Berkah Sedekah episode 1

Chapter 1

Sewindu sudah perjalanan biduk rumah tanggaku bersama Kang Ajiz. Bukan waktu yang sebentar, tetapi rasanya baru beberapa tahun kebelakang saja, moment kami bertemu hingga menikah. Meski belum ada suara tawa malaikat kecil mewarnai rumah sederhana kami.

Suamiku pria yang gagah, berperawakan tinggi besar. Di balik kesan wajahnya yang sedikit ‘galak’, dia adalah sosok lelaki penyayang. Kami bertemu delapan tahun silam, tepatnya dua bulan menjelang pernikahan. Kala itu dia hanyalah seorang preman pasar, sementara aku bekerja sebagai buruh pabrik.

Bagiku Kang Ajiz adalah malaikat penolong. Sebuah kejadian buruk yang hampir membunuh masa depanku saat itu, menjadi jalan bagi kami untuk bertemu. Tatkala segerombolan pemuda mabuk yang menjegalku, setelah bekerja shift malam. Dengan keahlian jurus silat, dia menyikat habis mereka.

Aku hanya seorang perantau di kota besar ini, dan hidup sebatang kara sejak Abah berpulang. Berjumpa dengannya, membuat aku merasa dianugerahi sosok pelindung yang tepat, hingga akhirnya kami menikah. Seiring era bergulir, perlahan pasti aku berhasil menuntun Bang Ajiz berhijrah. Membantunya belajar agama dari dasar. Maklum beliau hanyalah mantan anak jalanan yang bertransformasi menjadi preman. Tidak ada sosok ibu, atau pun ayah yang memberinya bekal pendidikan agama.

Tiga tahun ke belakang ini, aku memilih berhenti bekerja sebagai buruh pabrik, dalam rangka memaksimalkan upaya mendapatkan keturunan. Berjualan ayam goreng dadakan di area pasar pada sore hari, menjadi mata pencaharian utama kami. Sementara sejak berhijrah imamku itu, beralih profesi menjadi buruh angkut di pasar. Alhamdulillah hidup kami cukup, di tengah serba serbi ketatnya persaingan usaha, dan inflasi yang meningkat setiap tahunnya.

Sejak berhijrah Kang Ajiz memegang teguh ketaatan. Namun, ada yang berbeda dengannya beberapa hari ini. Dia acapkali mengambil ayam goreng sisa jualan semalam, entah untuk apa atau untuk siapa? Aku pun merasa sudah saatnya untuk bertanya tentang sikap ganjilnya tersebut.

“Kang, neng boleh nanya sesuatu gak?” tanyaku, sambil menyodorkan secangkir kopi hitam ke hadapannya.
Suamiku baru saja kembali dari masjid. Memang kebiasaan-nya kini, mengikuti kajian kuliah subuh, selepas salat subuh berjamaah setiap harinya.
Suamiku menepuk area yang kosong di bangku tempat dia duduk saat ini. Sebuah isyarat bahwa dia memintaku untuk duduk di sampingnya. Dia tersenyum, menambah manis wajah lebarnya yang kini lebat ditumbuhi jambang dan janggot.

“Neng sayang teh, mau nanya apa?” jawabnya sambil mengusap puncak hijabku.
“Maaf ya, Akang jika ini nanti buat Akang sedikit marah bahkan tersinggung. Neng cuma penasaran aja, Akang teh tiap hari ngambil sepotong dua potong ayam goreng jualan kita teh, buat apa?” tanyaku, dengan rasa sedikit was-was.
“Ooh itu, hahaha.” Kang Ajiz sedikit terbahak. “Kirain mau nanya apa, habis mukanya, Neng, meni serius pisan. Hehehe eta mah buat si Mimi. Mimi itu ….”
“Saha Mimi teh, Akang, Akang bet tega ka neng. Salah neng teh naon, kurang neng apa? Pedah neng belum bisa kasi Akang anak, kitu? Akang jahaaat!” kataku, memotong perkataan suamiku hati kadung diliputi rasa cemburu.
“Ish, Neng tiba-tiba marah, ngelantur lagi. Makanya kalau orang sedang bicara itu, dengarkan dulu dengan seksama. Jangan menggugu ini ni, hawa nafsu, dan suudzon,” sahut suamiku, sembari tangannya menunjuk ke dadanya.
“Denger ya, Neng Ima cantik, kesayangan akang. Akang mah InsyaAllah akan selalu setia sama Neng Ima, selamanya. Gak pernah itu kepikiran mau ngeduain. Gak sanggup lagian hati akang.” Kang Ajiz mengusap-ngusap punggungku, mencoba menenangkan.
“Yeuh, dengerin. Mimi itu kucing kampung, dia lagi bunting. Kurang lebih dua minggu ke belakang, eta kucing teh sebelah kakinya kelindes motor. Alhamdulillah sempet ditolong Pak Indra, dokter yang sering salat berjamaah sama akang di mesjid tiap subuh. Tapi ya namanya pincang, si Mimi teh sekarang gak bisa cari makan. Jadi akang inisiatif kasi makan itu kucing tiap harinya, dengan mengambil sisa ayam goreng jualan kita. Ya, itung-itung sedekahlah, Neng. Maaf ya, akang teh memang harusnya ijin dulu sama, Neng, harusnya mah,” ucap Kang Ajiz panjang lebar.
Penjelasannya barusan membuat aku malu, bahagia, dan haru bersamaan. Membuatku menangis tersedu-sedu dihadapan imamku.
“Yah, kok malah nangis. Sumpah, Neng cantik-nya akang. Mana mungkin akang bohong.” Dia meraih tanganku, dan menghujani punggung jemari tanganku dengan ciuman. “Neng, enggak percaya, ya, sama akang?” tanyanya lagi.
“Percaya, Akang, neng cuma malu juga terharu,” jawabku
“Terharu?” tanya suamiku dengan penekanan.
“Ya, neng bangga dengan ‘progress’ hijrah, Akang. Neng merasa malu udah banyak berprasangka. Semoga Allah ampuni neng, aamiin.”
“Aamiin, Yaa Mujib,” sahut Kang Ajiz. Sambil menarik tubuhku ke dalam rengkuhan hangatnya. Tangisku menghebat, air mata membasahi dada bidang lelakiku. “Besok akang kenalin sama mimi ya, udah sekarang, Neng buat sarapan yang enak, akang mau siap-siap buat ke pasar.”
“Eh, gak usah! Mulai sekarang, Akang gak perlu lagi jadi kuli angkut di pasar! Akang bantuin neng aja untuk jualan ayam goreng. InsyaAllah kita gak akan kekurangan.”

Imamku terdiam, memandang jauh ke dalam manik mataku. Seperti kebiasaannya, dia takkan banyak bertanya atau mendebat, apabila kami dihadapkan pada dua perbedaan pemikiran. Dia hanya akan menatapku lekat, mencari jawaban dengan membaca maksud hatiku.
“Neng rasa akan lebih baik kalau Akang berhenti bekerja sebagai kuli angkut! Nggak baik untuk kesehatan. Lagi pula hasil dari penjualan ayam goreng, kan sebetulnya lebih dari cukup buat kita berdua. Akang aja, yang keukeuh untuk terus nguli. Pokoknya kalau, Akang sayang sama neng, Akang bakal berhenti kerja kaya gitu!”
Aku melengos ke arah dapur. Membiarkan kekasih halalku termangu di tempatnya duduk kini. Aku menoleh lagi ke arahnya di depan pintu dapur dan berkata, “Kang, udah berhenti aja ya. Lagi pula selama seminggu ke belakang ini, goreng ayam kita Alhamdulillah laris manis. Paling sisa kurang dari lima potong aja. Gak kaya dulu, nambru. Mungkin ini berkah kasih sayang Akang sama si Mimi.”
Aku melihat matanya berbinar, semoga pernyataanku kali ini, mampu meluluhkan hatinya untuk berhenti bekerja sebagai kuli. Bertahun-tahun ini aku selalu mencoba membujuknya. Namun, tidak pernah berhasil.

***
Keesokan harinya, selepas Kang Ajiz kembali dari masjid. Sesuai janji, dia membawa kucing itu ke rumah. Aku melihat kebahagiaan terpancar dari raut wajahnya. Aku sambut kedatangan mereka di ambang pintu.
“Assalamu’alaikum, Cantikku. Ini dia Mimi, ayo kenalan, hehehe.” Suamiku tersenyum lepas. Bahagia rasanya melihat dia berbahagia.
“Ish lucu banget ya, ini sih bentar lagi juga lahiran, Kang. Perutnya udah gede banget gitu. Kasian ya.”
Sementara kami terdiam, entah apa yang ada dibenak kekasih halalku ini, tetapi aku tahu pasti, saat ini Mimi adalah salah satu sumber kebahagiaannya, dan aku takkan merenggutnya.
“Udah, Mimi mulai sekarang tinggal di sini aja ya,” ujarku. Seolah sedang berdialog dengan kucing manis itu.
Kang Ajiz melongo, mulutnya terbuka. Tampaknya dia benar-benar terkejut mendengar perkataanku tadi. Bagaimana tidak, selama ini dia paham betul jika aku tidak terlampau suka ada kucing masuk ke dalam rumah. Akan tetapi demi kebahagiaan suami, aku akan belajar mencintai Mimi.
Aku mengangguk bahkan sebelum sempat dia melontarkan pertanyaan. Memberinya senyum
terbaik
. Semoga Kang Ajiz memahami ketulusan hati ini.

***
Dua bulan sudah Mimi, menjadi anggota baru keluarga kami. Suamiku membuatkan dia kandang khusus di bagian belakang rumah, yang cukup besar untuk dia dan anak-anaknya bertumbuh. Sementara usaha ayam goreng dadakan kami semakin maju. Omsetnya meningkat hingga tiga ratus persen. Kiranya ini adalah berkah dari kehadiran Mimi dan anak-anaknya di keluarga kami.
Fajar menyingsing dengan semburat jingga sempurna. Pancarkan rona keyakinan pada dunia dari sinarnya. Selayaknya hatiku yang pagi ini berbunga-bunga. Aku menatap nanar, sebuah alat tes kehamilan yang menunjukkan dua garis merah. Rasa syukur dan bahagia meliputi hati. Segera kuperlihatkan hasilnya kepada Kang Ajiz. Entah ini alat test kehamilan yang ke berapa ratus bagi kami. Imamku melonjak kegirangan. Dia menyungkurkan tubuh, dan dahinya ke bumi. Tasbih, tahmid, dan takbir tak luput terlafaz dari lisannya.

“Terima Kasih Yaa Rabb. Sungguh Engkau Maha Pengasih, Maha Penyayang. Maha Kuasa atas segala-galanya. Kami terima amanah-Mu. Mohon bantulah kami menjaganya hingga terlahir selamat, dan mampukanlah kami untuk membesarkannya,” gumam Kang Ajiz. Meloloskan air mataku bergulir deras.
Aamiin, aku hanya mampu mengaminkan dalam hati, sambil menyentuh punggung suamiku. Lalu kami larut dalam isak tangis lirih berdua, saling merengkuh, saling menguatkan.

cerbung.net

Berkah Sedekah

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Sewindu sudah perjalanan biduk rumah tanggaku bersama Kang Ajiz. Bukan waktu yang sebentar, tetapi rasanya baru beberapa tahun kebelakang saja, moment kami bertemu hingga menikah. Meski belum ada suara tawa malaikat kecil mewarnai rumah sederhana kami.Suamiku pria yang gagah, berperawakan tinggi besar. Di balik kesan wajahnya yang sedikit 'galak', dia adalah sosok lelaki penyayang. Kami bertemu delapan tahun silam, tepatnya dua bulan menjelang pernikahan. Kala itu dia hanyalah seorang preman pasar, sementara aku bekerja sebagai buruh pabrik.Penasaran dengan kelanjutannya? yuk segera simak cerita dibawah ini...

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset