ESA Yang Kurindukan episode 1


ESA, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya (num) tunggal; satu;– (https://kbbi.web.id/esa.html). ESA juga berarti satu kata yang diambil dari huruf awal nama depan kami, Ervan, Sisil (aku), dan Arni. Kami bersahabat sejak SMP. Walau kami belum pernah satu kelas di SMP, tapi kami dekat satu sama lain.

Persahabatan kami bermula saat kami bertiga sepulang sekolah, secara tidak sengaja pernah satu angkot bersama, hingga ngobrol ngalor-ngidul. Dari situ, kami merasa nyambung dan nyaman satu sama lain, sehingga kedekatan kami berlanjut dan lama-kelamaan kami semakin akrab. Walaupun Ervan satu-satunya cowok di lingkaran pertemanan kami, namun dia tak merasa canggung. Malah, dia pasang badan, bila ada yang menggangguku dan Arni. Dia sudah seperti bodyguard bagi kami.

Kami bertiga tak segan-segan saling membantu satu sama lain, karena kami mengacu pada arti kata esa yang berarti satu atau tunggal. Walau kami ini terdiri dari tiga orang, tetapi, kita saling memiliki satu sama lain. Begitulah kami memandang persahabatan itu.

Waktu terus berputar. Tak terasa, aku dan kedua sahabatku itu pun beranjak remaja. Takdir kembali mempertemukan kami di satu SMA yang sama. Aku satu kelas dengan Arni, namun Ervan beda kelas dengan kami. Dari sinilah mulanya persahabatan kami mengalami perubahan ….

***

Sebuah bola basket menggelinding keluar dari arah lapangan sekolah ke koridor. Bola itu berhenti tepat di bawah kakiku yang hendak melangkah menuju kantin bersama Arni. Kupungut bola itu dan melayangkan pandangan ke lapangan itu. Sekelompok anak-anak cowok yang tergabung dengan ekskul basket, tengah berkerumun di dekat ring basket. Mereka memang selalu menghabiskan waktu istirahat, dengan menguasai area lapang sekolah yang luas dan mengisinya dengan mendribble bola bulat berwarna oranye itu dan memasukkannya ke dalam ring, persis seperti Michael Jordan.

“Hei, buruan oper ke sini bolanya! Kita masih mau main lagi, khawatir keburu masuk!” teriak seseorang yang suaranya sudah tak asing lagi di telingaku.

“Nih, nggak bakal aku bawa kabur, kok, Er. Posesif amat sama bolanya, kayak ke pacar aja,” balasku sembari melempar bola itu ke arah Ervan. Dengan sigap, dia menangkap bola itu.

“Mau ke kantin ya?”

“Iya, kamu mau nitip, Er?”

“Nggak, deh. Wakilin aku aja makan yang banyak. Melihat kamu sama Arni makan, perutku otomatis langsung kenyang,” ujarnya sambil berlalu dan berbaur kembali dengan teman-temannya yang sudah menunggu di tengah lapang. Tak berapa lama, ekor mataku menangkap, dia sudah terlihat asyik kembali bermain basket.

“Si Ervan itu, nggak berubah, ya? Dari SMP senengnya sama basket melulu,” ucap Arni sambil memasukkan sepotong batagor ke dalam mulutnya.

“Iya, dan sejak SMP, kita yang paling setia nontonin dia main sampai selesai.”

“Bener, Sil. Tapi, feeling aku bilang, dia lagi suka, deh sama seseorang.”

Aku melebarkan pandangan ke arah Arni. Heran, deh, mengapa hal ini bisa luput dari perhatianku? “Siapa gebetan dia sekarang?”

Sebelum Arni sempat menjawab pertanyaanku, Ervan keburu datang menyusul kami ke kantin.

“Capek, nih,” ujarnya dengan napas terengah-engah sembari sesekali mengibas-ngibaskan tangannya untuk mengusir gerah. Lalu, dia duduk di hadapan aku dan Arni.

“Bagi ya.” Ervan mencomot sepotong batagor dari piring punyaku, kemudian menyeruput es jeruk milikku.

“Huh, kebiasaan!” Aku memelotot ke arahnya sambil menepuk tangannya. Kebiasaan Ervan memang begini sejak SMP, selalu tak segan mencomot makanan atau menyeruput minuman pesananku. Kenapa bukan punya Arni yang dia ambil? Kuamati wajahnya lekat. Terlintas sebuah pikiran dalam benakku. Mungkinkah Ervan menyukai Arni? Sebab, kuperhatikan, dia lebih segan kepada Arni dibandingkan dengan kepadaku. Contohnya saja, dari hal mencomot makanan tadi. Kalau ternyata benar, mengapa sisi lain hatiku sedikit tak rela?

“Kenapa lihatin aku terus? Baru nyadar ya, sohibmu ini ganteng?” tanyanya sambil menaikkan kedua alis.

“Ge-er, siapa juga yang lihatin kamu?” Buru-buru kualihkan pandangan ke arah lain untuk menutupi ketekejutanku karena ketahuan mengamati wajahnya barusan. “Oh, iya, kata Arni, kamu lagi naksir seseorang, ya? Kasih tahu, dong, siapa? Kita juga ingin kenalan sama gebetan kamu itu, iya nggak, Arni?”

Arni hanya tersenyum tipis menjawab pertanyaanku. Namun, aku bisa membaca dari raut wajah Arni, dia juga penasaran dengan jawaban Ervan.

“Ada, deh. Sebentar lagi kalian bakal tahu, kok,” katanya sembari mengerling padaku dan juga Arni. “Bagi lagi, ya.” Kembali tangannya mencomot sepotong batagor dari piringku dan langsung aku tepuk tangannya. Ervan membalas dengan senyuman, lalu melangkah meninggalkan aku dan Arni dengan rasa penasaran dan sejumlah tanya di benak kami berdua tentang sosok gebetan Ervan. Tapi, aku berprasangka kalau cewek itu adalah Arni, entah mengapa, aku berpikiran demikian.

***

Seminggu berlalu sejak Ervan berkata jujur kalau dia punya gebetan, hubungan persahabatan kami tetap berjalan seperti biasanya. Namun, suatu hari, tiba-tiba saja Ervan mengajakku pulang bareng, tanpa Arni. Ini yang membuatku heran, padahal, dia ke sekolah bawa mobil Suzuki Katana, pikirku, kalau ngajak Arni pun, dengan mobil ini masih muat, ‘kan?

“Kenapa nggak ngajak Arni, sih? Kan aku jadi nggak enak sama dia.”

“Justru kalau ada dia lebih nggak enak, Sil. Soalnya ada hal serius yang mau aku omongin sama kamu.”

“Soal apa? Soal gebetan kamu itu? Jangan-jangan orangnya Arni, ya?” tebakku tanpa tedeng aling-aling membuat tawa dia pecah.

“Bukan, justru orang itu adalah kamu.”

“Ah, bercanda kamu, jangan buat aku kegeeran, Er. Mana mungkin? Kita, ‘kan udah sahabatan sejak lama,” elakku sambil berusaha meredakan debaran di dada.

“Aku serius, Sil. Aku sendiri nggak ngerti kenapa tiba-tiba perasaan itu muncul. Semakin aku menepisnya, aku malah semakin suka sama kamu.”

Aku melirik ke arahnya, memandangi wajah Ervan yang masih fokus memusatkan perhatiannya ke jalanan. Rasanya sungguh campur aduk, ditembak oleh sahabat sendiri. Ada rasa senang, tak percaya, dan sedikit keraguan.

“Arni gimana kalau tahu kita pacaran?”

“Biar ESA tetap nggak bubar, kita backstreet aja. Jangan sampai dia tahu, gimana?”

“Oke, setuju. Aku pun nggak enak sama Arni.”

Sejak hari ini, statusku dan Ervan berubah, dari bersahabat menjadi berpacaran.

Enam bulan berlalu, sejak Ervan menyatakan perasaannya, kami masih menyembunyikan status baru kami. Di sekolah, aku dan Ervan bersikap seolah kami ini sahabat seperti biasanya. Termasuk di depan Arni.

Namun, sepandai-pandainya menyimpan bangkai, baunya akan tetap tercium juga. Akhirnya, Arni tahu kalau aku dan Ervan berpacaran.

“Kamu, kenapa, sih, tega nggak cerita sama aku kalau kamu sama Ervan pacaran?” tanya Arni dengan nada ketus saat kami makan di kantin.

“Kata siapa aku sama dia pacaran? Kita masih tetap bersahabat, kok.” Aku berusaha mengelak.

“Jangan bohong, kamu! Aku tahu dari mulut Ervan sendiri! Kalian benar-benar tega, aku nggak mau temenan lagi sama kamu juga Ervan!” Arni memandang tajam ke arahku sambil menudingkan telunjuk tepat di wajahku. “Mulai hari ini dan selamanya, nggak ada lagi nama ESA!” Dia bangkit dari tempat duduknya dan mengentakkan kaki kanannya ke lantai kantin lalu berlari meninggalkanku dengan perasaan sedih dan juga bingung.

Aku mengeluarkan ponsel dan mengirim chat pada Ervan untuk segera menemuiku di kantin. Tak lama berselang, dia muncul di hadapanku lengkap dengan senyuman manisnya.

“Kamu kenapa, sih? Tega-teganya bilang kita pacaran sama Arni! Kamu tahu, nggak reaksi dia gimana? Dia marah sama aku dan mengancam kalau dia nggak mau temenan lagi sama kita!” omelku setelah dia duduk tepat di depanku.

“Tenang, Sil, sabar. Aku ngasih tahu dia, karena sudah nggak tahan, terus berpura-pura di depan dia, terus membohongi dia kalau kita hanya sekedar sahabat. Toh, cepat atau lambat, dia pasti akan tahu tentang hubungan kita.”

“Iya, tapi dia bakal menjauh dari aku, dari kita. Malah tadi dia bilang kalau ESA itu bubar aja!” Aku geram sekaligus merasa hancur, karena persahabatan yang sudah kami jalin sejak SMP, rusak dengan sekejap saja hanya karena munculnya rasa cinta.

“Tenang, dia bicara begitu hanya karena sedang emosi. Aku yakin, Arni lama-lama akan menerima hubungan kita dengan lapang dada.”

Aku menghela napas berat. Perlahan, amarah yang sempat memuncak tadi pun sedikit reda. Di satu sisi, aku ingin ESA utuh kembali, tetapi di sisi lain, aku mulai merasa nyaman dengan keberadaan Ervan sebagai pacarku. Jujur, kuakui, aku telah mulai jatuh cinta pada sahabat cowokku itu.

Nyatanya, ucapan Ervan tak terbukti. Arni semakin menjauh dari aku dan juga Ervan. Malah, di kelas, dia sudah tak mau duduk satu bangku lagi denganku. Bahkan, dia sama sekali tak mau berbicara denganku. Hal ini, membuat perasaanku semakin tersiksa. Hubunganku dan Ervan akhir-akhir ini pun kerap diwarnai pertengkaran apabila membahas tentang Arni.

“Er, aku rindu kebersamaan ESA yang seperti dulu. Kebersamaan yang penuh canda tawa, aku rindu kembali ESA bersatu,” curhatku ketika kami dalam peejalanan pulang di dalam Suzuki Katananya Ervan.

“Ya, habisnya mau gimana lagi, Arni sudah menutup akses pertemanan dengan kita.”

“Kayaknya kalau kita putus, ESA bisa utuh kembali, Er,” ucapku pelan dan ragu-ragu khawatir Ervan tak terima dengan ucapanku.

Tiba-tiba saja, Ervan mengerem mobilnya mendadak, hingga hampir saja membuatku terjengkang ke depan. Dia memandang tajam ke arahku. Tatapan lembut dan teduhnya berganti dengan bara amarah, membuatku bergidik ngeri.

“Kamu! Teganya menganggap perasaan tulus cintaku ini lebih berharga dari persahabatan! Kamu beneran mau putus? Baik! Aku terima!” Ervan kembali melajukan mobilnya dan mengantarku sampai ke depan rumah tanpa berucap sepatah kata pun.

“Er, kuharap kamu mengerti dengan keputusan ini. Aku hanya ingin persahabatan kita kembali seperti dulu. Maafkan aku, Er. Kamu sahabat sekaligus pacar yang baik buatku.” Aku tak buru-buru turun dari mobil, masih menunggu reaksi darinya. Namun, dia tetap bergeming, diam seribu bahasa, bahkan tak mau menatap wajahku.

Kuputuskan untuk turun dari mobilnya. Tak lama aku turun, Ervan melajukan mobilnya dengan kencang. Aku menatap kepergiannya dengan perasaan hancur berkeping-keping. Aku masuk ke dalam kamar dengan bulir bening yang sudah membanjiri pipi, sebab sedari tadi aku berusaha menahannya untuk tak jatuh di depan Ervan. Lalu, kuputuskan mengirim chat pada Ervan, hal yang tak mampu kuungkapkan saat aku bersamanya di dalam mobil tadi.

Terima kasih, Er, atas semua yang pernah kamu berikan untukku. Aku tak akan pernah lupa, dan akan menjadi kenangan terindah yang kusimpan selamanya. Karena, walau bagaimana pun, kehadiranmu memberi warna dalam perjalanan hidupku. Semoga suatu saat, kamu menemukan cewek yang lebih baik segalanya dariku, karena cowok sebaik kamu, pantas mendapatkan yang terbaik.

Ada notifikasi terkirim di layar ponselku, tetapi tak juga kunjung balasan darinya, membuat hatiku semakin pilu. Aku yakin, semuanya tak akan lagi sama. Benar saja, hari demi hari yang kulalui di sekolah, hingga menjelang lulus SMA, merupakan hal yang tak lagi kujalani dengan penuh semangat. Sebab, nyatanya, ESA tak pernah lagi utuh seperti dulu. Ervan dan Arni semakin menjaga jarak denganku. Persahabatan yang kami rawat sejak SMP itu, kini tinggal kenangan. Hingga aku lulus SMA pun, tak pernah lagi kudengar kabar tentang Ervan dan juga Arni. Kami bertiga benar-benar loose contact, seperti layaknya orang asing yang tak pernah saling mengenal satu sama lain sebelumnya.

***

Tahun 2011, saat aku berselancar di facebook, iseng-iseng aku mencari dua nama sahabatku itu di kolom pencarian. Betapa terperanjatnya aku melihat foto profil Ervan dan Arni di facebook itu. Mereka memasang foto profil yang sama, dan mengenakan baju batik yang sama alias sarimbit. Ada tiga orang di foto itu dengan posisi duduk, yaitu Ervan, Arni, dan seorang anak kecil laki-laki berusia kira-kira tiga tahunan yang dipangku oleh Ervan. Sepertinya, mereka berfoto di studio foto. Penasaran, aku klik nama profil Ervan untuk mengetahui lebih lanjut. Dari info profil Ervan, dia menikah dengan Arni sejak tahun 2010. Dan kini, mereka tinggal di Jakarta.

Aku tersenyum getir melihat mereka tertawa bahagia di beberapa foto yang Ervan bagikan di beranda fb nya. Tak terasa, bulir bening meluncur bebas di kedua pipiku. Bukan, aku bukannya cemburu melihat mereka bersatu sebagai sepasang suami istri. Namun, aku sedikit kecewa, karena mereka tak mengundangku pada hari pernikahan mereka.

Apakah Ervan merasa sangat sakit hati karena aku telah memutuskan hubungan dengannya? Apakah Arni juga ikut sakit hati karena mungkin ketika SMA dia memendam rasa pada Ervan tapi Ervan malah memilihku menjadi pacarnya? Apakah mereka benar-benar sangat membenciku, hingga tak menganggapku lagi sebagai salah satu sahabat mereka? Sejumlah tanya berkecamuk di benakku. Namun, aku merasa lega, karena menyaksikan dua sahabat karibku itu bahagia dan baik-baik saja, walau hanya melalui facebook saja.


cerbung.net

ESA Yang Kurindukan

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Dirilis: 2020 Native Language: Indonesia
ESA, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya (num) tunggal; satu;. ESA juga berarti satu kata yang diambil dari huruf awal nama depan kami, Ervan, Sisil (aku), dan Arni. Kami bersahabat sejak SMP. Walau kami belum pernah satu kelas di SMP, tapi kami dekat satu sama lain.Persahabatan kami bermula saat kami bertiga sepulang sekolah, secara tidak sengaja pernah satu angkot bersama, hingga ngobrol ngalor-ngidul. Dari situ, kami merasa nyambung dan nyaman satu sama lain, sehingga kedekatan kami berlanjut dan lama-kelamaan kami semakin akrab. Walaupun Ervan satu-satunya cowok di lingkaran pertemanan kami, namun dia tak merasa canggung. Malah, dia pasang badan, bila ada yang menggangguku dan Arni. Dia sudah seperti bodyguard bagi kami.Kami bertiga tak segan-segan saling membantu satu sama lain, karena kami mengacu pada arti kata esa yang berarti satu atau tunggal. Walau kami ini terdiri dari tiga orang, tetapi, kita saling memiliki satu sama lain. Begitulah kami memandang persahabatan itu.Waktu terus berputar. Tak terasa, aku dan kedua sahabatku itu pun beranjak remaja. Takdir kembali mempertemukan kami di satu SMA yang sama. Aku satu kelas dengan Arni, namun Ervan beda kelas dengan kami. Dari sinilah mulanya persahabatan kami mengalami perubahan ....

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset