Dunia Misteri episode 9

Panen Pisang

Mbak Ratna mengambil pesanan mie kering dari Iskandar.

Mbak Ratna      : ” Matur suwun mas Is.., kalau bisa seminggu dua kali biar bisa memenuhi kebutuhan saya….?!”

Iskandar            : ” Loh mbak Ratna rumahnya mana…? ”

Mbak Ratna      : ” Saya di Puspanjolo tengah…apa mau dianter ke rumah juga mau sekali….?”

Iskandar            : ” Bisa tak apa mbak…saya antar sekalian ….. pasalnya belinya banyak …kasihan membawanya “.

Mbak Ratna      : ” Asiiik makasih ya mas Is….semoga Alloh yang membalas kebaikanmu mas….”

Iskandar            : ” Aamiin matur nuwun pendongane mugo-mugo di ijabah Gusti Alloh “. Mbak Ratna bersama seorang wanita yang megangi mie dibelakangnya memang tampak ribet karena yang gonceng badannya gemuk dan sulit naik motornya dan meminta Iskandar membantu mengangkat mie nya.

Iskandar           : ” Hati-hati..pelan-pelan saja….”.

Ratna               : ” Ya , trima kasih…mas Is, assalamuAllaikum…”.

Iskandar          : ” WaAllaikum salam…”.

Masrul melaju ke arah Bangetayu untuk mengambil pisang raja pesanan pelanggan yang buka outlet di pasar Peterongan.

Masrul           : ” Mas Imam…berapa pohon yang siap panen…?”

Imam             : ” Lumayan ada yen….20 pohon  Dhe..?!”

Masrul langsung menuju arah kebun pisangnya mas Imam yang ada di pinggir jalan raya.

Masrul           : ” Loh ..ini dah pada tua..kok belum dipanenin..? keburu busuk entar…? ini empat hari sudah pada kuning…aku panen sekalian ya Mam…?”

Imam             : ” Ya..gak apa kang kalau ada yang mau beli….!”.

Masrul           : ” Ini hari aku bawa 20 tundun , sisanya besok bagaimana Mam…?”

Imam             : ” Iya kang boleh…saya di rumah kok….”.

Masrul dan Iskandar cepat sekali memanen buah pisang raja yang sudah semburat hampir menguning di pohon, alat pemotongnya pakai sabit yang tajam sekali tebas ambruk pohon tersebut  lalu ditangkap pisangnya dipotong dan ditata rapi di bak mobil pickup. Sudah 20 pohon tumbang Masrul segera pamit dan memberikan uangnya.

Masrul            : ” Sopiri Is…aku di belakang membersihkan pisangnya”

Iskandar          : ” Ya Lek…siap..” Iskandar menuju pasar Peterongan,

Masrul amat senang dengan hasil panen Imam yang selalu matang di pohon dan gak pakai obat perangsang macam ragi dan lain-lainnya cukup didiamkan nanti akan menguning sendiri. Masrul membersihkan pisang dengan lap yang lembab jadi kelihatan bersih dan mengkilap, orang banyak yang mau beli karena melihat kesegarannya dan matang pohon tapi Masrul hanya bilang sudah ada yang punya , karena penasaran orang pada mengikuti mobil Masrul yang dikemudikan Iskandar.

Sampai pasar Peterongan Mak-e Supri langsung memasukkan pisang dalam outletnya dan memberikan uang nya pada Masrul.

Mak-e Supri  : ” Waaah..joss tenan…nih pisang..kalau kayak gini bakalan laris daganganku…ini aku kasih tambahan dari harga biasanya…dua ratus ribu cukup…?”

Masrul           : ” Tambahin 50 ribu buat yang bersihin pisang to Yu…?!”

Mak-e Supri  : ” Yoo..ini uangnya..wis yo saah….besok carikan yang kayak gini lagi aku mau banget..joos…laris…laris…”

Mak-e Supri sambil mengelus-elus buah pisang dengan uang tersebut…agar dagangannya cepat laku. Masrul menghitung uangnya dan tersenyum senang dan kembali ke Bangetayu ke rumah Imam dan istirahat di sana. Iskandar mengabari Imam kalau akan menginap di Bangetayu dan akan membawakan koyor dan kikil kesukaan santri Bangetayu. Imam bergegas menanak nasi dan menghubungi Mustafirin kakaknya untuk membantu menatakan piring.

Masrul membeli koyor amat banyak beserta kikil dan kuahnya amat harum karena dimasukin bawang goreng dan menambahkan kerupuk udang, ” Pokoknya malam ini kita kangen-kangenan sama pondokannya Imam di Nurul Huda..”, kata Masrul penuh antusias. Sampai di rumah Imam bungkusan-bungkusan koyor dan kikil dituang Imam ke dalam dandang besar  dan anak-anak yatim ikut menatanya. Masrul shollat bersama di masjid pondokan Nurul Huda dan bersilaturahmi dengan Kyai H.M. Charis yang menyambut Kyai Masrul dengan amat senangnya. Malam itu mereka menikmati makan bersama seluruh isi pondok mendapatkan makan sampai tembah-tambah.

Iskandar heran kenapa koyor kikil ini tak habis-habis…malah bertambah banyak saja sampai bisa memenuhi asrama dan santriwatipun ikut membantu membagikan makanannya. Meskipun heran Iskandar tetap tersenyum dan riang gembira

Masrul dan Kyai H M Charis berdiskusi tentang sejarah Maulud Nabi Muhammad SAW sedangkan para santri melakukan shollawatan tak henti-hentinya. sebelum istirahat Masrul memimpin sholat hajad dan berdoa bersama, Kyai Charis bertangisan sama Masrul mengenang ketika masih bersama mondok di Weleri.

Daging koyor yang masih ada dipanasi oleh santriwati agar bisa dinikmati esok hari untuk sarapan.

Sebelum tidur Masrul membaca surah Al Kahfi di lanjut Iskandar membaca surah Ar Rahman. Pondokan itu kelihatan bercahaya dan amat aman penghuninya. Imam memberikan hasil penjualan pisang dan besok akan dibeli lagi oleh kyai Masrul, Mustafirin menerima uang itu dan menyimpannya untuk keperluan pondokan di kyai Charis

Fatimah istri Masrul menelepon menanyakan kesehatannya dan mengabarkan kalau Ahmad si kecil minta di sunat dan Masrul sepulang dari Semarang akan menyiapkan kitanan buat Ahmad dan Umiyatul sudah kataman Alquran hari ini.

” Alhamdulillahirobbil’Allamiin…segala puji untukmu Ya Alloh…putriku sudah katam hari ini” Masrul amat bahagia dan esok hari sehabis kirim pisang akan langsung pulang ke Kaliwungu dan membangunkan Iskandar

Masrul        : ” Is Ahmad sudah berani minta di sunat..Alhamdulillah…. ”

Iskandar      : ” Alhamdulillah…Lek…sudah berani dia…semoga gak mutung lagi…?!”

Masrul        : ” InsyaAlloh….” Masrul melakukan shollat tahajud bersyukur karena mendapat kabar yang baik dari istrinya.

Jam delapan pagi Masrul sudah memanen pisang, Iskandar amat gemas melihat panenan yang segar dan semburat.

Iskandar      : ” Bagus-bagus ya Lek…segar lagi…”.

Masrul        : ” Alhamdulillah….ini Mak-e Supri sudah menanyakan kiriman pisangnya…”.

Iskandar      : ” Aku aja yang panen gek gemes… mbersihin pisang…sudah gak sabar kayaknya ya Lek…?”

Masrul        : ” Namanya rejeki kalau sudah waktunya pasti akan nyampai juga..” dengan tertawa penuh semangat Masrul membabat pohon pisang,

Mustafirin mengatakan pelepah pisangnya biarkan saja gak usah dibersihkan karena nanti siang ada yang mengambilnya buat dikeringkan sebagai karya seni dhe…?!”

Masrul        : ” Iya dhe Rul cuma memberi cahaya buat anakan pisang yang banyak banget ini…”.

Mistafirin   : ” Alhamdulillah Lek….nanti aku pindahin dan  itu yang sebelah barat sudah mulai ber bunga jantungnya sudah mulai merah dan membesar…nanti biar Imam yang ngabari kalau siap panen lagi karena Imam yang mengurus perawatannya dan panen…kalau aku pengadaan pisang dari tunas sampai jelang berbunga dhe…”

Masrul bangga pada dua bersaudara tersebut yang mondok dekat rumah sedang bapak dan ibunya di Mranggen sambil jualan sembako dan memelihara adik-adik Mustafirin dan Imam empat orang, satu di MAN, 2 di MTs dan 1 di MI .

Ayah Mustafirin adalah satu perguruan dengan ayah Masrul yang asli Kaliwungu tapi pindah di Mranggen  dan  membeli tanah di Bangetayu karena disana tanahnya subur yang cocok untuk tanaman pisang karena  Mustafirin dan Imam mewarisi kebun pisang dan orang tuanya membagi dua tanah tersebut untuk bekal hidupnya. Ayah Masrul memiliki banyak pesantren diantaranya Nurul Huda yang sekarang dipimpin KH.M Charis, Masrul sering diajak ke pesantren – pesantren untuk menimba ilmu. Ayah Masrul bernama KH Rasuan yang amat dermawan serta tekun beribadah. Sebelum meninggal KH Rasuan berpesan untuk selalu menjaga pesantren yang didirikannya serta menyambung silaturahmi kepada kerabat-kerabat yang mengenalnya jangan sampai putus persaudaraannya.

Fatimah istri yang penurut dan menjunjung tinggi martabat keluarga dan sangat tunduk dengan keyakinannya, ilmu keagamaan Fatimah kuat karena ditempa terus oleh ayahnya dan Fatimah mahir dalam mengolah persenjataan sedangkan Masrul kuat dalam berdo’a dan beribadah. Nama Masrul amat terkenal di pondok kawasan Jawa Tengah dan Jawa Timur karena ibu Masrul jebolan pesantren putri di Tebu ireng Jombang. Masrul orangnya sederhana dan sangat bersahaja seperti KH Rasuan yang selalu keliling daerah menyebarkan agama Islam dan tak banyak memiliki harta kekayaan tak seperti Fatimah istrinya yang diberikan peninggalan tanah yang cukup luas dan mobil pickup untuk usaha Masrul dan berharap akan mampu meneruskan pesantren peninggalan kedua orang tua Masrul dan Fatimah.

Masrul kaget  karena Iskandar mengangkat pisang dan menatanya di bak mobil maka buru-buru membantu Iskandar menaikkannya

Iskandar      : ” Kenapa to Lik…kok diam sedari tadi…maaf tadi mengagetkan ya…?”

Masrul        : ” Ra popo Is….Lek Rul cuma teringat almarhum ibu dan bapak ketika masih berada di pesantren Nurul Huda …rasanya kangen banget..”

Iskandar meminta menyetir mobilnya karena biar Masrul lebih tenang, Iskandar membawanya ke Peterongan


cerbung.net

Dunia Misteri

Score 0.0
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2020 Native Language: Indonesia
Masrul pekerja yang gigih dia seorang wiraswasta yang sering luar kota dengan menghidupi empat orang anaknya, dengan mengorder kecap cap orang tua Masrul membantu memasarkan atau bawaan apa saja yang ia dapat dengan murah dia beli dan dijual ke daerah-daerah yang amat membutuhkan pelan tapi pasti Masrul mengais rezeki . Berbekal mobil pick up dari warisan mertua istri Masrul dan SIM yang ia miliki sewaktu bekerja sebagai sopir angkot, Masrul memutuskan usaha sendiri , Fatimah istrinya tak melarang karena suaminya selalu jujur , hasilnya lumayan pendapatannya tunai, kadang Masrul ndongkrok dari pasar ke pasar menjual ketela pohon atau sayuran yang Ia beli di Weleri dijualnya ke Semarang tepatnya dipasar Johar ditemani Iskandar keponakannya yang kadang membantu menjadi sopir jika Masrul capek. Iskandar keponakan dari istrinya sangat senang bekerja menemani pamannya yaitu Masrul. Bila hari Jum'at selalu shollat jum'at di masjid mana saja yang ditemuinya dan mengaji sambil istirahat, tidurnya di mobil kadang di losmen kalau keuntungannya banyak sebagai pembuang penat saja. Jika kecap dan jualannya habis mereka baru pulang. Istrinya Fatimah tak punya fikiran macam-macam jika uangnya habis dia mengambil di ATM yang selalu di isi Masrul tiap harinya.....

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset