Diary Playboy Wanna Be episode 14

Chapter 14 : Her Name is Dinda

Masih ingat Dinda? Yup, pacar utama gw yang sempat dibahas di awal-awal diary ini. Kalau sudah lupa, sedikit gw deskripsikan Dinda. Ia adalah alumnus sekolah tinggi telekomunikasi di Bandung dan pastinya pintar karena setahu gw sangat susah diterima di sana. Tidak hanya pintar, Dinda juga smart dan sangat logis. Satu hal yang jarang gw temui dari seorang wanita. Secara fisik, Dinda tergolong manis, dengan kulit gelap dan yang paling gw suka ialah body yang aduhai. Persis biola dengan bemper yang diatas rata-rata (shitt, think bout her make me turn on).

Kelebihan lain dari Dinda ialah keterbukaan, kepercayaan dan rasa sayangnya pada gw yang hingga kini belum gw rasakan dari wanita manapun. Salah satu yang membuat gw tersentuh ialah ketika hari gw akan seminar hasil S1. Ketika itu Dinda yang seharusnya kerja, tiba-tiba muncul di depan kamar kostan gw sambil membawa buah-buahan dan cemilan. Gw yang awalnya tegang karena demam panggung sontak kaget dan melupakan semua tekanan itu. Bukan oleh-oleh atau dinda yang kabur dari kantor membuat gw terharu tapi jarak antara kantor Dinda ke kostan gw yang jadi sebab. Asal tahu aja, kantor Dinda di utara jakarta dan kostan gw di pedalaman kabupaten Bogor! Dan gw tahu banget kalo Dinda tuh gak hapal jalan ke kostan gw. Selain itu, jalan ke kostan gw setidaknya harus berganti angkot 2 kali dengan kemacetan yang amit amit dan panasnya Bogor. Dinda sangat benci itu. But she came. Only to cheer me up n make sure I pass my exam.

Itu baru satu hal. Dinda juga bukan steriotype cewe kebanyakan yang memakai perasaan diatas segalanya. Dinda adalah logika. Sama seperti gw. Semua diperhitungkan, khususnya masalah hubungan. Dulu Dinda sangat ingin ditelpon setiap hari. Cukup dengan diskusi dan argumentasi logis, permintaan itu tidak jadi soal lagi. Asal tahu aja, tipe cewe logis adalah barang langka. Statistika dan ilmu psikologi membuktikan bahwa wanita cenderung menggunakan feeling dan perasaan dalam memutuskan. Pria kebalikannya. Kami lebih nyaman dengan fakta, logika, dan argumentasi. Makanya sering terjadi pertengkaran antara pria dan wanita. Dalam hubungan gw dan Dinda, itu bukan masalah. Cukup sediakan alibi dan bukti yang kuat, maka masalah selesai.

Masalah dinda hanya satu. Unstable emotion. Dinda bisa sangat eksplosif ketika marah dan kalau dia marah, gw yang juga tipe panasan gak bisa terima. Akhirnya kita pasti ribut dengan ekskalasi yang luar biasa. Tidak sampai fisik memang tapi cukup membuat kuping orang yang mendengarnya sakit. Belum lagi sahut menyahut tentang pendapat masing-masing dengan tensi tinggi. Yah, walaupun kebanyakan debat itu dimenangkan gw karena kemampuan bicara yang memang lebih superior dibanding Dinda. Masalah lainnya ialah Dinda besar di keluarga yang kurang bersahabat. Orangtua yang cuek, pemarah, dan egois menular pada Dinda. Dulu ketika di Bandung, Dinda bisa lari dari keluarga ke teman-temannya. Dengan teman-temannya, yang kebanyakan cowo, Dinda bisa melampiaskan unek-unek dan masalahnya. Ketika pindah ke Jakarta, otomatis peran teman-temannya digantikan oleh gw seorang. Maka hubungan kami pun didominasi dengan kekalutan dan kemarahan Dinda akibat masalah rumahnya.

Well.. seharusnya pacar memang siap mendengar dan menjadi sandaran bagi pasangannya. Itu gw lakukan. Bukan hanya Dinda yang sayang sama gw. Cinta gw pun tidak kalah besar. Bagaimana pun gw gak pernah setengah-setengah mencintai seseorang. Sewaktu Dinda tertekan karena orang tuanya yang menuntut dia menjadi PNS, ketika Dinda harus melakukan drive test jam 9 malam hingga pagi hari, ketika dia gagal lulus ujian di institusi harapannya, saat-saat dimana Dinda hancur dan tak berdaya, gw setidaknya ada untuk sekedar mendengarkan kemarahan dan tangisan nya. Kejadian yang menurut Dinda sangat berarti adalah saat gw menyebrang jalan tol di malam hari karena salah baca sms. Berawal dari Dinda yang mau menginap di kostan gw malam itu. Seharusnya gw jemput Dinda di Terminal Bogor, gw malah jemput dia di Uki. Gw yang sudah naik bis dengan panik turun di rest area. Jadilah di tengah malam gulita itu gw menyebrang ke arah Bogor untuk kemudian berlari sejauh kurang lebih 20 km menuju Terminal Bogor. Dinda nangis ketika ketemu gw di masjid raya bogor.

Masa-masa itu memberikan kenangan yang sangat indah buat kami berdua. Selepas masa-masa sulit itulah kepercayaan, pengertian dan rasa sayang antara kami benar-benar mencapai puncaknya. Tapi sayangnya dari sanalah semua masalah berasal.


cerbung.net

Diary Playboy Wanna Be

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2013 Native Language: Indonesia
cerita ini kejadian nyata saat gw pertama kali tinggal di apartemen (well,, sekarang juga masih seh), tempat dimana gw mulai meng explor bakat terpendam gw. jadi playboy. tapi emang kayaknya gw gak begitu bakat jadi playboy karena kebanyakan maen hati ma cewe yang gw deketin. dan gw juga bukan playboy yang sukses (makanya judulnya diary playboy wanna be). ceritanya lebih berkisar soal gw yang berusaha deketin cewe hanya untuk bersenang-senang tapi sekaligus menjaga agar my real girlfriend tetap merasa cowonya adalah satu2nya bagi dia.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset