Diary Playboy Wanna Be episode 24

Chapter 24 : They call it love, I call it misfortune

Cinta. Entah kenapa jika menyebutkan kata-kata itu gw seakan muak. Setelah sekian banyak petualangan gw sebagai playboy dan berpacaran secara serius, kata-kata itu seakan tidak bermakna. Mungkin karena pengaruh ketertutupan terhadap hubungan personal yang membuat gw seperti ini. Mungkin juga karena banyaknya cinta yang gw lemparkan ke orang-orang yang tidak pantas menerimanya hingga pada akhirnya cinta sendiri tidak bermakna apa-apa buat gw. Seperti yang gw katakan diakhir chapter sebelumnya. Bukan uang dan waktu saja yang dipertaruhkan oleh seorang playboy tapi kepercayaan akan cinta yang paling berharga. Dan sebenarnya hanya ada satu akhir dari itu semua. Uang habis, waktu terbuang dan kehangatan cinta yang semakin menghilang. At the end, it consume you to the bottom of line. The line they call it death.

Virly, sebut saja seperti itu. Nama yang menghiasi kehidupan bodoh gw sebagai playboy dengan cinta yang sebenarnya. Dia harus diakui adalah wanita tercantik yang pernah dekat dengan gw. Itu kata orang-orang sekeliling gw. Walaupun harus diakui Virly cantik karena polesan. Cantik karena dandanan dan kemampuan bersoleknya. Manis dengan riasan tipis meronanya. Mata besar efek contact lens. Dandanan trendy dan chick. She’s just perfect.. Tapi tanpa itu semua, dia hanyalah wanita biasa dengan penampakan yang tidak terlalu bisa dibanggakan. Tipe yang paling gw gak suka. Tapi justru itulah yang membuat gw sangat sayang padanya. Dia selalu datang ke gw dengan dandanan sederhana. Kadang asal-asalan. Kadang dengan muka penuh jerawat atau kulit menggelap akibat bermotor ria. Tidak ada pulasan make up yang merona atau rambut yang berombak. Lengkap dengan kacamata pengganti contact lens. Hanya wajah polos dan rambut yang sudah sedikit kasar akibat terlalu banyak pencatokan.

But as I said before. That things making me deeply in love with her. Karena semua dandanan itu dilakukan untuk pekerjaannya. Tuntutan penyanyi yang harus tampil menarik dan jadi santapan banyak mata. Seingat gw, hanya sekali Virly berdandan secara sangat menawan, yaitu pertama kali kami bertemu. Ketika acara outbond kantor dimana dia sebagai penyanyi. Hanya bagi gw dia memperlihatkan wujud aslinya. Gadis sederhana, murah senyum, mandiri, penuh kasih sayang, rela berkorban, dan keibuan. Keras sekaligus lembut. Dia yang selalu tertawa dalam tangisan, senyum tatkala sedih, hingga jadi tulang punggung keluarga. Tapi dilain sisi, tetap dengan masa muda yang terlambat hilang. Kata-kata khas ababil, pikiran pendek khas abg, suara yang centil, manja yang kadang berlebih hingga senyum yang terlalu banyak diumbar kesemua orang. Dan dengan semua sisi tersebut Virly sangat unik. Menarik sekaligus mengesalkan buat gw.

Saat pertama kami bertemu masih sangat gw ingat. Malam itu, diantara keriangan dan keriuhan acara outbond kantor, gw dengan autisme bodoh malah asyik makan sambil menggumankan lagu-lagu Jason Mraz di kepala. Bukan karena sengaja, tapi lagu yang dipilih malam itu memang kebanyakan bernada dangdut. Jelas bukan selera gw. Lagipula ada beberapa project yang menunggu untuk diselesaikan beberapa hari kedepan. Jadilah gw terlihat sedikit cool dihadapan dia. Well, honestlly I’m not that kind of person. I laugh a lot, do stupid things and some unmanner act. Tapi malam itu gw memang harus diakui sangat kalem karena kepala gw sibuk berpikir macam-macam. Dan sikap cool itulah yang menarik hat Virly hingga akhirnya dia pun memutuskan untuk mencari info tentang gw lebih lanjut.

Dan akhirnya setelah telp pertama, Virly pun tahu siapa dan bagaimana sikap gw sebenarnya. Berisik, banyak omong dan sangat tidak cool. Anehnya itu tidak membuat dia malas atau sejenisnya. Asal tahu saja sebagian besar target, gagal gw dapatkan karena tidak bisa menjaga topeng cool. Wanita cenderung suka pada kemisteriusan. Makanya Edward Cullen digilai para wanita. Tentu saja karena sikap dia yang sangat romantis, misterius dan pastinya cool. Dari awal gw memang tidak berniat untuk memakai topeng apapun di hadapan Virly. Hanya kenyataan bahwa gw playboy yang gw sembunyikan.

Akhirnya kita pun jadian. Jika kalian ingat, gw pernah bercerita tentang Dinda, mantan gw, yang menelpon Virly dan mengatakan hal-hal buruk tentang gw. Dan seperti kalian tahu, Virly malah membela gw dan menahan untuk marah-marah selayaknya wanita lain. Dia malah bersabar dan memberi gw support. Setelah gw menceritakan yang sebenarnya pun dia tetap mau menerima gw dengan segala kekurangan. Kejadian malam itu sangat berbekas di hati. Setelah gw menceritakan semua hal yang terjadi antara gw dan Dinda, Virly sangat kecewa. Gw cukup sadar diri kalau Virly memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami. Di perjalanan pulang Virly yang gw bonceng cuma diam tanpa memeluk gw seperti biasanya.

“Maaf buat semuanya ya. Aku terima kalau kamu gak mau lagi melanjutkan hubungan ini” kata gw dengan suara lemas
“Aku tahu kamu kecewa, aku tahu kamu gak suka dengan semua kenyataan ini. Dan aku harap kamu bisa dapetin yang lebih baik dari aku.” lanjut gw lagi dengan semangat yang makin melemah.
“Kamu apaan she ngomong gitu. Kok jadi kamu yang mau minta putus? Aku aja blom ngambil keputusan apa-apa” Jawab Virly
“Yah abis mau gimana lagi. Cewek mana sih yang bisa terima dengan kenyataan yang tadi. Seharusnya kamu kan kecewa dan gak mau ngelanjutin hubungan ini lagi” jawab gw lagi
“Aku kecewa sama kamu. Pastilah. Apalagi kamu gak jujur sama aku. Tapi bukan berarti aku nyerah sama kamu kan?” jawab Virly tegas
“Tapi kan..” jawab gw dengan nada lemas
“Kok jadi kamu yang minta putus ? Aku masih sayang sama kamu. Lagian kamu udah cerita semua. Itu semua masalah kamu sama mantan kamu. Gak ada urusannya ma aku. Jangan kehilangan semangat gitu donk. Kamu mau aku putusin beneran?” Kali ini Virly menjawab dengan nada sedikit emosi. Gw cuma diam.
“Makasih ya” Cuma jawaban singkat itu. Entah kenapa hati gw masih belum tenang aja. Virly yang tahu hal itu pun memeluk gw dari belakang dengan erat.
“Aku sayang kamu dan itu udah cukup buat aku untuk ngelanjutin hubungan kita.” katanya lembut. Dan gw perlahan merasa sangat tenang.

Malam itu sekali lagi akhirnya gw percaya pada cinta sejati. Setelah malam itu pun gw bertekad untuk berhenti jadi playboy. Virly sudah terlalu banyak bagi gw dan akan sangat menyakitkan bagi dia kalau sampai tahu kelakuan asli gw. Setinggi-tingginya tupai meloncat pasti jatuh juga. Frasa yang entah sudah berapa kali gw rasakan. Maka seperti kalian tahu, gw pun berhenti jadi playboy untuk sementara. Yah, sementara. Sayangnya faktor jarak, kebutuhan gw terhadap sentuhan dan keadaan memaksa gw kembali menjadi playboy. Saat itu gw merasa sangat bersalah pada Virly. Sempat gw berfikir untuk mengakhiri hubungan kami atau paling tidak berusaha menjauh dari dia. Perlahan gw mulai jarang menelpon atau sekedar memberi kabar. Bahkan dulu ketika Virly ada job hingga malam gw akan menungguinya hingga pulang. Perih rasanya seperti ini. Gw gak bisa ada buat dia kala dia butuhkan tapi menurut gw ini cara paling tidak sakit untuk mengakhiri hubungan. Biar Virly sendiri yang memutuskan kalau gw tidak pantas buat dia. Perubahan sikap gw akhirnya membuat Virly bertanya dengan sangat lembut. Ya, bertanya bukan marah-marah atau ngambek selayaknya wanita biasa.

“Kamu sibuk banget ya? Kerjaan kantor lagi numpuk?” tanya dia ketika kami makan
“Err,, iya neh. Ada project yang harus selesai” padahal saat itu gw sedang gak ada kerjaan sama sekali. Project sudah di deliver ke orang lapangan.
“Ya udah, jaga kesehatan ya. Jangan sampe sakit. Ntar susah aku ngerawatnya. Jauh hehehe” jawab dia dengan senyum manisnya.

Gw cuma tercenung. Diantara kebutuhannya terhadap kasih sayang dan perhatian dia masih mendahulukan gw sebagai pacarnya. Sikap yang sangat jarang ditemui.

Sejak saat itulah niat untuk putus pun gw hilangkan jauh-jauh. Solusi satu-satunya bagi masalah ini ialah mengubah perasaan bersalah itu menjadi perasaan yang biasa-biasa saja. Karena keadaaan dan kebutuhan gw sangat mendukung untuk menjadi playboy. Jadi caranya hanyalah menjadikan semua seakan akan biasa saja. Karena gw pasti akan kembali lagi seperti dulu jika hanya mengandalkan diri sendiri untuk keluar dari lubang neraka ini. Hingga akhirnya gw pun berhasil. Perasaan bersalah itu pun perlahan menghilang dan semua menjadi biasa saja. Pada saat itu gw udah gak tahu lagi apakah gw masih bisa dikatakan mencintai Virly atau tidak. Yang gw tahu ialah gw masih sayang sama dia dan butuh dia. Dilain pihak gw juga membagi cinta-cinta gw yang lain untuk TTM dan selingkuhan. Kind funny, disgusting and pathetic at same time, right?


cerbung.net

Diary Playboy Wanna Be

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2013 Native Language: Indonesia
cerita ini kejadian nyata saat gw pertama kali tinggal di apartemen (well,, sekarang juga masih seh), tempat dimana gw mulai meng explor bakat terpendam gw. jadi playboy. tapi emang kayaknya gw gak begitu bakat jadi playboy karena kebanyakan maen hati ma cewe yang gw deketin. dan gw juga bukan playboy yang sukses (makanya judulnya diary playboy wanna be). ceritanya lebih berkisar soal gw yang berusaha deketin cewe hanya untuk bersenang-senang tapi sekaligus menjaga agar my real girlfriend tetap merasa cowonya adalah satu2nya bagi dia.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset