Dunia Misteri episode 4

Ajian Pancasona

Umar menyeka peluh keringatnya sehabis berolah raga lalu beristirahat sambil membaca sms

Anita:”Umar katanya mau ke rumah, aku tunggu loo!”

Ibu:”Pakdhemu datang dari Semarang sudah setengah jam menunggumu”.

Bapak:”Le, tolong sampaikan ke ibumu, bapak gak jadi pulang hari ini, bapak mau ke Kudus ziarah ke makam Sunan Kudus dulu nanti selesai ke Kudus langsung pulang, oh iya kapan hape ibumu bisa diambil kasihan kalau kelama an”.

Irwan:”Bro…kalau ngampus bawakan Al hadist”.

Buru-buru Umar membalas sms tersebut, waktu untuk olah raga sudah habis dan segara mandi persiapan ngampus. Anita menelepon beberapa kali tapi karena Umar masih sholat dhuha Anita telepon tak terangkat dan mati sendiri.

“Umar kemana sih kamu…?”, sebel itu yang dialami Anita. Sementara Masrul dan keponakannya Iskandar sedang  berdoa di makam bareng rombongan gurunya Kyai Haji Tantowi dari Weleri yang rencana mau menginap di Kudus dan paginya langsung pulang. Umar menemui pakdhe Musiri yang sudah lama menunggu.

Umar:”Pripon pakdhe…maaf lama menunggu ada yang bisa saya bantu…?”. Pakdhe Musiri malah ngekek-ngekek.

Pakdhe Musiri :”Piye yo…, pak mu Masrul ki tak jaluk i tulong kok malah durung bali….wah ra iso gathuk ne…”. Pakdhe garuk-garuk kepala yang tak gatal karena bingung mau jelaskan sesuatu. lalu menanyakan kapan kira-kira pulangnya. Pakdhe Musiri datang bersama orang tua yang bungkuk dan sudah keriput. Hati Umar agak tak enak melihat laki-laki tua itu yang matanya melotot melihat foto jajaran Sunan di tanah Jawa.Pakdhe Musiri pantatnya terasa panas berulang kali duduk dan berdiri lalu melihat keluar mencari sesuatu. Fatimah merasakan hawa meriang sejak pakdhe Musiri kerumah pagi ini terutama Ki Semampir teman pakdhe yang diperkenalkan ke Fatimah, orangnya kaku kelihatannya tak ramah tak ada omongannya.

Umar akan berangkat kuliah tapi hatinya tak enak…ia memasukkan Al hadis pesanan Irwan ke dalam tasnya dan menelpon Anita kalau gak bisa kerumah karena masih ada tamu, Anita kelihatannya kecewa dan Umar meminta maaf sudah mengecewakan Anita. Fatimah menyuruh Umar menelepon bapaknya agar segera pulang dan tak usah menginap tapi Masrul malah menelepon Umar dan minta dihubungkan ibunya karena ini penting sekali.

“Bu lakukan sholat Asar beserta sunahnya, anakmu sekalian diajak … dilanjut sholat Maghrib beserta sunahnya juga Isyak , bapak segera pulang”. Fatimah manut saja apa yang diperintahkan suaminya, Masrul lalu memanggil Umar dan memberikan perintah.

Umar :”Iya pak.., Inggih..Inggih…..Waalaikumsalam….”. Umar mengakhiri pembicaraan dan segera berangkat kuliah.

Anak-anak Fatimah sudah pada pulang dan segera makan, pakdhe Musiri sudah disiapi makan siang tapi tak mau makan karena Ki Semampir tak mau makan. Sholikhin ke ruang tamu melihat Ki Semampir merkidik bulu tengkuknya apalagi mata Ki Semampir  melotot mau copot. Perlahan Sholikhin mundur, Umiyatul melihat kakaknya mundur teratur jadi curiga lalu mengintip lewat gorden ada apa disana tapi tiba-tiba gorden itu membuka tertiup angin sambil membawa debu beterbangan sehingga mata Umiyatul kelilipan dan berlari menuju kamar mandi, Fatimah ikut membasuh dan mengganti jilbab putrinya. Achmad si bungsu mendekati kakaknya Sholikhin Ia merasa kakaknya kaget dan ketakutan, lalu ia mencoba menetralisir dan mengambilkan air putih seperti yang biasa dilakukan ayahnya. Sholikhin sudah lega Achmad bertanya pada kakaknya sebenarnya apa yang sudah terjadi barusan  dan kakaknya hanya menunjukkan arah ruang tamu. Achmad pelan-pelan menuju ruang tamu lalu mengucaplan salam tapi tak ada yang menjawabnya, tiga kali ucapan salamnya tak dijawab Achmad marah tapi Fatimah menarik tangan anaknya agar tak mendekati ruang tamu. Achmad memang pemberani seperti Umar kakaknya dan Masrul bapak , sedangkan Sholikhin dan Umiyatul cenderung seperti ibunya.

Pulang kuliah Irwan dan Anita ke rumah Umar menyelesaikan tugas kelompok, pintu depan masih tertutup, Anita dan Irwan duduk di kursi panjang di luar

“Rumahmu kok jauh dari perkampungan dan jarak rumahnya jauh antara rumah satu dan rumah lainnya”, kata Anita pada Umar yang dijawab Irwan

Irwan :”Apa kamu belum pernah ke rumah Umar ..Nit..?”.

Anita :”Kan baru kali ini aku masuk group Umar!!”.

Irwan :”Pantas…udara disini nyaman, ya ini yang namanya Desa…”.

Anita :”Nyaman buat pacaran nih yeeee….”, sambil tertawa Anita bergurau. Umiyatul mengajak Anita dan Irwan melewati pintu samping, dimeja belakang itu bertumpuk buku – buku islami lalu Umar mempersilahkan duduk dan Umiyatul membawa minuman.

“Nah…inilah ruang santri yang dipakai belajar santrinya ibuk atau bapak….dan itu tugas kalian nempel di papan tulis yang semalam sudah aku pelajari kalau mau mengecek silahkan…kalau ada yang kurang paham itu ada buku yang mempertegas jawabannya”. Umar memberi penjelasan dan Anita maupun Irwan memfoto semua jawaban yang ada di papan tulis.

Anita :”Sip…aku cepat selesai dan kita lekas pulang Wan”. Umar menemani Irwan dan Anita menyelesaikan tugasnya sambil berdzikir dan mereka  pun pulang khawatir kesorean. Fatimah dan Umi membersihkan ruangan sholat disamping kamar santri, Sholikhin berwudhu diikuti adiknya Achmad, shojadah panjang sudah dibentangkan ibu dan Umiyatul lalu segera berwudhu Sholikhin dan Achmad mengalunkan ayat suci Alquran sedangkan Umar menemui tamunya, salam tak dihiraukan.

Umar mendekati Pakdhe Musiri dan mengajaknya sholat karena Achmad sudah mengumandangkan adzan agar segera melaksanakan sholat asar, Umar amat sedih melihat pakdhe Musiri yang tak berdaya sambil memegang kepalanya sepertinya kesakitan sedangkan Ki Semampir agak marah karena tak dihiraukan tuan rumah. Umar melihat gelagat kalau Ki Semampir akan marah maka Umar mengajaknya untuk sholat tapi Ki Semampir malah marah dan tubuh pakdhe Musiri di lempar ke dipan sehingga menimbulkan suara gaduh, Umar diam saja dan membacakan surat Alfatikhah agar pakdhe tenang , Umar segera wudhu dan melakukan sholat sunah, lalu Sholikhin diperintahkan untuk membaca Iqomah dan sholatpun segera dimulai.                                                  Pakdhe Musiri berguling-guling di lantai menahan sakit . Selesai sholat berjamaah Umar wirid bersama Fatimah ibunya , adik-adiknya membaca Alquran, Ki Semampir merasakan kepanasan dan menendang meja kursi yang ada di sampingnya sedangkan Pakdhe Musiri amat ketakutan badannya terasa kedinginan.

Masrul dan Kyai Tantowi  ingin segera menuju rumah Masrul yang sedang disatroni mahluk berilmu hitam, maka pak Kyai Tantowi mengumpulkan santrinya agar segera menyelesaikan tugasnya dan Iskandar disuruh mendampingi santri-santri sampai Ki Begawan ( juru kunci makam ) memberikan sesuatu yang amat di tunggu Kyai Tantowi di rumah Masrul.

Secepat kilat tubuh Masrul dan Kyai Tantowi menghilang  bersamaan penghormatan santrinya. Iskandar mengawasi santri-santri tersebut membacakan/menghafal Surat Yassin secara bersamaan dan harus kompak.

Masrul langsung masuk ruang santri dan melihat semuanya sedang melakukan sholat Isyak tahyat akhir, Umar merasakan kehadiran ayahnya.

Pintu depan seakan di gedor dan membuka paksa, byarrrr…..nyaring sekali bunyinya , Ki Semampir tertawa terkekeh-kekeh dan terbang ke angkasa…Pakdhe Musiri dipeluk Masrul karena mau dibawa pergi sedang tubuhnya sudah tak berdaya. Umar membantu bapaknya dan berdoa agar pakdhe Musiri selamat dan dibawa ke kamar pengobatan dan dipertanggung jawabkan Achmad. Ibu membacakan ayat kursi secara bersamaan dengan Sholikhin dan Umiyatul, Achmat menetralisir keadaan Pakdhe Musiri yang badannya menggeliat dan kejang-kejang.

Kyai Tantowi dan Masrul terhantam pukulan Ki Semampir yang dasyat hingga terpental dan memutahkan darah segar….Kyai Tantowi terheran-heran sungguh tangguh sekali Ilmu Ajian Pancasona dan mahluk sialan itu tak bisa mati dan selalu bangkit lagi.

Kyai Tantowi menormalkan tubuhnya sedang Masrul dan Umar melawan Ki Semampir, Ki Begawan mengingatkan Kyai Tantowi lewat bisikan hati.

“Jangan melawan akan sia-sia menguras tenagamu, senjata apapun tak bisa melukainya, alam saja tak mau menerima jasadnya…aku titipkan penjara buat makhluk laknat itu dan sedang dalam perjalanan, pancinglah agar mau masuk jebakan itu” Begitu pesan Ki Begawan.

Iskandar melarikan cold pick up bareng santrinya Kyai Tantowi karena disuruh lekas sampai oleh Ki Begawan, perlawanan itu sangat sengitmya sampai tengah malam, Kyai Tantowi hanya mengulur waktu sampai Iskandar sampai. Tiba-tiba makhluk itu menghilang dan kesempatan ini dipakai mengatur strategi. Kyai Tantowi menjaga pintu depan, Masrul menjaga pintu samping dan Umar mengawasi pintu belakang. Tiba-tiba makhluk itu berubah menjadi naga yang mengeluarkan api dimulutnya bertepatan dengan Iskandar sambil membawa botol kaca dan diserahkan kyai Tantowi Umar tahu itu hanyalah sihir belaka . Fatimah dan semuanya dah kecapaian .

Kyai Tantowi memasrahkan Fatimah karena saat ini jelang subuh kekuatan wanita yang menguasai sambil menyerahkan botol. Fatimah mengajak anak-anaknya bertawasulan sambil membuka tutup botol dan anehnya naga itu berubah jadi asap putih dan masuk dalam botol.

 


cerbung.net

Dunia Misteri

Score 0.0
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2020 Native Language: Indonesia
Masrul pekerja yang gigih dia seorang wiraswasta yang sering luar kota dengan menghidupi empat orang anaknya, dengan mengorder kecap cap orang tua Masrul membantu memasarkan atau bawaan apa saja yang ia dapat dengan murah dia beli dan dijual ke daerah-daerah yang amat membutuhkan pelan tapi pasti Masrul mengais rezeki . Berbekal mobil pick up dari warisan mertua istri Masrul dan SIM yang ia miliki sewaktu bekerja sebagai sopir angkot, Masrul memutuskan usaha sendiri , Fatimah istrinya tak melarang karena suaminya selalu jujur , hasilnya lumayan pendapatannya tunai, kadang Masrul ndongkrok dari pasar ke pasar menjual ketela pohon atau sayuran yang Ia beli di Weleri dijualnya ke Semarang tepatnya dipasar Johar ditemani Iskandar keponakannya yang kadang membantu menjadi sopir jika Masrul capek. Iskandar keponakan dari istrinya sangat senang bekerja menemani pamannya yaitu Masrul. Bila hari Jum'at selalu shollat jum'at di masjid mana saja yang ditemuinya dan mengaji sambil istirahat, tidurnya di mobil kadang di losmen kalau keuntungannya banyak sebagai pembuang penat saja. Jika kecap dan jualannya habis mereka baru pulang. Istrinya Fatimah tak punya fikiran macam-macam jika uangnya habis dia mengambil di ATM yang selalu di isi Masrul tiap harinya.....

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset