Cinta Monyet Bersemi Di Putih Abu-Abu episode 27

Chapter 27

Setelah persiapan selesai gue pun langsung berangkat setelah dapat info angkutan yang arah kesana. Perjalanan menmpuh waktu 3 jam naik bus, 1 jam naik 2 kali angkot. Dan sampai juga di daerah yang tante sebut, suasana pertama kali datang adalah hamparan sawah dimana-mana. Tanpa buang waktu gue pun tanya ke orang sekitar nama kakek gue, sekali tanya semua orang pun tau dan langsung arahin jalan ke rumahnya. Mereka bilang kakek nenek gue adalah tuan tanah daerah sini dan sebagian sawah punya kakek nenek, terkagum sesaat gue langsung jalan gang yang menurut gue cukup satu mobil.
10 menit berjalan terlihat rumah yang di sebut orang yang gue tanya, jalan perlahan dan akhirnya sampai depan gerbang yang sederhana, terlihat halaman yang luas serta tanam-tanaman yang gampang tumbuh dan rumah yang begitu sederhana. Berbeda dengan yang gue pikirin rumah mewah, tetapi disini semua sama tak ada rumah yang mencolok mewah.
gue pun masuk perlahan, terlihat 2 mobil yang bagus menurut gue. Dan seorang perempuan dan lelaki baru keluar dari rumah itu melihat ke gue. Gue pun langsung hampirin mereka.
“permisi om tante.. mau tanyaa.. apa ini rumah xxxxx” tanya gue sopan.
“iah betul.. km siapa?” tanya lelaki tersebut.
“anu.. saya anak dari xxxxx” gue jelasin sedetailnya.
“ah bohong kamu.. cici saya meninggal + anak di kandungnya meninggal pas melahirkan” jawab lelaki itu.
“tapi ini om saya anaknya.. “ gue masih kekeh.
“papa saya bilang gitu kok.. jadi kamu gak usah ngarang cerita ya.” Tegas lelaki itu.
Gue diam sejenak, gue baru tau dia adiknya mama dan yang di sebut papa itu adalah kakek gue. Tapi begitu bencinya kah dia sama gue sampai bilang gue ikut meninggal dan menganggap gue gak ada. Sejenak pertanyaan sederhana telontar dari perempuan di samping dan dia langsung pergi ke dalam. Tak lama perempuang itu keluar dengan wanita sama pria yang usianya jelas berumur. Apa itu kakek nenek gue. Tampang wajah pria tua itu sangat sinis liat gue berbeda dengan wajah ramah wanita itu.
“ini dek yang kamu cari” bisik perempuan tersebut
“iah makash tante” ucap gue. Dan tak lama gue ber tiga di teras.
Kakek dan nenek gue duduk di bale depan teras.
“kamu ada apa cari saya?” tanya nenek.
“untuk ini…” gue lepas kalung dan kasih kotak yang berisi 2 foto itu.
Nenek saat itu sangat terkejut melihat foto itu sambil tanganya menutup mulut. Di lihatnya lama foto tersebut dan kalungnya.
“jadi kamu benar cucuku.. dari rere” sambil pegang tangan gue.
“iah…” jawab gue senyum.
“tak kira dah mati kau..” sambung kakek gue yang muka kecut banget. Gue hanya diem.
“tante ailin teman baik mama udah cerita semua tentang saya..” ucap gue.
“bagus kamu baik-baik aja dan sehat ya.” Ucap nenek gue berkaca-kaca.
“iah.. hehe saya juga udah tau,, kenapa teman baik yaitu tante ailin besarin saya sampai saat itu” mereka diam sejenak.
“maka dari itu saya mau minta maaf…” gue berlutus dan bersujud di depan kakek nenek gue.
“saya minta maaf karena saya yang menyebabkan papa mama meninggal” sambung gue.
“udah jangan kayak gitu… “ suaranya sekarang agak serak dan bantu gue bangun.
“itu semua takdir, papa mama kamu udah berpulang bukan karena kamu, tapi itu takdir.” Sambil di peluknya erat tubuh gue.
“jadi kamu jangan mikir apa-apa” sambung nenek.
Kakek gue diem dan cuek seolah benar-benar gak anggap gue ada disitu, kami pun ngobrol sesaat dan bilang jangan di ambil hati kakek orangnya keras kepala dan egois. Dan gue baru tau kakek bilang gitu ke adiknya mama agar luka masa lalu yaitu kehilangan anak perempuanya bisa hilang. Makanya kakek bilang itu.
“jadi selama ini papa sama mama boong aku” ucap lelaki tadi muncul dari balik tembok.
Nenek dan kakek gue agak terkejut, nenek akhirnya jelasin semua ke adiknya mama sedetail mungkin, terasa sauna haru singgah di pikiran gue saat certain papa mama lagi.
“sorry ya do, tadi gak bermaskud gitu, tapi sekarang km benar-benar anak dari cici rere” senyum.
Kami pun ngobrol sana – sini, ternyata saudara dari mama gak anggap gue sebagai penyebab kematian mereka, hanya emosi dan keras kepala kakek gue. Gak lama udah sore dan gue nginap di sini, kakek yang begitu dingin membuat gue gak nyaman.
“nek.. makam papa mama jauh gak dari sini?” ucap gue ke nenek.
“jauh itu 1 jam perjalanan dari sini, kamu mau kesana?” tanyanya.
“Sekarang nek hehe..” jawab gue.
“udah sore, besok aja sama kko” jawab adiknya mama.
“hmm gak usah repotin.” Jwab gue.
“gak kok.. sekalian jalan.” Lanjutnya.
Dan akhirnya gue pun besok pagi gue kesana, gue telpon om dan certain semuanya biar tante om gak khwatir. Dan malam ini terasa hening, masih terdengar suara jangkri dari luar. Suasana yang belom terbiasa disini. Dan ternyata kamar yang gue tempatin adalah kamar mama dan papa waktu nginap disini. Menatap langit kamar pikiran tentang mama dan papa kembali menyeruak dan membuat gue tertidur.


cerbung.net

Cinta Monyet Bersemi Di Putih Abu-Abu

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2015 Native Language: Indonesia
Sebuah cinta monyet yang tumbuh saat masuk Masa Orientasi Siswa (MOS) di SMA.Banyak siswa cantik yang mengikuti MOS saat itu , tapi pandangan Edo hanya tertuju pada satu gadis.....Siapakah gadis itu..? yuk dibaca cerita lengkapnya dibawah ini!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset