Diary Playboy Wanna Be episode 25

Chapter 25 : When logic falls

Everything is ok with Virly. Terlepas dari gw yang emang masih berhubungan dengan beberapa TTM, hubungan gw dengan Virly hampir tidak ada masalah. Intensitas hubungan pun makin meningkat. Tiap hari gw pasti BBM atau telp Virly. Pertemuan masih tetap sebulan sekali tapi waktu di Bandung gw usahakan lebih lama. Yah, tidak ada masalah yang berarti antara kami berdua. Gw bisa menerima pekerjaan Virly sebagai entertainer dan Virly pun percaya dengan gw sepenuhnya tanpa banyak menuntut. Keseimbangan itu yang membuat hubungan kami tidak menemui halangan berarti walau kami berdua datang dari background yang sangat berbeda. Virly dengan pekerjaan sebagai penyanyi yang cenderung bebas dan tidak teratur sedangkan gw dengan terstrukturnya pekerjaan profesional. Belum lagi background keluarga dan pendidikan yang cukup jauh antara kami berdua.

Salah seorang atasan yang cukup dekat dan tahu tentang hubungan kami, sempat berkata satu hal.
“Gw cuma nunggu saatnya aja lo dateng ke meja gw dan ngomong soal putusnya kalian berdua” kata atasan siang itu
“Maksud lo pak? Tega amat lo ma gw doain yang gak baik. Gw sayang banget sama dia dan gw mau serius ma dia” jawab gw agak tersinggung
“Lo tuh masih bocah ! Emang lo kira dengan sayang dan niat serius lo bakal bisa hidup ma dia? Lo sadar gak klo kalian berdua itu berbeda ? Lo itu professional dan dia penyanyi. Lo lagi ngambil S2, dia S1 aja baru mulai. Keluarga lo apalagi. Emang yakin nyokap bokap bakal setuju?” cecar dia

Akhirnya gw cuma diem dengan perkataan atasan itu. Walau mau menolak, logika gw tetap jalan. Semua yang dikatakan atasan memang masuk akal. Selama ini, permasalahan itu yang bikin gw kepikiran. Jujur aja, nyokap gak tahu hubungan gw dengan penyanyi itu. Ketika Dinda membocorkan masalah Virly, nyokap marah besar. Dia gak terima dengan pilihan gw. Saat itu gw yang memang gelap mata pun ribut dengan nyokap. Seminggu lamanya kami tidak bertegur sapa. Dan akhirnya gw memang merahasiakan hubungan kami berdua. Salam Virly buat Mama tidak pernah sampai.

Tapi sampai saat itu gw masih membesarkan hati. Selalu ada jalan untuk semua hal. Toh, adek cewe gw pun bisa meruntuhkan hati Mama dengan mencoba mengenalkan calonnya secara perlahan. Harusnya gw yang anak cowo dan berhak atas segala sesuatu keputusan atas diri sendiri juga bisa dan berhak atas keputusan gw.

Percakapan dengan atasan itu pun gw simpan erat-erat dihati kecil dan gw biarkan mengendap. Gw sayang dan nyaman sama Virly. Alasan seperti itu seharusnya bisa gw atasi jika waktunya tiba. Keyakinan gw makin bertambah dengan rasa sayang dan sikap Virly terhadap hubungan kami. Hingga saatnya tiba, terkuak lagi lah masalah itu. Setelah 7 bulan berjalan dan semua tampak baik-baik saja, masalah pertama dan terakhir pun datang.

Semua bermula dari kedatangan Virly ke Jakarta untuk berangkat show di Bali. Gw menjemput dia di Pancoran dan kita pun makan malam di sebuah kedai sederhana di tepi jalan. Rencananya Virly akan dijemput oleh owner salah satu manajemen artis untuk kemudian menginap bersama artis lainnya dan berangkat ke Bali.

“Yang, kamu telp deh Om Rudi itu. Biar kamu gak kemaleman dijemputnya” kata gw ketika kami selesai dengan makan malam
“Iya, aku udah BBM. Katanya dia lagi jalan kesini.” jawab Virly
“Bagus deh. Emang dia tinggal di mana?”
“Deket katanya. 5 menit sampai kok”
“Jemput pake apa? Trus nginep dimana?” tanya gw lagi
“Pake taxi. Nanti mau nginep di hotel aja”
“Taxi? Kenapa gak dijemput pake mobil pribadi? Kok nginep di hotel sih? Kenapa gak di rumahnya aja?” gw mulai curiga
“Biasanya juga gitu kok. Di hotelnya juga udah ada temen-temen artis yang lain” kata Virly santai
“Tapi kan..” Kata-kata gw harus terpotong dengan kedatangan Om Rudi, sang artis management. Virly terlihat sangat senang dengan kedatangannya. Terlampau senang menurut gw.

“Hallo om. Lama gak ketemu ya” sapanya dengan muka berseri seri. Virly pun terlibat percakapan singkat sampai dia sadar kalau ada gw disitu.
“Eh iya om, ni kenalin. Fajar.” kata Virly. Gw agak gak nyaman ketika menyambut tangannya tapi gw paksakan tersenyum. Om Rudi membalas dengan senyum singkat. Senyum yang sangat gw kenal. Senyum palsu dan standar. Dia lalu berkata
“Yuk langsung jalan. Udah makannya kan?” Virly pun dengan cepat mengiyakan dan mengucapkan selamat tinggal singkat buat gw. Dengan riangnya Virly masuk taxi dan melaju meninggalkan gw yang termangu sendirian.

Butuh waktu cukup lama untuk mencerna semuanya sampai gw tahu ada yang salah dengan ini semua. Perasaan gundah, takut, khawatir, dan marah bercampur aduk. Sikap Virly yang terlalu senang, cara dia mengenalkan gw hanya dengan nama tanpa menyebut sebagai pacar, penjemputan dengan taxi, sikap datar Om Rudi dan hotel ! Ya hotel ! Skenario terburuk pun mulai bermain-main di kepala. Tapi saat itu gw masih positif thingking dengan semuanya. Mungkin Virly memang sudah lama tak bertemu, mungkin mereka memang diburu waktu, mungkin Om Rudi sedang banyak pikiran dan mungkin mungkin lainnya. Dengan cepat gw hapus semua pikiran buruk. Virly pasti punya alasan untuk ini semua.

Ketika sampai di apartemen, gw menelpon Virly untuk menanyakan keadaan. Jawaban yang didapatkan cukup mengejutkan

“Kok kamu masih di jalan? Katanya mau ke hotel?” tanya gw penasaran
“Iya, tadi mampir dulu di tempat makan. Om Rudi belum makan katanya. Ya aku nemenin dia makan. Sekarang lagi nyari hotel. Semua hotel penuh.” jawab Virly
“Penuh? Emang gak di booking dulu? Katanya temen-temen artis yang lain nginep di hotel juga?” tanya gw lagi.
“Iya, temen-temen yang lain di hotel yang lain. Aku nanti satu hotel sama Om Rudi. Biar dia yang nemenin katanya.”
“Satu hotel?? gak salah kamu? Kenapa gak di apartemen ku aja? Ada 2 kamar kosong disini.” Tensi gw mulai naik
“Gak enak atuh yang. Masa di apartemen kamu ? Lagian kan besok mau berangkat langsung ke bandara. Ribet ah.” jawab Virly lagi
“Kok gitu sih? Ini udah malem tau. Dan kamu masih cari hotel sama Om Rudi? Kamu yang bener aja !”
“Udah tenang aja, kita udah biasa kok kayak gini. Kamu istirahat sana. Gak enak neh aku telp mulu. Untung Om Rudi lagi ke Circle K buat beliin aku obat masuk angin. Udah ya. Tuh Om Rudinya dateng. Bye sayang” sambungan pun terputus sepihak. Sekejap amarah naik ke ubun ubun. Maksudnya apa ini??!! Hotel malem hari, jemput pake taxi, satu hotel berdua, makan malam, dan itu semua sudah biasa ??!! Gila apa !!

Semua kenyataan dan sikap Virly membuat gw marah dan muak. Gw yang akrab dengan kehidupan malam langsung sadar apa maksud dari semua ini. Kelakuan Om Rudi itu gak jauh dengan kelakuan Bang Erwin dan koleganya. Dua jam lamanya gw ngamuk-ngamuk sendiri di apartemen. Semua skenario terburuk bermain main di kepala. Semua bukti, kenyataan dan sikap menjadi enhancher yang sukses bagi otak logis ini. Tapi akhirnya gw pun meredam semua. Virly pergi untuk kerja. Dan dia butuh pekerjaan ini bagi keluarga dan kuliahnya. Seharusnya gw lebih percaya sama dia. Mungkin itu semua bukan seperti yang dibayangkan dan akhirnya gw pun terlelap dengan hati yang dipaksakan tenang.

Ternyata malam itu bukan kenyataan pahit terakhir yang harus gw telan. Setelah beberapa hari di Bali gw menemukan bahwa Virly bukanlah pergi untuk kerja. Dia pergi untuk jalan-jalan. Katanya dia juga baru tahu kalau itu bukan kerja ketika sampai di Bali. Mereka lebih banyak plesir ke tempat-tempat eksotis. Sepanjang perjalanan pun Virly lebih banyak semobil berdua dengan Om Rudi. Ketika gw tanya kenapa seperti itu, Virly menjawab artis lainnya lebih suka jalan sendiri-sendir. Om Rudi lebih memilih menemani Virly dengan alasan dia satu-satunya artis dari Bandung dan tidak ada teman.

Some how I can’t accept this. Mana mungkin agenda kerja jadi berubah liburan hanya dalam sekejap?? Bagaimana mungkin ibunya Virly mengizinkan anaknya pergi jauh dengan Om Rudi? Kenapa mereka harus se mobil dan se hotel? Banyak sekali pertanyaan yang mengundang tanya dan tidak masuk akal bagi gw. Sayangnya jawaban Virly juga tidak bisa memuaskan. Semua sumir dan tidak masuk akal. Bagi gw yang mementingkan logika semua kenyataan ini hanya berujung pada kesimpulan yang gw sendiri tidak mau mengakuinya.

“Kok kamu jadi gak percaya gitu sama aku? Ke Bali itu cuma liburan kok. Kamu malah buat liburan ku jadi gak enak. Aku juga gak enak sama Om Rudi kamu nelpon terus. Kayak ngapain aja seh” jawab Virly ketika gw nanya soal Bali untuk kesekian kalinya
“Aku kan cuma minta penjelasan yang. Kamu juga perhatiin perasaan ku dong.” bela gw
“Kan aku dah jelasin. Om Rudi itu udah kuanggap ayah sendiri. Kamu tahu kan papa cerai sama mama pas aku kecil. Om Rudi tuh udah kenal lama ma keluarga. Mama juga ngizinin kok klo aku kemana-mana sama Om Rudi. Aku kenal dia lebih lama dari kamu” jawab Virly dengan nada setengah marah
“Tapi..”
“Lagian kok bisa-bisanya kamu mikir kayak gitu. Pikiran seseorang itu mencerminkan diri sendiri loh. Jangan-jangan malah kamu yang kayak gitu ?” Gw gak bisa ngomong apa-apa lagi.

Apa yang dikatakan Virly benar. Justru karena gw tahu semua tentang dunia malam makanya gw bisa berfikiran negatif. Akhirnya gw memilih tidak mengungkit-ungkit masalah itu. Cukuplah gw anggap masalah ini selesai. Gw hanya cukup percaya dengan Virly daripada semua kenyataan. Logika untuk pertama kalinya disingkirkan dari otak. Gw sayang Virly. Cukuplah alasan itu buat mempertahankan hubungan ini.


cerbung.net

Diary Playboy Wanna Be

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2013 Native Language: Indonesia
cerita ini kejadian nyata saat gw pertama kali tinggal di apartemen (well,, sekarang juga masih seh), tempat dimana gw mulai meng explor bakat terpendam gw. jadi playboy. tapi emang kayaknya gw gak begitu bakat jadi playboy karena kebanyakan maen hati ma cewe yang gw deketin. dan gw juga bukan playboy yang sukses (makanya judulnya diary playboy wanna be). ceritanya lebih berkisar soal gw yang berusaha deketin cewe hanya untuk bersenang-senang tapi sekaligus menjaga agar my real girlfriend tetap merasa cowonya adalah satu2nya bagi dia.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset