Dunia Misteri episode 10

Khitanan Achmad

Masrul menelepon Fatimah menanyakan kebutuhan persiapan kitanan yang segera dilakukannya.

Fatimah      : ” Sudah terpenuhi semua mas, tinggal mengolahnya menunggu sampai rumah”.

Masrul         : ” Baik dik, aku nyekar dulu ke makam bapak dan ibu  mumpung masih di Banget Ayu….

Fatimah       : ” Oo .. iya mas tolong bawakan kubis dan wortel saja …”.

Masrul         : ” Yo Bu….”.

Masrul amat bahagia, bagaimana tidak ..? Achmad dulu pernah pingsan saat hendak disunat dan dia paling ngeri melihat hewan disembelih dan berlari  karena takut serta kasihan sama hewan tersebut. Aneh lagi ketika klas 5 dia malah kabur dan menghilang seharian dan baru pulang dini hari yang membuat kalang kabut Fatimah mencari buah hatinya sampai jatuh sakit. Kini dia sudah MTs /SMP klas 2 dan ingin dikhitan karena kesadarannya sendiri.

Achmad membaca ayat-ayat suci dari Alquran ketika Masrul sampai rumah, hati Masrul terasa bergetar mendengar merdu suaranya ….bak tersiram air yang sejuk . Masrul lewat samping rumah langsung mengambil air wudhu air matanya bercucuran dia terharu setengah tak percaya apa yang didengarnya,  yah … surah yang ke 39 dari Alquran  As – Zumar berkumandang di ruang santri.

Fatimah menyambut suaminya , Iskandar memasukkan kobis dan wortel.

Masrul        : ” Lo dhe Khot ….? sudah memasak …?”

Khotijah     : ” Iya ini permintaan Achmad yang mengundang teman-teman sekolahnya.

Masrul        : ” Ya Alloh lancarkan urusanku dan keluargaku….Aamiin ”

Achmad selesai membaca Alquran langsung menemui bapaknya dan mencium tangan Masrul. Ia meminta maaf karena meminta di khitan secara mendadak dan tak akan lari lagi kayak tahun-yang lalu.

Masrul.       : ” Ya gak papa karena itu sudah tanggung jawab bapak dan ibu , dan bapak sudah menghubungi mantri sunat pak Zaenal besok jam sebelas kamu di khitan…”

Achmad.        : ” Inggih pak…., Achmad sudah siap”

Masrul.         : ” Ini bapak belikan sarung  dan jubah sebagai pelengkap sunat ”

Achmad memeluk bapaknya dan berterima kasih atas pemberiannya, Masrul heran tiba-tiba anaknya begitu dewasa pemikirannya dan bersyukur sekali kepada Alloh.

Khotijah mencari-cari peralatan cobek untuk menghaluskan bumbu mie doreng.

Khotijah       : ” Tahu cobek yang tadi aku cuci Fat….?”

Fatimah        : ” Tadi sepertinya dipakai Nyai  Tantowi…..”

Khotijah       : ” Nyai Tantowi…..? Sejak kapan kamu memanggil Nyai Tantowi untuk memasak…?”

Fatimah        : ” Aku juga gak tahu Yu….?! Ku kira yang ajak Yu Khot….?”

Khotijah       : ” Weeeh… piye to ini….kok waskom dan bakinya tak ada….? tadi sudah aku siapkan di samping wajan besar ini….?! ”

Khotijah mencari-cari perlengkapan masak yang menghilang secara gaib, Fatimah masih mengolah mie goreng dan opor ayam serta persiapan sambal goreng krecek dan tholo kesukaan Masrul.  Diluar ada tamu Nyai Tantowi membawa waskom yang berisi empal kelem. Khotijah terperanjat melihat lagi Nyai Tantowi yang sedang berbicara dengan Fatimah dan membawakan pacitan berupa makanan terbuat dari ketan dan tepung beras, ada nagasari, lemper, kue lapis, jenang, jadah, sekoci, hawuk-hawuk dan beberapa roti kering. Yang lebih heran lagi Bu Nyai memberikan cobek yang berisi srondeng dan Khotijah mengincipinya betul-betul enak srondengnya. Semua yang dibawa bu Nyai di masukkan kemasakan dan hidangan yang sudah jadi.

Nyai Tantowi   : ” Ini pesanannya Ahmad dan Nyi Fatimah tolong nanti dibagi-bagikan ya dhe Khot..?”

Khotijah            : ” Injih Nyai…matur suwun sanget bawa annya”.  Bu Nyai Tantowi tersenyum dan berpesan agar jangan memindahkan tempat makanannya sebelum habis dan Khotijah menurut.

Achmad segera di khitan karena pak Zaenal sudah datang dan Ahmad memohon doa dan restu kedua orang tuanya maka prosesi khitan berjalan lancar.

Tratak sudah terpasang dan sound sistem sudah berbunyi cukup nyaring terdengar musik gambus  lagu salam min ba’id berkumandang yang di lantunkan para santri dan teman sekolah Achmad . Habis maghrib  guru-gurunya datang. Fatimah dan Masrul menyambutnya, anak-anak santri membantu membawakan hidangan yang sudah disiapkan Khotijah.

Achmad tertawa ternyata di khitan tak sakit seperti yang Ia bayangkan. Achmad menyambut kehadiran teman dan gurunya dengan penuh ceria, Fatimah merasa lega karena anaknya mau turun dan menyalaminya.

Achmad didaulat gurunya untuk menyanyikan MAGADIR yang diiringi qasidah dari sekolahnya, ternyata Ahmad bersedia menyanyikannya dan merdu sekali dengan memakai jubah pemberian Masrul Al Zaelani bapaknya. Fatimah terharu sekali ternyata putra bungsunya mewarisi qasidah mendiang kakeknya ( kedua orang tua Masrul ) . Kek Amrun ikut mendengarkan dan hanyut akan kenangan lama bersama istri tercinta.

Rekan-rekan Umar dari IAIN Walisongo menghadirinya , Achmad sudah tidak dipangku lagi oleh mereka teman kakaknya, Solichin memeluk adiknya dan berkata : ” Kamu kini menjadi seorang  lelaki sejati adikku Achmad..?” Achmadpun membalas memeluknya dan berteriak,: ” Allahu Akbar  !!!”,  yang hadirpun membalasnya , ” Allahu Akbar ” . Kejutan dari Umiyatul yang barusan khataman menyumbangkan suaranya untuk Achmad adiknya dengan judul Habibi Ya  Nurul Aini.

KH Tantowi yang menghadirinya menyanjung suara Umiyatul yang merdu, Masrul tak menyangka anak-anaknya amat perhatian dan menghormati aki dan uktinya meskipun tak pernah mendendangkan lagu gambus. Ternyata Umiyatul dan Solichin yang membentuk grup Qasidah di sekolahnya dan Ahmad tahu itu. Solichin dan Umiyatul yang sudah sekolah di MAN amat menuruti perintah Masrul ayahnya meskipun jarang pulang karena pekerjaannya maka Fatimah menuruti bakat anak-anaknya yang baik-baik saja.

Khotijah merasa heran tamu-tamu berdatangan padahal Masrul dan Fatimah tak mengeluarkan undangan tapi yang hadir membanjirinya dan makananya yang di hidangkan tak habis-habis, Yatemi  dan Iskandar yang membantu ibuknya  amat cekatan bersama santri – santri murid Fatimah membantu sampai selesai . Banyak yang menyumbang lagu untuk Achmad salah satunya Hanafi teman kuliah Umar kakaknya  Achmad , yang menyumbangkan suaranya lewat Tholaal Badru yang bershollawat bersama kawan-kawannya.

Jam sembilan malam KH Tantowi memberikan tausiyah sambil diiringi terbangan membuat gayeng para tamu yang menghadirinya dan memberikan nasihat Achmad bahwa ” Dunia yang kau alami tak sama dengan dunia yang ku alami, makin berliku-liku cari sekolah…cari nafkah, dan yang lainnya tapi janganlah berkecil hati jadilah manusia yang sakti yang cerdas…tabah…sabar… kreatif dan mau mendengarkan nasihat kedua orang tua mu karena manusia yang sakti siap menghadapi tantangan jamannya …walau berbahaya, maka giatlah berlatih agar jadi trampil, tekunlah menabung demi masa depan, iklaslah beribadah agar jadi sholeh”.

Tausiyah KH Tantowi inilah yang ditunggu-tunggu para mahasiswa IAIN sebagai generasi milenial harus patuh kepada orang tua agar tak keluar dari jalur keimanan dan memerangi kemaksiatan yang merajalela. Banyak sekali banyolan yang merangsang agar mahasiswa bersemangat dalam menuntut ilmu agar tercapai cita-citamu dan membahagiakan keluargamu. Sambil mencuci piring para santri mendengarkan tausiah pak kyainya gurunya. Jam Dua belas malam acara selesai …Achmad mengucapkan terima kasih kepada kakak-kakaknya karena berkat bantuannya acara ini berjalan sesuai dengan keinginan kedua orang tuanya. Mereka berempat berpelukan dan membersihkan diri karena akan beristirahat dan tidur.

Bangun tidur Achmad melakukan rutinitas setiap harinya, dan ketika hendak mandi tiba-tiba kemaluannya terasa panas dan kemranyas, Achmad berteriak kesakitan dan melapas celananya dan berganti dengan sarung pemberian bapaknya.

Achmad     : ” Ibuuuu….ach…sakitnya burungku…kipas…kipas…panassss…..” Fatimah yang masih membersihkan meja dan kursi serta lantai dibantu Umiyatul segera berlari menuju kamar Achmad yang dilihatnya berjalan tertatih-tatih sambil melebarkan sarung dan mengangkatnya tinggi-tinggi karena kesakitan tersenggol kain sarungnya. Umiyatul menjerit menutup matanya …Umar mengambilkan kipas di kamarnya karena Achmad tak tahan panasnya sampai dia menangis dia berteriak-teriak karena berasa burungnya amat tegang karena panas yang dirasakannya. Solichin memasang colokannya tak tega melihat adiknya menahan sakit dan kipas itu akhirnya menyala lalu terlihat muka Achmat seperti kelelahan dan Ia baru sadar kalau tingkahnya membuat malu dirinya sendiri.

Achmad   : ” Astaghfirulah…..maafkan aku kak Umiyatul…”. Dan Ia segera membetulkan sarungnya yang tersingkap, Masrul tertawa geli melihatnya karena jagoan kecilnya kesakitan dan membuat sibuk kedua kakaknya Umar dan Sholichin.  Masrul lalu mengobati lukanya dan mengganti perbannya tapi karena kurang halus maka Achmad berteriak lagi karena kesakitan, baru setelah Fatimah membenarkan perbannya Achmad merasa nyaman tak kesakitan lagi.

Achmad memeluk ibunya dan berkata : ” Buk terima kasih ya….walaupun bapak sudah berusaha halus tapi tetap saja ibu yang lebih bisa super halus, dan hanya ibulah yang bisa membuat nyaman katiku, terima kasih banyak ibu”.


cerbung.net

Dunia Misteri

Score 0.0
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2020 Native Language: Indonesia
Masrul pekerja yang gigih dia seorang wiraswasta yang sering luar kota dengan menghidupi empat orang anaknya, dengan mengorder kecap cap orang tua Masrul membantu memasarkan atau bawaan apa saja yang ia dapat dengan murah dia beli dan dijual ke daerah-daerah yang amat membutuhkan pelan tapi pasti Masrul mengais rezeki . Berbekal mobil pick up dari warisan mertua istri Masrul dan SIM yang ia miliki sewaktu bekerja sebagai sopir angkot, Masrul memutuskan usaha sendiri , Fatimah istrinya tak melarang karena suaminya selalu jujur , hasilnya lumayan pendapatannya tunai, kadang Masrul ndongkrok dari pasar ke pasar menjual ketela pohon atau sayuran yang Ia beli di Weleri dijualnya ke Semarang tepatnya dipasar Johar ditemani Iskandar keponakannya yang kadang membantu menjadi sopir jika Masrul capek. Iskandar keponakan dari istrinya sangat senang bekerja menemani pamannya yaitu Masrul. Bila hari Jum'at selalu shollat jum'at di masjid mana saja yang ditemuinya dan mengaji sambil istirahat, tidurnya di mobil kadang di losmen kalau keuntungannya banyak sebagai pembuang penat saja. Jika kecap dan jualannya habis mereka baru pulang. Istrinya Fatimah tak punya fikiran macam-macam jika uangnya habis dia mengambil di ATM yang selalu di isi Masrul tiap harinya.....

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset