Diary Playboy Wanna Be episode 19

Chapter 19 : damn what a luck !!

Kalimat yang selalu gw katakan pada teman-teman playboy gw ketika mereka mendapatkan keberuntungan atau kemudahan mengejar targetnya. Kesempatan untuk mendapatkan target baru memang suatu hal yang langka didapatkan mengingat menyiapkan target mulai dari searching, kenalan, PDKT, hingga bring her to bed bukanlah hal yang mudah dilakukan. Proses inisiasi itulah justru hal yang paling dicari oleh seorang playboy. Penolakan, kesabaran, keuletan dalam maintain klien serta kepuasan ketika misi sukses berhasil adalah sensasi yang sulit digantikan. Sayangnya, dunia playboy cap kapak kyak gw, bukan dunia yang menawarkan persentase keberhasilan tinggi. Terkadang rasa jenuh dan bosan terhadap penolakan membuat frustasi. Maka ketika ada rekan yang dengan sangat beruntung mendapatkan target yang mudah, ramah, dan dengan senang hati merapat demi pelampiasan kasih sayang yang berlebihan, rekan lainnya memberi selamat dengan kalimat : U’r damn lucky bro !.

Keadaan itulah yang kini gw alami. Selepas ritual penghapusan nocan, entah gimana ceritanya, banyak wanita-wanita yang dengan sendirinya merapat ke gw. Ada yang kenalan lewat FB, hasil ngobrol-ngobrol di cafe apartemen, hibah dari rekan seperjuangan hingga dancer di salah satu private party bang Erwin.

Sebut saja namanya Andhien. Dia salah satu rekan Viona yang gw sewa sebagai dancer di acara kami. Sebenarnya Andhien sudah lama tidak gw hubungi. Malam itu tiba-tiba saja dia menelpon

“Hallo beb, gimana kabar kamu?” Sapanya akrab
“Errr,, siapa ya?” Nomornya tidak terdaftar di phonebook gw
“Ini aku Andhien yang di party kemaren” jawabnya
“Ooh, iya iya. Gimana kabarnya Andhien? Tumben telp” jawab gw cepat
“Iihh, no aku kamu hapus ya beb..” Jawabnya manja
“Iya neh, kemaren hp ku error. Phonebooknya beberapa ilang” jawab gw sekenanya
“Iya beb, aku lagi butuh bantuan neh. Aku butuh dana, mama lagi butuh buat pengobatan. Aku lagi gak megang uang. Nanti pas gajian ku ganti” Gw langsung mahfum. Wanita sejenis Andhien memang seperti ini. Pinjam uang ke klien-kliennya. Ujung-ujungnya pasti bayar dengan tubuh.
“Aduhh, aku lagi gak pegang dana. Tapi aku bisa bantu kamu kok. Klo aku bilang ke bang Erwin gimana? Kyaknya dia bisa bantu” Kebetulan bang Erwin memang sempat bilang kalau dia tertarik sama Andhien.
“Ya gak papa sih beb. Aku lagi BU banget neh. 1 juta aja kok.” Enteng banget. 1 juta lo kata dikit jawab gw dalam hati
“Ya udah. Tapi aku gak janji ya. Tergantung bang Erwin lho.”Jawab gw lagi
“Ya gak papa beb. Tolong bantu aku ya. Buat mama soalnya ini.” Alasan yang gw sangat ragukan kebenarannya.

Dan gw pun segera menghubungi bang Erwin. Untung buat Andhien, bang Erwin langsung setuju. Deal pun tercapai. Tempatnya di apartemen. Hari ini jam 3 sore. Andhien pun ok. Selanjutnya gw gak mau ngurusin. Toh gw memang sudah gak perduli dengan urusan seperti ini. Esoknya gw dapat kabar dari bang Erwin kalau dia puas dengan service Andhien. Katanya Andhien mau ketemu gw untuk berterimakasih yang cuma gw tanggapi dengan joke-joke singkat. Ternyata malamnya Andhien memang benar-benar menelpon gw. Selain terima kasih, dia juga serius tentang omongannya ke bang Erwin.

“Aku hutang budi ma kamu beb, aku balesnya gimana neh?” Kata Andhien malam itu
“Santai aja lagi. Not a big problem” sahut gw santai
“Gak ah, kamu dah nolong aku. Gimana kalo aku maen ke apartemen kamu? Tapi jangan ada bang Erwin ya. Kita berdua aja. Sekalian aku mau berenang disana.” Jawab Andhien

Gw tau banget maksud ajakan itu. Ujung-ujungnya pasti di kasur. Klo gw yang dulu dengan serta merta pasti mengiyakan. Tapi sekarang, ketika gw mau niat berubah, godaan datang. Gw pun akhirnya menjawab dengan diplomatis. “Liat nanti ya. Aku masih sibuk.”

Itu baru kasus pertama. Godaan kedua datang dari target yang 2 bulan lalu gw approach. Namanya Novi. Cewe umur 19 tahun yang sudah akrab dengan seks dan minuman keras. Dulu nomor Novi tidak sempat gw save dan acara eksekusi pun tidak berhasil dilaksanakan. Tiba-tiba siang itu ada sms masuk ke HP gw. Novi mau main ke apartemen sekalian nginep malam minggu. Dia mau mengajak teman cewenya yang lain. Gw hanya cukup menyediakan 2 botol bir kuning sebagai sesajennya. Gw bingung. Gak tau harus menjawab apa. Kenapa semuanya dateng pada saat gw mau berubah!??

Harus diakui, sentuhan fisik adalah hal paling utama bagi gw dalam menjalin hubungan. Sendirian tiap malam di apartemen adalah siksaan yang menyedihkan. Dengan semua fasilitas dan kenyamanan, gw cuma bisa menikmatinya sendirian. Si cantik pacar gw tidak bisa keluar kota. Dia anak mama yang harus selalu memberi kabar ke orangtuanya. Alhasil frekuensi ketemu gw dengan pacar hanya 1-2 bulan sekali. Itu pun terkadang cuma 5-6 jam yang dihabiskan dengan nonton, karaoke dan makan di cafe. Jelas tidak cukup buat gw. Kejadian Novi pun dilanjutkan dengan serangkaian kesempatan manis lainnya. Perkenalan dengan salah satu dara cantik penghuni apartemen, hadiah nocan dari teman kantor serta ajakan teman untuk menyambangi kawasan Mangga Besar. Fiuh,, jujur aja dengan semua godaan dan kebutuhan gw terhadap belaian lawan jenis membuat semua tampak menarik. Untungnya gw masih kuat untuk mengatakan tidak untuk itu semua. Hingga akhirnya, datanglah godaan yang tidak bisa gw tolak lagi.

Siang itu ketika istirahat kuliah tiba-tiba saja, bang Erwin mengajak gw menginap di rumahnya untuk maen PS 3. Istrinya sedang pulang kampung. Gak ada yang nemenin di rumah. Kali ini gw gak bisa nolak lagi. Walaupun gw sudah tahu ujung dari malam hari ini. Benar saja, dalam perjalanan pulang, mobil kami mampir di salah satu spa di sekitar rumahnya. Niat awalnya memang cuma sauna, tapi di dalam bang Erwin tiba-tiba menawarkan untuk pijat. Gw langsung mengiyakan karena badan memang lagi masuk angin. Yang gw lupa ialah kalau pijat di tempat seperti ini artinya pasti berujung pijat plus-plus. Benar saja ketika terapis datang, gw langsung tahu kalau dia bukan terapis asli. Wajah hitam manis, badan kecil dan montok. Gw pun pasrah dengan membuka semua pakaian dan berusaha menikmati pijitan yang hampir tidak berasa sambil menahan nafsu dari godaan terapis yang tak henti-hentinya menggerayangi.

At this level, somehow I manage to survive. Gw tetap keluar dari ruangan temaram itu dengan status perjaka walau dengan nafas terengah engah menahan nafsu. Baru ketika gw selesai sauna dan mandi air hangat, gw bisa mengendalikan diri secara total. Malam itu gw maen PS 3 di rumah bang Erwin sambil menunggu penghuni rumahnya tidur. Tepat jam 11 malam, gw dan bang Erwin berangkat ke arah kota. Rencananya akan ada teman kami yang ikut. Total 4 orang peserta dan 2 dancer. Ruangan VVIP lengkap dengan kamar di dalam sudah siap. Gw dari awal memang niat sekedar menemani, paling hanya minum satu dua shot. Tapi akhirnya iblis memang menjalankan rencana terakhirnya.

“Sat, temen-temen saya pada gak bisa ikut” kata bang Erwin di tengah perjalanan
“Hah?? Kita berdua doang neh bang? Dancernya kan juga 2. Berarti..” Kata-kata gw menghilang
“Iya. Satu lawan satu” senyum bang Erwin mengembang. Gw cuma meringis. Mati gw.

Pagi itu gw keluar balkon apartemen sembari memegang gelas penuh chivas. Sherly, dancer yang jadi partner gw semalam baru saja pulang. It’s a wild party last night. Pengaruh ekstasi dan minuman keras serta peserta yang hanya 4 orang membuat bang Erwin dan dancer-dancer menari penuh semangat semalaman. Apalagi Sherly. Dia menegak satu pil setengah sehingga gw sebagai partnernya kelabakan. Pelukan dan ciuman tidak berhenti ditujukan gw semalaman itu. Gw sendiri termasuk sadar. Gw gak neken, minum pun hanya dua shot. Tapi suasana memang tak bisa gw pungkiri sangat mendukung. Dan akhirnya gw menyerah. Kamar di room itu terpakai juga. Bahkan Sherly gw bawa ke apartemen. Dia hampir gak bisa jalan. Sepanjang perjalanan Sherly menggelayut di tangan gw.

Di balkon sembari menyesap pelan, gw mengangkat gelas melakukan toast dengan udara.

Welcome to the world Kid


cerbung.net

Diary Playboy Wanna Be

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2013 Native Language: Indonesia
cerita ini kejadian nyata saat gw pertama kali tinggal di apartemen (well,, sekarang juga masih seh), tempat dimana gw mulai meng explor bakat terpendam gw. jadi playboy. tapi emang kayaknya gw gak begitu bakat jadi playboy karena kebanyakan maen hati ma cewe yang gw deketin. dan gw juga bukan playboy yang sukses (makanya judulnya diary playboy wanna be). ceritanya lebih berkisar soal gw yang berusaha deketin cewe hanya untuk bersenang-senang tapi sekaligus menjaga agar my real girlfriend tetap merasa cowonya adalah satu2nya bagi dia.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset