Diary Playboy Wanna Be episode 12

Chapter 12 : Pembuktian Ian

Jujur aja, awalnya gw tidak percaya dengan cerita Ian tentang keberhasilannya menaklukkan puluhan wanita. Apalagi dengan modal yang dimilikinya. Tampang pas-pasan, uang juga tidak terlalu berlebih, serta fasilitas yang biasa-biasa saja. Tapi harus diakui Ian memang terlahir sebagai playboy sejati. Alasannya ialah pembawaan yang cenderung pendiam, misterius, cerdas, jago acting, licik, dan tega (bahkan mendekati kejam menurut gw). Dengan sifat keseharian yang rada autis, Ian entah mengapa bisa menjadi daya magnet bagi wanita di sekelilingnya. Perlu dicatat, konsep Golden 5 (baca chapter sebelumnya) berlaku ketika kenalan pertama kali, bukan untuk keseharian. Dalam pergaulan, konsep Branding Management lebih berperan (baca chapter 8). Wanita dewasa umumnya akan tertarik pada lawan jenis yang cenderung santai, tidak banyak tingkah dan kalem. Sebagian besar dari kaum pria menganggap menjadi bandel, gaul, pemberontak dan sebagainya adalah cara yang benar menarik perhatian wanita dewasa. Sayangnya kebanyakan wanita dewasa lebih mencari aspek aman dalam berhubungan dan pria dengan karakter kalem, santai dan cerdas adalah prototype yang sesuai. Lain halnya dengan cewe ABG dan kuliah. Mereka lebih tertarik pada sosok yang menyenangkan dan ramah. Kemapanan dan kedewasaan belum terlalu menjadi pilihan. Untuk itu, mereka menjadi lebih mudah dimanipulasi.

Bakat acting dan manipulasi Ian memang patut diacungi jempol. Beragamnya korban Ian adalah buktinya. Salah satu aksinya adalah hubungan dengan rekan kerja di Bank tempat ia kerja dulu.

“Gw dulu pacaran, eh enggak pacaran deh. Cuma TTM doang. Abis kita cuma “berbuat” di kantor doang” kata Ian siang itu
“Hah??! Di kantor? Kok bisa? Dimananya lo maen?” Jujur saat itu gw gak kebayang apa yang dipikiran temen gw itu. Kantor adalah tempat paling tabu bagi gw untuk menjalin hubungan. Dinding kantor yang punya kuping, politik kantor yang menjijikkan serta gossip yang menyebar bagai virus. Ian malahan asyik “berbuat” di kantor.

“Iya, awalnya gw dah tahu tuh cewe tertarik ma gw. Pertama kenalan di kantor trus paginya gw ajak makan trus ngobrol-ngobrol. Makan siang deh berdua, pulangnya gw ajak naek tangga. Di tangga, gw cium deh.” Jawab Ian kalem
“Anjritt !! serius lo??” Gw makin kaget. Ini anak memang gila.
“Dia juga kaget. Trus bilang katanya dia dah yakin bakal ciuman ma gw tapi gak nyangka bakal secepat itu. Langsung lemes katanya. Lo tahu dong abis itu gw apain tuh anak” Ian menjawab sambil tertawa licik

Gw masih bengong. Lalu bertanya sambil agak linglung

“Trus, lo berbuat dimana? Gak mungkin di tangga kan?” tanya gw
“Sejak saat itu, kita punya tempat rahasia. TTM gw kan staf yang megang kunci ruang file. Jadi kalo makan siang, kita janjian di ruang file trus dikunci dari dalem deh. Kalo dah di dalem, lo mo teriak kenceng-kenceng juga gak bakal ada yang denger. Orang-orang kan pada makan siang juga jadi kantor sepi. Ya,, gw sih makan siang juga tapi lauknya dia” jawab Ian santai sambil tertawa.

Gw tertawa. Renyah sekaligus iri. Betapa mudahnya Ian mendapatkan wanita seperti TTMnya itu. Tanpa berusaha keras hanya perlu keberanian dan sedikit acting, tentunya tak lupa banyak-banyak keberuntungan. Maka ketika tawaran Ian untuk menemaninya bertemu dengan salah satu buruannya di salah satu mall, gw dengan cepat mensetujui.

Target malam itu adalah salah seorang model yang sedang merintis karier. Namanya Fina. Ian berkenalan dengannya melalui YM. Menurut Ian, Fina adalah orang asli Palembang, umurnya baru 19 tahun. Dia tinggal sendirian di Jakarta. Hidup jauh dari orangtua demi cita-cita mulia, menghiasi layar televisi dan kehidupan yang lebih baik. Profiling singkat itu sudah cukup buat gw untuk mengetahui mengapa Ian menjadikan Fina buruannya. Jauh dari orang tua berarti kesempatan yang terbuka lebar. Apalagi umur Fina masih sangat muda yang artinya dia masih labil dan mudah dipengaruhi. Paling utama adalah pekerjaannya sebagai model. Gw tahu banget pekerjaan sebagai model amatir tidak menjanjikan gaji yang konsisten. Kadang berlimpah kadang seret minta mampus.

Malam itu, gw dan Ian tiba di tempat pertemuan setengah jam lebih awal. Rencananya ialah Ian akan menunggu di food court sedangkan gw akan sedikit menjauh. Baru ketika Ian sudah bertemu target, gw akan pura-pura lewat di depan mereka dan Ian dengan kagetnya akan mengejar gw dan mengajak bergabung. Standar dan sinetron banget. Untungnya Fina bukan termasuk wanita smart. Jadi acting kelas opera sabun itu berhasil dengan sukses.

“Dari mana lo tadi? Kok jam segini masih berkeliaran di mall?” tanyanya setelah mengajak gw duduk bareng dengan Fina
“Abis dari kantor. Tadi gw lembur ngerjain buat presentasi besok. Kelar kerja kepala gw pusing, jadi gw jalan aja deh” jawab gw.

Dan basa basi busuk lainnya pun meluncur berdasarkan skrip yang kami susun mendadak hanya dalam jangka waktu 15 menit. Ian memang berbakat. Hampir tidak ada celah dalam sandiwara kami. Semua kebohongan kami saling menutupi membentuk persepsi yang sangat berbeda dari kehidupan sebenarnya. Fina pun beberapa kali ikut ngobrol di topic buatan kami. Tanpa curiga.She is already catch the bait.

Malam itu pula gw melihat langsung kehebatan The Master of Deception. Ian yang autis dan cuek, menjelma menjadi Ian yang perhatian, humoris, tapi tidak urakan. Kalem dan santai. Dia dengan cepat mengetahui karakteristik Fina dan menggunakan peran yang sesuai dengan buruannya. Fina sendiri adalah wanita yang ceria dan cerewet tapi tidak mudah dekat dengan orang baru. Buktinya, ketika gw mengajak Fina mengobrol, ia tampak tidak antusias dan cenderung ogah-ogahan. Beda kalau Ian yang melontarkan pertanyaan. Pasti dijawab dengan panjang lebar dan semangat.

Kalau mau dianalogikan, Ian seperti pemancing yang dengan santai menggulung senar pancing sedangkan Fina seperti ikan tuna yang cepat, sigap dan sirip tajam yang siap memutuskan senar. Cara yang efektif untuk menaklukkan ikan seperti itu adalah bertahan sembari menggulung senar dengan cepat pada waktunya. Kalau perlu berikan uluran senar agar target senang dan tidak memutuskan senar pancing. Tunggu saja hingga saatnya tiba, ketika ikan itu kelelahan dan lengah. Saat itu dengan mudah ikan akan masuk dalam keranjang es. Siap dinikmati dan disantap. Tanpa perlawanan. Kalau bosan atau tidak suka, tinggal buang saja. Toh, masih banyak ikan di lautan bukan?

Sejak malam itu gw jadi percaya kalau Ian adalah playboy sejati. Bagaimana dengan Fina ? Ternyata Ian tidak terlalu bernafsu dengan pribadi dan wajah Fina. Not my type, katanya singkat. Ian pun menawarkan nomor Fina untuk gw dekati. Hasilnya bisa ditebak. Gw memang playboy wanna be. Tidak satupun sms atau telepon gw diangkat oleh Fina. Golden 5 memang masih jadi masalah buat gw.


cerbung.net

Diary Playboy Wanna Be

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2013 Native Language: Indonesia
cerita ini kejadian nyata saat gw pertama kali tinggal di apartemen (well,, sekarang juga masih seh), tempat dimana gw mulai meng explor bakat terpendam gw. jadi playboy. tapi emang kayaknya gw gak begitu bakat jadi playboy karena kebanyakan maen hati ma cewe yang gw deketin. dan gw juga bukan playboy yang sukses (makanya judulnya diary playboy wanna be). ceritanya lebih berkisar soal gw yang berusaha deketin cewe hanya untuk bersenang-senang tapi sekaligus menjaga agar my real girlfriend tetap merasa cowonya adalah satu2nya bagi dia.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset