Diary Playboy Wanna Be episode 11

Chapter 11 : Golden 5

Kedekatan gw dengan Ian membawa nuansa baru dalam dunia per playboy an gw (bahasa mana pula ini). Cerita-cerita Ian tentang keberhasilannya menaklukkan bermacam-macam wanita menjadi semacam inspirasi. Saat itu, Ian seperti guru dengan ilmunya yang mencerahkan. Wajar aja, karena selama ini gw hanya belajar menjadi playboy secara otodidak yang terbukti tidak terlalu sukses. Sosok Ian dengan pengalaman dan kesuksesannya dengan cepat menjadi prototype bagi gw tentang bagaimana seorang playboy seharusnya bersikap dan bertindak.

Proses belajar gw dengan Ian terjadi dalam banyak cara, baik melalui cerita-ceritanya, tips-tips rahasianya, hingga praktek langsung. Dan seperti selayaknya seorang guru terhadap muridnya, Ian mengajarkan secara detail, bagaimana menjadi playboy yang sebenarnya mulai dari hal paling mendasar yaitu berkenalan dengan wanita.

“Gw tuh paling gak bisa kenalan ma cewe. Gak tahu kenapa. Jangan kan ngajak kenalan, negor aja gw masih gelagapan. Jadinya gw sok-sok jaim gak jelas tapi sebenarnya gw mau banget kenalan ma tu cewe” curhat gw siang itu
“Itu salah lo. Jangan pake otak kalau mau kenalan ma cewe. Lo ketemu cewe di jalan, gak usah takut ditolak atau di cuekin. Ajak aja langsung kenalan kalo lo emang tertarik. Kenalan tuh bukan criminal. Gak akan ada cewe yang teriak kalo lo ngajak kenalan baik-baik” jawab Ian
“Gw suka mati kutu kalo ngajak ngobrol. Basi ngomong ma cewe. Gak bisa diajak serius ngomongnya” lanjut gw
“Makanya gw bilang jangan pake otak dan logika kebanggaan lo itu. Kenalan sama cewe tuh art, seni, dan proses kreatif. Gak ada rumusnya” terang Ian sambil menoyor kepala gw.
“Contohnya??” tanya gw sambil memegang kepala

Mata Ian menajam. Lalu tersenyum licik.

“Banyak caranya. Kenalan sambil nanya jam mah dah kuno. Apalagi pake acara liat-liatin dari atas ampe bawah. Ada juga ntar disangka cabul” terang Ian.

Dia berhenti sebentar. Lalu tiba-tiba matanya menatap tajam. Entah kenapa gw seakan merasa terhipnotis sejenak. Tak lama Ian tersenyum.

“Tatapan mata itu yang paling penting. Wanita hanya butuh waktu kurang dari 5 menit untuk memutuskan apakah laki-laki di depannya brengsek atau gentleman. First impression tuh penting banget. Mulai dengan tatapan mata yang tajam. Tepat menuju mata target. Jangan ke bodinya, dadanya, pahanya, atau wajahnya. Hanya matanya. Setelah mata lo dan mata dia bertemu, tunggu sebentar. Trus lo senyum kecil. Kalau dibales, langsung lo datengin dia. Jangan tunggu lama-lama. Ingat! waktu lo hanya 5 menit untuk meyakinkan dia. Jangan mulai dengan menanyakan nama. Puji dia, entah bajunya yang serasi, sepatunya yang lucu, atau kalung yang menarik. Lanjutkan dengan obrolan ringan dan umum, seperti mau kemana, dari mana, sama siapa. Hindari pertanyaan menjurus seperti rumah dimana, kerjanya apa, apalagi minta no hp. Setelah dia agak nyaman, baru perkenalkan nama lo. Tentu pake ucapan maaf karena lupa memperkenalkan diri. Kalau semua lancar, dalam 5 menit itu, image lo sebagai seorang cowo baik-baik akan terbentuk. Kalau lo gagal, jangan harap ada kelanjutan dari perkenalan itu. Sebegitu pentingnya tuh 5 menit pertama sampai temen gw ngasih sebutan “Golden 5” buat tahapan itu” Ian pun dengan panjang lebar menjelaskan.
“Ooohh,,trus habis kenalan gimana lagi? Minta no hp?” cecar gw lagi.
“Ya kalo udah dapet nama dia, lo mulai ngobrol lah. Ajak becanda. Pake ilmu ngelawak lo. Kalo target kelihatannya agak-agak lola (loading lama), lo boleh pake jurus ngelawak dan mempermalukan diri sendiri. Kalo target berpendidikan dan smart, lo bikin humor santai dan cerdas. Tapi jangan kebanyakan mikir. Bagaimanapun wanita tuh paling penting hati. Wanita manapun itu. Selanjutnya kalau wanita itu mulai nyaman ma lo, bicarakan lah hal-hal yang santai. Jangan kerjaan lo bahas, ada juga tambah pusing tuh cewe. Kalau cewenya cerewet mah enak, lo dengerin aja sambil kasi joke-joke kecil. Kalau cewenya agak diem, lo jangan ikutan diem. Pancing dengan cerita atau pertanyaan yang bikin dia cerita” Ian pun tersenyum puas melihat gw yang seakan terhipnotis oleh kata-katanya.
“Trus minta no hpnya kapan?” tanya gw lagi
“Nyusahin lo ya..” sungut Ian
“Yee,, ngajarin mah jangan setengah-setengah kali.” Jawab gw

Ian melihat gw kesal. Untungnya dia menjawab pertanyaan gw.

“Minta no telpon tuh susah-susah gampang. Kalau salah, bisa-bisa semua usaha lo dalam perkenalan awal bakal sia-sia. Saat yang tepat buat minta no telpon tuh pas kalian udah mau selesai bicara dan mau berpisah. Saat itu lo harus cepet minta no hpnya. Target yang dalam posisi sudah mau pergi akan kaget dan tanpa mikir panjang bakalan ngasi no hpnya. Selanjutnya tinggal lo approach via hp dah” Ian pun menghisap panjang rokoknya. Kecapeaan menerangkan pada murid bodohnya ini.

Setelah pelajaran siang itu, gw jadi tahu masalah gw dimana. Kebiasaan berbicara yang mendikte, bahasan-bahasan serius, obrolan yang membosankan dan humor yang sangat jarang keluar adalah masalah utama gw dalam berhubungan dengan wanita. Belum lagi cara bicara gw yang terlalu cepat dan cenderung tidak jelas. Klop sudah. Perkenalan memang salah satu titik lemah gw sebagai playboy. Gw cenderung malas berkenalan dengan orang lain. Sifat dasar yang introvert dan terkadang autis adalah masalah lainnya. Walaupun sebenarnya gw teman bicara yang cukup menyenangkan. Sense of humor gw cukup tinggi, gw juga cerewet dan ceria. Hidup gw banyak dihabiskan dengan tertawa. Tapi berkenalan dengan wanita adalah masalah lain. Konsep Golden 5 versi Ian jadi pelajaran penting. Setidaknya gw tahu apa kesalahan selama ini. Walaupun sekali lagi, perkenalan seperti kata Ian, adalah tentang art, seni, dan kreatifitas. Sesuatu yang jarang mampir di otak gw yang penuh dengan logika, sebab akibat dan sistematis ini.


cerbung.net

Diary Playboy Wanna Be

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2013 Native Language: Indonesia
cerita ini kejadian nyata saat gw pertama kali tinggal di apartemen (well,, sekarang juga masih seh), tempat dimana gw mulai meng explor bakat terpendam gw. jadi playboy. tapi emang kayaknya gw gak begitu bakat jadi playboy karena kebanyakan maen hati ma cewe yang gw deketin. dan gw juga bukan playboy yang sukses (makanya judulnya diary playboy wanna be). ceritanya lebih berkisar soal gw yang berusaha deketin cewe hanya untuk bersenang-senang tapi sekaligus menjaga agar my real girlfriend tetap merasa cowonya adalah satu2nya bagi dia.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset