Cinta Tak Harus Memiliki episode 1

Chapter 1

Bagian 1 Masa Kecil

Kania memukul kepala Hengky dengan sandal jepit karena Hengky tak mau mengambil boneka Kania yang tertinggal di kamar maminya , Hengky berlari dan kembali ke rumahnya. Hatinya jengkel pada Kania yang mau menang sendiri, ia memilih membantu ibunya memunguti sampah dikampung sebelah dan mendorong gerobag tersebut. Kania jengkel dan melaporkannya pada Mira ibunya Kania. Mira memeluk anaknya yang terkecil sambil menasihati, ” Sudahlah Kania Hengky itu anak baik dan sopan kau tak boleh memperlakukan Hengky seperti itu, kasihan Hengky dia sudah tak punya ayah dan hidupnya susah “. Keluarga Hengky hidup dalam kemiskinan , ibunya yang bernama Sarini bekerja di keluarga Kania sebagai pembantu mulai pukul 6 pagi sampai Bu Mira pulang dari Puskesmas  , sehingga Hengky harus bangun pagi untuk persiapan sekolah sedangkan Hengky sepulang sekolah sorenya sudah ke masjid terdekat untuk belajar mengaji , bermain sebentar dan itupun bersama Kania karena rumah bu Sarini yang kecil itu berada dibelakang rumah Kania dan dibatasi tembok tinggi. Samping rumah Hengky adalah ladang pohon pisang milik pak RT. Gerobag sampah yang diletakkan di ladang itu setiap hari dibersihkan Hengky anak usia 9 tahun seusia Kania sambil mengingat kenangan bersama ayahnya yang telah tiada . ” Bapak , alhamdulillah Ibu dalam keadaan sehat…Hengky selalu ingat pesan bapak unrtuk selalu berdoa selesai shollat dan menyayangi ibuk serta selalu istikomah “. Kebiasaan yang selalu Hengky sampaikan karena rasa rindunya pada ayah yang selalu mengajak bermain sebelum sakit kena serangan jantung.

Kania memimta maaf atas kesalahannya sambil membawakan kue bolu sebagai penebus kesalahannya, Hengky menolak pemberian Kania dan gadis kecil itupun menangis , Hengky bingung mau diapakan Kania , tiba-tiba seekor ulat bulu mendekati Kania , karena kaget dan jijik Kaniapun menjerit Hengky langsung mendekati Kania dan menenangkannya. ” Ini ulat kecil biasa gak usah takut”, begitu Hengky menunjukkan ulat yang bergantung diatas jendela rumah Hengky, dan mengambilkan air minum agar Kania tak ketakutan lagi. Kania diam dan pelan-pelan ia memberikan kue bolu sekali lagi kepada Hengky, kali ini Hengky menerimanya merekapun makan bersama. Akhirnya mereka akur lagi dan belajar bersama kembali. Diam-diam Mira mengawasi persahabatan Kania dan Hengky , karena Hengky anak yang cerdas dan berbudi luhur. Kania rajin ke gereja dan selalu bercerita apa saja selama di gereja sedangkan Hengky mendengarkan dan tersenyum sambil memperhatikan tak ingin menyakitinya, mereka satu kelas yang kini sudah kelas 6 SD jelang kelulusan. Kakak Kania laki-laki dan sudah SMA sering menggoda adiknya bila sedang belajar , ini yang membuat Kania selalu belajar bersama Hengky. ” Maaf Kania, aku akan membantu ibu mengambil sampah sebaiknya kamu pulang saja karena akan aku gembok kuncinya “. Kania melarang Hengky menguncinya , ” Jangan …aku mau di sini saja menunggumu bersama ibu”. Ibu sarini memperbolehkan tapi jangan kemana-mana dan minta izin ibu dulu “. ” Kania sudah izin ibuk dan dibolehkan bik “. Sarini akhirnya berangkat meninggalkan Kania di rumahnya tapi, sampai di depan rumah Kania hatinya tak enak sehingga Sarini mengatakan pada ibu Mira kalau Kania ada di rumahnya. Mira mendatangi rumah Sarini dan melihat keadaannya….rumah Sarini bersih dan rapi meskipun kurang layak dipakai barang-barangnya. Kania senang ibuknya menemani belajar , tapi Mira fokus pada foto berpigura dimana ada Parto suami Sarini juga Hengky dan Sarini sedang memandikan gerobag sampahnya bercat coklat dan kuning . Mira terharu itu foto dua tahun yang lalu kelihatannya tapi nampak bersih sekali , ” Buk Kania lapar..” perut Kania kukuruyuk dan Mira mendengarnya. Mira kedapur siapa tahu ada mie instan dan memang ada dua tergeletak di meja makan dan gembok serta kunci rumah, Mira meminjam satu dan segera akan digantinya . Dalam hati Mira memuji Sarini betapa menerimanya dengan keadaan seperti ini yang serba pas-pasan, tapi apalah daya Sarini adalah seorang janda beranak satu lain dengan Mira pekerja puskesmas Kedungjati Grobogan dan suaminya seorang Pendeta

Jam 17.30 Sarini dan Hengky tiba di rumah, dalam gerobag ada dua karung plastik tergeletak , Mira keluar memyambut Sarini . Rasa canggung membuat Sarini merasa bersalah tapi Mira biasa saja bahkan Kania langsung menyapa Hengky , ” Kamu capek ya …? ini ada makanan dan kue dari ibu.. dimakan ya..?”. Hengky mencuci tangan dengan sabun dan bergantian dengan ibunya. Mira mengajak ke dapur dan menunjukkan apa-apa yang tersedia disana, setelah itu memohon pamit . Sarini memandang kepergian Mira sambil memeluk anaknya dari samping. Dalam hati Hengky mengatakan betapa baiknya Bu Mira pada keluarga kami , sebaliknya Sarini justru malah takut dengan kebaikan mereka , karena dengan apakah nanti membalasnya tapi hatinya bahagia masih ada orang sebaik bu Mira . Hengky mengambil karung plastik yang berada dalam gerobagnya dan membawa masuk , satu persatu benda-benda itu dikeluarkan, ” Buk sepatunya masih bagus , ini juga bagus….teflon ini juga masih bisa dipakai buat menumis cuma agak kendor bautnya nanti Hengky kencengin bautnya, dan ini yang Hengky senengin..robot-robotan nanti Hengky betulin “. Hengky memilah-milah barang yang didapatnya dari sampah terbuang yang dianggap baik untuknya dan masih berguna lalu ia mengidentifikasi cara perbaikannya, ibu membuatkan teh hangat dan memotong roti pemberian bu Mira untuk dinikmati sore ini. Hengky masih mandi ketika ibu mengajak minum teh , Mira melihat barang-barang yang akan diperbaiki Hengky sambil minum teh dan menikmati roti. Hengky sedang mengisi bak mandi karena airnya mau habis dengan sumur kerekan , ” Buk…. air di gentong diisi sekalian gak ?” tanya Hengky dari dalam kamar mandi ” Gak usah airnya masih cukup ” , begitu jawab Sarini . Hengky menyudahi mandinya , ” Beeerrttt… dingin sekali airnya buk…” sambil gemetaran Hengky keluar kamar mandi langsung menyruput teh hangatnya, maunya sih ambil roti sekalian tapi dicegah Sarini dan disuruh memakai pakaian dulu.

Pesta Perpisahan Kelulusan SD sudah berlangsung kini saatnya mendaftar ulang SMP, Hengky dan Kania diterima di SMPN 1 Kedungjati . Sarini mengantar Hengky ke sekolah naik angkot untuk menyelesaikan administrasi , angkot gak datang-datang Sarini cemas juga Hengky untung Pak Paulus dan ibu Mira lewat dan mengajak bareng ke sekolah.” Bu Sarini , besok kalau sekolah Hengky biar bareng Kania saja biar gak terlambat”. begitu kata pak Paulus . ” Maaf pak saya gak enak kalau merepotkan keluarga bapak terus…” jawab Sarini malu. ” Gak apa bu…kita kan tetangga..deket lagi..ibu sudah saya tawari tapi menginginkan berangkat pakai angkot”, jelas bu Mira. ” Iya bu Mira tapi Hengky ingin naik angkot, dan mencoba berangkat pagi “. ” Hengky , besok kalau ingin bareng bilang saja sama Kania ya…pasti Kania mau toh belajar kalian bareng juga “. Mira mencoba membuka pembicaraan antara Kania dan Hengky. ” “Iya Heng…kita bareng saja…belajarnya juga…oke…” .               ” Makasih bu Mira.., Hengky senang bisa bareng…tapi Paman akan membelikan sepeda buat sekolah dan akan diantar ke rumah “. cerita Hengky pada seisi mobil. ” Waaaahh..aku bisa bareng gonceng sepeda kalau bapak luar kota …ya kan buuukkk..” , Kania amat semangat menyambung jawaban Hengky, Mira tersenyum sambil menganggukkan kepala. “Tentu Kania Kamu akan aku gonceng ..dan ngebuut biar lekas sampai…”, jawab Hengky dengan ramah . Sarini dan Mira tersenyum senang dengan celotehan anak-anaknya . Mereka sekalian menjahit baju seragam di penjahit terdekat rumah.

Sudah seminggu Hengky mencoba sepeda pemberian paman Hario yang datang dari Solo, ia menggoncengkan Kania mutar dari gang ke gang, kalau capek mereka istirahat dan makan sate lontong atau rujak maupun pecel yang lewat di jalan. Ketika waktu dzuhur tiba Hengky shollat dulu dan membersihkan rumah agar ibunya tak kecapaian. ” Hengky kita makan dulu nak, ini lo ada banca’an syukuran ( berkat ) dari pak Projo “, teriak Sarini memanggil Hengky yang masih mengeringkan sepedanya. Hengky berdiri menyambut ibunya pulang dari kerja dan Sarini membuka isi banca’an tersebut , ” Gelo ..le ono kue lapis kelangenanmu, wis..banyak banget jajanannya..ayuk dimakan..” Sarini menyiapkan makan malamnya dan sisanya dimakan sekarang. ” Sambal goreng rambak plus telur puyuh, apa gulai yang kita makan dahulu le…”. ” Sambal goreng saja yang dimakan sekarang….gulainya nanti malam biar bisa dipanasin buat sarapan buk..” pinta Hengky dan ibu menurutinya . ” Ini syukuran apa ya buk..?” tanya Hengky dan dijawab Sarini, ” OO..ini..cucunya pak Projo dah lahir perempuan sekalian pengangkatan pegawai negeri mas Ipung”. ” Pantes banyak banget lauknya , kalau Hengky kemarin bubur saja ya buk “. celetuk Hengky. Sarini diam dan melanjutkan makan, Hengky melihat ibuknya diam hatinya tersentuh. ” Maafkan Hengky buk…Hengky nerima dan bersyukur kok …ibuk dah buat Hengky bahagia dan tak perlu menuntut lagi “. Sarini terharu dan membelai Hengky, air mata Sarini mengalir tapi segera diseka agar Hengky tak melihatnya.

Bagian ke 2 Paman Hario

Saat liburan Hengky dibawa pamannya ke Solo selama satu minggu, ternyata Hengky di khitankan paman Hario yang sangat sayang pada Hengky, paman Hario tak memiliki anak dan dari perkawinan kedua dengan Badriyah pun tak memiliki anak , istri pertamanya Anisah setelah bercerai dengan paman Hario menikah lagi dia sudah punya anak dua, Anisah masih bekerja membantu paman Hario di warung baksonya yang terkenal laris manis lakunya. Warung bakso kang Hario amat terkenal di Solo, rasanya yang mantab dan gurih kuahnya serta banyak daging dan balungannya mereka harus mengantri untuk membeli dan sudah besar tempatnya tapi pengunjung tak surut , Paman Hario sendiri yang mengolahnya sedangkan istrinya yang pegang duwit. Hengky membantu membersihkan meja dan membuat minuman , bu Anisah ( mantan istri pertama Hario ) yang mengajari Hengky bekerja cepat sehingga pembeli senang gak lama mengantri . Jam 23.00 warung bakso sudah tutup karena baksonya sudah habis. Hengky gak bisa tidur teringat ibunya…Hengky kangen…..air matanya mengalir…Ia juga teringat Kania..sedang apa Kania saat ini..? Tiba-tiba Hengky merasa kangen… jantungnya terasa berdetak mengingat manjanya Kania …cubitannya ….juga menangis saat jatuh dari sepeda..Kania yang baik kania yang suka berbagi pada Hengky dan meminjami buku catatan ketika Hengky ikut lomba pramuka atau mewakili sekolah pada cabang olah raga atletik, Hengky sudah kelas 2 SMP dan sering digodain teman sekelas karena kedekatannya dengan Kania…Kania menangis dan Hengky menenangkannya. ” Biarkan mereka meledek kita..kita kan sahabat…dan mereka tak memiliki sahabat seperti kita…”. Kania tersenyum dan ceria kembali.

” Hengky ini uang hasil kerjamu dan ini hape hadiah dari paman untuk kamu karena kamu naik kelas dan prestasimu baik “. ” Paman terima kasih, ibu pasti senang dengan semua ini, ada buku juga tas serta  sepatu bahkan hape dan nomornya yang beliin paman beserta pulsanya”. ” Sudahlah…itu pak Atmo suaminya bu Anisah dah siap antar kamu pulang…kalau sudah sampai kabari ya…”. Hengky bahagia banget berangkat hanya membawa satu setel pakaian pulangnya bawa dua tas punggung. Jam 4 sore Hengky sudah sampai rumah, tapi Sarini masih bekerja memungut sampah , pak Atmo istirahat sebentar dan langsung pulang. Sarini melihat pintu rumah terbuka dan dilihatnya Hengky mengelap sepedanya . Hengky segera membantu ibu dan mengajaknya ke dalam, Sarini membersihkan badan lalu mengeluarkan kue dalam lemari makan. ” Waaaahh makasih Le..tehnya pas hangat diperut, ini hasilnya kamu ikut paman jadi lebih gesit “. ” Iya buk… dan masih banyak lagi “, Hengky menunjukkan seluruh isi tas tersebut tentusaja Sarini senang sekali kebutuhan sekolah Hengky sudah dipenuhi Hario, ” Coba Heng..kau telpon pamanmu….” , pinta Sarini pada Hengky. ” Tapi sekarang jam sibuk ..paman gak mau terima telpon kalau lagi kerja buk..kita sms saja pasti nanti malam dibalas paman “. ” Yo wis kalau gitu…tapi bener ya akan dibalas”. Sarini memastikan …. dan Hengky cukup memberikan tanda jempol. Jam 10 malam paman telpon Hengky dan diberikan Sarini, lama sekali Sarini ngobrol sama paman dan baru diberikan Hengky. ” Le…kalau besok lulus sekolah kamu sekolah SMA di Solo apa mau…” Hengky diam lalu menjawab , “Masih lama buk..sekarang saja baru kenaikan ke kelas 2, kemanapun Hengky gak papa asal sama ibuk “. ” Ibuk….,  Hengky mau ke rumah Kania sebentar ya…mau kasih sesuatu pada Kania..” kata Hengky pada ibuknya , ” Sudah malam Heng…tak baik main ke rumah cewek malam begini…lagian Kania sedang sakit “. Hengky kaget dengar Kania sakit , ” Sakit apa buk Kania ?” ” Biasa kok cuma batuk dan panas…tapi belum sembuh benar “, Hengky berfikir sebentar untuk menemukan ide…lalu mencari buku kecil dan Hengky menulis di hapenya.

Kania, ini aku Hengky…aku sudah sampai rumah , kata ibu kamu sakit ya…semoga lekas sembuh dari aku Hengky , pesan sudah terkirim tapi belum terbaca …Hengky gak bisa tidur di permain kan perasaanya sendiri , dan berkali-kali memandang hapenya berharap balasan dari Kania. Sarini sudah tidur sejak tadi sedangkan Hengky masih asik mengotak atik hapenya mengisi daftar kontak guru-gurunya . Waktu menunjukkan pukul 01.00 Hengky matanya sudah mulai pekat dirasa , hape dimatikan dan tidurlah Ia . Selesai shollat subuh Sarini sudah memberesi dapur dilihatnya Hengky sedang shollat, Ibu menyiapkan sarapan dan teh hangat tapi Hengky tak keluar-keluar ketika ditengok ternyata Hengky tidur lagi mungkin masih terasa kecapaian, Sarini segera berangkat kerja di bu Mira. ” Bik Sarini , Hengky kok belum balas sms Kania ya…?” , tanya Kania pada Sarini. ” Ibu kurang tahu non ..tadi sehabis shollat subuh tidur lagi, mungkin kecapaian kali non….coba non telpon pasti dijawab..” , benar juga kata bu Sarini dan Kania meneleponnya. ” Met pagi ketua kelasku…apa kabarmu…?”, sapa Kania ” Haiii… imuuut..met pagi juga…piye…dah sembuh belum…katanya sakit..?” . balas Hengky ” Kamu jahat…perginya lama….aku gak bisa sepedaan..” ” Lo… sepedanya kan di rumah , aku kan dah bilang pakai saja…” ” Aku kan takut jatuh lagi…karena gak ada yang megangi…..” ” Owh…nanti kalau kamu dah sembuh aku ajarin lagi yaaa…” ” Ini aku dah sembuh…. ” ” Iya…alhamdulillah …nanti aku samperin..di rumah saja ya…aku sarapan dulu…kamu juga sarapan biar nanti sepedaan badan sehat dan kuat…okeeee…” . Kania minta sarapan pada Sarini dan dibuatkan susu sama roti panggang, Sarini senang Kania sudah mau sarapan.. sejak kemarin ia malas makan, dan sekarang makannya lahab sekali . Hengky baru mau sarapan teleponnya berdering ternyata dari paman Hario yang menanyakan bu Sarini dan Hengky menjawabnya, ” Sorean saja paman kalau mau bicara sama ibuk”, paman Hario memakluminya karena bukan urusan anak-anak.

Kania senang sekali Hengky main ke rumah sambil bawa sepeda telah lama Kania ingin jalan-jalan dengan Hengky sambil sepedaan , Sarini membawakan bekal minuman untuk Kania dan Hengky lalu mereka keluar dengan hati gembira , ” Itu apa yang kamu bawa Heng..?” tanya Kania “. Hengky membuka bungkusan itu dan memperlihatkan bandu warna merah jambu serta memasangkan di kepala Kania .  ” Bagus sekali Heng…. aku menyukainya….makasih ya…”  Kania melihat dirinya melalui kaca jendela teras dan tersenyum sambil menata bandu berbunga putih …Hengky senang melihat  Kania menyukainya….Kania segera mengajaknya bersepeda … di jalan mereka bertemu dengan teman sekolah juga kakak kelas mereka asik ngobrol sana sini sambil Kania belajar sepeda dan mulai lancar . Hengky masih memboncengkan Kania karena memang Kania belum kuat mengayuh sepeda , mereka bercanda sampai rumah . Hengky segera mengambil air wudhu menjalankan shollat dzuhur. Ketika hendak makan siang Kania ingat Hengky dan memintakan pada Sarini mengambilkan rendang untuk Hengky tapi Sarini melarangnya kerena Hengky tidak menyukainya . Sedikit kecewa…kenapa Hengky tak suka rendang padahal Kania suka sekali…Sebenarnya Sarini bohong tetapi Sarini tak ingin perasaan Kania berlebihan tentang anaknya. Hengky menikmati telur ceplok dari ibunya yang sudah dingin sambil mendengarkan pembicaraan paman Hario yang memberi nasihat Hengky.

Bagian ke 3 Jatuh Cinta

Dua tahun berlalu Hengky sudah lulus SMP Kania pun demikian , benih cinta yang mulai tertanam di hati Kania dan perasaan takut berpisah mulai membuatnya gelisah , Hengky selalu dinasihati paman Hario dan akhirnya Hengky menurut nasihat paman Hario untuk sekolah di Solo sambil membantu jualan bakso, Hengky belajar mengolah bakso bersama Hario pamannya . Hengky mendaftar di SMA 1 Solo sambil menunggu pengumuman ia mulai membantu berjualan.  Sementara Kania di sekolahkan di SMA 1 Semarang mengikuti tantenya yang tinggal di Mugas seperti yang dilakukan kakaknya Matius yang sekarang mulai bekerja sebagai pendeta di Batulicin di Kalimantan. Kania dan Hengky sudah berjanji akan pulang menengok Bu Sarini dan mami Mira pada smesteran yang akan datang, rasa kangen dan rindu antara Kania dan Hengky mereka habiskan untuk belajar dan membantu paman sehingga semakin besar usahanya. Paman Hario memberikan tanggung jawab Hengky dengan membuka Warung Bakso dengan nama Pondok Bakso Mas Hengky di dekat Kraton sedangkan pamannya masih tetap di pasar Klewer dan pendapatannya hampir bersaing bahkan lebih banyak Hengky karena dibantu keluarga dari  pak Atmo yang hampir sebaya umurannya dengan Hengky masih muda dan gesit serta trampil hasil didikan dari Bu Anisah mantan istri kang Hario .

Kania memeluk Hengky karena amat kangennya demikian juga Hengky, mereka menangis tak seperti masa kecilnya dulu yang bebas bertemu. Hengky yang tampan dan mulai mendapatkan penghasilan saat ini warungnya tutup seminggu sehingga pelanggannya berburu ke warung kang Hario. ” Waaah pelangganmu lari ke tempatku Heng…” kata Hario.  ” He.he…gak papa paman …besok kalau paman libur gantian tempatku yang membludak” demikian Hengky menjawab.Kania mendengarkan percakapan Hengky dan paman Hario sementara Sarini menikmati kue oleh-oleh Kania dari Semarang. Sarini kini tak lagi memunguti sampah karena sudah tua dan sudah ada penggantinya yang masih muda dan lebih kuat. ” Kania aku amat menyayangi ibu..juga mami Mira tapi aku tak bisa tenang membiarkan ibu sendirian di Kedungjati, ibu akan aku ajak ke Solo dan tinggal di rumah mendiang bapak dan ibu bersedia, mungkin ibu akan pamit sama mami Mira esok hari sebelum papi Paulus berangkat kerja karena ibu akan pindah ke Solo “. Kania meneteskan air mata, ” Akhirnya kejadian juga perpisahan ini…. akankah kita seperti ini terus Heng…?” Kania terbata-bata…lidahnya terasa kelu dan Hengky memeluknya serta mengusap air mata bening itu. ” Kania aku amat menyayangimu…kau begitu tulus mencintaiku dan menerima apa adanya aku serta keadaanku…tapi papimu begitu kuat mempertahankan kepercayaan agamanya…sedangkan akupun demikian “. Hengky mengeluarkan air mata sambil membelakangi Kania…Ia tak sanggup melihat kekecewaan wanita yang dicintainya mengalami kepedihan hati. ” Hengky aku tak bisa pisah sama kamu…..” Kania memeluk punggung Hengky dadanya seperti disayat sembilu…air matamya tak terbendung keduanya saling berpelukan. Sarini menyadari dan bersyukur akhirnya Hengky menyampaikan kegundahan hatinya dengan penuh kesadaran.

Hengky mengantar pulang Kania karena hari sudah malam, ” Hengky..kita jalani apa adanya dulu…aku tak akan mampu melupakan kamu…”, kata Kania lirih.
“Iya….kita jalani apa adanya dulu…akupun tak sanggup melupakanmu… masa depan masih panjang…perjuangan kita baru sampai disini…dan esok akan berubah dan berubah lagi” Demikian Hengky memberikan kekuatan cintanya untuk kekasihnya yang tegar. Hengky mencium kening Kania sambil berucap ” Selamat tidur sayangku “. Lalu Kania menyuruh Hengky segera pulang karena tak tega melihat kekasihnya diluar sendirian. Mira tersenyum melihat putrinya kelihatan bahagia sekali…” Waaah yang lagi kasmaran….”. Kania mencium maminya dan menceritakan kalau Bik Sarini akan pamit besok pagi,dan maminya sudah siap akan terjadi seperti ini karena bik Sarini pernah bilang Hengky akan membawa ibunya kemanapun Hengky berada, Hengky anak yang berbakti kepada orang tuanya. Kania malah menangis…meratapi nasibnya harus berjuang demi masa depan dan cinta sejatinya. “Bakso buatan Hengky enak sekali ya …,kuah ,mie dab sayurnya dipisahkan sedang baksonya divakum bisa tahan sampai berbulan-bulan…hebat ya Hengky…masih SMA sudah punya usaha….” karena tak di respon Kania maminya mendekati dan kelihatannya ada air mata jatuh dipipi yang indah itu. Kania baru sadar ketika mami Mira memeluknya dan tangisnyapun meledak-ledak…” Kania sayang….Tuhan tak akan memberimu kesusahan…engkau hanya diperintahkan untuk bersabar dan berbahagia serta menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya..”. ” Tapi dada ini sakit sekali mami…Kania takut gagal…takut kehilangan Hengky, mami”. Kania terisak-isak tangisnya tak mau berhenti. Dengan penuh kesabaran Mira menuntunnya, ” Berdoalah pada Tuhan dan Yesus pasti akan memberikan ketenangan dalam hidupmu “. Mira berusaha menenangkan Kania

Pagi itu Sarini sudah memasakkan sayur sup kesukaan Kania dan ayam goreng crispy serta sambal kesukaan pak Paulus dan bersiap pamitan pada mereka,pak Paulus mempersilahkan bik Sarini untuk bicara. ” Mohon maaf pak…buk…saya bik Sarini akan mohon diri untuk mengikuti anak saya Hengky ke Solo, saya amat terima kasih atas kebaikan bapak dan ibu selama saya ikut bapak dan ibu keluarga saya terlindungi terutama Hengky …dia amat memyayangi ibu Mira,dan seluruh isi rumah ini terutama non Kania….( Sarini menangis…)juga bapak kadang memberikan nasihat pada Hengky…meskipun Hengky amat tunduk dan patuh pada pamannya Hario..tapi Hengky amat menghargai bapak…dan sayang seperti sayangnya pada mas Parto suami saya.” Cukup lama Sarini diam dan Mirapun mengisi keheningan itu, ” Bik …saya dan suami melakukan semua itu sudah menjadi kewajiban kami membantu yang harus kami bantu tanpa pamrih, tentang Kania…dan Hengky…biarkan mereka memilih yang terbaik “. pak Paulus menambahi ” Iya bik Sarini…saya akui Hengky amat tegas dalam pendirian sehingga dia bisa memiliki usaha warung bakso sambil sekolah dan paman Hario sangat melindungi Hengky keponakannya dan mendidiknya agar mandiri, saya suka Hengky mengalami kemajuan …umumnya anak seusia Hengky masih rawan pertikaian..tapi dia malah punya usaha dan memberikan penghidupan yang baik….Bik Sarini kami akan mengantar ke Solo dan mampir pondok baksonya Hengky “. Sarini yang mulanya sedih berubah semangat dan memeluk Mira, ” Terima kasih ya Allah Engkau mendengarkan do’aku ” Sarini bersyukur dan Mira memeluknya penuh kasih.

Bagian ke 4 Perpisahan tak berarti putus persaudaraan

Mira mengantar Sarini pindahan ke Solo dan berhenti di Pondok Bakso Mas Hengky jl dr Rajiman Sondakan Solo rumah mendiang Parto suami Sarini , Mira dan paK Paulus melihat sekeliling rumah yang lumayan besar dan bersih. ” Monggo pak/buk silahkan saya akan melaporkan keuangan Hengky dulu” , Mira kaget ternyata paman Hario mengikuti langkahnya dan buru-buru menjawabnya : ” Oh..monggo-monggo…waaaah kesengsem saya sama bunga melatinya yang bisa tumpuk dan harum lagi…saya boleh memetiknya kang Hario…?” ” Boleh..boleh… tak ada yang dilarang untuk kelurga Pak Paulus ” Mira merasa tersanjung dan paman Hario meninggalkannya untuk menemui Hengky. ” Heng pelanggan kamu yang dari Jakarta memborong bakso yang di vakum lalu memesannya lagi untuk tanggal 5 jelang masuk sekolah “. Kania yang mengikuti Hengky ikut membuka Pondok Bakso Mas Hengky dan melihat-lihat dalamnya begitu melihat bakso yang di vakum habis Hengky segera menutup lagi. ” Eeehh buka saja gak apa pak Atmo dan Ruswandi CS sudah dalam perjalanan…sudah kau urus tamu kamu dulu warung aku yang tanggung jawab” Rombongan pak Atmo datang dan menyiapkan minuman buat tamu serta membawakan jajanan khas Solo. Foto sudah terpasang, dapur sudah tertata rapi karena sudah disiapkan Hengky sebelum ke Kedungjati. Sarini hanya membawa pakaian saja dan menata di almari dibantu Kania dan sebentar selesai. Sore itu mereka menikmati kue kecik sambil menyaksikan pelanggan yang keluar masuk dan kang Hario mengeluarkan bakso yang divakum yang sudah dipindahkan di freezer dekat kasir untuk diolah campur skengkel dan thetkelan juga sandunglamur persis yang dilakukan Hengky. Kania memegang tangan Hengky dan menyandarkan kepalanya di lengan Hengky air mata Mira menetes menyaksikan anak perempuannya begitu menyayangi Hengky. Mereka membicarakan macam-macam kenangan indah dan Hengky membenarkan letak bandu yang berwarna merah muda yang selalu dipakai saat bertemu . ” Kania Putri cantikku semoga Yesus memberkatimu dan kalian berdua bisa bersama” begitulah doa Mira sementara Sarini berdoa:” Ya Alloh Ya Tuhanku, lindungilah anakku Hengky Lakum diinukum wa liya diin jadikanlah mereka saudara meskipun akan segera berpisah “. Air mata Sarini mengalir perlahan dan segera di hapusnya sementara pak Paulus memanasi mobilnya karena hendak pulang ke Swmarang.

Kania diantar papinya menuju Semarang ke jalan Mugas: ” Tante ini oleh-oleh dari Hengky, bakso buatannya lezat lo…mami suka sekali “. Sementara Mira tersenyum saja menyaksikan kedekatan Kania dan tante Christin. Demikian Kania mempromosikan usaha Hengky dan diterima tante Christin dengan senang hati,” Kuahnya ada juga …ini ada 2 paket untukmu mana ?” ” Kania minta bakso vakum saja dan ada di kulkas” sambil membuka pintu kulkas menunjukkan bakso vakumnya. ” Banyak sekali Kania…mamimu sudah disisihkan baksonya…?” ” Sudah tan…ada di mobil..” sahut Kania. Pak Paulus dan Mira langsung pulang karena pagi-pagi ia harus sudah siap di gereja. ” Kasihan anak cantikku ya pi…Ia begitu setia serta sayang sama Hengky tapi paman Hario begitu berpengaruh untuk Hengky ” , demikian perasaan sedih Mira lontarkan pada suaminya. ” Wajar itu mi…akupun akan mendukung Kania untuk menjadi biarawati , menikah kalau tak seiman akan membuat rumah tangga berantakan, mereka sama-sama cinta dan sayang…tapi cinta mereka lebih besar untuk Tuhannya”. Pak Paulus meminggirkan mobilnya dan tiba-tiba Ia menangis…. ” Hengky anak baik..dididik orang tua baik, sejak kecil ia rajin shollat…keimanannya kuat sekuat Parto ayahnya juga Hario pamannya, semoga Kania bisa menjaga tali persaudaraan tanpa merusak kepercayaan masing-masing. Cukup lama Pak Paulus menyayangkan nasib Kania anaknya tapi ia bangga akan keputusan Kania untuk menjadikan Hengky sekeluarga sebagai saudara.

Sepuluh tahun berlalu….Kania sepulang dari Vatikan untuk mendalami keagamaan langsung ditempatkan di Rumah Sakit Bakti Bunda sebagai kepala Laboratorium sekaligus memberikan bimbingan rohani pasien, ketika hendak melakukan kunjungan pasien Ia melihat sekelibat wajah yang tak asing ….H..E..N..G..K..Y…yaaaah dr.Hengky Sofian.SPOG di emblem yang melekat di jas dokternya. ” Hengky…” panggil Kania agak keras dan yang merasa dipanggilpun segera membalikkan badan dan mendekat. ” KANIA….?!..Kaukah itu…?! Begitu jelas yang dilihatnya Kania , Hengky dan Kania saling berpelukan . ” Hengky kamu keren dan ganteng…apa kabarmu…?” ” Alhamdulillah seperti yang kau lihat…aku baik-baik saja , Kamu masih tetap cantik…dengan kerudungmu…bahkan aku hampir lupa…tapi suaramu tak membuat aku lupa malah membuat aku semakin rindu “. Hengky mengajak duduk dan berbincang sebentar, ” Nanti kita ngobrol lagi ya…aku masih ada pasien “. Lalu Hengky meninggalkan Kania dengan senyum penuh kerinduan.

Sesuai janji lewat telepon kantor Hengky menjemput Kania diruangannya lantai dua, sambil melihat pemandangan Hengky menunggu zuster Kania yang masih ada tamu bawahannya sedang menjelaskan sesuatu yang tak dimengerti Hengky, setelah tamunya pergi Kania mendekati Hengky dan mempersilahkan duduk. Mata Hengky sembab dan mengelap dengan saputangannya di depam zuster Kania. Kania tersenyum dan berkata,: ” Aku telah menepati janjiku pada Tuhan dan bagaimana dengan janjimu…apakah sudah kau tepati ?” Hengky menelepon seseorang dan terbukalah pintu ruangan masuklah dr. Indriyani,SpA dan menyalami zuster Veronica ( Kania ). ” Kenalkan Kania…ini dr.Indriyani,SpA adalah calon istriku sengaja kami menunggu kabar dari mami Mira mengenai kedatanganmu dan kami akan segera menikah setelah kamu datang”. Ternyata dunia itu sempit dr.Indriyani,SpA adalah teman satu sekolah di SMAN 1 Semarang.

S E L E S A I.


cerbung.net

Cinta Tak Harus Memiliki

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Kania memukul kepala Hengky dengan sandal jepit karena Hengky tak mau mengambil boneka Kania yang tertinggal di kamar maminya , Hengky berlari dan kembali ke rumahnya. Hatinya jengkel pada Kania yang mau menang sendiri, ia memilih membantu ibunya memunguti sampah dikampung sebelah dan mendorong gerobag tersebut. Kania jengkel dan melaporkannya pada Mira ibunya Kania. Mira memeluk anaknya yang terkecil sambil menasihati, " Sudahlah Kania Hengky itu anak baik dan sopan kau tak boleh memperlakukan Hengky seperti itu, kasihan Hengky dia sudah tak punya ayah dan hidupnya susah ". Keluarga Hengky hidup dalam kemiskinan , ibunya yang bernama Sarini bekerja di keluarga Kania sebagai pembantu mulai pukul 6 pagi sampai Bu Mira pulang dari Puskesmas  , sehingga Hengky harus bangun pagi untuk persiapan sekolah sedangkan Hengky sepulang sekolah sorenya sudah ke masjid terdekat untuk belajar mengaji , bermain sebentar dan itupun bersama Kania karena rumah bu Sarini yang kecil itu berada dibelakang rumah Kania dan dibatasi tembok tinggi. Samping rumah Hengky adalah ladang pohon pisang milik pak RT. Gerobag sampah yang diletakkan di ladang itu setiap hari dibersihkan Hengky anak usia 9 tahun seusia Kania sambil mengingat kenangan bersama ayahnya yang telah tiada . " Bapak , alhamdulillah Ibu dalam keadaan sehat...Hengky selalu ingat pesan bapak unrtuk selalu berdoa selesai shollat dan menyayangi ibuk serta selalu istikomah ". Kebiasaan yang selalu Hengky sampaikan karena rasa rindunya pada ayah yang selalu mengajak bermain sebelum sakit kena serangan jantung.Penasaran dengan lanjutan ceritanya? yuk segera baca cerpen yang satu ini.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset