Fruits episode 1

Chapter 1 : His inspiration

Seragam itu punya junior di tempat ini, kan?
Hell!? Apa-apaan nih..
Orang seperti dia bisa diterima di sini??

“Permisi..” Sapaku.
“…ya” jawabnya setelah terlebih dahulu memperhatikanku.
“Em.. Aku ada jadwal undangan untuk wawancara pekerjaan siang ini tapi aku nggak tau tempatnya” kataku membuatnya diam menyimak.
“Harusnya sudah tertulis jelas kan di email atau surat balasanmu? Atau kalau nggak kamu bisa hubungi nomor orang yang bersangkutannya saja,kan?” Balasnya sangat jenius.

“Uh- iya benar juga” balasku lagi kebingungan.
“…sudah,yaa” katanya ingin segera pergi.

“Hey,sebentar.. ”
“……”
“…kamu bekerja di sini,kan? Aku tau dari seragammu”
“…ya”
“Kenapa- …umh”

“Kenapa?”
“Ah,bukan maksudku jelek atau bagaimana,tapi.. Aku cuma ingin tau-”
“………..”

sial,apa dia sakit hati aku tanya begitu?? Apa aku salah??
hanya sekedar bertanya,kan?

“Ruang interview-nya ada di lantai satu,masuk saja lalu tanya sama bagian resepsionisnya” jawabnya nggak menyinggung soal pendapatku barusan.
“I-iya.. Aku masuk saja sekarang” balasku merasa bersalah kemudian pergi menjauh dari perempuan itu.

tentu aku nggak mungkin masuk lagi ke sana, aku baru saja ditolak tadi,kan?
hiiihhh…
tempat ini punya penilaian aneh.

Chapter 1 | His inspiration
8 bulan kemudian…
~neng.. neneneenggg-neneengg… neNGNEENG-NEEENGG….

Bunyi alarm-ku memang selalu sekeras itu,kalau nggak bisa-bisa aku telat bangun setiap hari.
Hari ini masa pengenalanku sudah selesai,pembimbingku bilang aku nggak perlu masuk pagi,hari ini.
Hari senin pasti harinya rapat untuk seisi kantor,itu kenapa aku diminta datang di jam makan siang saja.
Ini juga sekaligus menjadi hari terakhirku mengenakan seragam itu.. Entah aku akan melepaskannya sebagai seorang seniman yang diterima atau aku akan melepaskannya sebagai seorang berstatus pengangguran lagi.

– – – 07:00
Interview kedua,huh?
Aku udah berusaha sebagus mungkin selama 7 hari kemarin,semoga saja penilaian dia bagus terhadapku nanti.
Berapa gaji yang harus aku minta, yah?? Dia bilang ekspektasiku minggu lalu terlalu rendah.
Apa kembali ke ekspektasi awalku saja,yah?? nanti dibilang terlalu tinggi..
Duhh! Gimana yang bagusnya.

– – – 09:00
“Ini buku komik semua yah,mas?” Tanya si pria pemilik rumah taman baca yang aku kunjungi.
“Iya, koleksi dari kecil dulu” jawabku.
“Wuih,100 mah lebih yah,ini?”
“Hampir 200 mas,total”
“suka banget komik ya,mas.. dulu saya juga sama lho”

“Tapi maaf mas,buku yang kami sediakan di sini semuanya jenis edukasi sama buku untuk bahan belajar” sambung si rekan kerja wanita di sampingnya.
“Oh,begitu yah.. Berarti nggak menerima sumbangan buku sejenis ini ya” balasku padanya.

“Kalau menerima sih enggak,tapi aku punya temen lain yang juga buka rumah baca gratis. Dan target dia lebih ke semua umur jadi genre buku bacaannya beragam” kata si pria.
“Wah,berarti cocok tuh” kataku semangat.
“Yang sudah-sudah sih dia nyari donatur komik juga.. Kalau nggak keberatan mas tinggal aja boxnya di sini,nanti aku hubungi temenku supaya ambil ke sini”

– – – 11:00
Jaman sudah banyak berubah,nggak disangka menjadi seorang seniman bisa setinggi ini nilainya.
Aku ingat jaman sekolah dulu,saat teman sekelasku mendapatkan bayaran pertamanya dari pemilik usaha kecilan milik orang tua dari salah satu teman kami lainnya.
Dia.. Dibayar sangat murah untuk karyanya.

Yah,karena menggambar adalah hobinya kurasa ia nggak terlalu memikirkannya.. Soal bayaran pada waktu itu.

Berbeda denganku,
Walau sangat menyukai komik namun aku nggak terlahir dengan talenta hebat seperti dia..
gambarku nggak pernah sebagus miliknya.. tanganku selalu kaku saat menggores pena.

Aku hanya bisa menjadi penikmat dari karya seni itu sendiri..
Aku nggak ada bedanya seperti penggemar cerita yang nggak bisa menulis,
Penggemar makanan yang nggak bisa memasak,
Atau penggemar film yang nggak bisa membuat filmnya sendiri.

Bekerja sebagai pegawai kantoran seperti menjadi cita-cita yang sangat mulia di kepalaku…
At least sampai saat itu.. Sampai saat aku memutuskan untuk membuang apa yang sudah ku capai dengan susah payah.

Aku membuang pekerjaanku. Jadi anak muda memang benar-benar gila rasanya.
Saat itu aku mulai berhenti hanya mencari kesenangan… Milik orang lain.
Aku memulai hidup baruku,untuk mencari kesenangan milikku sendiri.

– – – 12:00
“Hei,sudah berangkat?” Sapa Lina,rekan baruku semasa pengenalan kemarin.
“Mmh.. Baru berdua nih? Yang lain belum kelihatan” balasku.
“Iya,siangan mungkin”

Siang ini kami dipanggil satu persatu menghadap kepala menejer di kantor kami.
Terhitung ada 32 orang termasuk diriku yang hari ini tercatat telah selesai melewati 7 hari masa perngenalan di kantor kami.
Dari yang ku tau,32 orang ini bisa saja diterima semua namun bisa jadi pula dipulangkan semua kendala nggak memenuhi ekspektasi kantor.

Nah,apa aku akan diterima di sini?
Apa.. Aku akan ditolak…
Ghh… Sedih juga harus jadi pengangguran sekali lagi demi mengincar profesi ini.

Oh,benar juga.. Setengah tahun yang lalu- atau lebih bahkan…
Bukannya ada perempuan itu yah??
Perempuan yang nggak memiliki sebelah tangannya..
Kemana dia sekarang?? Seminggu ini aku bertemu banyak orang tapi belum sekali pun melihat dia lagi..

“Hei,Lina.. bagaimana hasilnya? bagaimanaa?” Tanya Ayunda sangat semangat ketika Lina baru saja keluar dari ruang kepala menejer.
Aku nggak kalah penasaran sebetulnya,hanya saja aku nggak ingin terlalu mengekspresikannya saat ini,jadi ku pilih untuk diam dan mengamati tanggapan Lina soal hasilnya barusan.

“Raka,giliranmu..” Kata Lina menatap ke arahku yang sedang duduk di barisan kursi depan,menunggu giliran untuk dipanggil.
“Ahh.. Iya” jawabku sesempatnnya saja saat bangkit menuju arah pintu di depanku.

Dia menggelengkan kepalanya? Apa perusahaan memilih untuk menolaknya?
Kenapa?? Padahal Lina sangat disiplin untuk perempuan seukurannya.
Bagaimana dengan aku?? Kalau dia saja ditolak..
Apa aku juga sama??

“Raka,silahkan duduk” sambut si menejer dari kursi ia duduk.

Oh,iya..
Perempuan yang waktu itu juga diterima walau dia punya kekurangan..
Bukan bermaksud menghina dan memandang remeh,tapi..
Somehow orang seperti dia justru yang paling membuatku-

“…!!!”

Gila! kenapa dia ada di situ!?? perempuan yang waktu itu..
…..
Dia nggak berbeda jauh dari segi rupa maupun gaya rambutnya,hanya saja kali ini..
nggak mengenakan seragam junior seperti waktu itu..


cerbung.net

Fruits

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2017 Native Language: Indonesia
Sebuah perusahaan yang sudah diakui telah banyak melahirkan karya-karya hebat dari tangan para seniman pekerjanya. Raka,pemuda yang memutuskan keluar dari pekerjaan lamanya karena persaingan ideolagi yang tak kunjung reda,akhirnya memutuskan pergi untuk melamar masuk ke Fruits. Pemuda biasa tanpa banyak pengalaman mendesain karya seni,apa yang bisa dia lakukan?

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset