya seperti Bramesti , sudah mengantarnya dan memperhatikan Jovan anaknya.

Di ADA Banyumanik Bramesti memilihkan pakaian untuk Jovan , Mayangsari ikut dibelikan juga.

Mayangsari  : ” Dengan apa aku harus berterima kasih padamu…..”  dengan memeluk dari belakang Mayang memaksa memeluk Bramesti yang sedang memilih baju untuk Wartinah ibunya Mayangsari . Bramesti melepaskan pelukan Mayang karena ditempat umum banyak yang mengenalnya. Mayangsari agak tersinggung tapi dia langsung intropeksi siapa dia sesungguhnya dan melepaskan pelukannya sambil melihat-lihat baju-baju yang lain .

“Bram sudah berubahkah kamu..atau benar aku sudah tak cantik lagi…?” guman hati Mayangsari yang sambil mencuri-curi kaca untuk melihat wajahnya, ” Yaaaahhh aku memang hitam…kurus..tak menarik lagi..pantas Bram melepaskan tangannya karena dia ingin dipeluk  wanita cantik seperti waktu yang lalu..4 tahun rasanya cepat sekali berubah apa yang kumiliki… sirna karena gara-gara Budiarto dan itu juga salahku..”

Mayangsari melamun lama dan membuat Bramesti membangunkan lamunannya lalu menuju kasir Bramesti membayarnya. Mayang mita dibelikan bahan baku tapi karena sulit membawanya Mayang mengurungkan niatnya tapi Bram tetap mengambilkan kebutuhan setiap harinya.

Malta karyawannya mengantarkan mobil Brio untuk Bramesti dan membawa pulang motor yang dipakai Bram menuju kantonya di jalan Gaharu.

Mayangsari  : ” Jadi Malta masih ikut kerja denganmu ya….”

Bramesti       : ” Iya..dia amat pintar di rental onlinenya dan pelanggannya banyak …lagi dia tak bakalan ikut campur urusan orang lain…apalagi ada kamu Mayang..dia tak berani ”

Mayangsari  : ” Jadi ..dia masih seperti itu..? takut padaku….? padahal kini tak ada apa-apanya..penghasilanku hanya menerima dari orang yang membutuhkan jasa memasakkan makanan yang dimintanya saja selebihnya aku mengurus Jovan di rumah ”

Bramesti tak mau mendengarkan yang di bicarakannya karena akan membuat Mayangsari sedih lagi dan Bram membawa belanjaannya masuk mobil, mau tak mau Mayang diam dan mengikuti Bram memasukkan belanjaannya.

Mayamgsari  : ” Bram..banyak sekali belanjaanmu ini semua untukku….? ”

Bramesti        : ” Ya…untukmu Mayang, juga untuk Jovan dan ibumu…maaf tidak untuk suamimu..yang tega meninggalkanmu..mentelantarkan mu…?!”

Mayangsari   : ” Jangan bicarakan dia lagi…aku capek kalau memikirkan dia terus… ” .

Bramesti        : ” Sorry..iya aku salah..maaf ya…” Bramesti memeluk Mayang dalam mobil sambil meminta maaf . Mayangsari memaafkan Bramesti dan segera menuju arah pulang.

Bramesti        : ” Kau tak ingin menyetir mobil untukku…?

Mayangsari   : ” SIMku sudah mati sejak covid kemarin…”

Bramesti        : ” Oh maaf..tak bisa dong aku merasakan kamu ngebut lagi…” Mayangsari cuma tersenyum saja dan Bramesti amat pelan menyetirnya karena keadaan Mayangsari sudah tak seperti dulu lagi dan lebih banyak diamnya. Bram menyetel lagu Denny Caknan * Mendung tanpo Udan * yang mengingatkannya saat makan di Jimbaran bersama Mayangsari yang saling suap-suapan ikan bakar. Seperempat jam Mayang sudah sampai rumah dan menurunkan barang belanjaannya. Di teras ternyata sudah menunggu Budiarto yang ikut membantu menurunkan belanjaannya.

Budiarto         : ” Aku tak dibukakan pintu , padahal aku amat rindu Jovan “. Mayang teriak-teriak memanggil Jovan harena bapaknya sudah pulang , Bramesti langsung pamit karena tak enak sama Budiarto . Jovan langsung memeluk bapaknya karena rindu. Wartinah memang tak mendengar karena tertidur. Dan ikut membantu menurunkan belanjaan Mayangsari yang mengira Budiarto yang membelanjakannya.

Wartinah        : ” Waaah..baju-baju Jovan…hah …ini ada daster untukku..terima kasih anak mantu… ” Budiarto tersenyum saja dan membantu menata di dapur selanjutnya mengambilkan dan mencoba pakaian Jovan. Sungguh cocok dengan ukuran Jovan .

Mayangsari    : ” Ucapin terima kasih dong sama bapak…?! ”

Jovan               : ” Ma.ka..sih…bapak …” sambil mencium Budiarto.  Budiarto membalas pelukan Jovan berulangkali serasa diawang-awang hati Budiarto dan memberikan uang  lima puluh ribu untuk Wartinah mertuanya agar tak rewel lagi.


cerbung.net

Apakah aku seorang Pelakor ?

Score 7.6
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesian
Cerita bersambung tentang seorang wanita bernama Mayangsari yang tidak mengerti bahwa dia adalah seorang pelakor atau tidak. Berawal dari rasa kasihan terhadap sosok pria yang Mayangsari temui, rasa cinta kemudian tumbuh diantara mereka berdua.Namun, Mayangsari tidak mengetahui bahwa kekasihnya telah membina keluarga. Ketika semuanya terungkap, konflik yang sebelumnya tidak pernah ada kini muncul dan membayangi kehidupan mereka. Bagaimana kisah Mayangsari ini akan berlangsung? yuk segera disimak cerita bersambung ini.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset