Bulan Purnama episode 2

Senyum Tipis

Gonggongan anjing yang Cumiakkan telinga, membangunkanku pagi ini. Terlihat surya menyingsing menembus jendela kaca yang memecah dengan silau. Jam dinding memperlihatkan pukul enam lebih dua puluh tiga menit. Dengan sigap beranjak dari ranjang lalu menuju kamar mandi. Kuputar kran dan membilas wajahku. Pagi ini air begitu dingin, sedingin hatiku yang diacuhkan oleh Lisa. Aku mandi dengan cepat agar bisa sarapan dulu sebelum pergi ke kantor. Sebagai seorang pria berusia 27 tahun, sebenarnya aku cukup lumayan. Wajahku terlihat sepuluh tahun lebih muda, bahkan sering dikira anak SMA. Aku memiliki tinggi sekitar 170 cm, dengan berat badan yang ideal.

Aku berkenalan dengan Lisa sekitar 2 tahun lalu di sebuah kolam renang lokal. Saat aku sedang rehat di area kantin, datang seorang wanita cantik bersama dua orang temannya. Aku masih ingat sekali dia mengenakan kemeja putih, rambutnya yang hitam kecokelatan diikat ke belakang. Aku menatapnya dengan tajam karena penasaran, yang entah disengaja atau tidak, dia juga memandang ke arahku. Kami saling mencuri pandang dan pada akhirnya dia berjalan ke kantin.

Darahku dipompa sangat kencang saat dia seperti berjalan menghampiriku, tapi ternyata ingin memesan minuman. Dengan terbata-bata aku mencoba menyapanya.

“Suka ke sini juga? Kok kaya baru pernah liat?” tanyaku berlagak cool.

“Eh… iya. Aku diajak temen.”

“Oh… Emang suka renang?” timpalku sambil mengulik informasi.

“Engga juga sih. Soalnya ga begitu bisa renang. Hehehe. Kamu sering ke sini?,” jawabnya sambil tersenyum.

“Tiap akhir pekan. Kalo lagi mood juga sih. Ehm, barangkali butuh temen buat belajaran. Nanti boleh aku bantuin.” Entah kenapa terlontar kalimat sok dari mulutku.

Dia seperti tersipu malu karena bisa kulihat pipinya merona.

“Ehh… boleh, boleh,” jawabnya dengan malu-malu.

“Brian,” kuulurkan tanganku mengajaknya berkenalan.

“Lisa,” jawabnya sambil menjabat tanganku.

Bisa kurasakan tangannya yang lembut dengan jemari yang lentik. Lisa tersenyum tipis, dan jantungku berdebar tidak karuan. Mungkinkah ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama? Kulepas tanganku dan kami bertukar nomor ponsel.

“Aku pulang duluan ya. Besok kalo mau renang, kabari aja. Ntar aku jemput deh.” Kuakhiri percakapan dengannya sebelum menuju ruang bilas sambil tersenyum sendirian.

Sesaat keluar dari area kolam, kupandang sejenak wajahnya dengan senyum yang menawan itu. Dia terlihat sedang mengobrol dengan kedua temannya sambil tertawa dan seketika melambaikan tangan saat melihatku. Aku pun membalasnya sambil berjalan keluar.

Sore itu merupakan hari paling bersejarah buatku. Sepanjang perjalanan pulang, aku tersenyum seperti orang gila. Membayangkan tatapan matanya serta senyumnya yang manis. Baru saja berkenalan, rasanya ingin segera menemuinya lagi. Tapi aku sendiri masih belum yakin jika dia masih single atau tidak. Setidaknya melihat dia bepergian dengan teman perempuannya, sedikit membuktikan jika dia belum ada yang punya.


Bulan Purnama

Bulan Purnama

Score 7.2
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2022 Native Language: Indonesia
Malam itu aku kembali merenung seperti biasanya. Sepoi angin yang menembus celah dedaunan, memelukku dengan lembut. Cahaya bulan mulai temaram, seolah mengabaikanku. Di seberang jalan tampak beberapa pemuda bercanda tawa. Mereka terseok-seok sembari menggenggam botol minuman keras. Anjing di pekarangan sebelah terus menggonggong berlagak mengusirku. “Ya ampun”, gumamku dengan lirih. Aku pun turun dari atap, melewati jendela dan masuk kembali ke dalam kamarku. Jika banyak yang bertanya-tanya? Sudah sewajarnya tiap insan manusia memiliki tempat favorit untuk menyendiri; bagiku atap rumah adalah bilik paling nyaman untuk menenangkan hati yang gundah.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset