Elizabeth Granzchesta episode 2

Chapter 2

Elizabeth Granzchesta tiba di puncak tebing tertinggi di pantai itu, tempat dimana ia memutuskan untuk mengakhiri hidup. Tidak ada yang istimewa dari tempat itu selain panoramanya yang indah saat memandang lautan yang terhampar dari ketinggian. Tak ada tetumbuhan lain selain rumput-rumput hijau yang tumbuh sampai sebatas mata kaki, dan juga sebatang pohon ek tua dengan dedaunannya yang telah mengering dan berguguran. Dan apapun yang terjatuh dari puncak tebing itu bisa dipastikan akan langsung bertemu dengan laut, sebab struktur tebing itu yang menjorok keluar—kearah lautan lepas.

Lisette menutup matanya sejenak. Mencium aroma air asin yang terbawa oleh angin, lantunan hempasan ombak-ombak yang menghujani dasar tebing, dan cahaya matahari senja yang bersinar menembus kulit-kulit. Di matanya kini, di dalam hatinya saat ini, dunia tampak semakin meneguhkan tekadnya. Mimpi-mimpi yang telah lama ia harapkan. Menerima akibat dan segala daya dan upaya yang telah ia lakukan.
“Berhenti!!” teriak seseorang di belakang Lisette. “Jangan lakukan apa pun yang ingin Anda lakukan, nona! Tak peduli seberat apa, tak peduli semenyakitkan apa. Percayalah—yakinlah, Anda bukanlah satu-satunya manusia yang paling menderita di dunia ini!!”

Lisette berpaling, dan terlihat sesosok pemuda yang sama sekali tak dikenalinya. Pemuda itu kira-kira berumur dua puluh empat tahunan, berambut hitam legam, dan memiliki mata tegas berwarna kecokelatan. Wajahnya tercukur rapi, dan hanya mengenakan celana pantai biru tua setinggi lutut, memperlihatkan otot-otot tubuhnya yang cukup atletis. Namun terlepas dari semua itu, Lisette bisa merasakan kegetiran yang coba disembunyikan olehnya.

“Kemarilah,” sambung si pemuda menjulurkan tangannya. “Raih tanganku, dan nona dapat menceritakan semua masalah yang tengah nona hadapi saat ini. Sungguh, membunuh diri sendiri bukanlah jalan keluar terbaik. Saya bisa merasakan apa yang nona rasakan saat ini.”

Lisette manatap mata pemuda itu dalam-dalam. Intuisinya—melalui perantara Yang Lain di jiwanya—mengatakan bahwa dua jam yang lalu pemuda itu berdiri di tempatnya berdiri saat ini. Merasa hidupnya sia-sia setelah mengetahui wanita yang teramat dicintainya berselingkuh dengan pria yang disebutnya sebagai sahabat. Tapi saat akan melompat dia memikirkan berbagai macam bentuk pembalasan dendam, lalu memaki dirinya sendiri karena menganggap bunuh diri sebagai satu-satunya jalan keluar. Bagaimana pun, masih pikir si pemuda kala itu, dia hanya telah mencintai wanita yang salah, dan betapa beruntung mengetahui tabiat kekasihnya itu sekarang—bukan nanti, saat mereka telah mengikat janji suci di pelaminan. Pemuda itu juga menyadari kalau karirnya saat ini mungkin belumlah sesukses sahabatnya, dan jika dibandingkan dengan sahabatnya pula wajahnya tidaklah terlalu tampan. Namun tetap pemuda itu menganggap dirinya masihlah jauh lebih baik daripada sahabatnya itu. Sebab paling tidak, dia belum pernah mengkhianati orang-orang yang mencintai dan dicintainya. Dan sampai kapan pun dia tetap akan memegang teguh prinsip itu, meski pada akhirnya dikhianati oleh seseorang yang sangat dicintainya.

Lalu mungkin besok; atau besok lusa; seminggu ke depan; sebulan; setahun; atau bahkan sepuluh tahun lagi, dia akan bisa menyaksikan penderitaan kedua orang yang telah menyakitinya saat ini. Kemudian dengan penuh rasa kepuasan diri dia akan mengatakan, dunia memang diciptakan sangat adil!

Pemuda itu melangkah berlahan, sesekali menyatakan hal-hal indah untuk meyakinkan si wanita; tentang betapa berharganya kehidupan, dan tentang bagaimana menderitanya manusia-manusia di belahan dunia lainnya. Tapi di lain waktu, dia bergumam tentang sesuatu yang hanya dapat dimengerti oleh dirinya sendiri. Membayangkan bahwa pertemuannya dengan wanita itu—wanita cantik nan anggun yang melakukan hal sama persis seperti yang dilakukannya tadi—adalah karena takdir. Ya, walau baru kali ini dia memercayai tentang takdir, tapi mungkin saja wanita dihadapannya itu adalah jodohnya.

Lisette mengangkat sebelah tangannya menyambut uluran tangan pemuda itu. Namun sekonyong-konyong bibirnya melengkung tegas, melintas di antara kedua sisi wajahnya. Dan kelicikan, jelas terpancar dari sorot matanya yang menajam seketika.

“Ya—kemari, raih tanganku.Selamatkan aku.” Ujarnya dengan nada yang teramat dingin.

Pemuda itu terkesiap, pupilnya yang mengembang seolah menunjukkan keterkejutannya yang teramat sangat. Menurutnya, atau bahkan menurut banyak orang yang tak pandai membaca ekspresi wajah sekalipun, pasti menyadari jika itu bukanlah ekspresi yang seharusnya ditunjukkan oleh mereka yang ingin mengakhiri hidup. Sebab—seperti yang dia baca di buku-buku; novel; atau film-film—mereka yang ingin mengakhiri hidup haruslah menunjukkan ekspresi kerapuhan; ketidak mampuan dalam melewati rintangan-rintangan kehidupan. Dan jika tampak dari luar, wajahnya—wajah seseorang yang ingin bunuh diri—haruslah terlihat pucat pasi, depresi, putus asa, atau paling tidak marah-marah dengan berteriak tidak seorang pun di dunia ini yang dapat mengerti penderitaannya. Dan bukannya ekspresi seperti yang ditunjukkan wanita itu saat ini. Wajahnya itu bahkan lebih cocok disebut sebagai luapan emosi kebahagiaan, atau kepuasan seolah dirinya telah berhasil menaklukkan seluruh isi dunia.

Tanpa perlu berkata-kata Lisette dapat memahami apa yang ada di dalam benak pemuda itu. Seperti kebanyakan orang pada umumnya, rasa takut. Banyak orang berharap hidup mereka berubah menjadi lebih baik, namun saat kesempatan mengubah hidup itu datang, mereka enggan untuk melangkah. Takut melakukan hal yang belum pasti; takut melanggar aturan-aturan dan tradisi; takut mengambil keputusan beresiko; takut akan hal-hal baru; takut pada kegelapan tak pasti yang terbentang dihadapannya.

“Bagaimana jika gagal?” “Aku tak yakin mampu melakukannya.” “Terlalu beresiko!” “Bukan diriku jika harus melakukan ini!”

Ya—ketakutan, Lisette juga pernah mengalaminya. Takut dikala harus tinggal di panti asuhan bersama orang asing; takut saat harus meninggalkan panti asuhan dan menuju dunia yang sama sekali baru; takut tatkala harus bersaing dengan para seniornya; takut mengambil keputusan penting yang terlalu beresiko. Takut, takut, takut. Ada banyak sekali ketakutan yang pernah dihadapinya, namun tak pernah sekali pun ketakutan itu benar-benar berhasil menguasainya. Ia selalu berusaha untuk bisa memahami ketakutannya, menerimanya, membiarkannya menjadi badai yang berkecambuk di dalam hati. Sebab ia yakin, hanya dengan mengenal ketakutannya lah ia baru akan bisa menyadari batasan tentang dirinya. Kelemahannya, kekurangannya, serta berjuang untuk menaklukkannya. Ia harus menjadi kesatria bagi dirinya sendiri, kesatria yang berjuang mengalahkan rasa takutnya.

Kesempatan bagi Lisette tak hanya datang untuk satu kali. Kesempatan bisa datang dua kali; tiga kali; sepuluh; bahkan hingga seratus kali. Jadi saat dirinya gagal pada kesempatan pertamanya, ia tak akan duduk termenung dan hanya menyesalinya. Melainkan bangkit, berusaha menyambut kesempatan lain yang yakin akan mendatanginya. Dirinya harus berubah, karena ia percaya tidaklah mungkin bisa menggapai kesempatan lain juga terus tenggalam pada dirinya yang lama—dirinya yang telah dikalahkan. Ia harus menjadi lebih baik, untuk menyongsong kesempatan lain yang lebih baik pula.

Dan Lisette juga tak pernah berhenti untuk selalu mengambil setiap kesempatan yang datang kepadanya. Sekecil apa pun itu; setidak berharga apa pun kesempatan itu terlihat. Sebab baginya tak’kan ada kesempatan kedua jika tak pernah menyambut kesempatan pertamanya. Dan tak’kan pernah ada kesempatan keseratus, jika ia tak pernah menyambut kesembilan puluh sembilan kesempatan sebelumnya.

“Bagaimana jika gagal?” “Bagaimana untuk tidak gagal?” “Aku tak yakin mampu melakukannya.” “Aku yakin mampu melakukannya.” “Terlalu beresiko!” “Harus mengambil resiko!” “Bukan diriku jika harus melakukan hal ini!” “Jika bukan seperti ini, lantas seperti apa aku yang seharusnya?!”

Laksana berjalan dalam kegelapan. Jika takut untuk melangkah maka ia hanya akan bisa memimpikan sebuah cahaya. Dan jika menyerah, ia hanya akan kembali ke tempat yang sama.

*

Elizabeth Granzchesta kembali menatap lautan, mengabaikan pemuda yang memandanginya dalam kegelisahan. Satu langkah tegas diambilnya melewati bibir tebing seolah ia yakin dapat memijak langit. Namun sesungguhnya dirinya hanyalah manusia biasa, bukan pesulap ataupun malaikat yang memiliki sepasang sayap. Hingga sekejap saja tubuhnya menghilang dari puncak tebing, menghujam deras menuju lautan lepas yang terbentang sangat luas.

Lisette membayangkan, dalam beberapa hari ke depan namanya akan tercantum di headline utama surat kabar. Yang lalu akan diikuti rasa berduka cita teramat dalam yang entah harus ditujukkan kepada siapa—mungkin pada perusahaan tempatnya bekerja, atau panti asuhan tempatnya dibesarkan, atau bisa juga kepada para mantan kekasihnya. Namun satu hal yang dapat dipastikannya, yaitu akan adanya berjuta pasang mata yang akan membaca kisah hidupnya. Tentang perjalanan karirnya yang akan di dramatisir semenyedihkan mungkin, juga tentang kebaikannya yang akan dilebih-lebihkan seolah dunia kehilangan salah satu manusia paling arif di muka bumi. Tetapi sesungguhnya, apa pun yang akan mereka baca nantinya, akhir ceritanya akan sama, yaitu wanita cantik, kaya raya, sukses, ternama, dan telah memiliki banyak kekasih itu meninggal karena bunuh diri. Selanjutnya mereka akan coba menerka hal apakah yang menyebabkan seorang wanita cantik, kaya raya, sukses, ternama, dan telah memiliki banyak kekasih itu membunuh dirinya sendiri. Dan apa pun penyebab yang mereka ketemukan, kesimpulannya juga akan tetap sama, bahwa kecantikan, kekayaan, kesuksesan, nama besar, dan dapat memiliki banyak kekasih, bukanlah jaminan seseorang dapat hidup bahagia. Kemudian, untuk mereka yang juga pernah memimpikan kecantikan, kekayaan, kesuksesan, nama besar, dan dapat dengan bebas memilih pendamping hidupnya, akan merasakan kepuasan sebab mimpi itu tidaklah pernah benar-benar terwujud.

Seseorang akan cenderung mencari pembenaran atas keputusan mereka yang tak lagi percaya pada harapan. Sebab manakala seseorang mengawali mimpinya, dia pastilah mengharapkan sesuatu yang hebat; sesuatu yang indah yang selama ini hanya mampu mereka idamkan. Kekayaan, pencapaian tertinggi, citra yang baik, pasanga hidup ideal. Tak ada seorang pun yang mengawali segalanya dengan bersungguh-sungguh mengharapkan sesuatu yang buruk akan terjadi. Sesuatu yang buruk itu barulah muncul saat seseorang menyadari bahwa apa yang mereka harapkan terlampau sulit untuk diraih.

Memang siapa diriku?! Aku hanya seekor burung yang terkurung dalam sangkar.Tak pantas memimpikan langit, tak pantas untuk bisa berharap bebas mengepakkan kedua sayap. Inilah hidupku, inilah nasib yang harus kujalani, dan aku harus berpikir realistis.

Harapan adalah sesuatu teramat penting yang harus selalu dapat dijaga. Dan Lisette, sama sekali tak berkeinginan untuk memandamkan sepercik api harapan dalam hatinya. Ia mungkin berulang kali gagal, ia juga bisa jatuh berkali-kali bahkan hingga menangis, ia dapat terpuruk sangat dalam dan frustrasi. Namun tak sedikit pun ia boleh kehilangan harapan atas sesuatu yang menjadi tujuannya. Ia juga tak memiliki keinginan untuk menurunkan harapannya sampai ke tingkat yang menurut kebanyakan orang realistis. Jika ia belum mampu memenuhi sesuatu yang menjadi harapannya, maka ia harus berjuang lebih, dan lebih keras lagi. Sebab baginya harapan adalah jangkar yang menahannya saat badai bernama krisis itu datang melanda. Harapan adalah penopang tatkala tak lagi ada kekuatan untuk bangkit dari keterpurukan.

Berharap memiliki kehidupan yang lebih baik; berharap untuk memiliki apa yang belum dimiliki; berharap bisa meraih apa yang selalu diimpikan. Dan yang terutama bagi seorang Elizabeth Granzchesta, harapanlah yang telah membawanya pergi sampai sejauh ini, kehamparan laut biru mengelilingi.

*

Elizabeth Granzchesta merentangkan kedua tangannya lebar. Bersantai, menikmati suasana langit senja bergelombang karena pembiasan cahaya di permukaan air laut. Bagaimana pun ia menyadari bahwa dirinya saat ini tengah dalam bahaya, berada jauh dibawah laut tanpa sebuah alat apa pun yang dapat membantunya bernafas. Tapi tak apa-apa, semuanya akan baik-baik saja. Ya—meski bila nanti oksigen yang tersimpan di tubuhnya ini habis, dan ia tenggelam dengan meminum banyak sekali air laut. Sungguh, semuanya akan tetap baik-baik saja. Ia telah mempersiapkan segalanya, hatinya; jiwanya; tubuhnya—semuanya.

Harapannya masihlah sangat membara seperti kala ia baru memulai mimpinya. Ketakutannya telah dikalahkannya—bagai seutas benang tipis yang dapat dengan mudah dipatahkan. Suara hatinya telah mengatakan segalanya yang ingin diketahuinya, jadi selebihnya ia hanya perlu memercayainya. Dan dirinya, telah sepenuhnya menjadi dirinya sendiri. Pemikirannya, tindakannya, ucapannya, konsekuensi dari segala perbuatannya, hingga tak ada seorang pun berhak mengkritik kehidupan atau keputusan yang diambilnya

Dan pada akhirnya—sesungguhnya, Elizabeth Granzchesta, hanyalah sekedar nama.
Ia bisa menjadi apa pun, ia bisa menjadi siapa pun.


cerbung.net

Elizabeth Granzchesta

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2017 Native Language: Indonesia
Seorang gadis cantik bermata biru dan berambut emas yang berpikir dunia ini sangatlah membosankan baginya , segala kesuksesan telah ia raih , tidak hanya cerdas , ia juga sangat disegani dan dikagumi oleh banyak pria , namun ini bukanlah dunia yang ia inginkan , sejak kecil dia menginginkan tinggal di dunia dongeng dimana ia dapat makhluk berkuping panjang , bersayap serta mermaid yang memenuhi lautan.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset