Diary Playboy Wanna Be episode 17

Chapter 17 : Keputusan untuk Dinda

Godaan memang selalu datang pada saat yang paling tepat. Ketika semangat untuk mempertahankan hubungan mencapai batas minimumnya, ada wanita yang datang ke kehidupan gw. Dia penyanyi di acara kantor. Entah apa yang dilihatnya dari gw, tapi setelah acara si penyanyi manis itu mencari FB gw dan dari sanalah akhirnya kami berkenalan. Sampai akhirnya gw menemukan perhatian, keceriaan, dan akhirnya kasih sayang dari seorang wanita yang sudah lama hilang dari Dinda. Gw pun akhirnya memutuskan mengakhiri hubungan dengan Dinda.

Pada saat yang sama Dinda sudah berhasil melupakan kelakuan buruk gw dan siap untuk memulai hubungan lagi. Sayangnya semua terlambat. gw sudah patah arang. Tidak ada lagi yang bisa dipertahankan. Ketika gw mengatakan putus, Dinda cuma terdiam dan menangis. Selama seminggu setelah putus Dinda beberapa kali berusaha memperhatikan gw. Usaha yang sia-sia. Karena disaat yang sama hubungan dengan si penyanyi itu sudah semakin dekat. Semua yang ditawarkan oleh Dinda sudah gw dapatkan lebih dari si penyanyi. Dinda tidak tahu tentang penyanyi ini. Gw gak mau membuat Dinda sakit hati dengan kenyataan posisi dia sudah digantikan wanita lain. Dinda bagaimanapun juga pasangan gw selama 2 tahun terakhir. Setidaknya ini yang bisa gw lakukan untuk menghormati hubungan kami.

Setelah lewat sebulan sejak putus, gw pikir Dinda sudah bisa menerima semuanya. Hubungan dengan si penyanyi pun sudah meningkat menjadi pasangan resmi. Everything’s under control.Ternyata gw lagi-lagi terlalu mudah puas diri. Pagi itu email gw gak bisa dibuka. Berkali-kali gagal login. Gw mulai panic karena banyak kerjaan yang harus ditindaklanjuti dan semua source nya ada di email. Gw coba buka account-account email yang lain, termasuk email untuk FB. Semua gak bisa login. Kecurigaan langsung menuju ke Dinda. Apalagi telp ke hp nya tidak diangkat. Setelah puluhan kali ditemani nada sambung ,akhirnya menjelang siang telp diangkat oleh Dinda

“Kamu ngubah pass email ku gak?” Tanya gw
“Iya, emang gw yang ubah pass email lo. bahkan gw udah tahu semuanya. Soal pacar lo yang baru, soal private party yang ternyata udah sering banget, acara dugem malam minggu. Gw tahu semua. Dan bukan itu aja, gw udah telp pacar lo, buat ngasih tahu betapa busuknya lo sebenarnya. Gw juga udah ngomong sama nyokap bokap lo soal apartemen dan pacar baru lo. Gw yakin mereka bakal kecewa sama anak sulungnya” Nada suara Dinda tenang walau resonansi suaranya bergetar. Tak lupa tawa sinis dan aura mengancamnya.

Gw terhenyak. Ini scenario paling buruk yang mungkin terjadi dan saat ini semua terjadi dengan sangat cepat. Untungnya gw memang sudah memperkirakan ini semua. Kata-kata Dinda selanjutnya menekan gw untuk balik sama dia dan tanggung jawab

“Lo harus tanggung jawab sama gw. lo udah ngabisin waktu gw 2 tahun. Lo udah ngubah gw dari cewe tough jadi cewe yang ketergantungan sama lo. Pokoknya lo harus tanggung jawab ! dan satu lagi, putusin sekarang juga cewe lo. Gw gak mau ada orang yang jadi korban lo lagi” ancam Dinda
“Heh, gak ada yang bisa ngatur hidup gw ! Lo kira gw gak mikir kemungkinan ini terjadi? Lo kenal gw dari lama kan? Lo tahu gw selalu memperhitungkan dan memikirkan sesuatu dari banyak sisi. Lo pikir nyokap gw bakal percaya? Lo pikir pacar gw bakal percaya? Inget ya, lo itu cuma outsider di keluarga gw. Jangan bangga udah deket ma adek dan keluarga gw. Apalagi nyokap. Dia gak pernah respek sama lo. Cuma karena gw, nyokap masih mau berbaik hati sama lo. Pacar gw? Lo kenal juga enggak, lo ketemu juga gak pernah. Lo pikir dia bakal percaya tiba-tiba ada orang yang ngomong tentang pacarnya?” jawab gw sengit.
“Gw cuma mau lo belajar dari ini semua. Lo gak seharusnya berbuat gini ke gw” jawab Dinda lagi
“Oh ya? Emang siapa lo? Orang suci? Berhak lo nentuin hidup gw? GAK !! Apa yang lo lakuin ini gak bakal berdampak apa-apa sama gw. Hidup gw akan berjalan seperti biasanya, ditemani keluarga dan pacar yang sayang sama gw sedangkan lo akan meringkuk di kehidupan muram dan menyedihkan lo itu. Meratapi, mengingat dan mengharap semua kehidupan indah lo dengan gw akan kembali. Dan asal lo tahu, itu semua gak bakal pernah kembali !!” balas gw

Dan percakapan siang itu diisi dengan nada-nada licik, kejam, sumbang, ancaman dan jahat. Gw ingat sekali saat-saat itu. Sudah lama rasanya sejak terakhir kali gw menghujat orang dengan tensi sekejam itu. Bukan omongan kasar yang keluar dari mulut gw tapi argumen dan kata-kata menyakitkan yang akan dikenang Dinda hingga kapanpun. Udah gak ada lagi niatan untuk berbaik hati dengan Dinda. Dia udah ngerusak hal penting buat gw yang sebenarnya gak berhubungan apapun dengan masalah ini. Akibat email yang dihack tersebut, kerjaan kantor harus terhambat, milis-milis komunitas harus di unsubscribe, klien harus dihubungi ulang, kartu nama harus diganti, dan permasalahan-permasalahan lainnya. Ternyata dari email yang dihack itu, Dinda mendapatkan semua informasi. Karena di email itu gw juga menyimpan data-data account email dan FB. Jadilah semua saluran itu tidak bisa gw pakai.

Telp siang itu pun gw tutup dengan Dinda yang masih mencecar gw. Telp-telp selanjutnya tidak gw tanggapi. Gw sibuk mengatur kembali account email dan pekerjaan yang terbengkalai. Untungnya pacar gw tidak percaya dengan semua perkataan Dinda. FYI, gw bikin tulisan tersendiri tentang sikap dewasa dan sayangnya pacar sama gw. Tulisannya bisa dilihat di bloggw. Ortu juga tidak percaya begitu saja. Seperti yang gw perkirakan, mama pasti tidak percaya. Tapi ada beberapa peringatan dari mama yang buat gw cukup berhati-hati kedepannya.

Dan akhirnya hubungan gw dengan Dinda berakhir tragis. Tidak ada lagi rasa sayang dan toleransi yang biasanya selalu ada ke mantan-mantan. Gw bisa sangat baik ke orang, apalagi dengan minat gw yang berlebih ke psikologi. Gw sangat tahu bagaimana membuat hati orang lain senang dan bahagia. Di sisi lain, gw juga sangat bisa membuat orang sakit hati bahkan hingga ke level yang paling kejam. Dan itu yang gw lakukan ke Dinda.


cerbung.net

Diary Playboy Wanna Be

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2013 Native Language: Indonesia
cerita ini kejadian nyata saat gw pertama kali tinggal di apartemen (well,, sekarang juga masih seh), tempat dimana gw mulai meng explor bakat terpendam gw. jadi playboy. tapi emang kayaknya gw gak begitu bakat jadi playboy karena kebanyakan maen hati ma cewe yang gw deketin. dan gw juga bukan playboy yang sukses (makanya judulnya diary playboy wanna be). ceritanya lebih berkisar soal gw yang berusaha deketin cewe hanya untuk bersenang-senang tapi sekaligus menjaga agar my real girlfriend tetap merasa cowonya adalah satu2nya bagi dia.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset