Bersama hujan episode 1

Chapter 1
Aku kembali menyesap cappuccino hangat di sudut ruang itu. Ruang yang sama di sebuah café ketika aku melihatmu bernyanyi. Suasana yang sama juga seperti waktu itu. Hujan rintik-rintik. Di sudut inilah aku bisa melihatmu dengan jelas. Menikmati alunan nada yang kau mainkan melalui gitarmu, dan juga suara merdu yang tak pernah bisa kulupakan, sambil sesekali menyesap minuman favoritku.

“Ada yang mau request lagu?” tiba-tiba suara itu membuyarkan lamunanku.

Sendirian, aku mencoba untuk mengusir penat setelah seharian bekerja. Temanku memberi tahu bahwa ada café yang menyajikan cappuccino ter-enak yang pernah dia rasakan. Tergoda, dan akupun mampir. Sendiri. Aku baru sadar bahwa ada live music disini karena pertanyaan si penyanyi kafe itu. Request lagu? Aku tertawa dalam hati. Sombong benar pemuda ini. Apa dia bisa menyanyikan semua jenis lagu? Kalau begitu, aku mau request.

“November Rain! Bisa?” aku berseru dari sudut ruangan itu.

“Oh. Emm. Yaah. Bisa, Mbak” jawabmu waktu itu.

When I look into your eyes, I can see a love restrained
But darling when I hold you, don’t you know I feel the same…

November Rain mengalun dari bibir itu beserta petikan gitar yang menambah indah suasana. Boleh juga, pikirku. Aku melirik, di luar hujan masih rintik-rintik. Dan suaramu membuatku enggan untuk beranjak. Aku kembali melayangkan pandangan padamu. Pria yang cukup tampan. Ditambah suara yang bagus untuk bernyanyi. Pastilah banyak perempuan yang bermain mata denganmu. Tiba-tiba imajinasiku bergerak liar membayangkan sesuatu. Aku dan kamu di suatu tempat, bercumbu. Ahhh! Pikiran wanita lajang yang berumur seperempat abad. Aku tertawa sendiri. Tapi, kamu memang tampan.

“Ada yang mau request lagi?” tanyamu lagi.

Aku tidak menyadari bahwa lagu permintaanku sudah selesai dinyanyikan. Berikutnya lagu lain kembali mengalun dari bibirmu. Rasanya semakin malas aku beranjak dari sini. Menikmati cappuccino sembari mendengarkan alunan indah darimu, cukuplah untuk mengusir penatku. Tidak terasa malam semakin pekat. Aku memutuskan untuk pulang saja.

“Terima kasih, Mbak. Datang lagi ya,” ujar pramusaji yang membukakan pintu untukku.

Aku hanya mengangguk dan tersenyum. Datang lagi? Mungkin saja. Tapi kalau ada pemuda itu, pastilah aku akan sudi mampir kembali. Haha. Aku pun melirik kearah pemuda itu sebelum keluar. Dan pada saat yang bersamaan si tampan membalas tatapan ku sambil melambaikan tangan. Sial!! Aku jadi deg-degan.

‘Cause nothing last forever, and we both know hearts can change
And it’s hard to hold a candle, in the cold November rain…

Walau sudah bukan November, tapi aku selalu memintamu untuk menyanyikan November Rain. Pertemuan demi pertemuan di café itu membuat kita semakin akrab. Bahkan tak jarang kita menghabiskan waktu bersama di tempat-tempat lain. Sekedar karaoke bersama,ataupun bercerita tentang hidup masing-masing.

“Aku sudah merekam contoh suaraku. Semoga produser itu tertarik,” ujarmu malam itu.

“Suaramu bagus. Semoga rezekimu juga. Kenapa tidak ikut kontes menyanyi saja?” tanyaku.

“Hahaha. Aku sudah pernah, tapi tidak berhasil. Mungkin suaraku tidak cocok dengan selera mereka. Aku yakin suatu hari nanti aku bisa jadi penyanyi terkenal.”

“Aku doakan, Mo.”

cerbung.net

Bersama hujan

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2014 Native Language: Indonesia
Gerimis di malam itu , tidak akan pernah aku lupakan....lantunan lagu November Rain yang kau bawakan saat itu...membuat perasaanku hanyut dalam petikan gitarmu.Tetapi , aku telah salah dalam menilaimu...aku tahu ini bukan salahmu....kebodohanku yg mengira kita dapat bersama....

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset