Elizabeth Granzchesta episode 3

Chapter 3

Elizabeth Granzchesta terbangun dipangkuan seorang gadis berambut perak. Bola mata gadis itu yang besar dan bulat, serta warnanya yang keabu-abuan, menatap dirinya penuh ketertarikan. Lebih-lebih pipinya yang memerah, hidung mungilnya, dan bibirnya yang merekah indah penuh kegembiraan, menggambarkan jelas betapa manis rupa gadis tersebut.

“Kau tidak apa-apa?” kata gadis itu bertanya.

Namun bibir yang terkatup rapat-rapat itu seolah menjelaskan bahwa Elizabeth Granzchesta, enggan menjawabnya. Matanya lebih tertarik melewati wajah gadis itu, menilik rembulan berwarna ungu pekat yang menyilik dari balik-balik langit malam tak berbintang. Juga tentang gemuruh ombak air laut pasang yang terdengar tak bersahabat menepis tepi pantai. Lama ia terdiam sebelum akhirnya bangkit. Menyibak sebelah tangannya keluar dari balik selimut hangat yang menutup sebagian tubuhnya, lalu menatap telapak tangan itu dalam-dalam. Udara yang menusuk kulit meyakinkannya bahwa dirinya benarlah masih hidup. Tapi—ia kembali menengadah langit—bulan itu, bulan lain yang tampak lebih besar dan lebih terang sinarnya itu. Bulan cantik yang memiliki warna kebiruan sebiru samudra itu… Sekonyong-konyong matanya menyalang, raut wajahnya berubah sangat pucat.

Cepat-cepat dirinya berpaling, menatap gadis berambut perak di sampingnya. Jelas ia bisa membayangkan bagaimana rupa wajahnya kini yang sampai membuat gadis manis itu terperenyak sesaat. Ia bisa merasakan jantungnya berdebar sangat kencang seolah ingin melompat keluar. Darahnya mengalir lebih deras. Imajinasinya berkelebatan bak kuda-kuda liar yang saling berpacu. Tubuhnya bergidik ngeri tak percaya. Adrenalinnya memuncak. Dan seraya menahan nafas, ia melontarkan pertanyaan yang terngiang di kepalanya.

“Di mana ini? Tempat apa ini?Apa nama tempat saya berada saat ini?!”

Gadis itu terperanjat. Sikap diamnya tanpa ekspresi hanya disambut gemuruh-gemuruh ombak tepi pantai. Sampai akhirnya gadis itu tersenyum, tertawa, lalu seraya menarik nafas dalam-dalam dia menjawab. Namun sayang, tak ada suara apa pun yang terdengar selain teror mengerikan yang sangat Cumiakkan telinga.

Lengkingan suara itu muncul tiba-tiba, bagai petir menggelegar yang tanpa disertai kilatan cahaya. Kasar, liar, ganas—sungguh suatu kengerian yang tak mampu terukir oleh kata. Dan dengan berselimutkan awan kelabu berarak-arak, dengkingan teror mengerikan itu terdengar sekali lagi. Membuat Elizabeth Granzchesta yakin, jika apa pun—apa pun makhluk yang mengeluarkan auman seganas dan sebuas itu, pastilah berasal dari dalam hutan kelam yang bermandikan cahaya dua bulan di hadapannya.

Terdengar suara lain yang masih dari dalam hutan itu. Suaranya sama sekali berbeda, semacam suara benda-benda logam yang saling beradu. Nyaring, berirama, yang lalu diikuti suara tumbukan panjang yang disertai pepohonan tumbang berbaris-baris.

Elizabeth Granzchesta hanya berdiri diam mematung. Tangannya berkeringat sangat dingin, tubuhnya gemetar, dan matanya meruncing tajam menatap jauh ke dalam hutan. Ingin rasanya ia berlari masuk menuju hutan untuk mencari tahu suara-suara apakah itu. Tapi intuisinya tak mengijinkan karena mencium adanya mara bahaya. Sekonyong-konyong dirinya terlonjak; matanya membelalak; pupilnya menyusut amat tajam; kedua tangannya menutup bibirnya yang menganga tak suara. Seumur hidupnya ia tak pernah menyaksikan makhluk semengerikan ini! Makhluk raksasa yang baru saja menyembul dari balik-balik atap pepohonan di hutan itu.

Makhluk itu dipenuhi sisik yang menyala karena pantulan sinar rembulan. Memiliki sepasang sayap yang bahkan lebih besar dari tubuhnya yang sepanjang seratus kaki. Melayang-layang di kegelapan bagai dia adalah penguasa kegelapan itu sendiri. Seketika ekornya meruncing tajam ke belakang, dan auman panjang keluar dari moncongnya yang sangat kuat. Seolah ingin membuktikan bahwa makhluk penguasa langit itu lebih dari sekedar imajinasi.

Gadis di sampingnya itu menggumam, tapi karena tak mendengarnya dengan jelas Elizabeth Granzchesta menengok. Dan ia terkejut saat mendapati ekspresi wajah yang tampak begitu penuh hasrat. Matanya berbinar bersemangat, senyuman tersungging dengan memperlihatkan gigi kelincinya. Dan seakan gadis itu tahu, ia balik menatap dirinya.

“Jangan kemana-mana, aku akan segera kembali!” ujar gadis itu seraya kembali menatap langit dan—layaknya ahli sihir—gadis itu lenyap!
Barang tentu Elizabeth Granzchesta terkejut—sangat terkejut. Dan semakin terperangah saat ia menyadari jaraknya dengan gadis itu sudah terlampau jauh. Tak terbayangkan bagaimana gadis itu bisa berada di tempat yang sangat jauh darinya hanya dalam sekejap mata. Terlebih, bagaimana mungkin gadis itu dapat melayang di angkasa! Meski memunggunginya, jelas gadis keperakan itu terlihat bagai roh halus di antara langit-langit kelam.

Gadis itu tiba-toba berbalik, wajahnya masih tampak manis—tidak seperti wajah makhluk halus yang sempat dibayangkannya. Cukup lama gadis itu melayang dalam diam, hanya menatap kearah bawah tanpa sedikit pun bergerak. Sampai sekonyong-konyong gadis itu menghilang, dan muncul tepat di depan hidung seorang Elizabeth Granzchesta.

“Aku serius.” Ucap gadis itu tegas. “Jangan pergi kemana-mana. Jangan bergerak—hm, maksudku tidak apa-apa jika ingin bergerak sih. Ya—tentu saja kau akan bosan jika tidak boleh bergerak. Tapi maksudku jangan terlalu jauh—kau tahu—kau bisa duduk-duduk, bermain di pantai, membangun istana pasir—tapi kupikir tidak menyenangkan karena terlalu gelap ya. Tapi mungkin kau bisa memetik bunga yang disana itu. Bunganya sangat cantik jika diperhatikan, sama sepertimu. Aku berjanji akan menjawab semua pertanyaanmu setelah ini—semuanya—apa pun itu. Hanya saja sekarang waktunya tidak tepat. Pastikan saja kau selalu ada di dalam pengawasanku sebab tempat ini sangat berbahaya—sangat! Tapi selama aku bisa mengawasimu, kau akan baik-baik saja.”

Elizabeth Granzhchesta termangu-mangu, ia sama sekali tak mengerti dengan apa yang diucapkan gadis itu. Kata-katanya tidak beraturan, duduk; jangan bergerak; bermain pasir; memetik bunga; dan—sebenarnya tempat ini berbahaya atau tidak?! Dan tanpa memiliki kesempatan untuk bertanya, dengan seenaknya gadis itu menghilang—lagi, lalu muncul tepat dihadapan monster raksasa yang masih menggantung di antara langit-langit malam.

Tak lama muncul beberapa orang lain mendampingi gadis itu dari dalam hutan. Ada yang membawa sebilah pedang panjang dan perisai, ada yang memiliki empat sayap layaknya malaikat, dan ada seorang lagi yang kelilingi cahaya-cahaya kecil berwarna-warni. Mereka semua melayang di udara, menatap monster mengerikan itu seolah memang ingin menantangnya.

Elizabeth Granzchesta terpukau dalam diam. Ia masih mengingat jelas hari itu. Di hari yang umurnya baru menginjak tujuh tahun itu, ia berkata pada Yang Lain, “aku ingin pergi ke negri para dongeng! Aku ingin bisa melihat peri-peri membangun rumah mereka di antara bunga-bunga cantik. Aku ingin terbang bersama dengan Pegasus. Aku ingin mencari dan menemukan Unicorn. Aku ingin melihat pulau-pulau yang dapat melayang di angkasa. Bisakah kau membawaku kesana?! Kumohon, bawa aku kesana!”

Lalu Yang Lain di dalam jiwanya itu menjawab, “ya—ya mungkin aku memang bisa membawamu kesana, ke negri para dongeng. Tapi apa kau tahu jika tempat itu tak hanya dipenuh oleh hal-hal indah. Selain peri yang cantik, juga ada monster yang sangat ganas dan kejam. Selain pulau dan istana-istana indah, juga ada tempat mengerikan yang tak ingin kau bayangkan. Dan masih ada banyak hal berbahaya yang bahkan tak ingin kau bayangkan meski itu dalam tidur. Apa kau yakin akan mampu mengatasi semua mara bahaya itu?

Dirimu yang sekarang yang bahkan tak berani menyapa teman sebayamu padahal sangat ingin bermain dengan mereka. Dirimu yang sekarang yang bahkan takut mengucapkan terima kasih atas makanan yang diberikan oleh para pengasuh panti. Apa kau benar-benar yakin akan mampu? Dengan menggenggam sebilah pedang bukan berarti seorang pengecut berubah menjadi pemberani. Melihat sekumpulan peri di taman bunga, tak’kan membuat hidup menyedihkan tampak menjadi lebih indah. Ini tentang dirimu sendiri, ini tentang apa yang ada di dalam hati, tentang apa yang benar-benar kau inginkan. Buktikan padaku—kepada dirimu sendiri, bahwa kau sanggup menaklukkan dunia. Bangkit dari kau yang bukan siapa-siapa menjadi dirimu yang dapat berdiri di atas puncak dunia. Buat dirimu memiliki banyak teman yang itu selain diriku. Genggam tangan-tangan yang membutuhkan pertolonganmu.

Jika kau bisa, jika kau sanggup melakukannya. Aku berjanji akan menunjukkan jalan menuju dunia para dongeng.”


cerbung.net

Elizabeth Granzchesta

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2017 Native Language: Indonesia
Seorang gadis cantik bermata biru dan berambut emas yang berpikir dunia ini sangatlah membosankan baginya , segala kesuksesan telah ia raih , tidak hanya cerdas , ia juga sangat disegani dan dikagumi oleh banyak pria , namun ini bukanlah dunia yang ia inginkan , sejak kecil dia menginginkan tinggal di dunia dongeng dimana ia dapat makhluk berkuping panjang , bersayap serta mermaid yang memenuhi lautan.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset