Di ujung jalan episode 15

Bab 15 - Egois

“Gak ada yang nyuruh lo buat ngalah Bim ! Lo hanya gak punya nyali buat nyatain perasaan itu…”
“Mungkin gue adalah cowok paling cupu, tapi lo harus inget… kalo kita sayang sama seseorang, kebahagiaan dia bakal jadi prioritas hidup lo. Dan gue memilih untuk menyerahkan dia ke lo, karena gue tau kalo dia cinta mati sama lo. Tapi yang lo lakuin cuma nyakitin dia, brengsek !”
Satu pukulan mendarat di wajah Ardi. Ia juga sadar selama menjalin hubungan dengan Bulan, waktunya lebih banyak untuk urusan sekolah, hampir jarang ia bisa mengobrol dan jalan berdua. Ia tau, bukan dirinya yang pantas untuk Bulan.

“Bim… gue tolol banget… Selama ini bukan Bulan yang nyakitin gue, tapi gue yang nyakitin dia.”
Emosi Bimo sedikit reda. Ia menatap wajah Ardi sambil menepuk bahu Ardi pelan. “Ini gak totally salah lo kok. Gue juga salah nutupin ini semua dari lo. Im sorry, Bro.”

“Its okay, Bim. Gue makasih lo mau jujur.”
“Sama-sama. Ada satu hal lagi yang mau gue certain… soal surat Bulan yang akhirnya bisa dikirim ke rumah nyokap gue.”
“Apa ini bakal bikin gue nonjok lo buat yang ke sekian kalinya ?” tanya Ardi sambil terkekeh pelan.
“Mungkin… Tapi please jangan tonjok wajah ganteng gue lagi. Tonjokan lo yang sebelah sini bekasnya bakal lama banget,” kata Bimo sambil menunjuk beberapa luka lebam di ujung pelipisnya.

***

8 tahun lalu..
Seminggu setelah kelulusan SMA

“Bim, hari ini gue ngindep di rumah lo ya. Nyokap sama bokap gue lagi balik ke Jogja,” kata Ardi sambil tetap fokus pada tayangan televisi yang ditontonnya.
“Asal jangan tidur duluan aja. Lo kan selalu tidur duluan sebelum gue, bakal gue timpuk kalo sampe lo tidur duluan lagi.”
“Iya… iya.” jawab Ardi sambil tertawa pelan.

Ardi dan Bimo sama-sama terdiam sambil sibuk dengan ponsel dan video games masing-masing. Sebenarnya Bimo sangat ingin tahu keadaan Bulan. Bulan juga mencegahnya untuk mengantarnya di bandara, ia juga sama sekali belum contact lagi dengan Bulan. Kadang Bimo berharap dihubungi oleh Bulan duluan, tapi pasti orang yang pertama kali dihubungi bukan dirinya… tetapi Ardi.

‘Pada akhirnya gue hanya akan menjadi pilihan kedua.’ kata Bimo dalam hati.

“Kira-kira Bulan lagi ngapain ya, Bim ?”
Kini tatapan Ardi mendadak kosong, sudah seminggu Bulan pergi. Dan Bulan belum menghubunginya sama sekali. Sebenarnya Ardi ingin menghubungi Bulan duluan, tapi ingatannya tentang Bulan yang meninggalkannya secara tiba-tiba membuatnya harus puas dengan banyak asumsi yang dibangunnya sendiri.
“Gue gak tau, Ar. Mungkin dia lagi juga mikirin hal yang sama… Jujur gue ngerasa lo harusnya ngasih kesempatan Bulan buat ngejelasin yang pas pamitan terakhir dia sama kita.”
“Gue sakit ati, Bim. Ternyata selama kita sahabatan belom cukup buat bikin dia terbuka sama kita…”
“Lo pernah nggak selintas mikir… mungkin dia punya alesan khusus. Yang bahkan bikin dia nggak bisa bilang ke kita ?”
“Nggak… karena setiap gue inget dia yang pergi gitu… Gue ngerasa, hati gue makin sakit.”
Ardi tau jika diteruskan ia akan menangis. Ia berada di suatu kondisi di mana ia harus merelakan Bulan. Mungkin benar kata orang, ‘jika seorang wanita mampu membuat seorang pria menangis, berati pria itu benar-benar mencintai wanitanya’

Dan Ardi merasa hal yang sama… hatinya cuma akan untuk Bulan…

“Gue tidur duluan ya Bim,” kata Ardi sambil merebahkan tubuhnya di kasur Bimo sambil menarik selimut berwarna merah milik Bimo.
Bimo juga nggak berusaha untuk menahan Ardi untuk tidur duluan, ia tau bahwa Ardi perlu waktu untuk merelakan Bulan.

Bimo menatap televisi yang ada di depannya. Tiba-tiba laptop milik Ardi berbunyi. TING !
Sebuah email dari …. Bulan
Bimo membuka email Ardi sambil menatap was-was ke arah Ardi yang sudah tertidur pulas.

Hai Ar !
Aku minta maaf baru ngabarin sekarang
Aku udah sampe di Amerika.
Rencana mau ngirim kamu surat lewat pos.
Biar kaya di film-film hahaa
Boleh minta alamat tetap kamu ? Takutnya kamu udah pindah rumah

Bimo kaget sekaligus senang. Ia nggak menyangka kalo Bulan akan menghubungi Ardi ketimbang dirinya… Bimo tau kalau status Ardi masih menjadi kekasih Bulan.. Tapi akhir hubungan mereka setelah malam kelulusan bukannya sudah jelas ? Sejenak Bimo merasa iri, dan menyesal telah memendam perasaannya pada Bulan.

‘Apa gue harus sedikit egois kali ini ?’ tanya Bimo dalam hatinya
‘Maafin gue Ar…..’


cerbung.net

Di ujung jalan

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2016 Native Language: Indonesia
Kisah perjalanan cinta muda mudi pemilik kedai kopi yang jatuh hati dengan seorang reporter food and travel.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset