Diary Playboy Wanna Be episode 8

Chapter 8 : Secret and Branding Management

Sejak awal, gw sudah memposisikan diri gw sebagai pria baik-baik. Khususnya pada orang-orang yang terlibat dengan gw secara intens dan dalam kerangka professional seperti pacar, selingkuhan dan sejenisnya, rekan kerja, klien, teman kuliah di S1, dan pastinya keluarga. Hanya pada beberapa orang gw menunjukkan identitas yang sebenarnya. Terhitung hanya beberapa orang yang tahu kelakuan gw. Itu pun tidak sepenuhnya.

Orang yang merasa mengenal gw sepenuhnya sesungguhnya cuma mengenal salah satu topeng yang gw pakai. Contohnya, Yoga, salah satu sahabat karib dari kuliah di IPB. Yoga tahu kelakuan gw yang liar dengan mantan gw. Dia tahu apa saja yang kami lakukan karena beberapa kali gw curhat tentang susahnya memutuskan mantan. Tapi Yoga tidak tahu kalau gw disaat bersamaan juga sudah dekat dengan wanita lain dan terlibat beberapa affair nakal. Atau sebut saja Yusa, seorang sahabat dari kelas magister kami. Kami kerap kali terlibat beberapa pembicaraan serius dan rahasia terkait jati diri masing-masing. Yusa pun tahu kenyataan bahwa gw beberapa kali terlibat adu ranjang dengan beberapa wanita. Tapi hanya sebatas itu yang dia tahu. Kenyataan bahwa lebih banyak lagi wanita yang menemani hidup gw selama di apartemen tetap menjadi rahasia (setidaknya sampai Yusa membaca tulisan ini).

Rahasia. Yup, itu adalah kunci dari semua keberhasilan rencana dan akal bulus playboy. Tapi gw memang tidak ditakdirkan sebagai playboy sejati. Selain karena kebiasaan main hati, gw juga bukan pribadi yang mahir dalam menyimpan rahasia. Cerita ini pun salah satunya. Kalau gw cukup pintar, seharusnya gw membuang jauh-jauh niatan menulis cerita ini. Tapi dorongan untuk show off memang tidak bisa hilang dari diri gw heheheh. Maka, cara yang gw lakukan untuk meminimalisir dampak akibat kebocoran informasi ialah mengatur pada pihak mana gw akan bercerita. Misalnya gw menceritakan ke Yusa tentang bejatnya hidup gw di apartemen tapi gw mengatur agar Yusa tidak berhubungan intens dengan Yoga yang juga memegang rahasia gw. Mudahnya ialah kita bayangkan rahasia adalah kepingan puzzle yang tiap kepingnya kita pisahkan sejauh mungkin sehingga walaupun sehebat apapun orangnya, dia tidak akan pernah bisa melihat gambaran akhir dari puzzle itu. Dan pada akhirnya, siapa gw dan bagaimana gw menjalani hidup, tidak ada yang benar-benar mengetahui kecuali gw sendiri dan Tuhan.

Back to topic, gw sedari awal memperkenalkan diri sebagai seorang karyawan biasa dari sebuah perusahaan yang juga biasa-biasa pula kepada Viona. Kesan cabul, nafsu, dan mata keranjang gw buang jauh jauh. Malam itu, ketika Herman menikmati tarian Icha diatas perutnya dan Bang Erwin asyik berjoget dengan memeluk dua orang LC, gw dengan jantan memeluk Viona lembut. Tanpa paksaan. Kami terlibat pembicaraan santai seputar kehidupan kami masing-masing. Viona dengan kebiasaan minumnya yang parah tapi tanpa rokok dan inex serta gw dengan rokok yang mulai parah, dan pengalaman pertama mengikuti party semacam ini. Ketika suasana makin malam dan giliran Viona dan Icha menari, gw tidak terlalu antusis, karena memang tidak terlalu menarik. Kondisi saat itu gw belum terbiasa minum alcohol sehingga praktis dalam keadaan sadar, ruangan yang gelap dan music yang menghentak terlalu keras adalah siksaan.

Wanita memang butuh diperhatikan. Viona sadar kalau gw terlihat tidak nyaman, bahkan ketika dia menari nari dengan buah dada yang menantang di depan kepala gw. Awalnya memang seru, tapi lama kelamaan gw capek sendiri. Maka ketika dia memamerkan badannya, gw hanya tersenyum simpul sekaligus menyodorkannya segelas Martel. Setelah sesi menari itu selesai, gw masih menikmati cola sambil menghisap rokok. Viona yang selesai berganti pakaian mendekat,

“Kamu kenapa? Kok diem aja? Capek ato dah mabok?”
“Mabok? Minum aja gak. Gak biasa minum gw” jawab gw sambil tersenyum simpul
“Bohong banget. Orang kayak lo mah gak mungkin gak biasa minum. Tampang kayak lo mah langganan clubbing” ejek dia sembari menyender di kepala gw
“Beneran sayang,, coba nih minum” jawab gw lembut sembari menyodorkan gelas
“Iya, cola” Viona tersenyum simpul dan tiba tiba bangun dari pundak gw
“Berarti kamu dari tadi nyuruh aku minum tapi kamu sendiri gak minum?? Ihh jahat” Viona memukul pundak gw pelan. Nada suaranya manja
“Hehe” gw cuma tersenyum kecil dan menarik kepalanya tidur di dada gw.

Cukup lama kami berdiam dalam posisi itu. Hentakan music masih kencang. Malam makin menggila.

“Kamu kok tadi gak antusias gitu seh. Tarian ku gak bagus ya?” tanya Viona
“Gak kok, kamu bagus narinya. Seksi pula” hibur gw.
“Kok kamu diem aja. Gak pegang-pegang kayak yang laen?” kejarnya sembari melihat mata gw
“Karena aku tahu kamu tuh special” tangan gw mengelus pipinya.

Viona tersenyum malu. Saat itu gw tidak mensia-siakan kesempatan. Dagunya gw pegang perlahan dan kami pun berciuman lembut. Sebentar saja lalu Viona pun kembali menyenderkan kepalanya.

Maka, menit-menit selanjutnya gw dan Viona mulai terlibat pembicaraan tentang kehidupan masing-masing. Saat itu lah gw mengeluarkan satu lagi topeng kebaikan. Profiling yang gw pilih kali ini adalah anak baik-baik, rumahan, kuper, gak pernah clubbing, gak pernah minum, bergaji standar, baru hidup di Jakarta, cuma pernah pacaran beberapa kali dengan durasi hubungan yang awet dan sederet profil lainnya. Alasan pemilihan profil tersebut ialah karena cowo baik-baik umumnya akan memberikan kenyamanan yang lebih bagi cewek gak jelas seperti Viona, begitupun sebaliknya. Pendapatan yang standar gw pilih karena Viona sendiri adalah seorang mami yang sudah berkecukupan. Yang dibutuhkannya hanya cinta dan perhatian. Semua profil tersebut dibungkus dengan pengalaman pacaran yang sedikit (menandakan gw setia) dan durasi hubungan yang lama (berarti gw tipe setia). Maka berdirilah didepan Viona seorang cowo idamannya.

And like I said before. If u made the bait good enough, they’ll catch the bait immedietly. Without hesitate.


cerbung.net

Diary Playboy Wanna Be

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2013 Native Language: Indonesia
cerita ini kejadian nyata saat gw pertama kali tinggal di apartemen (well,, sekarang juga masih seh), tempat dimana gw mulai meng explor bakat terpendam gw. jadi playboy. tapi emang kayaknya gw gak begitu bakat jadi playboy karena kebanyakan maen hati ma cewe yang gw deketin. dan gw juga bukan playboy yang sukses (makanya judulnya diary playboy wanna be). ceritanya lebih berkisar soal gw yang berusaha deketin cewe hanya untuk bersenang-senang tapi sekaligus menjaga agar my real girlfriend tetap merasa cowonya adalah satu2nya bagi dia.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset