Diary Playboy Wanna Be episode 23

Chapter 23 : Angel Never Come for Free

Pernah denger judul diatas? Kalau kalian pecinta sejati Five for Fighting, pasti tahu kalimat itu. Salah satu judul lagu di album The Battle for Everything itu benar-benar menginspirasi gw sejak awal mula merintis karier playboy. Yup, angel never come for free. Mereka selalu datang dengan senyuman dan kesenangan tapi mereka juga menuntut banyak sebagai bayarannya. Tidak harus selalu materi, bisa juga berupa perhatian, waktu luang, kasih sayang dan kebutuhan dasar lainnya. Konsep ini yang sebenarnya banyak orang lupakan. Terlalu terlena dengan semua kesenangan hingga akhirnya harus bangkrut dan kehilangan semuanya.

Banyak temen-temen yang tahu kelakuan gw sebagai playboy selalu bilang kalau hidup gw tuh enak, dikelilingi cewe-cewe cantik, selalu bisa have fun, raja minyak dan sederet pujian lainnya. Disatu sisi, gw seneng dibilang kayak gitu tapi mereka yang bicara seperti itu gak tahu kalau banyak juga pengorbanan yang gw berikan. Jadi seorang playboy tuh gak semudah dan senikmat yang terlihat. Banyak hal yang harus dipersiapkan selain beberapa teknik yang sudah gw jelaskan di update sebelumnya. Pengorbanan adalah hal paling mendasar dari menjadi seorang playboy.

Contoh yang mudah adalah segi finansial. Kita coba hitung-hitungan deh. Asumsi kalau seorang playboy ketemu seorang cewe dan berencana bring her to bed. Mulai dari perkenalan hingga korban jatuh ke pelukan biasanya membutuhkan waktu setidaknya satu minggu alias tujuh hari. Dari tiap hari itu, seorang playboy rata-rata harus menelpon sehari 10 menit (ingat konsepclassical conditioning for behavior) maka minimal dia harus keluar pulsa Rp. 5.000 sehari. Satu minggu berarti butuh Rp.35.000. Dengan asumsi pula tuh target sudah mau diajak keluar buat jalan pas akhir minggu, berarti lo harus keluar uang untuk makan dan transport minimal Rp.100.000. Dengan asumsi juga, lo sangat jago sehingga bisa bring her to bed maka lo butuh minimal Rp.250.000 buat hotel dan konsumsinya. Kalau dijumlahkan, satu minggu itu seorang playboy butuh uang Rp.385.000 buat mendapatkan targetnya.

Atau mau cara paling mudah ? Dateng ke klub, kenalan, dan bring her to bed. Sama aja. Masuk ke klub minimal lo bayar first drink nya. Tarohlah lo beli minuman yang medium. Minimal Rp. 100.000. Trus lo kenalan ma cewe. Pasti traktir doi dong biar dia tertarik. Rp.100.000 lagi. Asumsi lagi, tuh cewe terpesona dengan lo dan dia mabok trus lo bawa ke hotel buat eksekusi. Another Rp. 250.000. Total lo harus siapin Rp.450.000 dalam satu malam. Rugi ? Jelas ! Dengan dana segitu, lo bisa dapetin 2 jam penuh kenikmatan dengan sangat mudah dan banyak pilihan. Tinggal datang ke lokalisasi terdekat dan pilih sendiri “hidangan” anda.

Itu kalau tujuannya buat bring her to bed. Kalau hanya untuk selingkuhan, hitung-hitungannya akan lebih berat. Lets say, lo butuh kasih sayang dan perhatian, maka budget telp gak bakal cukup segitu. Minimal 20 menit per hari. Artinya Rp. 10.000 per hari dan seminggu Rp.70.000. Jangan lupa kalau lo punya kewajiban ajak dia jalan pas malem minggu. Berarti siap uang Rp.100.000 lagi. Itu baru satu minggu. Kalau satu bulan? Rp. 680.000 ! Dan ingat, sebagai seorang playboy maka lo gak mungkin punya satu pasangan saja. Minimal 2 wanita. Silahkan hitung sendiri biaya yang harus dikeluarkan.

Memang hitung-hitungan kasar gw gak sepenuhnya bisa dijadikan patokan, tapi menurut pengalaman, biayanya gak bakal jauh-jauh dari perhitungan tersebut. Makanya sebagian besar playboy pasti punya finansial yang cukup baik. Gw sendiri ketika masih aktif dengan rata-rata 4 pasangan harus mengeluarkan hampir setengah gaji hanya untuk profesi ini. Dan perlu dicatat, bahwa tingkat kegagalannya juga tinggi. Sekitar 40% target, gagal gw dapatkan. Persentase itu juga berlaku buat sebagian besar playboy lainnya. Bahkan seorang Ian (masih ingat dia? ) ketika terakhir kali gw sodorkan nocan salah satu target yang sudah expired, malah menolak. Alasannya simple. High cost economy.

Para playboy kelas kakap yang gw kenal memang sebagian besar kuat dari segi finansial. Sebut saja bang Erwin. Bagi dia, uang Rp. 10 juta semalam bukan hal yang besar. Atau Pak Maja, teman pengusaha yang sengaja membeli apartemen elit di daerah Setiabudi hanya untuk tiap minggu bercinta dengan pacar gelapnya. Dan sesepuh-sesepuh di forum sebelah yang hampir tiap minggu eksekusi. Yah, untungnya gw berteman baik dengan mereka sehingga ada aliran dana segar yang masuk ke kantong gw sebagai jasa membantu mereka mendapatkan kesenangan

Tapi sekarang pertanyaannya apakah hanya uang yang jadi kerugian ketika lo sudah menjadi seorang playboy ? Ternyata bukan hanya itu. Tanpa disadari, ketika seorang playboy memutuskan untuk berhubungan dengan pacar, TTM, selingkuhan dan bentuk lain dari korban-korbannya, maka sesungguhnya dia juga menitipkan banyak hal disana. Bohong jika ada orang yang bilang kalau berhubungan dengan orang lain tanpa kerugian. Mungkin playboy itu bisa menjaga uangnya dari pengosongan sistematis oleh selingkuhannya, tapi dia tidak bisa melupakan kalau ada waktu, tenaga, kepercayaan, pengharapan akan kasih sayang dan cinta yang mungkin pada akhirnya akan disadari kalau itu semua harus dilimpahkan pada wanita-wanita yang tidak pantas menerimanya. Pada tahapan tertentu, seorang playboy akan mengalami tingkat kejenuhan terhadap semuanya. Wanita, kesenangan, kasih sayang dan dalam kasus paling parah adalah kepercayaan akan cinta yang sejati. Beberapa kali gw terlibat diskusi dengan kaskuser di thread ini soal cinta dan kepercayaan. Beberapa playboy yang track recordnya sudah sangat tidak diragukan ternyata hingga umur diatas kepala tiga masih juga belum berkomitmen a.k.a menikah. Sebagian besar alasannya karena mereka berharap ada wanita yang sesuai dengan impiannya. Selain itu juga argumen yang biasa dikeluarkan adalah kebebasan. Buat apa terikat kalau bisa mendapatkan kesenangan diluar dengan cara mudah ?

Well, that concept is not totally a wrong one. Ada benarnya bahwa pernikahan dan komitmen dengan pasangan akan memberikan pengekangan tapi ada hal-hal menarik lainnya yang tidak bisa dijelaskan ketika seorang playboy menjadi terkekang. Gw sendiri baru menyadari itu beberapa waktu ini. Itulah mengapa sebagian besar playboy selalu mempertahankan wanita utama mereka (pacar atau istri). Karena kami sadar bahwa wanita-wanita lain itu hanyalah outsider yang hanya akan datang pada saat-saat tertentu dan sewaktu-waktu akan hilang. Karena wanita-wanita itu bagaimanapun juga hanya seorang angel yang datang karena ada rangsangan dan jika rangsangan itu hilang maka hilang pulalah keberadaan mereka. Egois? Pastinya ! Tidak ada yang meragukan bahwa playboy adalah profesi bodoh yang membodohi orang lain dan dirinya sendiri.

Yah, semua ada timbal baliknya. Kalau mau enak maka siap-siap susah. Kalo gak mau susah ya jangan ngarep enak. As simple as it is. Profesi playboy, seperti gw selalu katakan adalah profesi dengan pengorbanan yang besar. Jika tidak dikendalikan maka bukan mustahil seorang playboy akan bangkrut. Bukan hanya dari segi finansial tapi juga kepercayaan akan hal paling hakiki dari manusia. Cinta.


cerbung.net

Diary Playboy Wanna Be

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2013 Native Language: Indonesia
cerita ini kejadian nyata saat gw pertama kali tinggal di apartemen (well,, sekarang juga masih seh), tempat dimana gw mulai meng explor bakat terpendam gw. jadi playboy. tapi emang kayaknya gw gak begitu bakat jadi playboy karena kebanyakan maen hati ma cewe yang gw deketin. dan gw juga bukan playboy yang sukses (makanya judulnya diary playboy wanna be). ceritanya lebih berkisar soal gw yang berusaha deketin cewe hanya untuk bersenang-senang tapi sekaligus menjaga agar my real girlfriend tetap merasa cowonya adalah satu2nya bagi dia.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset