Fruits episode 10

Chapter 10 : His anger

“Mia lagi di luar kantor.. Ada urusan klien”
“Ooh.. Uh- ”

Apa kuserahkan padanya saja yah?
Ide bagus,kan? Ini kesempatan emas,bisa dibilang..
Lihat apa reaksi si manusia nomor satu di kelas ini,

“Hmm? Apa??” Tanya menejer tempat Mia bekerja,saat ku berikan 100 lembar kertas hasil kerja kerasku selama satu minggu ini.
“Mia pernah minta aku buatkan lanjutan chapter buku komiknya.. Ku pikir aku bisa berikan ini langsung padamu,selaku pimpinan kelas ini” jawabku masih dengan lembaran kertas tadi di tanganku.

“Untuk apa diberikan padaku?”
“Kamu bisa menilainya.. Itu bagus,kan? Aku bisa tau pendapatmu sebagai ahlinya”
“…….”

Diam lagi.. Apa menjadi seorang menejer berpangkat tinggi mengharuskanmu diam sejenak setelah seorang meminta pendapatmu?
Di hari pertama dulu juga begitu… Delia.
Kalian sedikit banyak,mirip juga.

“Eeeyy,Deliaa.. Kamu kesini? Ada yang dicari??” Tanya si perempuan pendek itu memandang ke arah samping kiriku.
“Aku cari Mia,dia kelihatannya nggak ada?” Suara Delia membalas pertanyaan tadi,tepat di sampingku.
“Mia sedang keluar bersama klien.. Coba lihat jam makan siang nanti yah, aku akan kasih tau dia” balas si sesama menejer itu lagi.
“Ohh.. Ya sudah-”

“Uhh..Deliaa?? Sebentar..” Panggil si gadis kecil itu setelah meraih kertas berbalut plastik yang kubawa di tanganku tadi.
“Hmm?” Respon Delia menoleh setelah dipanggil barusan.
“Periksakan ini untukku.. Kalau nggak ada revisi yang diperlukan,kertas-kertas itu boleh langsung ke tangan editor” jelasnya memberikan kertas berisi gambaranku pada Delia dengan entengnya.

“…..mmh”
“Hm,makasih..”

Apa-apaan lagi ini? Yang kumintakan ini bukanlah pekerjaan Delia,kan?
Lagi pula.. Apa hak-mu memintanya mengerjakan hal yang tak ingin kamu kerjakan?
Si kecil ini..

“Hoi..!? Kenapa harus Delia yang memeriksanya? Ini tugasmu,kan?” Tanyaku berani seperti biasanya.
“Kamu dari kelas junior kan? Kalau karyamu nggak mendapat pengakuan dari menejermu,maka untuk apa aku memeriksanya?” Jawabnya sungguh berani,di luar penilaianku terhadapnya.
“Sombong sekali” kataku singkat jelas.

“Itu kenyataannya.. Mas-pemenang-bonusmingguan” jawabnya sama singkat dan jelas.

Chapter 10 | His anger
Brengsek.. Ini pertama kalinya aku marah oleh perkataan orang lain.
Apa karena perempuan itu yang mengatakannya?
Apa karena ada Delia tadi di sana?
…..
Apa aku sudah mempermalukannya barusan??
Ahh, tidaaakk…. Ngaak, ngak!

“………………….”

Aku ini.. Juga sering mengatakan hal seenaknya,kan?
Apa Delia sama marahnya setiap kali mendengar candaanku?
Seperti aku marah karena perkataan perempuan itu… Apa Delia sama terhadapku?

“…..”
“Tugasmu sudah ku taruh di mejamu,Raka… 5 klien-mu berikutnya kamu bekerja secara individu” jelas Delia saat sampai ke ruangan kami bersamaku.
“…iya,terima kasih” jawabku pelan
“…”

Weh!? Tunggu!
Aku berterima kasih untuk perhatianmu- maksudku,terima kasih karena sudah mengurus situasi pekerjaanku..
Tolong jangan salah paham dengan mengira aku berterima kasih untuk kesediaanmu memeriksa hasil coretan di kertasku itu…
Untuk soal itu.. Aku minta maaf,

“Mbak Deell.. Aku mau tanya soal pesanan klien #11” Debi yang bertanya,rupanya.
“Klien #12 juga aneh,mbak.. Apa kertasnya tertukar,kah?” Tanya rekan kami di seberangnya.
“Bawa kesini.. Mungkin aku salah ambil urutannya” jawab Delia tenang sekali,kedengarannya.

Hhhh… 5 klien yah?
Kepalaku lagi pusing hari ini.. Bisa nggak hanya 1 klien?
…..
Padahal aku biasa sampai 9 orang sekaligus..
Tapi hari ini… Satu saja sudah malas,

“Hei hei, heeii.. Melamun lagi?” Sapa Mia menghampiri meja makanku.
“Tumben makan siang di kantin? Baru pertama ini lihat” balasku menegakkan posisi duduknya yang sebelumnya malas-malasan.
“Seringnya makan siang sama klien di luar,cuma hari ini bukan rejekinya saja..”

“…..rasakan itu” gumamku mengutuknya.
“Hoi,apa-apaan barusan itu??” Balasnya meninju pipiku pelan.
“……..”
“Kenapa sih? Ada masalah?”

“Ada..”
“Cerita lah..”
“Memangnya kamu bisa bantu”
“Ya enggak.. Nanti ku ceritakan ulang ke Delia.. Lumayan,kan? Buat bahan obrolan sewaktu-waktu”

“Ini soal dia..”
“Kenapa dengan Delia? Dia nolak kamu??”
“Hiish.. Niat dari bantuanmu itu ke arah mana,sih?”
“Hahahaa”

Ahh,bagus lah… Dengar suara perempuan tertawa,oke juga..
Walau pun bukan suara Delia..
Sedikit menghapus stres di kepalaku,

“Nah.. Nah,terus apa?”

“Dia harus memeriksa gambar milikku.. 100 lembar sketsa komik sesuai janji kita minggu lalu” jawabku menjelaskan.
“Whut!? Kamu sungguhan buat 100 lembar? Serius!? …satu minggu? Mana,sini! Aku lihat!”
“Apa laah!? Tentu saja sungguhan.. Jangan bilang kamu nggak serius ya kasih tantangan itu??”

Daaan benar saja,perempuan yang satu ini sama saja seperti bossnya itu.
Aku kena jebakan lagi.. Di hari yang rumit ini…
Sudah kuduga 100 lembar memang mustahil untuk seniman mana pun.. dan hebatnya aku justru mau percaya dengan itu.
Ampun,

“Nah.. Trus apa lagi?” Tanya Mia enteng tak merasa bersalah sudah mengerjaiku separah itu.
“….boss-mu yang kecil itu.. Tengil banget” balasku melanjutkan dengan mengomentari atasannya.
“Haha’ kamu ngajak ribut namanya,kalau bilang begitu di depan dia langsung-”
“Aku sudah bilang,kok.. Di depan dia sekaligus di depan Delia persis”
“Then.. untung saja ada Delia di sana..”

“Justru masalahku bermula karena ada Delia di sana,di saat aku memberi pelajaran pada boss-mu yang tengik itu” tambahku makin parah saja.
“Hoi.. Aku sama nggak terimanya kalau atasanku dijelekkan begitu.. Langsung saja ke permasalahanmu” balas Mia berubah nada seraya meninju pipiku lagi seperti di awal tadi.
“…aku merasa nggak enak pada Delia”

………
……………..
..?

“Kenapa? Baru sekarang kamu merasa nggak enak??” Tanya Mia seperti mulai serius menanggapiku.
“Maksudmu?”
“Aku duduk di sampingmu saat kamu mengangkat tangan dan bertanya untuk apa orang yang cacat bekerja di tempat ini? …semua diam karena terlalu keget mendengarnya”
“…..itu lain cerita”

“Mencoba mendapat perhatiannya?? Lalu sekarang.. Apa bedanya?”
“Aku nggak pernah bermaksud mencuri perhatiannya…. Dia yang mencuri perhatianku,dan aku nggak tahan”

Meh,aku nggak menyangka seserius ini..
Sekarang aku malah terang-terangan mengatakan perasaanku di depan orang lain..
Apa iya,Mia akan menceritakannya pada Delia nanti?
Hishh.. memalukan.

“Bwahahaaa… Jadi benar yah,”
“…….”
“Kalau kamu suka dia,bilang lah… I’m just saying,kalau kamu harus tau perasaan dia padamu..”
“………..”

Di situasi seperti ini masa mau bilang begitu saja?
Nggak dapat,lah..

“Oke, okee.. Serius sekarang”
“Apa lagi?”
“Apa yang dia bilang padamu? Alia,menejerku”
“Alia,namanya? Hhh… Dia bilang,kalau karyaku nggak pantas di mata Delia maka itu nggak berarti sedikit pun di matanya”

“Woww.. Dalam sekali,man.. Selamat yah sudah bisa membuat dia mengatakan itu di depan Delia”
“Kamu bercanda,Mia?? Ini serius.. Dia sombong sekali-”

Iya,kan?
Seberapa hebatnya dia,memang? Sepantas itu kah sampai ia memakai penilaian orang lain sebagai batasan bagi penilaiannya sendiri??

“Kamu yang salah.. Raka” balas Mia terhenti dari tawanya.
“Tentang?” Tanyaku kesal merasa disalahkan terus menerus.
“Dalam hal menggambar di atas kertas,Delia jauh lebih baik dibandingkan Alia… Itu kenapa penilaiannya jauh lebih baik dari penilaian Alia” jelas Mia membuat bulu tanganku merinding sebentar.

Ehh? Delia.. Menggambar??
Itu yang aku tanya di hari pertama kami..


cerbung.net

Fruits

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2017 Native Language: Indonesia
Sebuah perusahaan yang sudah diakui telah banyak melahirkan karya-karya hebat dari tangan para seniman pekerjanya. Raka,pemuda yang memutuskan keluar dari pekerjaan lamanya karena persaingan ideolagi yang tak kunjung reda,akhirnya memutuskan pergi untuk melamar masuk ke Fruits. Pemuda biasa tanpa banyak pengalaman mendesain karya seni,apa yang bisa dia lakukan?

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset