Diary Playboy Wanna Be episode 9

Chapter 9 : Its All About Heart

Kesalahan utama seorang playboy adalah menggunakan hati dalam berhubungan dengan “klien” nya. Ini kesalahan paling fatal. Gak usah gw sebutkan alasannya. Hubungan antara dua manusia sejatinya adalah suatu interaksi antara dua insan yang memiliki hati dan perasaan. Bentuknya bisa bermacam-macam, dilihat dari tingkat kedekatannya. Bisa berupa kepercayaan, keikhlasan berkorban, bahkan dalam taraf yang paling tinggi, memberikan sesuatu yang paling berharga, seperti kehormatan.

Karena manusia adalah mahluk yang memiliki hati, maka cara untuk menaklukkan hati sesama manusia adalah dengan menundukkan pula hati sang penakluk. Tidak ada cara lain selain itu. Playboy pun harus melakukan itu. Bedanya dengan orang biasa, adalah jika orang biasa menaklukkan hati pujaannya dengan cara menunjukkan hati yang tulus dan bersih maka yang dilakukan oleh playboy sejati adalah menunjukkan seakan akan hatinya tulus dan bersih. Hasilnya sama, hati pujaan yang tersentuh oleh ketulusan dan kebersihan hati si orang baik dan playboy akan tunduk dan jika semua mulus, hubungan akan tetap berlanjut seperti biasanya.

Maka, kemampuan manipulasi hati dan perasaan adalah syarat utama playboy sejati. Alasan kenapa cerita stensilan ini diberi judul Diary Playboy Wanna Be ialah karena gw sampai kapan pun tidak bisa untuk tidak main hati dan perasaan dengan seorang perempuan. Gw mungkin jahat dengan men-entah berapa puluh-kan pacar dan wanita disekeliling gw. Tapi gw tetap tidak bisa menafikan bahwa gw sayang dengan mereka semua. Gw gak akan pernah bisa membiarkan mereka sedih, kecewa, tertekan, depresi dan perasaan negative lainnya. Maka gw pun berusaha untuk menciptakan keadaan dimana “klien-klien” gw tidak terlukai hatinya. Gw gak tahu dengan playboy-playboy lainnya yang bisa dengan tega membuang mangsanya dengan mencampakkannya begitu saja setelah mendapatkan semua yang diinginkan. Gw bukan tipe seperti itu. Membuang yang sudah tidak sesuai adalah keharusan, tapi gw selalu melakukannya dengan cara yang halus dan dengan friksi yang sesedikit mungkin.

Masalahnya ialah ketika gw masih menjalin hubungan dengan klien-klien gw. Normalnya, playboy sejati akan menutup hati demi mencapai tujuannya sedangkan gw membuka hati sebesar besarnya demi mereka. Implikasinya jelas, ketika telepon gw tidak diangkat oleh klien, gw akan gondok dan merasa ditinggalkan. Seharusnya gw cuek aja dan menunggu sang pujaan menelpon. Ketika mereka minta ketemuan padahal badan gw sudah kecapeaan melayani selingkuhan lain di beberapa jam sebelumnya, gw malah tetap menyetujui yang berdampak pada sakit keesokan harinya. Playboy yang hebat seharusnya bisa memainkan jumlah pertemuan untuk memancing rasa penasaran dari sang pujaan.

Sama seperti malam itu, ultah Viona yang sebentar lagi tiba membuat dia sedikit uring-uringan memaksa gw datang ke Balikpapan. Tentu gw gak bisa memenuhi permintaan gila itu. Bagaimanapun gw harus kerja dan saat itu adalah masa-masa tender sehingga lembur adalah suatu kepastian.

“Pokoknya kamu harus dateng kesini! Ntar kalau udah nyampe disini aku yang tanggung semua biaya kamu deh.” rengek Viona untuk kesekian kalinya siang itu
“Gak bisa sayang, aku banyak kerjaan. Ntar aja ya kalau kamu sudah sampai Jakarta kita jalan ke Bandar Jakarta buat candle light dinner
“Emang gak bisa izin dulu apa? Kamu kan gak pernah cuti. Pake dong cuti kamu. Cuma 2 hari aja kok !” paksa Viona lagi
“Bukan masalah cuti, kerjaan lagi banyak banget. Ada tender yang harus diselesaikan minggu ini. Aku gak bisa kemana-mana” bujuk gw sekali lagi
“Ya udah lah. Aku jalan ma orang lain aja!” seru Viona ketus dan langsung diikuti dengan putusnya nada sambung.

Gw cuma bisa kaget dan bengong. Jujur saja, gw memang sayang dengan Viona karena kemandirian dan kedewasaannya. Dengan perlakuan Viona seperti itu sontak gw terkejut karena wanita yang gw anggap bisa dipercayai dan sayangi, bisa dengan mudah berkata seperti itu. Bagi gw, walaupun Viona adalah selingkuhan tapi rasa sayang gw ke dia tidak pernah bohong. Maka hari itu mood dan perasaan yang hancur itu berdampak pada keseluruhan pekerjaan. Beberapa pekerjaan konsep gak bisa gw selesaikan karena ide seolah berputar putar dikalahkan oleh pertanyaan-pertanyaan bodoh seperti, gw kurang sayang apa sama Vona, dia serius gak ya ma kata katanya, apa gw berangkat sekarang aja ya ke Balikpapan, kalau gw gak ada dia selingkuh gak ya, dan sederet pertanyaan lainnya.

Baru menjelang jam 8 malam gw mendapat ide. Tidak ada disisi Viona bukan berarti gw gak bisa sepenuhnya ada buat dia. Maka disusunlah rencana dengan melibatkan Icha yang memang ikut dengan rombongan Viona di Balikpapan. Gw memesan satu cake ultah yang cukup besar, lengkap dengan sebuket bunga dan hadiah gaun malam yang sudah lama diincar Viona.

“Pokoknya gw minta minimal ada cake ultah yang enak, sebuket bunga mawar dari gw sama kado gaun yang Viona mau” kata gw via telp ke Icha
“Siap bos! Lo transfer uangnya ke rekening gw aja ntar gw urus semuanya ma anak-anak dancer disini” jawab Icha
“Lo urus dah. Pokoknya jangan sampe Viona ngambek deh” kata gw
“Iya tenang aja. Lo bener-bener sayang ma Viona ya? Tuh gaun kan mahal banget lagi” selidik Icha
“Urusan gw itu mah, lo urus aja tuh semuanya” jawab gw singkat

Yah, perkataan Icha mungkin benar adanya. Gw takut kehilangan Viona. Padahal kalau mau berfikir dengan otak jernih, untuk apa gw melakukan semua ini? Gw sudah dapat kasih sayang yang berlimpah dari pacar utama gw. Dinda bukan wanita biasa. Dia alumnus sekolah tinggi telekomunikasi terkenal di Bandung, dengan pekerjaan di salah satu konsultan telekomunikasi. Wajah dan kepribadiannya juga tidak bisa ditandingkan dengan Viona. Dinda pintar, keibuan, selalu ada buat gw, pengertian, walaupun sifat marah dan eksplosifnya jauh lebih berbahaya dari Viona.

Tapi pepatah, rumput tetangga selalu lebih hijau dari rumput di pekarangan rumah sendiri memang benar adanya. Dengan segala kelebihan Dinda itu gw tetap tergoda untuk mendapatkan tantangan lainnya. Jadilah malam itu gw merelakan hampir setengah gaji bulan itu untuk membiayai pesta kecil kecilan nun jauh disana.

Hasil dari pesta kecil-kecilan malam itu ternyata tidak sesuai perkiraan. Malah menambah buruk hubungan gw dengan Viona. Yang gw dapatkan hanyalah terima kasih dan janji Viona untuk bertemu ketika dia transit di Jakarta. Itu pun setelah gw berinisiatif menelpon karena penasaran dengan kesuksesan acara. Malam itu menurut Icha, Viona sangat senang mendapat gaun itu. Tapi entah kenapa Viona tidak tampak terlalu bahagia malam itu. Menurut Icha, Viona lebih terlihat seperti orang yang banyak masalah. Dia menghabiskan satu botol Martel sendirian sehingga ia harus dipapah masuk kamar.

Seingat gw, setelah pembicaraan di siang hari setelah malam ulang tahunnya, Viona tidak seantusias biasanya lagi. Entah apa yang terjadi malam itu sehingga dia berubah. Gw gak pernah tahu karena intensitas pekerjaan gw yang meningkat tidak memungkinkan gw banyak berhubungan dengan Viona. Telepon gw pun hanya dijawab dengan hentakan music club yang keras, telepon disiang hari dan sore hari pun tidak pernah diangkat. Sampai pada akhirnya gw sadar. Tidak ada yang bisa dipertahankan lagi dari hubungan kami. Dan semua rasa sayang yang terlanjur tumbuh, tercerabut hingga ke dasar. Hanya menyisakan kekecewaan dan penyesalan. Huff.. resiko playboy wanna be..

Sampai saat ini pun telepon gw tidak pernah diangkat oleh Viona. Entah apa kesalahan gw. Mungkin bagi dia, gw cuma orang biasa yang melewat sepintas di kehidupannya yang sangat dekat dengan perubahan. Entahlah, gw malas berandai andai. Berita terakhir yang gw dapat dari rekan Viona cukup mengejutkan. Viona yang gw kenal dengan prinsip, kemandirian dan keteguhan hatinya kini sudah tidak ada lagi. Dia terjerat oleh hutang bahkan harus mengemis pekerjaan ke sesama rekan. Yang mengejutkan ialah Viona juga mencari jasa aborsi. Dia kebablasan…


cerbung.net

Diary Playboy Wanna Be

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2013 Native Language: Indonesia
cerita ini kejadian nyata saat gw pertama kali tinggal di apartemen (well,, sekarang juga masih seh), tempat dimana gw mulai meng explor bakat terpendam gw. jadi playboy. tapi emang kayaknya gw gak begitu bakat jadi playboy karena kebanyakan maen hati ma cewe yang gw deketin. dan gw juga bukan playboy yang sukses (makanya judulnya diary playboy wanna be). ceritanya lebih berkisar soal gw yang berusaha deketin cewe hanya untuk bersenang-senang tapi sekaligus menjaga agar my real girlfriend tetap merasa cowonya adalah satu2nya bagi dia.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset