Dunia Misteri episode 11

Membuka Mata Batin

Umiyatul dan Solichin berlatih  musik gambus di sekolahnya karena merupakan kegiatan sekolah Islam, dan lagu lagu sudah ada tinggal mempelajari. Umiyatul dan grup Choirunnisa pimpinan Haji Munawir  Kepala Sekolahnya sudah mendapat lagu-lagu yang wajib dipelajari sekolah tingkat Aliyah maupun tsanawiyah . Solichin dan adiknya Umiyatul menuju perjalanan pulang dia bertemu dengan seorang nenek yang sudah renta minta diantarkan ke pasar Minggu.

Umiyatul     : ” Ini sudah hampir malam nek…saya kawatir nenek nanti tak bisa pulang….nenek pulang saja ya….?”

Nenek itu diam saja dan menunduk, Solichin mengantarnya pulang tapi nenek tak mau menuju arah pulang , untung saja ada bapak-bapak yang melihat nenek tersebut dan mengantarnya pulang. Solichin lega karena hampir maghrib dan segera sampai rumah. Fatimah menyuruh anak-anaknya segera mandi dan bersiap melakukan shollat berjamaah Fatimah menyuruh Solichin untuk menjadi imam  dan Achmad melakukan puji-pujian, Umar baru baru pulang kuliah dan ia segera menyusul shollat bersama. Selesai shollat ada dua orang tamu menemui Umar ternyata temannya kuliah yang bertanya berbagai masalah keagamaan. Fatimah melihat keanehan teman-teman Umar dan Fatimah mendekatinya.

Fatimah   : ” Nak.., masuklah di ruang santri agar engkau lebih jelas dan mantap, maka Umar mengajaknya masuk ke ruang santri. Tapi sayang temen perempuannya tak mau dan memilih di teras saja sedangkan yang laki-laki berniat masuk. Cewek tersebut menarik baju Fadoli nama cowok tersebut dan Yatni adalah cewek pacar Fadoli. Fatimah terheran karena Yatni tetap berada di teras sehingga membuat Fadoli bingung karena di teras Yatni akan sendirian…Umar menyuruhnya masuk  tetapi Yatni diam saja sambil menggelengkan kepalanya.

Fatimah   : ” Jika engkau berniat baik masuklah “.

Umar        : ” Ibuk biarlah mungkin Yatni masih gerah dan ingin di luar…”

Fatimah terpaksa membuka mata hati Fadoli dan ketika Ia melihat kekasihnya betapa kagetnya Fadoli kalau wajah Yatni ternyata rusak dan tubuh  merasa bergetar Fadoli segera duduk mendekat ke Umar. Fatimah menyudahinya membuka mata batin Fadoli dan menutupnya  kembali. Tapi Fadoli masih shock menyaksikan  Yatni yang mengerikan wajahnya.

Fatimah   : ” Bagaimana …? jado dia sudah tahu kalau di dalam sini akan membuka tabir kepalsuan, malanya dia menolak memasukinya “.

Fadoli       : ” Trima kasih Bunda..sudah bisa liat yang sesungguhnya…”.

Fatimah   : ” Banyak-banyaklah membaca Al Iklas agar kamu tak mudah terkecoh dengan segala tampilan mahluk jadi-jadian ” .

Fadoli       : ” Terus bagaimana kelanjutannya ini Bun..?”

Fatimah   : ” Suruhlah dia pulang….maka dia akan pulang kembali ke asalnya “. Umar membantu Fadoli agar berani karena benar juga aman untuk dirinya, dan Fadoli menerima saran Umar.

Fadoli      : ” Yatni…apakah kamu masih disitu…?”

Yatni       : ” Ya masih disini kak…, bagaimana…apakan kita akan pulang…?”

Fadoli     : ” Kau pulanglah dahulu..aku akan menginap disini…!?”

Yatni       : ” Iya kak…..aku pulang…?!”

Umar menggandeng tangan Fadoli dan melihat Yatni menghilang, Fadoli terperanjat menyaksikannya dan hampir tak percaya benarkah tadi Yatni…? Umar memeluk Fadoli yang pingsan di ruang santri. Umiyatul membantu ibunya menyiapkan makan malam dan banyak nasihat yang ditujukan pada Fadoli, Umiyatul dan Solichin mendengarkan dan lebih banyak bersyukur karena kejadian ini Ia berarti dan membuka mata hatinya setelah kemarin bertemu dengan nenek yang aneh dan bersyukur karena selamat sampai rumah.

Umiyatul : ” Ibuk terima kasih sudah membuka mata hati Umiyatul sehingga bisa akan lebih berhati-hati terhadap semua saja..”.

Solichin  : ” Iya buk…untung Lichin tadi mengetahui kejadian kak Fadoli tapi Lichin masih belum mau melihat dunia macam itu….Lichin takut akan menjadi syirik pada Alloh..”

Fatimah  : ” Gak apa agar kamu selalu ingat pada petunjuk Alloh dan memperbaiki sifat kurangmu “.

Malam begitu sepi sudah tak ada orang diluar sementara hujan mengguyur amat derasnya, Fadoli mendengar langkah kaki diruang santri dadanya berdetak kencang takut kalau ada apa-apa dan dia membangunkan Umar agar menengok di ruang santri.

” Gak ada apa-apa…biarlah yang mau membaca Alquran silahkan…malah alhamdulillah…” Umar menepis perasaan buruk Fadoli  dan meringkuk lagi.  Terdengar lantunan ayat suci surah Al Kahfi berkumandang dengan merdunya. ” Siapa kah  yang membacanya….sungguh seorang laki-laki yang hebat…disaat ngantuk-ngantuknya dia malah bangun dan sholat tahajud dan membaca Alquran ” ,  karena penasaran Fadoli mengintipnya tapi Umar malah ngagetin dan mengajak bertahajud maka Fadolipun ikutan bertahajud.

Fadoli baru tahu kalau yang membaca Alquran tadi adalah Achmad  ada perasaan nyaman dan tenang pada Fadoli mendengarkan Achmad  membaca Alquran sampai tertidur, dan terbangun karena diajak pindah ke kamar oleh Umar. Fadoli melanjutkan tidurnya tapi Umar diteras sambil mengamati bintang -bintang. Malam tambah sunyi, Umar sedang memuja kehebatan Alloh dia tak sadar kalau ibunya sudah berada di belakangnya dan berkata : ” Anakku sedang apakah kamu ?” Umar yang agak kaget mempersilahkan ibunya duduk.

Umar       : ” Aku rindu bapak…..Iskandar selalu dekat dengan bapak…dia pasti senang…? air mata Umar mengalir perlahan dan dihapisnya pakai punggung tangannya.

Fatimah  : ” Merebahlah dipangkuan ibu…engkau akan lihat ayahmu…”. Umar sepertinya melihat Masrul yang sedang melakukan shollat setelah itu menyapanya dan berbicara seperti biasanya dan Fatimah membelai Umar dan Iapun memeluk ibunya.

Umar     : ” Ibuk….bapak tersenyum padaku…dan berbicara padaku..terima kasih ibuk…”

Fatimah : ” Terima kasih untuk apa..?Sesungguhnya engkau sendirilah yang melakukan hubungan dengan bapakmu bukan karena ibu…”

Umar      : ” Tapi ,  ibu benar-benar membuat nyaman sehingga Umar tak sengaja bisa membuka mata hati ini ..terima kasih ibuk…” Umar mencium tangan Fatimah berulang kali

Fatimah  : ” Ayok masuk…angin malam tidak baik buat kesehatabmu “. Umar menurut kata ibunya dan masuk lalu menutup pintu, saat menutup pintu Umar melihat diluar sana seorang nenek-nenek berjalan sendirian sambil membawa tongkat kayu.

Umar       : ” Ibuk…apakah ibuk  melihat nenek-nenek yang berjalan sendirian ?”

Fatimah  : ” Iya…, itu nenek Kabilah kemarin dia kesini dan ingin menemui Umiyatul yang sedang belajar gambus disekolah, dan ia ngin mengajak jalan-jalan saja bersama Umiyatul maupun Solichin…mungkin Ia ada sesuatu keperluan dengan Umi dan Lichin”.

Umar       : ” Oh begitu ya buk…”.

Fatimah kembali ke kamarnya dia melihat nenek Kabilah membawa tas dan memberikannya kepada Umiyatul  lalu menghilang setelah uluk salam. Fatimah menemui Umiyatul yang sedang memegang tas tersebut tapi karena akan melakukan Shollat subuh berjamaah maka tas tersebut Ia simpan di lemari pakaiannya. Selesai shollat subuh Umiyatul mempersiapkan pakaian sekolah, Ia jadi teringat tas pemberian nenek Kamilah dan Umiyatul perlahan membukanya…..dia amat terkejut karena isinya adalah sebuah terbang dan sebuah ukulele.

Sesampai disekolah pak Haji Munawir selaku kepala sekolah membawa berita kalau sekolahnya mendapat tugas mewakili bidang seni musik gambus dan saat ini masih kurang pesertanya  dan menunjuk Umiyatul yang masih kelas sembilan dan Solichin kakaknya yang sudah kelas sebelas agar esok hari mempersiapkan peralatan yang ada. Solichin bingung karena dia tak mengerti apa saja alat musik yang akan Ia tampilkan esok hari.  Karena sekolah akan mempersiapkan acara tersebut dan mengadakan rapat guru, maka sekolah bisa pulang lebih awal.

Umiyatul   : ” Kak aku punya  dua alat musik pemberian nenek yang kemarin itu…”

Solichin     : ” Kapan kamu bertemu dengan nenek tersebut…? kan kita pulangnya bersamaan…”

Umiyatul   : ” Nanti aku ceritakan di rumah,  yuk kita pulang…biar ibuk yang jelasin…” . Dengan berjalan kaki mereka menuju rumah lalu Umiyatul menceritakan pada ibunya dan menunjukkan alat musik tersebut.

Solichin      : ” Itu alat musik apa ya…?  Sepintas fikirannya tertuju pada ukulele tapi bagaimana memainkannya …?” Tangan Solichin mencoba membunyikannya secara tak sadar tiba-tiba tangannya menari-nari memetik senar  alat musik tersebut. Umiyatulpun demikian, sekali memegang terbang jari jemarinya amat lincah memainkan alat musik itu. Fatimah merasa heran anak-anaknya tak pernah dididik seni musik tapi sungguh lihai kelihatannya. Sepulang kuliah Umar keheranan  melihat adik-adiknya bermain alat musik tersebut , Ia pun ingin mencobanya tapi sepertinya Umar tidak bisa memainkannya dan menyerahkan kembali kepada Umiyatul dan Solichin.

Umiyatul  : ” Suara terbang ini amat keras tapi lembut didengarnya…”

Solichin    : ” Iya….ukulele ini suaranya amat nyaring tapi terasa berisi ” .

Mereka belajar menyanyi sambil membunyikan alat musik tersebut, Khotijah sampai datang karena mendengar nada yang beraturan dan Umiyatulpun menyanyikan lagu ditemani Fatimah ibunya. Achmad ikut menari sambil bertepuk tangan dengan riangnya


cerbung.net

Dunia Misteri

Score 0.0
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2020 Native Language: Indonesia
Masrul pekerja yang gigih dia seorang wiraswasta yang sering luar kota dengan menghidupi empat orang anaknya, dengan mengorder kecap cap orang tua Masrul membantu memasarkan atau bawaan apa saja yang ia dapat dengan murah dia beli dan dijual ke daerah-daerah yang amat membutuhkan pelan tapi pasti Masrul mengais rezeki . Berbekal mobil pick up dari warisan mertua istri Masrul dan SIM yang ia miliki sewaktu bekerja sebagai sopir angkot, Masrul memutuskan usaha sendiri , Fatimah istrinya tak melarang karena suaminya selalu jujur , hasilnya lumayan pendapatannya tunai, kadang Masrul ndongkrok dari pasar ke pasar menjual ketela pohon atau sayuran yang Ia beli di Weleri dijualnya ke Semarang tepatnya dipasar Johar ditemani Iskandar keponakannya yang kadang membantu menjadi sopir jika Masrul capek. Iskandar keponakan dari istrinya sangat senang bekerja menemani pamannya yaitu Masrul. Bila hari Jum'at selalu shollat jum'at di masjid mana saja yang ditemuinya dan mengaji sambil istirahat, tidurnya di mobil kadang di losmen kalau keuntungannya banyak sebagai pembuang penat saja. Jika kecap dan jualannya habis mereka baru pulang. Istrinya Fatimah tak punya fikiran macam-macam jika uangnya habis dia mengambil di ATM yang selalu di isi Masrul tiap harinya.....

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset