Diary Playboy Wanna Be episode 18

Chapter 18 : Saatnya untuk Istirahat

Terlepas dari Dinda, gw menikmati masa-masa indahnya pacaran dengan kekasih baru. Si cantik itu memang termasuk golongan langka, selain karena kecantikannya yang diatas rata-rata, sifat kedewasaan dan keluguan khas mahasiswi membuat hidup gw yang sempat terpuruk karena kasus Dinda menjadi lebih cerah. Besarnya kasih sayang si cantik ini sampai membuat gw lupa tentang aktivitas keseharian berburu wanita. Hari-hari diisi dengan obrolan mesra via telpon. Via telpon?? Ya, ini lah satu-satunya masalah yang menhalangi hubungan kami. Pacar baru gw ini berdomisili di Bandung, kota yang sudah terbukti dengan keampuhannya menghasilkan dara-dara manis. 2 jam via travel dan 4 jam via motor. Jarak memisahkan kami.

Tapi rasa sayang gw pada si cantik ini memang teramat besar. Kendala jarak dan biaya gw lupakan begitu saja. Berangkat ke Bandung sebulan dua kali jadi kebiasaan hingga sekarang. Metodenya bisa berupa touring pake motor Sabtu sore selesai kuliah atau pergi Minggu pagi dan pulang ke Jakarta jam 10 malam di hari yang sama. Praktis gw hanya bisa bersama secara fisik dengan pacar maksimal 20 jam sebulannya. Terlepas dari itu semua, kebaikan dan ketulusan si manis itu membuat gw benar-benar berfikir untuk berubah menjadi lebih baik. Tekad untuk mengakhiri kelakuan playboy perlahan mulai tumbuh. Awalnya memang hanya niat saja, tapi lama kelamaan gw mulai serius menempuh jalan sulit itu. Melepaskan TTM dan selingkuhan gw lainnya. Dan akhirnya gw benar-benar serius dengan keputusan gw itu.

Berawal dari menolak ajakan kawan-kawan gw untuk berburu di daerah kota, uninstall MIRC sebagai salah satu tools utama dari laptop, menghapus nomor-nomor cantik buruan gw (baik yang statusnya sudah dieksekusi maupun PDKT), hingga mendatangi TTM yang dekat secara pribadi demi misi mulia, memberikan mereka kesempatan putus dengan playboy wanna be ini dan menjalani kehidupan dengan lebih baik. Mungkin terlalu lebay jika mengatakan kalau proses ini sangat sulit dilakukan. Jujur saja banyak biaya dan waktu yang gw curahkan untuk mencapai tahapan ini. Seorang suhu di forum sempalan kaskus bahkan pernah berkata, “bukan HPnya yang mahal, tapi no contactnya yang tidak tergantikan”. Nomor-nomor cantik, hubungan dengan komunitas, serta wanita-wanita yang sudah terlanjur berhubungan itu adalah bentuk nyata dari sebuah kerja keras, kesabaran, bahkan terkadang harus ditukar dengan hubungan lainnya.

Proses pemutusan hubungan itu juga tidak mulus. Gw berpendapat, sejelek apapun wanita yang jadi TTM dan selingkuhan, mereka tetap wanita yang pernah berhubungan dengan gw, jadi gw harus menghormati mereka setidaknya dengan memutuskan hubungan secara berani. Ada TTM yang mengeluarkan sumpah serapah, ada yang terror sms, ada juga yang dengan pasrah menerima gw sambil terisak. Untungnya sebagian besar dari pemutusan hubungan dilakukan dengan telepon sehingga gw gak perlu merasa bersalah berkepanjangan.

Satu persatu nomor cantik yang disamarkan dalam bentuk nama laki-laki dan alamater kuliah, gw delete. Awalnya susah dan lama kelamaan makin susah. Ada yang hilang rasanya setiap kali gw pencet “delete contact”. Tapi sudahlah, ini semua harus gw lakukan. Toh, gw sudah dapet yang jauh lebih baik dari mereka semua. Walaupun jarak memisahkan kami begitu jauh..
Setelah prosesi penghapusan nocan yang dilakukan dengan penuh khidmat , semuanya terasa lebih nikmat. Rasa-rasa penasaran dan kangen yang dulu sempat hilang mulai kembali lagi. Tertawa senang ketika bercanda, tersenyum sendiri setelah telepon ditutup, sibuk melihat HP berharap bunyi membawa berita, hingga rasa enggan berpisah ketika meninggalkan Bandung. Yusa, sahabat baik gw rupanya melihat perbedaan itu.

“Lo sekarang kayaknya ceria mulu bro. pengaruh kambing-kambing lo ya? Hehhehe” sindir Yusa di sela-sela istirahat kuliah. Kambing adalah istilah dia untuk TTM dan selingkuhan gw
“Gak lah, dah insaf gw. Kambing-kambing gw udah dikembalikan ke alam bebas. Biar mereka merumput dengan leluasa. Jangan rumput gw mulu yang diembat” bales gw bercanda
“Hahahhahah,,jadi selama ini rumput lo selalu gundul dong” jawab Yusa sambil tertawa
“Ya iyalah. Kambing-kambing gw kan pada kelaperan” tawa gw dan Yusa semakin keras.
“Serius cuy, lo apain tuh TTM dan selingkuhan lo?” tanya Yusa lagi setelah tawa kami mereda
“Gw hapusin semua. Gw putusin semua. Kayaknya gw off deh jadi playboy. Capek euy” jawab gw sambil tersenyum
“Hemm,, walaupun gw seneng lo udah kembali ke jalan yang benar. Kok gw tetep ragu ya lo bakal insaf permanen” kata Yusa sambil mengelus janggutnya yang cuma sejumput

Gw menjawab dengan senyum simpul. Yah,, liat aja nanti lah.


cerbung.net

Diary Playboy Wanna Be

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2013 Native Language: Indonesia
cerita ini kejadian nyata saat gw pertama kali tinggal di apartemen (well,, sekarang juga masih seh), tempat dimana gw mulai meng explor bakat terpendam gw. jadi playboy. tapi emang kayaknya gw gak begitu bakat jadi playboy karena kebanyakan maen hati ma cewe yang gw deketin. dan gw juga bukan playboy yang sukses (makanya judulnya diary playboy wanna be). ceritanya lebih berkisar soal gw yang berusaha deketin cewe hanya untuk bersenang-senang tapi sekaligus menjaga agar my real girlfriend tetap merasa cowonya adalah satu2nya bagi dia.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset