Bulan Purnama episode 4

Lunatic

Langit mulai beralih menjadi senja, aku pun bergegas pergi meninggalkan kantorku menggunakan lift. Hari ini tidak ada panggilan masuk sama sekali, sehingga aku hanya membalas puluhan surel pertanyaan dan komplain. Keluar dari gedung, terbesit pikiran untuk mengunjungi Lisa. Walaupun aku tahu akan diacuhkan, setidaknya melihat wajahnya sudah cukup membuat hati ini tenang. Kuputuskan untuk berjalan kaki saja sambil membuang waktu.

“Tungguin dong!” teriak suara wanita dari belakangku.

Aku menengok belakang karena terkejut. Wanita tersebut melambaikan tangan dan tersenyum lebar.

“Ayo buruan!” timpal suara seorang pria dari arah lain.

“Hmph…kirain…” gumamku lirih.

Aku pun kembali berjalan dan sekarang mereka berdua tepat di depanku. Sesekali kupandang kebersamaan mereka. Wanita dengan rambut sebahu itu terlihat bahagia sekali. Pria jangkung di sebelah kanannya juga sama. Teringat momen saat pertama kali mengajak Lisa berkencan.

Saat itu, setelah mendapat nomor ponselnya, aku mencoba menyapanya terlebih dahulu. Masih ingat sekali dadaku berdegup begitu kencang menanti apakah akan dibalas olehnya. Tak berselang lama, Lisa betul-betul membalas pesanku. Kucoba mengajaknya menonton film yang kebetulan bulan itu sedang ramai film horor tentang sekte pemuja setan, dan dia setuju untuk pergi denganku. Aku pun tersenyum sendiri sepanjang hari. Tak lupa kupesan tiket menonton pukul setengah tujuh malam untuk dua orang. Sepulang kerja, aku bergegas mandi dan menjemput Lisa yang sudah mengirimkan alamat rumahnya padaku lewat aplikasi peta.

Kupacu motor hitam yang kubeli dari hasil keringat sendiri. Rumah Lisa ternyata tidak begitu jauh dari kosanku, berjarak hanya sekitar 20 menit. Aku pun tiba di sebuah rumah dengan cat warna putih. Kuketuk pintunya sebanyak tiga kali dan terdengar suara orang bergegas berjalan menghampiri.

“Halo. Udah siap?” sapaku kepada wanita manis yang berdiri di depan pintu.

Kupandang dari ujung kepala hingga kaki. Jantungku berdebar tidak karuan, seperti mau meledak. Lisa memang tidak suka berdandan terlalu menor, penampilannya pun terbilang kasual. Dan aku menyukainya. Dia mengenakan tanktop hitam yang dilapisi cardigan berwarna peach. Celana jeans biru dengan sepatu kets putih menghiasi pinggang ke bawah. Rambutnya dicepol dengan pita berwarna peach bermotif polkadot putih. Dia tersenyum tipis dengan lipstik menyerupai warna bibirnya.

“Berangkat sekarang?” tanya Lisa memecah konsentrasiku.

“Ah iya iya iya. Lets go!” jawabku terbata-bata.

Kami pun berkendara santai menuju bioskop di tengah kota. Dia melingkarkan kedua tangannya di pinggangku. Tubuhku seperti melayang terbang menuju langit ke tujuh rasanya. Kami pun terhenti di persimpangan karena lampu lalu lintas menyala merah.

“Mau makan dulu atau nanti aja?” tanyaku sedikit berteriak karena suasana jalan yang ramai suara kendaraan.

“Pulang nonton aja deh!” jawabnya tegas.

“Oke siap!”

Setelah lampu menyala hijau, kami pun melanjutkan perjalanan sekitar 10 menit hingga tiba di bioskop dan masuk ke lobby.

“Udah beli tiketnya emang?”

“Udah dong! Nih…” jawabku sambil menunjukkan dua tiket digital yang kupesan sebelumnya.

Lisa membalas dengan senyum gemas. Kami berdua berjalan memasuki teater. Kuletakkan tangan kananku di punggungnya untuk menunjukkan sikap seperti gentleman. Setidaknya seperti itu bunyi artikel yang kubaca tadi siang. Dia tersipu malu karena bisa kulihat pipinya merah merona. Memasuki ruangan teater yang lumayan gelap, Lisa menggenggam tanganku dengan erat. Kami pun mencari kursi dari tiga baris paling belakang. Tampak petugas bioskop membawa lampu sorot kecil untuk membantu penonton menemukan kursi mereka.

Kami duduk di barisan tengah karena memang di situ sport paling tepat untuk menonton. Banyak sekali pengunjung yang membawa pasangan mereka masing-masing. Tak berselang lama, pintu teater ditutup dan film pun dimulai. Sepanjang pertunjukan, Lisa kerap menutupi matanya karena takut dan memeluk lenganku dengan kencang. Aku hanya bisa tertawa dan berbunga-bunga melihat tingkahnya yang lucu. Kami berdua keluar dari teater dan dia masih memegang lenganku dengan kencang.

“Mau makan di mana?” kutanya dan dia menoleh ke arahku.

“Mmm… makan steak aja yuk,” jawabnya berlagak berpikir.

Kami pun segera beranjak mencari restoran steak terdekat. Sesampainya di tempat parkir, Lisa mendongak ke atas.

“Wah bulannya bagus banget. Ternyata malam ini bulan purnama,” ucapnya dengan kagum.

“Hati-hati loh. Ngeliatin bulan purnama bisa bikin orang jadi gila.”

“Ih yang bener?” dia mengernyitkan dahinya.

“Iya, bener. Mitosnya sih gitu. Tau gak bahasa Inggrisnya gila apaan?” tanyaku memandangnya dengan tertawa kecil. “Lunatic,” sahutku. “Luna diambil dari nama dewi bulan Yunani. Makannya banyak kejahatan yang kejadiannya di malam hari. Hahaha.”

Dia cemberut memandangku.

“Ga usah takut. Kalo aku sih tergila-gila sama kamu,” godaku kepadanya.

“Ciyeee… awas ntar gila beneran!” dia meledekku.

Kami pun masuk ke dalam resto dan memesan dua porsi steak. Dia duduk di depanku sambil memandang sekeliling.

“Pernah ke sini?”

“Belum. Tapi sekarang udah,” Jawabnya dengan girang.

Kami berdua mengobrol banyak hal, yang akhirnya aku tahu bahwa dia baru saja menyelesaikan kuliah dan sudah diterima bekerja di sebuah perusahaan swasta yang bergerak di bidang pemasaran online. Ayahnya sudah meninggal sejak kelas 2 SMA dan sekarang tinggal bersama ibu dan satu adik perempuan yang baru menginjak SMP. Jadi sekarang dia menjadi tulang punggung keluarga, tapi beruntunglah ibunya juga memiliki pekerjaan sehingga kehidupan keluarganya cukup lega. Tidak lupa, informasi bahwa dia pernah berpacaran sekali waktu SMA pun dapat kugali.

Aku pun bercerita mengenai asalku yang bukan dari kota ini. Tentang kehidupan dan kepribadianku yang bisa dibilang cukup introvert. Kuceritakan sedikit tentang pekerjaan dan hobiku dan tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sembilan kurang dua puluh menit. Kuantar dia pulang karena khawatir ibunya akan marah jika terlalu larut. Aku sempat berkenalan sebentar dengan ibunya dan segera pamit pulang.

Dalam perjalanan aku tersipu-sipu mengingat kencan pertama yang bisa dibilang cukup sukses. Walaupun sebenarnya pemalu, namun berkat ilmu dan tips-tips yang kudapat dari media, aku berhasil mendapat perhatian dari seorang wanita.

Di persimpangan, lampu menyala merah. Kupandang langit dan tampak bulan bersinar terang. Aku seperti terhipnotis melihat keagungan semesta ini. Kubayangkan wajahnya terlukis dengan indah agar bulan dapat selalu mengingatkanku pada sosoknya.


Bulan Purnama

Bulan Purnama

Score 7.2
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2022 Native Language: Indonesia
Malam itu aku kembali merenung seperti biasanya. Sepoi angin yang menembus celah dedaunan, memelukku dengan lembut. Cahaya bulan mulai temaram, seolah mengabaikanku. Di seberang jalan tampak beberapa pemuda bercanda tawa. Mereka terseok-seok sembari menggenggam botol minuman keras. Anjing di pekarangan sebelah terus menggonggong berlagak mengusirku. “Ya ampun”, gumamku dengan lirih. Aku pun turun dari atap, melewati jendela dan masuk kembali ke dalam kamarku. Jika banyak yang bertanya-tanya? Sudah sewajarnya tiap insan manusia memiliki tempat favorit untuk menyendiri; bagiku atap rumah adalah bilik paling nyaman untuk menenangkan hati yang gundah.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset