Di ujung jalan episode 2

Bab 2 - Pameran Seni

“Mau ke mana lo, Ar ?” tanya Bimo teman satu kost Ardi sekaligus sahabat dekatnya sejak dibangku SMA.
“Gue mau ke pameran lukisnya Mas Emir.”
“Mas Emir siapa ?”
“Emir Prihardjo. Masa lo gak tau sih ?”
“Lo tau sendiri kalo gue buta soal begituan. Siapa sih itu ?”
“Pelukis sekaligus ilustrator cerita terkenal di Jogja. Kayaknya gue udah pernah bilang soal Mas Emir deh…”
“Mungkin. Ya udah sana, ati-ati Bro.”
“Sip Bro.”

Ardi mematut penampilannya sekali lagi di kaca, seperti biasa pakaiannya serba hitam, dengan tambahan jaket kulit warna cokelat, ‘ini semua gara-gara kamu Lan. Aku jadi kayak gini’.
Tapi Ardi sadar, seberapa pun kerasnya Ardi berusaha, Bulan tidak akan kembali ke hidupnya. Ia hanya perlu menjalani hari-harinya tanpa Bulan.

***

Ardi sampai di tempat pameran sekitar pukul 7 malam. Ia ingin mengucapkan selamat ke Mas Emir atas pameran lukisnya yang entah kesekian kalinya dan mampu memberikan decak kekaguman. Emir Prihardjo adalah pelanggan tetap di kedai kopi milik Ardi, awalnya ia gak menyangka kalo kedai kopinya didatangi seniman yang terkenal di Jogja, tapi akhirnya Ardi diundang ke sini, ke pameran lukis Emir Prihardjo.

“Mas Emir, selamat ya buat pameran lukisnya. Keren banget lho mas,” ucap Ardi sambil menyalami tangan Emir Prihardjo.
“Makasih banyak, Ar. Saya kira kamu gak akan datang, karena sibuk dengan kedai kamu.”
“Masa sih saya gak dateng ke pameran seniman berkelas terus gratis lagi”. Ardi nyengir sambil meneguk welcome drink yang disediakan oleh pihak penyelenggara.
“Bisa aja kamu. Saya mau menyalami tamu yang lain dulu ya. Sekali lagi terimakasih sudah sempat datang.”

Ardi memutuskan untuk berjalan-jalan sambil melihat lukisan-lukisan yang dipamerkan. Tiba-tiba matanya menangkap seseorang yang dikenalnya. ‘Nata ? Dia suka lukisan juga ?’
Emir memutuskan untuk menghampiri Nata sambil sekedar menyapa santai. “Hey, kamu di sini juga ?”

Nata terlihat terkejut tapi sedetik kemudian tersenyum. “Sebenernya aku gak terlalu suka. Udah bosen banget malah.”
“Terus kenapa kamu beli tiketnya ?”
“Aku gak beli kok. Emir Prihardjo itu suami adik mamaku. Jadi aku dapet tiket ini secara gratis. Kalau kamu ?”
“Aku suka seni. Tapi aku juga dikasih tiket ini gratis sama Mas Emir. Dia pelanggan setia kedai kopi aku.”

Nata hanya mengangguk kecil. Mereka saling terdiam lama, sebelum akhirnya Ardi memutuskan untuk memulai pembicaraan lagi. “Anyway, aku udah liat artikel yang kamu buat hasil wawancara seminggu yang lalu, makasih udah bikin La Lune jadi kebanjiran pengunjung seminggu ini.”

“Wah, itu emang udah rejeki kali. Kopi kamu enak-enak kok.”
“Kamu aja baru minum satu kali udah bilang enaknya 2 kali. Aku mesti nraktir kamu nih, sebagai tanda ucapan terimakasih bikin kedai aku rame.”
“Boleh, maklum deh anak kost. Nanti kalo aku lagi kosong, aku main-main ke kedai.”
“Sip, boleh minta nomor kamu ? Aku takut kamu ke kedai pas lagi tutup.”
“Nih 085xxxxxxxxx.”
“Makasih ya, see you soon.”


cerbung.net

Di ujung jalan

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2016 Native Language: Indonesia
Kisah perjalanan cinta muda mudi pemilik kedai kopi yang jatuh hati dengan seorang reporter food and travel.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset