CIMOL PAHLAWANKU episode 1

Chapter 1

Suara ayam berkokok membangunkanku, aku bergegas mengambil handuk untuk mandi. Setelah mandi aku segera ganti pakaian dan wudhu untuk sholat subuh. Tanpa basa basi aku pergi ke arah barat untuk bertemu dengan kedua kawanku di car free day. Yang pertama bernama Rendy dan yang kedua bernama Fajar, ia biasa dipanggil Cimol atau aci digemol, bukan karena ia punya rambut kepala yang menyerupai makanan khas Jawa Barat tersebut, melainkan ia hampir tiap hari makan cimol *(‘aduh jadi laper’).

Ketika sampai sana untunglah mereka juga baru datang. Kami ngobrol panjang kali lebar kali tinggi tanpa ada manfaat yang kami obrolkan, tapi tetap saja kami merasakan kesenangan tiada tara ketika bercanda disambung dengan tawa. “Kriuuukk” sumber bunyi yang nampak terdengar dari perut Rendy, sehingga kami bertiga mencari makanan terdekat dan kami menemukan sate ayam lontong yang terletak dekat lapangan. Tak ketinggalan dengan Fajar yang mencari cimol dan setelah susah payah mencari hingga kutub utara akhirnya menemukan di sebelah barat lapangan. Fajar membeli cimol cukup banyak, hingga akhirnya aku dan Rendy yang dapat sisanya yaitu bumbu. Usai makan, kami bertiga berjalan menuju rumah Rendy yang lumayan jauh dari lokasi kami makan.

Ditengah perjalanan kami ngobrol ngalor ngidul hingga tanpa disadari sudah setengah perjalanan yang kami lewati. “Jebreeeett” yang membuat kami terkejut suara motor jatuh yang tak jauh dari kami. Kami segera menolong dan tak sedikit warga yang ikut menolong sang korban. Entah sejak kapan Fajar membeli air mineral yang pasti ia berniat baik yaitu menolong. Tidak lama polisi datang untuk mengurus kejadian ini. Para pengendara yang melintas pun ada yang memperlambat lajunya dan ada juga yang berhenti, sehingga menimbulkan kemacetan. Ada yang berkata bahwa kecelakaan itu terjadi karena sang pengendara meminum minuman alkohol, karena terasa dari mulut korban yang berbau alkohol.

Sang raja panas berada tepat di atas kepala. Kami melanjutkan perjalanan kami. Langkah demi langkah jalan yang kami telusuri dengan begitu cepat. Tubuh kami mengeluarkan air begitu banyak hingga membasahi kaos kami. Kami terus melangkah dipandu dengan tawa kami. Angin berhembus sepoy sepoy, bagaikan di pinggir pantai yang sejuk dan terasa damai dengan alam. Kami hanya bisa melihat pengendara motor, mobil, sepeda, orang berjalan yang entah ke mana tujuannya.

Ketika kami melangkah, tanpa sengaja benda tumpul menancap dikaki Rendy, dengan cepat Rendy mengeluarkan benda tumpul yang menancap pada kakinya hingga mengeluarkan banyak cairan merah yang begitu kental. Tanpa berpikir panjang Cimol bergegas mengikat kaki Rendy dengan sehelai handuk kecil yang dibawa Cimol. “Buat apa diikat gitu” kataku bertanya kepada Cimol “biar darahnya ngga keluar terus” Cimol menjawab sambil mengikatkan handuk tersebut. “Tahan yaaa…” kata Cimol “aaaaadddduhhh” suara yang dilontarkan dari mulut Rendy. Air mata keluar dari bola mata yang mengaliri pipi Rendy. Setelah kejadian itu kami beristirahat sejenak di pinggir toko yang nampak tak berpenghuni.

Kami berbincang bincang yang nampak kurang seru “sekarang jam berapa?” kalimat yang aku lontarkan, “jam setengah dua” jawab Fajar. Setelah beristirahat akhirnya kami melanjutkan perjalanan walaupun Rendy yang nampaknya menahan rasa sakit pada kakinya. Ditengah perjalanan tenggorokanku terasa kering “cari minuman yukk” kataku, “ayukk” suara yang mereka ucapkan nampak bersamaan. Tidak jauh aku lihat warung yang nampak sepi, aku menghampiri warung tersebut dan memesan teh panas.

Usai minum, kami melanjutkan niat kami menuju rumah Rendy yang sudah dekat dari warung itu. Saat kami berjalan terlihat seorang ibu naik sepeda motor yang sedang membonceng anaknya dibelakang sambil memegang balon di tangan kanannya. Tidak beberapa lama balon yang dipegang itu lepas dari genggamannya. Fajar yang tanpa dikomando dengan cepat mengambil balon tersebut dan mengembalikannya pada anak itu. Ibunya berkata “terima kasih ya dek” Fajar menjawab “iya sama-sama bu”. Hanya beberapa langkah kamipun sampai tujuan. Rendy memberikan air mineral kepada kami berdua yang sedari tadi nampak kehausan. Tidak lama Rendy juga menyandingkan makanan kepada kami berdua.

Kami beristirahat sejenak, tanpa disadari aku tidur di lantai yang terlihat mau di pel. Aku bangun dan bersiap untuk pulang ke rumah. Tidak lupa aku berterima kasih kepada Rendy. Karena terlihat matahari akan terbenam. Aku dan Fajar memutuskan untuk pulang naik angkot. Di dalam angkot aku hanya diam tidak bersuara, yang terdengar hanya suara adzan dan dua orang yang entah kapan mereka memulai percakapannya, yang satu cowo dan yang satu cewe. “Aku suka kaammm…..” suara cewe yang berada di sebelah Fajar “suka apa?” kalimat yang dikeluarkan dari cowo yang berada di sebelahku, cewenya pun melanjutkan ucapannya “suka kaammmbing” seketika hening. Sampailah di dekat rumahku, dan rumahnya Fajar dan rumahku hanya selisih 5 rumah. “Aku balik dulu ya, makasih” kataku “iya, aku juga balik dulu”.

Esoknya ada temanku yang bernama Farel, ia mengajak Aku dan Fajar untuk bersepeda di GOR. Saat itu kami bermain di stadion, Fajar yang membonceng aku entah kenapa nampak tidak tenang. Kami tidak hanya disitu tetapi kami pun bermain ke tempat lain yaitu area BMX. Saat kami bermain entah Farel ingin pamer atau bagaimana, ia berniat menaiki trek BMX yang menurut aku bahaya. Fajar sudah memperingatinya “jangan rel” dan ia tetep menaiki trek tersebut, ketika loncat ia kurang cepet dan alhasil Farel terjatuh dengan ditimpa sepedanya sendiri hingga kepalanya mengeluarkan darah karena terkena pedal dari sepedanya. “Tooolooonnnggg” teriak Fajar hingga ada orang yang membantunya untuk menuju ke pos untuk meminta bantuan kepada yang jaga saat itu dan segera dibawa ke rumah sakit terdekat yang didampingi Fajar. Dan aku tidak tinggal diam, aku segera mengambil sepeda yang digunakan Farel untuk diletakkan di sisi pos. Aku juga segera mengabari orang tua dari Farel untuk segera ke rumah sakit.

Dengan sekuat tenaga aku mengayuh pedal sepeda, untuk sampai ke rumah Farel membutuhkan kurang lebih 30 menit. Aku ngga peduli seberapa lelahnya aku, seberapa tenaga yang aku keluarkan karena ini demi teman. Saat sampai aku begitu gugup untuk menyampaikan kabar ini, akhirnya aku beranikan diri untuk mengatakan bahwa Farel jatuh dari sepeda dan sekarang sedang di Rumah Sakit DKT. Bapaknya Farel yang tadinya menampilkan muka gembira dengan cepat raut wajahnya berubah.

Dengan cepat aku meletakkan sepeda dan segera menuju ke rumah sakit tersebut menggunakan mobil bersama bapaknya Farel yang nampak tegang. Dengan cepat dan pasti kami tiba di rumah sakit disambut dengan Fajar yang Nampak wajahnya takut saat melihat kedatangan kami. Fajar sepertinya takut diomelin, dimaki-maki. Apa yang saya perkirakan benar, Fajar langsung diomelin segala macem hingga seperti orang bisa yang kehabisan kata-kata. Setelah mengomel ia(bapaknya Farel) masuk ke ruang dimana Farel dirawat. Sekian lama menunggu Farel keluar bersama bapaknya, karena kata dokter sudah dipersilahkan untuk pulang maka dari itu kami membawa Farel untuk pulang. Kami tidak lupa berterima kasih kepada mas yang telah mengantar ke rumah sakit.

Saat diperjalanan kami bertiga dinasehati sama bapaknya Farel yang terlihat lebih lega dari sebelumnya. Dan Farel yang merasa bersalah pun mengakui perbuata ceroboh tersebut dengan meminta maaf kepada bapaknya dan kami berdua (Aku dan Fajar).

Setelah kejadian itu Farel lama tidak masuk sekolah, kami berdua kawatir akan nasibnya, setelah beberapa hari terlewatkan Farel masuk dengan luka yang masih membekas. Saat itulah kebahagian kami bangkit kembali dengan senyum ikhlas dari hati dan nurani tanpa ada dusta diantara kita *(‘kaya judul lagu’).


cerbung.net

CIMOL PAHLAWANKU

Score 7
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Ini kisah nyata, cerita dari gua. Ya, walaupun ada beberapa yang gua tambahin biar menarik :v. Ya, ini cerita pendek dari gua, kejadian ini beberapa tahun yang lalu saat gua masih di Sekolah Dasar. Yang penasaran simak aja langsung ceritanya.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset