Dua Cangkir Kopi episode 1

Chapter 1

Asap mengepul terlihat jelas dari dua cangkir kopi yang ada dihadapannya. Tatapannya sulit diartikan, bahkan raut wajahnya tak memancarkan apa-apa. Sesekali ia menyesap kopi miliknya lalu pandanganya jatuh pada cangkir satunya.

Dia duduk di pojok sana bersama dengan dua cangkir. Ini adalah hari pertamaku bekerja sebagai waiters, dan ini adalah hari pertamaku melihatnya.

“Kau lihat apa?” tanya Dini, teman baruku yang wajahnya tak kalah cantik denganku.

“Din, kau tahu siapa dia?” aku justru balik bertanya kepada Dini seraya menunjuk lelaki tersebut dengan daguku.

“Lelaki dengan dua cangkir?” sahut Dini.

“Ya.”

“Entah, pertama kalinya aku bekerja disini dia sudah ada di kursi itu,” terang Dini.

“Hah? Kau kan sudah bekerja selama delapan bulan,” aku merasa heran mendengar jawaban Dini.

Dini hanya mengangguk sekilas lalu pergi meninggalkanku. Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kepalaku namun aku tak mampu menjawabnya.

Ketika aku sedang memperhatikan lelaki tersebut, tiba-tiba namaku di panggil oleh salah satu temanku . Aku tersadar dan segera menghampirinya.

“Ada apa?” tanyaku kepada Rani. Dia adalah salah satu asisten chef yang ada di kafe ini.

“Tolong antarakan ini ke meja nomor 10.” Ucapnya seraya menyodorkan satu nampan berisi makanan yang sudah siap.

Aku hanya mengangguk dan segera mengantarkan makanan tersebut. Langkahku semakin mendekati meja nomor 10 yang ternyata berada di dekat lelaki dua cangkir. Setelah aku meletakkan makanan di meja pelanggan, aku menyempatkan melirik lelaki dua cangkir tersebut untuk melihatnya lebih jelas.

Tampan. Batinku.

Suasana kafe yang begitu ramai membuatku sibuk berjalan kesana kemari. Aku sempat melupakan lelaki dua cangkir karena kesibukanku.

Sekitar pukul 22.10 WIB, aku bersiap untuk pulang. Kafe ini memang buka 24 jam dan memperkerjakan karyawan dengan sistem shift.

Saat diparkiran, aku tidak sengaja melihat lelaki dua cangkir sedang berjalan ke arah mobilnya. Aku mulai penasaran dengannya. Diam-diam kuikuti lelaki tersebut. Sekitar 10 menit perjalanan, akhirnya mobil lelaki tersebut berhenti di depan gerbang yang menjulang tinggi.

Ia turun dari mobil dan berjalan memutari mobilnya untuk membuka pintu satunya. Aku mengernyit heran karena setahuku dia sendirian. Jarakku dengannya terbilang cukup jauh sehingga dia tidak menyadari kehadiranku.

Aku terkejut ketika ia menutup kembali pintu mobilnya tanpa ada yang keluar. Tiba-tiba sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman yang cukup lebar. Tunggu, dia tersenyum? apa dia sudah gila? Aku benar-benar tidak mengerti dengan lelaki dua cangkir itu.

Ia kembali ke dalam mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan sedang. Aku masih belum beranjak dari tempatku dan terus memandangi rumah berwarna putih gading itu. Rumah yang cukup mewah dengan pintu gerbang tinggi yang masih tertutup rapat.
Setelah cukup lama aku termenung melihat rumah itu, aku pun memutuskan untuk pulang.

Keesokannya aku berangkat bekerja seperti biasa. Mengendarai sepeda motor menyusuri jalanan kota yang tak begitu padat. Jelas saja tidak begitu padat karena saat ini aku mendapatkan shift siang lagi dengan jam kerja dari pukul 14.00-22.00 WIB. Aku begitu fokus sambil sesekali melirik kanan kiri untuk memastikan aku aman di jalur tersebut.

Setibanya di kafe, aku bergegas masuk untuk menjalankan rutinitas seperti biasa. Memberikan buku menu, mencatat pesanan, lalu mengantarnya.

Aku tersenyum kepada semua pelanggan. Ya, 2S. Senyum dan sapa. Terkadang aku merasa bahwa gigiku kering karena terlalu lama tersenyum. Tapi tak apa, karena senyum adalah ibadah.

Ketika malam tiba, tepatnya saat live music sudah mulai, aku melihat pria dua cangkir berjalan masuk bersama teman-temannya. Aku melihatnya dari jauh, mengamati gerak-geriknya yang terlihat normal. Tidak ada gejala-gejala gangguan seperti yang aku pikirkan setelah melihatnya kemarin.

Kemarin ia duduk sendiri di meja nomor 09, sedangkan sekarang ia duduk bersama teman-temannya di meja nomor 05. Kemarin ia terdiam dengan dua cangkir dihadapanya, sedangkan sekarang ia berceloteh bersama teman-temanya.
Ini aneh.

Selang beberapa hari kemudian, aku melihat lelaki itu lagi. Duduk di meja nomor 09 dengan dua cangkir kopi di hadapannya. Rasa penasaranku semakin memuncak ketika melihatnya. Hanya penasaran bukan meyukainya.

Ketika aku hendak pulang, kusempatkan untuk melihat lelaki itu apakah sudah pulang atau belum. Ternyata lelaki itu belum pulang dan masih menyesap kopinya yang menurutku sudah dingin. Aku mengumpulkan keberanian untuk menghampirinya dan menyapa.

“Hai,” sapaku saat sudah berada di dekatnya.

Lelaki itu hanya menoleh sekilas, lalu pandangannya kembali pada cangkir yang sedang ia pegang.

Aku berniat untuk duduk di hadapannya dan mengajaknya berbicara.

“Jangan duduk disitu,” ucap lelaki itu dengan cepat.

Spontan aku menghentikan gerakanku dan memilih untuk duduk di sampingnya.
Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal. Bingung harus memulai percakapan darimana. Aku meliriknya sekilas, berharap ia akan membuka suara. Namun nihil.

“Emm kau menunggu seseorang?” tanyaku setelah sekian menit menimang-nimang pertanyaan apa yang pas untuknya.

Dia hanya mengangguk tanpa mengeluarkan suara. Menolehpun tidak.

“Siapa?” tanyaku kembali seraya menatapnya.

Dia menoleh lalu tersenyum.

“Seseorang yang tidak akan pernah kembali,” sahutnya lirih. Tapi nada tersebut lebih terdengar seperti nada putus asa.

“Kekasih?” tanyaku dengan hati-hati.

“Ya, dia pergi satu tahun yang lalu.”

cerbung.net

Dua Cangkir Kopi

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Asap mengepul terlihat jelas dari dua cangkir kopi yang ada dihadapannya. Tatapannya sulit diartikan, bahkan raut wajahnya tak memancarkan apa-apa. Sesekali ia menyesap kopi miliknya lalu pandanganya jatuh pada cangkir satunya.Dia duduk di pojok sana bersama dengan dua cangkir. Ini adalah hari pertamaku bekerja sebagai waiters, dan ini adalah hari pertamaku melihatnya.“Kau lihat apa?” tanya Dini, teman baruku yang wajahnya tak kalah cantik denganku.“Din, kau tahu siapa dia?” aku justru balik bertanya kepada Dini seraya menunjuk lelaki tersebut dengan daguku.“Lelaki dengan dua cangkir?” sahut Dini.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset