Diary Playboy Wanna Be episode 20

Chapter 20 : Classical Conditioning for Behaviour

Banyak yang bilang kalau PDKT adalah nikmat sesungguhnya dari hubungan dua manusia. Hanya saat-saat PDKT lah rasanya sang pengharap cinta bisa ngerasain deg-degan menunggu balasan sms, takut-takut nelp si incaran, guling-guling gak jelas karena mikirin serangkaian kata-kata yang harus diucapkan, sampai lupa waktu hanya melototin hp menanti jawaban sms. Well,, setidaknya itu yang terjadi sama gw dulu ketika masih jadi anak baik-baik. Sekarang sensasi menyenangkan itu sudah bisa dibilang langka terjadi karena sudah berpuluh-puluh kali gw melakukan ritual PDKT ke klien-klien gw. Yang ada hanyalah perasaan biasa dan datar ketika mengetikkan “selamat siang” atau sekedar menanyakan “sudah makan blum??” Parahnya bahkan gw terkadang melakukan sapaan singkat berbau PDKT itu ke dua hingga tiga wanita sekaligus. Kalau lagi males bahkan gw cuma copas aja kalimat-kalimat singkat itu

Setelah kembalinya gw ke dunia playboy, semua terasa berbeda. Keraguan-keraguan ketika akan berkenalan dengan wanita kini hilang, minder dan ketakutan akan penolakan entah bagaimana berganti dengan percaya diri dan sikap santai yang alami. Seakan gw siap untuk menjadi seorang playboy yang sebenarnya. Dan itulah yang gw lakukan sekarang. Dengan keberuntungan yang sekali lagi entah dari mana mengikuti gw ketika gw memutuskan kembali lagi ke dunia ini. Kalau dulu gw mendapatkan sebagian besar jaringan klien hanya dari dancer-dancer di party, kini hanya dengan sediikit mengobrol di bus atau café, gw sudah mendapatkan no telp calon-calon klien potensial. Golden 5 adalah masa lalu. Gw banyak belajar dari serangkaian kegagalan kini saatnya level yang lebih tinggi. PDKT.

Tahapan ini biasanya dianggap sebagai bagian yang mudah dari proses mendapatkan klien tapi sebenarnya justru disinilah nasib seorang pria akan ditentukan. Apakah berakhir bahagia sebagai pasangan, gondok karena penolakan atau makan hati karena hanya dianggap teman. Gw sendiri harus diakui sebagian besar berakhir dengan penolakan tapi gw belajar dan akhirnya setelah melalui beberapa pertapaan dan perenungan bersama sahabat gw, terciptalah resep sakti ini.

Konsep utama dalam PDKT ialah classical conditioning for behavior*. Agak susah emang buat diartiin. Intinya masih sama dengan branding management. Konsep mudahnya ialah McD. Kita semua ingat dengan 14045 kan? Betul, 14045 adalah serangkaian angka untuk call center delivery service McD. Ketika kita mendengar 14045 pasti yang dibayangan kita ialah delivery service McD dan bukan delivery service HokBen atau KFC. Contoh lainnya adalah percobaan Pavlov yang terkenal, yaitu bel makan siang dan anjing. Percobaan tersebut menguji seekor anjing yang diberi makan siang dengan sebelumnya membunyikan bel terlebih dahulu. Setelah jangka waktu tertentu, anjing itu terbukti mengeluarkan air ludah dalam intensitas tertentu (pertanda dia kelaparan dan siap makan) hanya dengan membunyikan bel itu saja.

Kita manusia secara tidak sadar akan memprogram diri pada suatu kebiasaan, entah apa pun itu dan kita biasanya mengaitkan pada keadaan atau perlakuan yang menyertai kebiasaan itu seperti kita akan mulai tidur ketika udara sudah makin dingin dan langit sudah gelap atau kita akan minum ketika bangun tidur. Beberapa dari kita melakukan itu bukan karena kebutuhan tapi karena kebiasaan. Contoh paling actual ialah kebiasaan mencari HP ketika bangun tidur. Dimana pun kita tidur dan waktu kapanpun kita tidur. Kondisi psikologis itulah yang dimanfaatkan oleh praktisi advertising dalam branding produk mereka. Sadarkah kita kata-kata “Apapun makannya, minumnya Teh Botol Sosro” adalah classical conditioning for behavior yang sangat ampuh ? Kita secara tidak sadar diprogram setiap kali makan pasti mencari Teh Botol Sosro. Apapun makanan yang kita makan.

Playboy sebagai marketing untuk dirinya sendiri juga menggunakan konsep ini ketika PDKT. Cinta dalam konsep classical conditional for behavior adalah kondisi yang tidak diperkirakan sama sekali, kemudian berubah menjadi sesuatu yang terlatih dan akhirnya menjadi kebiasaan. Klien aka target diprogram untuk terbiasa dengan si playboy. Caranya banyak, ada yang menelpon terus menerus, sms setiap hari, jemput pulang sekolah, sampai paling ekstrem dateng tiap malem ke rumah. Yah, tidak semua cara itu berhasil karena proses programming itu sendiri bukan hal yang mudah, harus dilakukan dengan rapi dan tertata. Jika sembarangan akibatnya klien malah ilfil dan menjauh.

Ada 3 poin dalam melakukan classical conditioning for behavior. Pertama adalah posisikan dirimu sebagai solusi dari masalahnya. Jangan datang ke klien dengan tanpa maksud dan tanpa solusi bagi permasalahannya. Contohnya ialah jadi jam weker buat waktu bangun tidurnya. Setiap hari bangunkan dia atau ingatkan kalau sekarang sudah waktunya bangun dan kerja. Hubungi dia hanya dengan cara ini untuk permulaan. Buat target merasa jam wekernya seakrang sudah berganti dengan anda yang membangunkan tiap pagi. Ingatlah bahwa focus pada tujuan adalah hal paling penting. Jika kita melakukan terlalu banyak stimulus maka target akan bingung dan tidak bisa menangkap maksud utama proses pemrograman kita.

Poin kedua ialah ketika melakukan stimulus berupa solusi tersebut ikuti dengan tindakan atau keadaan yang khusus. Seakan-akan bahwa jika ada keadaan khusus tersebut maka akan ada solusi tertentu (ingat percobaan anjing dan bel Pavlov). Kalau mau membangunkan dia tiap pagi, lakukan pada jam tertentu dan dengan cara tertentu seperti dengan ucapan yang khas, nada yang riang atau kalimat yang unik. Ini untuk memprogram bawah sadar target terhadap solusi dan pendekatan yang kita berikan sehingga pada akhirnya secara tidak sadar target akan merespon jika salah satu stimulus itu diberikan (bangun pagi atau ucapan khas kita tepat jam 7 pagi)

Poin ketiga ialah lakukan terus menerus. Yup, karena tanpa perlakuan yang berulang dan konsisten cara ini hanya akan jadi stimulus yang tidak berguna. Konsep utama dari classical conditional for behavior ialah repetasi yang konsisten. Dua langkah sebelumnya adalah cara untuk mempersiapkan stimulus agar tepat sasaran dan efektif tapi perlakuan yang berulang dan konsisten sekali lagi adalah kuncinya. Witing tresno jalanar soko kulino. Peribahasa Jawa yang artinya cinta datang karena biasa bukan isapan jempol belaka. Semua akhirnya bergantung pada keteguhan dan kedisiplinan seorang playboy dalam menaklukkan kliennya.

Hasil akhir dari classical conditional for behavior ini ialah target akan terprogram terhadap stimulus yang kita berikan. Jika misalnya kita terbiasa membangunkan target untuk pergi kerja jam 7 pagi dengan telpon dan ucapan “Selamat pagi bu, waktu kerja sudah tiba. Ayo bangun dan siap-siap mandi ya..” maka target akan terbiasa dengan ucapan selamat pagi itu atau telpon kita setiap jam 7 pagi. Ketika klien sudah mulai terbiasa dan akrab dengan stimulus yang kita berikan maka lanjutkan dengan stimulus dan kebiasaan lainnya seperti ucapan pengingat makan siang dan ucapan selamat tidur. Dari sanalah akhirnya akan terbuka jalan bagi hubungan dan kesempatan lainnya.

Pada akhirnya semua berawal dari kenyamanan dan kepercayaan. Jika itu sudah didapat maka yang lainnya akan mengikuti. Seperti kata sahabat gw Yusa,

“karena cinta adalah sebuah habit yang menjadi behavior..”

Classical conditional for behaviour inspired from Consumer Behaviour by Peter Olsen (2010)


cerbung.net

Diary Playboy Wanna Be

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2013 Native Language: Indonesia
cerita ini kejadian nyata saat gw pertama kali tinggal di apartemen (well,, sekarang juga masih seh), tempat dimana gw mulai meng explor bakat terpendam gw. jadi playboy. tapi emang kayaknya gw gak begitu bakat jadi playboy karena kebanyakan maen hati ma cewe yang gw deketin. dan gw juga bukan playboy yang sukses (makanya judulnya diary playboy wanna be). ceritanya lebih berkisar soal gw yang berusaha deketin cewe hanya untuk bersenang-senang tapi sekaligus menjaga agar my real girlfriend tetap merasa cowonya adalah satu2nya bagi dia.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset