Bulan Purnama episode 3

Bus Kota

Setelah merapikan baju, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh lebih delapan belas menit. Segera kukenakan sepatu pantofel hitam yang kubeli dari toko lokal dan bergegas menuruni tangga. Terlihat beberapa penghuni juga terburu-buru, entah untuk berangkat kerja, kuliah atau main. Aku berlari menuju halte terdekat yang berjarak sekitar 200 meter jauhnya. Walaupun punya kendaraan pribadi, tapi aku selalu menaiki bus kota untuk berangkat dan pulang kerja. Karena lebih murah dan efisien.

Halte sepagi ini sudah pasti ramai. Terlihat beberapa karyawan membawa tas dan berdandan sangat rapi. Dua orang wanita di sudut sedang mendempul wajah mereka dengan bedak tebal sambil berceloteh. Seorang pria tua dengan topi fedora hitam sedang membaca koran hari ini. Saat aku melintas di depannya, matanya melirik ke arahku. Pria tua tersebut kemudian melipat korannya dan bergegas pergi.

Aku berdiri di samping halte karena tempat duduk sudah penuh. Tak lama berselang, bus kota berwarna merah datang. Hanya ada empat penumpang yang turun dan kami semua pun masuk. Karena bangku bus sudah penuh, aku pun berdiri di ujung belakang. Bus segera berlari karena sang supir tahu bahwa kami semua dikejar waktu.

Walaupun sesak, para penumpang tampak tenang. Ada seorang pedagang tua memangku jualannya yang berisi roti. Empat orang anak seragam SMA sedang asik bermain game di ponsel mereka. Padahal seharusnya ini sudah jam masuk sekolah. Beberapa wanita dan pria yang berdandan rapi, berdiri sambil memegang tas kerja mereka. Tiba-tiba kami semua dikejutkan ketika suara yang cukup keras datang dari arah kanan depan.

Bruakkk! Terdengar bunyi seperti suara benturan dan bus berhenti seketika. Para penumpang mulai panik sambil menerka apa yang sedang terjadi. Dari belakang aku melihat supir turun dengan panik, disusul oleh penumpang lain yang ikut turun. Ternyata bus yang kami tumpangi menabrak seorang pengendara motor yang melanggar lampu lalu lintas. Aku pun ikut turun karena penasaran.

Pengendara motor dengan jaket dan helm hijau tersebut tampak kejang-kejang. Orang-orang mulai berdatangan menghampiri yang justru menambah kemacetan. Sang supir sangat panik hingga keringat bercucuran dari pelipisnya. Seorang penumpang wanita paruh baya terlihat menelepon dengan tergesa-gesa.

“Waduh kok bisa nabrak sih?” tanya salah seorang warga berbaju hitam.

“Ga atau juga. Orang dari kita udah ijo!” balas sang supir.

“Pasti nerobos lampu merah nih. Bawa ke rumah sakit aja, buruan,” kata seorang penumpang pria dengan kemeja krem.

Tak lama berselang, dua orang polisi datang sembari memecah keramaian. Sang supir menepi dan dimintai keterangan oleh salah satu petugas. Aku pun sedikit mendekat untuk memeriksa keadaan korban. Pelipis kirinya berdarah lumayan parah, rahangnya kaku, matanya membelalak seperti memandangku. Kuperkirakan mungkin dia mengalami gegar otak dan patah rahang. Entah kenapa ada perasaan aneh bercampur ngeri melihat kondisinya.

Aku pun segera pergi menjauh dari keramaian dan mencari bus lain. Tak terasa keringat bercucuran membahasi dahi dan leherku. Kurasa hidupnya sudah tak lama lagi. Bayangan dan tatapan korban kecelakaan tadi masih tampak jelas di pikiranku. Namun aku hanya bisa berharap semoga dia segera mendapat pertolongan.

Akhirnya bus lain datang, aku pun naik bersama beberapa penumpang sebelumnya dan kembali berdiri di ujung karena kondisi penuh. Semoga perjalanan kali ini tidak terganggu oleh peristiwa seperti tadi. Sekitar 15 menit perjalanan, aku pun turun di halte depan kantor dan segera berlari masuk. Untunglah pekerjaanku di pelayanan pelanggan tak harus membuatku bertatap muka langsung dengan klien. Karena akan sangat lucu sekali jika mereka harus melihat wajahku yang pucat pasi.

Letak kantorku ada di lantai 13 yang nomornya diganti dengan 12B pada tombol lift. Sudah tak heran jika masih banyak orang yang percaya bahwa angka tersebut membawa sial dan kabar buruk. Karena pekerjaanku cukup santai, membaca sudah menjadi bagian lain dari hobiku. Tempo hari aku membaca artikel yang berisi kumpulan mitos dan takhayul dari berbagai belahan dunia. Ada salah satu artikel yang menyita perhatianku tentang mitos tentang bulan. Karena sejak kecil aku gemar memandang langit malam yang menyimpan berjuta misteri.


Bulan Purnama

Bulan Purnama

Score 7.2
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2022 Native Language: Indonesia
Malam itu aku kembali merenung seperti biasanya. Sepoi angin yang menembus celah dedaunan, memelukku dengan lembut. Cahaya bulan mulai temaram, seolah mengabaikanku. Di seberang jalan tampak beberapa pemuda bercanda tawa. Mereka terseok-seok sembari menggenggam botol minuman keras. Anjing di pekarangan sebelah terus menggonggong berlagak mengusirku. “Ya ampun”, gumamku dengan lirih. Aku pun turun dari atap, melewati jendela dan masuk kembali ke dalam kamarku. Jika banyak yang bertanya-tanya? Sudah sewajarnya tiap insan manusia memiliki tempat favorit untuk menyendiri; bagiku atap rumah adalah bilik paling nyaman untuk menenangkan hati yang gundah.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset