Diary Playboy Wanna Be episode 15

Chapter 15 : Turn Over

Hubungan gw dengan Dinda berlangsung cukup lama dan sudah melewati banyak hal. Mulai dari pertengkaran masalah sepele seperti jadwal pacaran, kenapa tidak menelpon malam minggu, cemburu buta, hingga pertengkaran2 serius yang cukup membuat hubungan kami retak seperti kapan akan menikah, masalah dengan mantan, hingga penolakan dari orang tua gw.

Tapi masalah-masalah itu bisa selesai. Thanks God to my outstanding speaking ability and her logic and easy going mindset. Hampir semua masalah bisa teratasi dengan baik. Gw pun memang berniat mempertahankan hubungan dengan Dinda. Bukan hanya sebagai pacar tapi juga sebagai pasangan hidup. Apa yang tidak gw temui dari seorang Dinda. Dia cantik, pintar, bukan tipe yang suka berhura-hura, keibuan, mapan, dan pastinya sangat sayang ke gw.

Tanpa bermaksud sombong, gw yang sangat sabar menghadapi emosi Dinda yang meluap-luap membuat Dinda sangat sayang pada gw. Menurut Dinda, kesabaran, kedewasaan, ketegasan, dan karakter gw yang tidak mau mengalah pada cewe adalah alasan utama mengapa Dinda berharap banyak pada kelanjutan hubungan kami. Terlebih sifat dasar gw yang memang tidak terlalu suka berhubungan dengan orang lain kecuali orang-orang terdekat gw yang jumlahnya juga bisa dihitung dengan jari, membuat Dinda memberikan kepercayaan yang lebih. Dinda tentu berfikir dan berhitung, sifat autis, cuek, soliter, kedewasaan, rasa sayang, ditambah kesetian gw yang sudah teruji tentu mengurangi kemungkinan gw melakukan selingkuh.

Salahkah perhitungan Dinda? Sejujurnya tidak. Semua analisis dan asumsi Dinda tidak salah. Gw memang seperti yang Dinda bayangkan. Kesalahannya bukan pada diri gw, tapi pada kesempatan dan keleluasaan. FYI, hubungan gw dan Dinda dimulai ketika gw dalam masa penyelesaian studi di Bogor. Ketika itu, dunia gw hanya berputar di laboratorium, kampus, bimbingan dengan dosen, asisten di kelas, dan organisasi kampus. Kebiasaan hang out dengan teman, jalan-jalan ke mal apalagi kehidupan malam hampir gak pernah gw jalanin. Teman gw waktu suntuk adalah main PS, main basket, jalan2 pake motor atau baca komik. Dunia gw sangat kecil dan membosankan. Dinda yang datang dengan semua kelebihannya adalah pencerahan buat gw. Dinda dengan kebiasaan hedonismenya di Bandung, Dinda dengan keterbukaan pikirannya, Dinda dengan kebebasannya, Dinda dengan semua kebiasaan metropolisnya. Buat gw yang besar di asrama dan kampus rakyat, semua itu menjadi sangat menarik.

Dunia sempit gw makin terbuka ketika gw kerja di Jakarta. Gaji yang berlebih, karir yang melejit, kehidupan malam yang menggoda mulai membuat gw hilang kendali. Perlahan, gw mulai bermain api. Mulai dari perkenalan di fake facebook, chat mesum di MIRc, pijit di spa esek esek hingga ke kejadian di awal thread ini. Gw pun mulai terbiasa dan menikmati perselingkuhan itu. Rasa bersalah yang awalnya muncul kini hilang tanpa bekas. Gw pun mulai berevolusi dari pemuda kuper jadi playboy wanna be yang kalian baca ceritanya sekarang.

Dinda sayangnya tetap tidak sadar dengan evolusi gw itu. Baginya gw tetap cowo yang setia, bisa dipercaya, sabar, dewasa dan bisa jadi tumpuannya. Dinda pun tetap datang dengan emosinya yang meletup-letup, segudang masalah keluarga, tekanan pekerjaan dan tuntutan2 lainnya. Gw sayangnya juga sudah berubah. Sabar dan kedewasaan kalah oleh egoisme dan kehidupan playboy. Tapi hubungan kami masih berlanjut, karena Dinda percaya satu hal. Gw setia.

Hingga kejadian malam itu. Dinda yang main ke rumah gw, secara tidak sengaja melihat akun fake facebook gw. Dinda mengamuk, gw yang ketahuan berusaha meminta maaf

“Gila ya kamu !! Aku tuh udah percaya sama kamu! Aku sabar sama sikap kamu yang cuek, masalah-masalah kita, egoisme kamu yang makin parah ! Aku bertahan cuma karena kamu setia ! Tapi liat ! Apa yang kamu lakuin sama kepercayaan aku??” Pekik Dinda di tengah jalan

“Aku salah Din, aku salah. Tapi please kamu harus denger penjelasan ku dulu” bujuk gw

“Gak ada ! Kamu tahu aku benci cowo selingkuh! Gak mungkin mereka selingkuh cuma sekali. Liat tuh kakak gw ! Sekali selingkuh terus ketagihan. Kamu juga pasti kayak gitu” balas Dinda sengit

“Gak ! Aku cuma lagi jenuh aja sama hubungan kita. Aku bahkan belum pernah ketemu sama dia” jawab gw.

“Gw gak percaya !” Dinda pun turun dari motor gw dan dengan cepat naik angkutan umum. Gw yang coba megangin Dinda malah diteriakin penjahat sama dia. Sontak orang-orang melihat dan mendekat. Selagi gw mencoba menjelaskan ke kerumunan, Dinda sudah menghilang. Panik karena gw tahu, rumah Dinda yang masih jauh dan malam hari terminal Lebak Bulus adalah tempat yang berbahaya.

Untungnya gw masih sempat mengejar angkutan umum yang dinaiki Dinda. Setelah kejar-kejaran dan menguntit layaknya stalker, gw akhirnya bisa ketemu dengan Dinda. Dia duduk di lantai terminal sambil menelpon dan merokok. Wajahnya tertawa dengan terpaksa. Perlahan gw dekatin dia. Awalnya Dinda membentak dan menyuruh gw pergi. Gw cuma diam dan duduk didekatnya. Gak ngomong apa2. Cuma diam menunggu.

“Ngapain lo ngikutin gw ?! Urusin selingkuhan lo itu!” Nada suara Dinda keras dan sinis. Sifat aslinya muncul. Bibirnya masih menghembuskan asap rokok. Gw akhirnya menyalakan rokok. Setidaknya itu bisa membuat gw sedikit tenang. Dengan tegas gw jawab pertanyaan dinda.

“Aku gak pernah ketemu dia. Cuma kenalan via FB doang. Lagian dia jauh, di Bandung. Aku cuma pernah nelpon dia. Gak lebih.”

“Itu kan kata lo doang. Siapa yang tahu? Itu juga ternyata alasannya kenapa hp lo selalu mati kalau ketemu gw. Takut ditelpon selingkuhan lo kan?” Dinda balik bertanya

Gw diem. Cuma menghembuskan asap rokok sekali lagi.
“Siapa lagi pecun-pecun lo ?? Gw yakin masih banyak selingkuhan lo di luar sana yang gak gw tahu” cecar Dinda lagi

“Gak ! Udah aku bilang, aku cuma kenalan via FB. Itupun yang aktif telpon cuma satu orang” Sebenarnya saat itu sudah ada beberapa cewe yang aktif menjalin hubungan dengan gw. Makanya gw cukup cemas kalau tiba-tiba ada telp masuk dari TTM gw itu.

“Sini gw mau ngomong sama pecun lo itu” seru Dinda

“Ngapain? Ini masalah kita, bukan masalah dia. Biar aku yang terima semua. Gak usah ada orang lain” sanggah gw

“Oh gitu ? Jadi sekarang lo belain dia? Lo perhatiin perasaan dia? Lo gak mikir perasaan gw apa??” Jawab Dinda setengah berteriak

“Ok, fine ! Kamu boleh telp dia. Ini no nya. Pake hp ku aja” walaupun beresiko, gw harus menenangkan Dinda. Lebih baik mengorbankan pion daripada harus kehilangan raja. Lagipula Lilis, TTM di Bandung itu baru sampai taraf approaching, masih jauh dari closing. Jadi Dinda gak perlu tahu tentang TTM gw lainnya. Dengan memberikan sedikit bukti, gw bisa mengaburkan kenyataan.

Dinda pun menelpon Lilis. Dinda masih bisa mengatur amarahnya, terlihat dari intonasi dan pilihan kata. Tapi tetap, menunjukkan kekejaman dari seorang singa yang terluka. Gw yakin Lilis sudah berurai air mata di ujung telepon sana. Gw gak enak dengan Lilis sebenarnya, bagaimanapun juga gw gak tahan liat cewe terluka. Tapi tetap harus ada yang dikorbankan. Saat ini sayangnya Lilis yang harus menerima.

Dan malam itu akhirnya gw habiskan dengan membujuk dan menyakinkan Dinda. Semua kutukan, makian dan segala jenis penghuni kebun binatang terlontar. Setelah jam menunjukkan angka 1 malam, kemarahan Dinda mulai reda. Dia mau gw ajak pergi dari Terminal Lebak Bulus. Pulang jelas bukan pilihan, kami pun check in di hotel daerah Tangerang. Tatapan Dinda masih dingin. Tanpa emosi. Di kamar itu Dinda memaafkan gw dengan nada datar dan bersedia melanjutkan hubungan ini. Tapi kata-kata dingin tetap terlontar dari mulutnya.

“Aku belum melupakan ini. Pengkhianatan kamu gak hilang hanya karena aku maafin kamu. Buktikan ke aku kalau aku bisa percaya sama kamu lagi. Hubungan kita gak bakal kayak dulu lagi. Gak bakal bisa” kata Dinda dibalik selimutnya.

Gw menghembuskan asap rokok untuk kesekian kalinya di sofa hotel. Semua memang tidak akan kembali seperti dulu lagi.


cerbung.net

Diary Playboy Wanna Be

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2013 Native Language: Indonesia
cerita ini kejadian nyata saat gw pertama kali tinggal di apartemen (well,, sekarang juga masih seh), tempat dimana gw mulai meng explor bakat terpendam gw. jadi playboy. tapi emang kayaknya gw gak begitu bakat jadi playboy karena kebanyakan maen hati ma cewe yang gw deketin. dan gw juga bukan playboy yang sukses (makanya judulnya diary playboy wanna be). ceritanya lebih berkisar soal gw yang berusaha deketin cewe hanya untuk bersenang-senang tapi sekaligus menjaga agar my real girlfriend tetap merasa cowonya adalah satu2nya bagi dia.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset