Dunia Misteri episode 34

Menikah Dengan Imaniar

Umar berada di Al Aqsa karena merasa telinganya terusik dengan situasi yang semakin memanas dia melakukan shollat di sana, beberapa orang diusir oleh tentara Yahudi / Israel yang berada di sana. Alhamdulillah Umar tetap berada di dalam masjid . Selesai sholat di sana Umar berkeliling mencari sesuatu tapi sepertinya dia belum menemukan apa-apa dan dia berada di Tembok Ratapan  yang berupa tembok kapur kuno di Kota Lama Yerusalem yang dianggap penting dan suci oleh kaum Yahudi yang kemudian gerbangnya di tutup oleh tentara Israel setelah Umar keluar dari lingkungan Al Aqsa serta mematikan listriknya , Umar sangat sedih sekali karena Masjidil Aqsa akan kelihatan sunyi dan akan sulit sekali muslim untuk melakukan shollat di sana, dia menghubungi KH Asrori dan menceritakannya tentang keadaan di Aqsa.

Asrori      : ” Astaghfirullah…bersabarlah engkau disana dan segera baliklah di Indonesia dan kita segera menyusun rencana di sini ”

Umar       : ” Inggih kyai…. di Aqsa dan sekitarnya memang masih aman dan terlindungi oleh masyarakat yang tinggal disana cuma sekararang akan menjadi lengang…untung aku sudah berdoa di Aqsa dan memohon kepada Allah agar selalu melindungi Palestina khususnya rakyat Gaza yang di bombardir Israel “.

Umar menangis takala meninggalkan Al Aqsa betapa Ia amat mencintainya dan tak ingin meninggalkannya tetapi dia telah berjanji akan segera pulang setelah mendoakan Palestina yang keadaannya sangat menyedihkan dan tertutup rapat.

Umar dipeluk Fatimah karena amat mengkhawatirkan kepergiannya yang hanya sendiri karena jadwal mengajarnya  yang mulai tersusun. Sarah merasa kandungannya terasa di tendang-tendang dan berontak ingin keluar, Umar mengantarkan istrinya ke rumah sakit. Lahirlah bayi laki-laki putra Umar yang diberinya nama Aqsa Al Qassam  karena Umar baru pulang dari Negeri Palestina . Kelahiran putra pertamanya membuat bahagia Masrul serta Fatimah karena sudah memiliki cucu laki-laki penerus Umar. Air mata Imaniar mengalir perlahan dan memohon doa kepada Sarah atas keselamatan dirinya yang segera menikah dengan Umar. Meskipun ada air mata tetapi Sarah tetap menerimanya karena itu sudah perjanjiannya dengan ayah Imaniar juga pada semua yang pada waktu lamaran sudah menyetujuinya. Umar membelai rambut Sarah dan meminta ridhonya secara tulus. Sarah menerima semua itu dengan iklas seperti halnya ayah Sarah waktu meminta Umar untuk menjadikan Sarah istrinya. Kini gantian Sarah harus merelakan Imaniar menjadi istri kedua Umar yang disayanginya. Karena sedang menyusui Sarah tak bisa menghadiri pernikahan suaminya dengan Imaniar yang meriah dan menghadirkan beberapa da’i seusianya  dan juga para da’i seniornya .

Sarah menimang putranya Aqsa yang menangis tapi tak tahu sebabnya, Sarah memberikan asinya lalu menuju kamar Umiyatul dan menonton televisi bersama yang menunjukkan serangan Hamas kepada Israel yang memporak porandakan Tel Aviv dan sekitarnya. Siaran tersebut  yang menghentikan tangisan Aqsa , Sarah dihubungi suaminya namun sayang hape ada dalam kamar jadi Sarah tak mendengarnya . Umar menelepon Umiyatul adiknya dan Umiyatulpun sedang menyaksikan siaran Berita bersama kakak iparnya jadi dia tak mendengar suara telepon tersebut  . Acara belum selesai tapi fikiran Umar selalu pada Aqsa yang sangat dirindukan yang membuat tetesan air matanya mengenai bahu Imaniar. Imaniar kaget melihat suaminya menangis tapi itu hanya sebentar saja dan Umar sedih karena tetesan air matanya jatuh di lengan Imaniar.

Kyai Asrori menghampiri Umar yang kelihatannya membutuhkan dia lewat telepati, Asrori menghampirinya dan meminta doa untuk Palestina yang sedang dilanda duka. Karena yang  hadir sangat banyak maka kyai Asrori meminta para alim ulama bersama memberikan doa.Hening sekali dan hanya suara Asrori yang bergema mengucapkan doa untuk Palestina. Umarpun tenang kembali karena hatinya merasa tak enak karena saudara mereka sedang diperangi Israel. Masrul juga merasakan demikian seperti Umar adanya .

KH Harun Al Rasyid dan Masrul ikut mengirimkan doa dan shollawat pada junjungan nya Baginda Rosulullah Muhammad saw meminta Achmad melantunkan shollawat Badar untuk menyemangati pejuang di Jalur Gaza.Pagi hari Aqsa mandi ,dia amat lucu dan memainkan kaki kecilnya. Fatimah memandikan cucunya didampingi Sarah yang mulai belajar memandikannya sendiri .

Aqsa cepat sekali besar, seminggu dia tak melihat bapaknya Umar tetapi Sarah selalu menyanyikan sholawat apa saja agar putranya tenang dan tidak rewel, Sarah tetap berusaha menjaga putranya dan belum menghubungi Umar. Sebenarnya Umar amat rindu dengan putranya dan ingin menelepon tetapi dia tak enak dengan Imaniar karena nanti pasti yang angkat Sarah tapi dia tak peduli karena Aqsa adalah anaknya dan meminta Imaniar menghubungi Sarah. Imaniarpun menghubungi Sarah. Sarah tahu kalau Umar pasti bersamanya dan meminta Fatimah mengangkatnya sementara Sarah memberikan Aqsa kepada Fatimah . Umar tak melihat Sarah dan di jumpainya ibunya Fatimah yang sedang membopong Aqsa Umarpun bertanya

Umar   : ” Dimana Sarah buk….? ”

Fatimah : ” Dia masih berada di kamar mandi ” . Imaniar ingin  sekali melihat Sarah dan akan menungguinya , Sarah menerima telepon Imaniar dengan memakai cadar karena khawatir Umar akan melihatnya. Umar merasa bersalah karena membuat Sarah begitu tertutup padahal dia adalah suaminya . Sarah demikian karena tak ingin melihat kecemburuan Imaniar terhadapnya karena harus menunggu satu minggu lagi menemuinya. Umar terdiam benar saja Sarah melakukan ini karena tak enak pada Imaniar dan menjaga agar Umar harus selalu adil dalam berhubungan entah lewat suara maupun jumpa dengan Sarah. Ini sudah kewajiban Sarah saat di nikahi pertama oleh Umar. Imaniar juga tak berani menghubungi Sarah karena Umar sudah menikah dengan Sarah. Hati Sarah sebenarnya tak rela Umar sakit hati tapi Sarah harus tegas dan tak boleh menghubunginya saat ini dan harus menunggu seminggu lagi. Kalau begini lebih baik mereka aku satukan di rumah ibu…tapi Kyai Harun Al Rasyid tak mengijinkan mereka nanti akan berseteru dan akan saling salah faham. Dan membiarkan tinggal di rumah mertuanya Harun Al Rasyid. Sudah dua minggu Umar berada di rumah Imaniar dan dia bersiap menemui istrinya Sarah serta anaknya yang mungil serta lucu. Sampai rumah Umar menjumpai istrinya Sarah bersama Aqsa yang dirindukan dua duanya.

Umar     : ” Mengapa engkau begitu takut melihat aku suamimu Sarah…..? ”

Sarah     : ” Aku tidak takut suamiku…aku hanya menjaga perasaan Imaniar saja, dan aku memakai cadar karena biar kak Umar aman disamping Imaniar ”

Umar     : ” Tapi aku ingin kita seperti dulu…bebas bertatap muka dan bergurau……”

Sarah     : ” Tapi keadaan sekarang lain , kak Umar sudah memiliki istri lagi dan Sarah tak mau mengecewakan Imaniar yang harusnya menikah bersamamu dan engkau memilih aku karena pesan almarhum ayahku ” . Umar memandang Sarah dan memuji keputusannya yang melindungi kedua belah pihak antara dirinya dan Imaniar.

Umar     : ” Jika aku membuat rumah dan engkau serta Imaniar kumpul menjadi satu bagaimana…? ”

Sarah     : ” Aku khawatir ada benturan yang bisa menyebabkan kecemburuan….lebih baik seperti ini saja aku merasa terlindungi ibuk bapak serta adik-adik kak Umar dan Aqsa merasa terhibur ”

Umar     : ” Jadi aku tak boleh nih membangun rumah sendiri….? ”

Sarah     : ” Ya bolehlah…tapi jangan satukan aku dan Imaniar karena akan membuat tak bebas menata rumah tanggaku atau rumah tangganya kak …sekali lagi aku mohon maaf…” . Sarah memeluk Umar dan memohon hatinya untuk memaklumi keadaan Sarah yang sudah tak memiliki ayah lagi sedangkan ibunya ikut tinggal bersama kakaknya dan sudah tua renta. Umar mengangkat muka Sarah dan menciumnya dengan penuh kelembutan.


Dunia Misteri

Dunia Misteri

Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2020 Native Language: Indonesia
Masrul pekerja yang gigih dia seorang wiraswasta yang sering luar kota dengan menghidupi empat orang anaknya, dengan mengorder kecap cap orang tua Masrul membantu memasarkan atau bawaan apa saja yang ia dapat dengan murah dia beli dan dijual ke daerah-daerah yang amat membutuhkan pelan tapi pasti Masrul mengais rezeki . Berbekal mobil pick up dari warisan mertua istri Masrul dan SIM yang ia miliki sewaktu bekerja sebagai sopir angkot, Masrul memutuskan usaha sendiri , Fatimah istrinya tak melarang karena suaminya selalu jujur , hasilnya lumayan pendapatannya tunai, kadang Masrul ndongkrok dari pasar ke pasar menjual ketela pohon atau sayuran yang Ia beli di Weleri dijualnya ke Semarang tepatnya dipasar Johar ditemani Iskandar keponakannya yang kadang membantu menjadi sopir jika Masrul capek. Iskandar keponakan dari istrinya sangat senang bekerja menemani pamannya yaitu Masrul. Bila hari Jum'at selalu shollat jum'at di masjid mana saja yang ditemuinya dan mengaji sambil istirahat, tidurnya di mobil kadang di losmen kalau keuntungannya banyak sebagai pembuang penat saja. Jika kecap dan jualannya habis mereka baru pulang. Istrinya Fatimah tak punya fikiran macam-macam jika uangnya habis dia mengambil di ATM yang selalu di isi Masrul tiap harinya.....

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset