Di ujung jalan episode 6

Bab 6 - Ini Apa ?

“Hai Nat. Udah lama datengnya ?” tanya Ardi begitu melihat Nata yang sedang memakai celemek hitamnya.
“Hai. Saya baru aja sampe.”
“Oh gitu, kamu sarapan dulu gih. Sejak kerja di sini kamu makin kurus, saya jadi ngerasa bersalah.”
“Bersalah kenapa ? Saya baik-baik aja kok. Saya emang kurang nafsu makan belakangan ini.”
“Terus nafsunya ngapain dong ?” Ardi sengaja membawa percakapan ke arah lucu-lucuan. Ia gak mau pembicaraannya dengan Nata hanya sekedar antara karyawan dengan bosnya.
Nata tergagap-gagap, ia bingung harus menjawab apa. “An…anu, saya nggak maksud gitu. Saya mau rapiin gelas dulu,” Nata pamit sambil buru-buru ngibrit ke arah dapur.

***

“Nat, gue sama Ardi mau ke Club di Malioboro. Mau ikut ga ?”
“Duh, maaf Bim. Gue gak biasa ke Club.” Nata menjawab sambil memasang muka semelas mungkin.
“Ayolah Nat, sekali aja. Hari ini ulang tahun gue, dan gue pengen traktir kalian berdua. Lu udah gue anggep kaya adek sendiri. Mau ya Nat ?”
“Gimana ya… Kasian baby Jack kalo gue tinggal seharian gitu,..”
“Kan ada nyokap lu yang jagain. Lagian ngerayain ultah temen sendiri apa salahnya sih ?”
Nata memang udah terang-terangan ke Bimo soal statusnya yang sudah menikah dan punya anak. Awalnya Bimo cukup kaget, karena melihat Nata masih sangat muda buat nikah apalagi punya anak. Tapi akhirnya Bimo paham kalo semua orang juga punya masa lalu.

“Ya udah deh Bim. Gue ikut, tapi maksimal sampe jam 1 aja ya ?”
“Oke, thats my girl !” kata Bimo sambil mencubit gemas pipi Nata.

1,5 jam kemudian Ardi, Bimo, dan Nata sampe di club malam dekat daerah Malioboro. Khusus hari Sabtu, La Lune memang tutup tepat waktu yaitu jam 8 malam. Bimo dan Ardi memang sepakat menyisakan satu hari untuk brothers time, waktu mereka buat bersantai dan mengobrol layaknya ABG sekarang.

“Nat, kamu mau pesan apa ?”
“Saya nggak tau mesti pesen apa. Saya belum pernah ke club.”
Seriusss?Ya ampun adek-adekan gue. Ke mana aja sih lu Nat ?” Bimo berteriak histeris seolah-olah cewek yang umurnya 20 tahun dan belum pernah ke club itu ‘aneh’ banget.

“Bagus kali si Nata belum pernah ke sini. Jadi otaknya gak kayak lu. M-E-S-UM.” Ardi tertawa sambil meneguk tequila-nya.
“Sialan lo. Ya udah gue ke sana dulu ya,” kata Bimo sambil menunjuk dancing floor yang dipenuhi sebagian cewek berbaju kurang bahan.

Nata memperhatikan Bimo yang sedang menari dengan seorang cewek seksi berambut panjang. “Kamu sama Bimo sering ke sini ya ?” Nata akhirnya bertanya membuka percakapan dengan Ardi.
“Hampir tiap malam minggu. Saya cuma nemenin Bimo aja, dia emang agak sinting. Tapi dia anaknya super baik kok.” Ardi meneguk tequila-nya lagi.
Nata hanya mengangguk-anggukan kepalanya sambil mencoba meminum I]tequila[/I]-nya juga.

Hampir 2 jam, Ardi dan Nata mengobrol. Sebenarnya nggak bisa juga dibilang ‘mengobrol’, karena omongan Nata yang udah lebih mirip racauan atau makian. Mereka berdua mabuk, tapi untung Ardi masih sadar, sedangkan Nata sudah tertidur di sofa.

“Nat, Nat. Ayo pulang…” Ardi menepuk-nepuk pipi Nata sambil berusaha memapah tubuh cewek itu.
“Restu, kenapa…. kamu mesti tinggalin aku duluan,” Nata tiba-tiba menatap dalam mata Ardi dan melingkarkan tangannya di leher Ardi.
Ardi terdiam sejenak, tapi kemudian ia sadar kalo Nata lagi mabuk. “Nat, saya itu Ardi. Di mana rumah kamu ? Biar saya anter.”
“Saya… gak… mau pulang. Saya mau K-A-M-U.”

Dan sedetik kemudian Nata mendekatkan bibirnya ke bibir Ardi, dan menempelkannya lama.


cerbung.net

Di ujung jalan

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2016 Native Language: Indonesia
Kisah perjalanan cinta muda mudi pemilik kedai kopi yang jatuh hati dengan seorang reporter food and travel.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset