Diary Playboy Wanna Be episode 6

Chapter 6 : Karena Cinta adalah Kebodohan

Malam itu, kami ditemani oleh beberapa strip dancer. Sebut saja Viona dan Icha. Dua dara manis yang jadi tontonan utama. Dari sekian banyak dancer dan LC, gw kebagian ditemani oleh Viona. Secara fisik Viona tidak begitu tertarik pada dia, bukan tipe gw sebenarnya. Kulit yang sawo matang dan tubuh yang tidak terlalu tinggi menjadi alasan. Tapi yang membuat gw tertarik ialah statusnya. Viona adalah leader dari dancer-dancer kami. Mami istilahnya. Cukup mengejutkan mengingat umurnya yang baru 18 tahun. Acara kali ini pun seharusnya dia tidak ikut menari. Viona lebih banyak berperan sebagai mami yang menyalurkan dancer-dancer. Bisa untuk private dancer seperti malam ini atau hanya sebatas sexy dancer biasa. Jangan tanya soal jaringannya. Dia bercerita banyak soal kemampuannya menyediakan dancer terbaik di penjuru Indonesia

“Meskipun kyak gini, gw itu mami dancer dari Happy Dancer Organizer. Lo boleh tanya semua kota besar di Indonesia. Mereka pasti kenal ma gw.” Seru dia di tengah bisingnya music disko.
“wiiw,, berarti lo sering keluar kota donk?” Tanya gw
“iyalah. Tadi aja gw baru balik dari Pekanbaru. Besok pagi gw berangkat ke Balikpapan. Anak-anak sih udah pada disana. Maminya aja yang masih nyari recehan disini.” Dia menjawab sambil tertawa kecil.

Bukan hanya itu saja, cara dia berbicara dan bersikap menunjukkan kedewasaan sesungguhnya. Dia yang tetap menjaga anak buahnya untuk tetap sadar, dia yang mengatur ritme tarian agar kami tidak terlalu cepat puas, dia yang menolak dengan halus tawaran inex karena tahu besok harus siap menari di tempat lain serta tegukan demi tegukan alcohol yang dilakukan untuk menemani kami malam itu walaupun berarti kemungkinan tidak sadar di sisa malam itu. Professionalisme yang dijaga tanpa harus membuat pelanggan kecewa.

Jujur gw kaget. Di dunia yang abu-abu seperti ini, ternyata profesionalisme dan harga diri masih berarti. Viona tidak mau ML dengan sembarang orang. Bahkan jika harga yang ditawarkan cukup tinggi.

“Gw dah menjual keperawanan gw seharga 10 juta. Dan itu adalah salah satu hal bodoh yang pernah gw lakukan” curhat dia di taksi dalam perjalanan pulang kami
“Nah, kan dah tanggung tuh. Kenapa gak sekalian aja?” selidik gw
“Gw menyesal karena saat penting itu gw lewati dengan tidak nikmat. Adanya sakit doang. Gw mau berhubungan ma cowo yang bisa buat gw nyaman. Lagian kalo uang segitu, gw bisa dapet dengan nari 2-3 kali”

Entah benar apa tidak perkataan Viona malam itu. Dia sudah cukup mabuk hingga harus dipapah ke taksi. Tapi terlepas dari itu semua, gw kagum dengan semangatnya. Dia melakukan pekerjaan ini karena orang tuanya sangat membutuhkan. Bapaknya sudah lama meninggal dan ibunya tidak punya keahlian apa-apa. Alasan klise yang belum tentu dapat dipercaya. Sikap gw malam itu pun cukup baik dibandingkan teman-teman gw. Herman sudah larut dengan dancer yang menari di atas pahanya, bang Erwin memeluk dua LC sekaligus, teman-teman kami pun sudah tak karuan bentuknya. Gw dan Viona hanya berciuman sesekali. Kami lebih banyak berpelukan dan bertukar cerita. Viona pun tampak sangat nyaman di pelukan gw sedangkan gw juga tidak terlalu terbawa nafsu untuk menggerayangi tubuhnya. Kedewasaan Viona seolah menghilangkan sejuta rencana cabul yang gw susun sebelum berangkat.

Tapi cinta memang adalah sebuah kebodohan yang datangnya selalu tiba-tiba. Yup, entah bagaimana caranya, kekaguman itu mulai berubah jadi rasa sayang. Setelah mengantarnya pulang, kami bertukar no HP. Untungnya dia pun cukup tertarik dengan gw. Setelah malam itu, hanya butuh 3 hari bagi gw dan Viona untuk menjalin hubungan sebagai pasangan. Entah kenapa gw mau berhubungan dengan Viona. Gw yang cuma pegawai biasa ini tentu tidak mampu mengikuti gaya hidupnya yang sangat hedon itu. Belum lagi pekerjaannya yang memang tidak biasa. Ditambah keberadaan dia yang sangat susah ditebak. Hari ini di Pontianak, besok di Medan, Minggu depan di Balikpapan dan puluhan kota lainnya. Tapi cinta memang kebodohan yang tidak pernah bisa kita tolak.


Diary Playboy Wanna Be

Diary Playboy Wanna Be

Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2013 Native Language: Indonesia
cerita ini kejadian nyata saat gw pertama kali tinggal di apartemen (well,, sekarang juga masih seh), tempat dimana gw mulai meng explor bakat terpendam gw. jadi playboy. tapi emang kayaknya gw gak begitu bakat jadi playboy karena kebanyakan maen hati ma cewe yang gw deketin. dan gw juga bukan playboy yang sukses (makanya judulnya diary playboy wanna be). ceritanya lebih berkisar soal gw yang berusaha deketin cewe hanya untuk bersenang-senang tapi sekaligus menjaga agar my real girlfriend tetap merasa cowonya adalah satu2nya bagi dia.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset