Coral of the Moon episode 1

chapter 1

Entah benar atau tidak, tapi katanya nenekku datang dari bulan

◆◆◆◆

Tahun sekarang perlahan mendekati akhir.

Malam ini adalah malam bulan purnama kesebelas. Setelah satu bulan lagi, tahun ini akan hilang seiring dengan berlalunya waktu tahun baru yang tidak menawarkan janji.

Bahkan tidak ada jaminan bagi kita – selain ubur-ubur yang tembus pandang – kalau kita akan bertahan untuk melihatnya.

Untuk umat manusia di masa ini, hari dan bulan hanyalah sesuatu yang abstrak. Kata “kematian” adalah bagian dari segalanya di sini. Dari apa yang aku dengar, orang-orang zaman dahulu menggunakan hari dan tanggal untuk pandangan yang lebih positif tentang berbagai hal. Kalender bukanlah sesuatu yang menghabiskan waktu, melainkan simbol siklikal, diperlakukan sebagai sesuatu yang datang kembali, atau sesuatu seperti itu.

Sederhananya, penggunaan data kembali. Mereka melakukan daur ulang terlalu jauh. Mereka bilang kalau manusia pernah serakah dan rakus, tetapi dari sudut pandang kami, mereka sangat pelit.

Pada kalender Gregorian, mungkin sekitar tahun 3000 Masehi saat ini.

Umat manusia yang seperti dulu sudah lama punah. Tak ada lagi jaminan bahwa matahari akan terus muncul, tapi di sisi lain, tidak ada yang berperang lagi. Namun, semua peradaban yang dikembangkan manusia selama ribuan tahun tersapu lenyap bak buih busa. Dengan seenaknya aku mengabaikan beberapa lamaran pernikahan, dan hari ini, sama seperti kemarin dan hari-hari sebelumnya, aku menghabiskan waktuku menatap pantai dari dataran tinggi pulau.

Air di langit, langit di air. Di langit bulan adalah laut yang hancur.

Ketika aku melihat laut yang berkilauan, tanpa sadar aku menyanyikan sepotong lagu yang kupelajari dari nenekku.

Lebih tepatnya, lagu tersebut berasal dari nenek buyutku, dan ketika aku memahami kata-kata itu sendiri, aku tidak pernah mengerti maknanya. Aku tidak sedang menjelekkan leluhurku, tapi aku mendapat kesan bahwa dia mungkin agak terlalu girlish. Ini adalah saat-saat ketika kau bisa merasakan akhir dunia, namun tampaknya dia adalah tipe orang yang hidup dalam mimpi.

Ibu, nenekku dan nenek buyutku semuanya berbagi selera yang sama, dan juga, semuanya memiliki paras yang cantik. Sayangnya, aku sendiri berubah menjadi anak itik yang buruk rupa. Aku tidak secantik ibuku, dan yang lebih penting, aku tidak mewarisi sifatnya. Satu-satunya alasan kenapa  aku terus mendapatkan lamaran pernikahan mungkin karena pulau ini.

“Oh? Kurasa pangeran Arishima sudah kembali ke rumah. “

Aku merasakan hembusan angin kencang saat mendongak ke atas langit untuk melihat ada pesawat jet hitam terbang lewat.

Gaww, terdengar suara mesin dari pesawat itu.

Salah satu jejak terakhir peradaban, jet itu memotong cahaya rembulan saat melayang pergi. Atau mungkin itu hanya sekedar sisa. Bingkai baja kusamnya bersinar saat menuju ke langit timur.

Dengan itu, jumlah lamaran yang gagal sudah mencapai enam belas.

Dan kali ini juga masuk rekor baru. Aku memaksakan kepadanya suatu tugas yang bahkan lebih mustahil dari biasanya, dan pelamar itu sudah kabur duluan sebelum satu hari pun berlalu. Itu belum pernah terjadi sebelumnya sehingga dewan pulau ini bahkan memarahiku, tapi mau bagaimana lagi. Itu salahnya karena datang di bulan purnama. Ia harus menyadari bahwa semuanya memiliki waktu dan tempat. Aku tahu oksigen menipis, tetapi jika kau ingin membicarakan tentang cinta, setidaknya coba pahami itu.

Pulau tempat aku tinggal adalah sebuah koloni kecil yang jumlahnya kurang dari lima puluh orang. Daratan yang memiliki kota terletak jauh di seberang lautan. Tidak ada pelabuhan di sini, dan yang ada di pantai hanyalah terumbu karang unik yang berbentuk bulan sabit. Bagi orang-orang yang tinggal di pulau ini, terumbu karang tersebut adalah bagian dari kehidupan sehari-hari, tetapi bagi orang-orang di kota itu, tampaknya lebih berharga daripada permata manapun.

Sejak dari masa nenekku, pulau ini sudah diperlakukan sebagai tanah suci. Benar-benar dilarang untuk masuk lewat laut, jadi hanya orang istimewa yang memiliki pesawat terbang yang bisa datang. Alasan aku dipanggil “Hime-sama” oleh orang-orang di kota juga karena betapa istimewanya pulau ini. Mereka mengatakan bahwa tempat ini adalah bintang harapan untuk pemulihan umat manusia. Namun, bagi kami yang tinggal di sini, itu benar-benar biasa. Kami mungkin bahkan tidak bereaksi ketika kiamat datang.

“Sayang sekali. Meski kamu bisa bepergian ke luar angkasa, kamu tak akan bisa menemukan ikan di Bulan. ”

Setiap kali seorang pelamar tiba, aku menugaskannya dengan sesuatu yang mustahil.

Kali ini untuk mengambil ikan dari Bulan.

Pergi ke bulan adalah perjalanan satu arah. Walau masih ada sarana untuk sampai ke bulan, tapi tidak ada yang tahu cara untuk kembali ke bumi. Kalau cuma pergi ke sana masih memungkinkan, tetapi kau tidak pernah bisa kembali. Pada dasarnya, di sana adalah dunia kematian yang hanya bisa kita tatap dari jauh.

Dan sama kerasnya dengan menyuruhnya pergi ke sana, untuk kemudian menugaskannya mencari ikan, sesuatu yang jelas tidak ada di bulan, tentu menjelaskan mengapa pangeran Arishima pergi dengan wajah meradang.

Tapi aku bersumpah — aku benar-benar serius.

Jika Ia bisa menyelesaikan tugas yang mustahil ini, aku akan terus berada di sampingnya sepanjang hidupku.

Karena, hanya itulah satu-satunya caraku untuk mengukur cinta. Banyak hal telah hilang dari planet ini, tapi yang paling penting dari semuanya mungkin adalah cinta yang dimiliki orang untuk mencintai satu sama lain.

◆◆◆◆

Hal ini sudah bertahun-tahun lamanya sejak bulan menjadi dunia kematian.

Meskipun, secara teknis, dari awal sudah di anggap dunia kematian bagi umat manusia, jadi mungkin lebih tepat untuk mengatakan bahwa itu kembali normal.

Rencana Imigrasi Bulan adalah salah satu strategi yang mereka buat untuk menangani krisis kelebihan penduduk manusia. Bulan menjadi lahan baru, dan imigrannya menciptakan sebuah kota, sebuah bangsa di atas permukaan bulan.

Tapi kemudian bencana besar melanda. Pergeseran kutub juga lumayan dahsyat, tapi bencana tak terduga yang menimpa umat manusia bahkan lebih kritis, dan menandai akhir dari umat manusia.

Bagaimana aku harus mengatakannya?

Umat manusia tiba-tiba kehilangan semangatnya.

Antusiasme terhadap perluasan, kegembiraannya untuk penemuan, semangatnya untuk meneruskan keturunan.

Dan itu tidak pada tingkat yang sama seperti seorang ibu mengeluh tentang putranya yang mengunci diri di kamarnya sepanjang hari, tetapi lebih pada skala seluruh spesies tiba-tiba menyatakan, “Semuanya terlalu merepotkan.” Mereka di sisi ini hanya mendorong peradaban ke tangan orang-orang di sisi lain.

Peradaban bukanlah keharusan untuk hidup di Bumi.

Tapi keharusan untuk hidup di Bulan.

Dan orang-orang di Bumi memberi tahu mereka,

“Tugas memajukan umat manusia sebagai suatu spesies sekarang terletak di pundak Anda. Jujur saja, kami sudah merasa lelah. ”

Dan seperti itu, mereka meninggalkan segalanya pada Bulan.

Setelah itu, hanya butuh 50 tahun untuk Bumi dan Bulan agar bisa menjadi independen satu sama lain. Manusia di kedua belah sisi telah memutuskan tidak ada yang perlu dinegosiasikan lagi, dan mengunci pintu mereka masing-masing. Kami mampu melakukan apa yang tersisa di Bumi, dan mereka yang ada di Bulan dapat mengamankan kondisi kehidupan mereka di lingkungan mereka sendiri.

Dan, cahaya bulan menghilang beberapa dekade kemudian.

Pada saat yang bersamaan, populasi manusia di Bumi juga ikut menurun drastis.

Lagipula, tidak ada yang merasa seperti menyebarkan spesies lagi. Ditinggal sendiri, umat manusia akan punah setelah lima puluh tahun. Satu-satunya alasan mengapa masih bisa bertahan ialah karena sekitar satu dari sepuluh orang masih menyimpan keinginan untuk “terus berusaha.”

Orang-orang yang sudah sibuk dengan urusannya sendiri, namun masih memiliki pengabdian dan ketekunan untuk peduli terhadap orang lain. Itu adalah orang-orang yang berkumpul dan menciptakan sesuatu yang mirip dengan tempat pertemuan yang lama — taman untuk kehidupan yang disebut “kota”. Aku sendiri belum pernah ke sana jadi hanya itu yang bisa aku katakan.

Mereka menyebut diri mereka Komite untuk Memulihkan Kemanusiaan. Suatu gerakan untuk kembali ke dasar-dasar kehidupan, dengan cinta sebagai prinsip dasar mereka.

Sejujurnya, aku tidak memahaminya. Bukannya aku menilai apa yang mereka lakukan tidak menyenangkan atau semacamnya, tapi konsep dua orang yang saling mencintai adalah sesuatu yang tidak dapat aku pahami. Apakah itu terasa nikmat? Aku hanya bisa membayangkan itu mengarah pada kegagalan. Aku pikir metode yang lebih sistematis untuk mendukung satu sama lain akan lebih baik. Kau bisa merasa nyaman dan egois, dan memiliki tujuan yang jelas. Kau bahkan tidak bisa melihat ke dalam hati orang lain, jadi aku merasa bahwa mencoba untuk saling memahami itu bahkan jauh tidak realistis.

Jadi begitulah alasan dibalik mengapa aku meminta tugas yang mustahil pada setiap pelamarku adalah karena aku sendiri tidak dapat mengukur kadar cintaku sendiri, jadi aku meminta orang lain untuk mengukurnya. Jika ia dapat mengambil sesuatu yang jauh lebih berharga daripada diriku, dan masih bersedia menukarnya denganku, maka aku akan mempertimbangkan bukti bahwa Ia membutuhkanku.

Aku menyukai mereka, dan aku menyukai manusia, tapi aku tidak mengerti cinta. Meski begitu, aku tetap senang. Selama ada matahari, air dan udara, kita bisa menjalani hidup ini. Kurasa hal-hal seperti ini adalah penyebab umat manusia akan segera berakhir. Aku merasa sedikit bersalah karenanya baik sekarang maupun dimasa yang akan datang.

Bintang-bintang berkelap-kelip, laut yang beriak. Terumbu karang ikut menyanyi untuk cinta manusia.

Layaknya ubur-ubur, kita hidup dari hari ke hari, mengambang, singkat.

Aku memutarkan badanku saat bernyanyi di sepanjang jalan yang gelap.

“Wow! Mengaitkan kehidupan dengan ubur-ubur? Hebat sekali. “

Sebuah suara memotong kesendirianku.

Suara pria, terbungkus dalam kaca hitam yang tidak bisa kulihat.

◆◆◆◆

“Permisi, mungkinkah anda ini Nona ____?”

Aku berbalik karena mendengar namaku di panggil, sesuatu yang aneh melayang di hadapanku

Itu tampak seperti kendaraan berlapis timah seukuran kotak makan siang, berbentuk seperti salah satu dari tatakan sashimi itu.

Di atasnya terdapat sosok kecil yang juga tampaknya terbuat dari timah. Permukaan sosoknya dipoles seperti ketel, benar-benar halus. Ada dua lubang penglihatan yang jelas di sekitar tempat wajahnya, tetapi karena cahaya bulan memantulkannya, aku tidak bisa melihat jelas ke dalam.

Bagaimana pun juga, Ia memanggil namaku, jadi aku berkewajiban untuk membalasnya.

“Selamat malam. Kukira aku harus mengatakan, ‘Senang bertemu denganmu’?”

“Senang bertemu denganmu juga. Tolong terima tanda pengenalku. “

Pria timah kecil itu mengeluarkan selembar kertas kecil. Aku tidak tahu untuk apa, tapi karena Ia dengan sopan menawarkannya, aku dengan senang mengambilnya.

“Apa kamu datang dari luar pulau?”

“Ya, aku datang untuk menemuimu. Jika tidak terlalu keberatan, apa aku boleh berbicara denganmu sebentar? “

Mataku terbuka lebar karena terkejut. Tidak sopan untuk mengedipkan kekaguman padanya, aku tidak bisa menahannya. Seorang pelamar baru? Sangat langka sekali. Banyak orang datang ke sini untuk melamarku, tetapi ini adalah pertama kalinya aku bertemu seseorang yang cukup kecil untuk duduk di telapak tanganku.

“Ah, sebenarnya aku ini seorang pengantar barang. Aku datang ke pulau ini karena sebagian dari pekerjaanku, dan sebagian lagi karena keingintahuan pribadi. ”

Jas timah itu mungkin adalah alasan mengapa suaranya terdengar seperti dilapisi sesuatu.

Pesawat kecil yang mengambang, dan seorang tamu dengan mengenakan sesuatu yang belum pernah aku lihat sebelumnya.

Karena tidak bisa menahan rasa penasaranku, tanpa kusadari aku terlalu memfokuskan diri mengamati dirinya daripada mengadakan percakapan.

Pria timah itu tampaknya tidak keberatan, dan mulai bercerita tentang waktu, generasi, iklim, dan hal-hal lain saat ini. Sepertinya itu obrolan sepele. Tak perlu dikatakan lagi, balasanku hanya “ya..” atau “umm..”. Percakapan tidak berjalan dengan baik.

Akhirnya Ia kehabisan topik untuk dikatakan. Ia sepertinya agak kerepotan. Karena malu dengan keegoisanku, aku berinisiatif memulai topik pembicaraan.

“Kamu tadi bilang kalau datang ke pulau ini karena sebagian dari rasa ingin tahu?”

“Iya. Aku juga seorang pedagang. Alasan lainnya aku datang ke sini adalah karena dirimu. Aku ingin bertukar sesuatu yang aku miliki dengan sesuatu yang kau miliki. Bagaimana menurutmu?”

Ia bilang alasan ia datang untuk membeli sesuatu yang ia butuhkan. Kali ini giliranku yang merasa sedikit bermasalah.

Alasannya, seorang tamu yang langka ini pasti tidak akan menemukan apa pun yang Ia inginkan di pulau ini.

“Kamu lebih baik meminta pada orang lain. Aku tidak punya sesuatu yang penting. ”

“Sebaliknya, pedagang pada dasarnya membeli apa yang kurang. Aku memiliki banyak hal yang kurang di sini. Dan sebaliknya juga berlaku. Apa kau mengetahui cerita tertentu? Mungkin yang belum pernah didengar di tempat lain, dan belum pernah dipublikasikan? ”

Sekali lagi, tanpa alasan tertentu, aku menatap tajam pada pria timah yang melayang di hadapanku ini.

Mungkin karena, ia telah membuat permintaan seperti anak kecil, meskipun memiliki ketenangan seperti orang dewasa.

Kata-katanya menyentuh lubuk hatiku. Biasanya aku akan mengabaikan permintaan seperti ini, tapi kali ini aku merasa terdorong untuk membantunya.

“Aku punya satu hal — lagu yang mungkin kamu inginkan. Itu adalah kisah yang aku pelajari dari nenekku, apa itu cukup? ”

“Cerita turun-temurun? Tentu saja itu bernilai. Aku benar-benar minta maaf, tetapi aku tidak bisa mendengar semua yang kau katakan dengan jelas, jadi jika kau tidak keberatan, apa kau bisa menuliskannya untukku? ”

Pria itu tampaknya tidak bisa mendengarku dengan baik. Aku sedikit terkejut melihat bagaimana kita berhasil mengadakan percakapan sejauh ini. jika itu masalahnya, tetapi setelah memikirkannya, aku menyadari bahwa kita sebenarnya tidak banyak berbicara.

“Maaf aku tidak bisa. Karena aku tidak bisa membaca atau menulis. “

“Memang, aku sangat menyadari  akan hal itu. Aku akan pergi meninggalkan pulau ini pada bulan purnama berikutnya, jadi aku akan memintamu untuk menuliskannya hingga selesai. Mungkin ini terdengar sombong, tapi aku bisa mengajarimu langsung. ”

Ia memukul dadanya dengan kepalan tangannya yang kecil, seolah berkata, “Serahkan saja padaku!” Itu tidak meningkatkan kepercayaan diriku sedikit pun. Kekurangan belajarku baru sekarang kembali untuk mengutukku. Umat manusia sudah lama berakhir, namun hidupku masih penuh masalah.

Kami akan mengesampingkannya dulu untuk saat ini.

“Ngomong ngomong, kau bilang ubur-ubur itu kuat. Kenapa bisa begitu?”

Aku menanyakan pertanyaan pertamaku.

“Ini terjadi cukup lama, tetapi kerabat ubur-ubur berhasil memecahkan masalah biologis mendasar penuaan melalui kematian sel. Ini adalah salah satu dari beberapa bentuk kehidupan yang telah berhasil mencapai keabadian. Dengan demikian, ubur-ubur, bertentangan dengan apa yang kau harapkan, bentuk kehidupan yang cukup kuat. ”

Tanpa diduga, ia menanggapinya dengan sopan bersamaaan dengan kata-kata rumit yang tidak kumengerti.


cerbung.net

Coral of the Moon

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2011 Native Language: Indonesia
Kisah ini mengambil latar belakang tahun 3000-an. Dimana umat manusia tengah berada di puncak peradaban mereka, namun kehilangan hasrat untuk tetap hidup. Cerita yang berdasarkan sudut pandang seorang gadis, yang disebut "putri" oleh orang-orang di sekitarnya. Dia tinggal di sebuah pulau kecil yang memiliki populasi lima puluh orang serta terumbu karang yang bersinar. Dia adalah keturunan orang-orang Bulan, dan kisah ini berfokus pada bagaimana leluhurnya datang ke Bumi.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset