Fruits episode 5

Chapter 5 : His problem

Jahh! Yang benar saja?
Empat orang dalam satu kelompok.

David dan Guntur? Dua orang bermasalah kemarin..
Dan lagi-lagi Mia..
Oh,Delia.. Kamu harus membiarkanku bekerja secara individu lain waktu.

“Semuanya sudah jelas.. Kalau begitu selamat bekerjaa..”
“Yoooh..”

Chapter 5 | His problem
* * * – puas sekali dengan pelayanan anda.
* * – selanjutnya tolong lebih ditingkatkan lagi.
* – no review..

“Tiga klien kita hari ini busuk semua” komentar Mia setelah mengajakku memisahkan diri dari Guntur dan David.
“Biar saja komentar mereka jelek,pada akhirnya mereka semua puas bisa mendapatkan keinginannya dengan harga yang lebih murah” balasku tak sedang ingin membantunya mengeluh.

Jujur saja tim beranggota 4 orang ini sangat buruk untukku..
Aku mungkin sudah terbiasa dengan Mia,tapi dua orang sisanya.. Meh,

“Ayo balik ke kantor,klien lainnya udah nunggu” ajak David ketika baru datang ke tempat kami berdua.
“Klien berikutnya kalian lebih produktif lagi ya kerjanya?” Balas Mia keberatan kalau kelompoknya tak bekerja dengan porsi rata seperti sebelum sebelumnya.
“Iya,buuu..”
“Ihh..”

Orang-orang model seperti ini lagi..
Aku sudah muak betul.

“Aku pulang duluan,Raka” panggil Mia membuyarkan lamunanku.
“Ya.. Eh,kamu pulang sendirian?” Tanyaku sadar dia tak bersama teman perempuan lainnya.
“Iyaa,setiap hari juga begitu kan?”
“Mmhh..”

Sampai besok,Mia.
Ah,nggak perlu sampai segitunya lah..
Suruh dia hati-hati di jalan aja cukup.

“Ketemu besok yah,Rakaa” katanya melambaikan tangan tanda berpisah ke arahku.
“Ati-ati”

Fuuu..
Mau Delia ataupun bukan,tetep saja… Diperhatikan seperti itu membuatku grogi.
Ngomong-ngomong dia belum kesini sore ini.. Delia.
Nah,itu dia… Panjang umur kamu.

“Yoh” sapaku ramah.
“…apa? Udah waktunya pulang kan?” Tanya dia.
“Rutinitas baruku” komentarku.

“Menyapaku?”
“Mmhh..”
“Apa masih belum cukup cari perhatian di depan semua rekan kerjamu setiap hari?”
“Nggak juga…”

Dia tanya hal itu lagi, mungkin dia terganggu kalau aku mengajaknya bercanda dengan mengabaikan status kami.
Padahal aku menikmatinya..

“Nghhh..”
“….?”

Dia ketawa lagi..
Padahal sudah bagus kalau dia lepas… Kenapa ditahan?

“Pekerjaanmu semuanya sudah bagus,Raka.. Teruskan seperti itu maka bulan depan kamu bisa dapat jaminan naik kelas” kata Delia nampak berniat meninggalkan ruangan kami.
“Kamu kah orangnya?”
“Yah,aku jamin”

Sejauh mana kantor ini mempercayakan penilaian kinerja keryawannya kepadamu?
Hhhh.. Naik kelas? Aku akan ditempatkan di salah satu cabang grup seni kan?
Harus pilih salah satu.. Atau jangan-jangan kamu yang seenaknya memilihkan untukku.

“Aku lebih suka di grup ini.. Semuanya bisa ku kerjakan… 4 klien dengan kebutuhan berbeda-beda lebih bagus dari pada satu hari penuh mengerjakan satu jenis tugas saja” balasku.
“Kalau kamu tetap di grup ini kamu akan lama berkembang.. Lagi pula aku bukan pengajar seni yang bisa membimbingmu lebih jauh” jawabnya mulai menampakkan senyuman di bibirnya.
“Aku nggak memintamu mengajariku,jadi bukan masalah.. Lagi pula kenapa aku harus dikhusukan di satu bidang saat aku bisa melakukan keempat-empatnya?”
“Kenapa? Sudah merasa puas hanya sekedar bisa? Sudah merasa cukup karena penilaian klienmu bagus?”

Ya! Itu sudah cukup..
Itu yang aku cari selama ini… Tempat dimana aku bisa tenang menikmati hidupku.
Bukan tempat aku harus memikirkan puluhan klien sekaligus setiap harinya..
Bukan tempat aku harus menyenangkan orang lain… Memuaskan orang lain.

“Naik kelas juga berarti penghasilanmu naik.. Sudah jelas di sana kemampuanmu akan diasah sampai ke tingkat mahir” tambah Delia.

Gaji? Siapa peduli..
Aku sudah hidup cukup dengan keadaan saat ini,ditambah ada kamu… itu sudah lebih,justru.

“Apa kamu punya tujuan lain,yah?”
“Bukan tujuan sih… Lebih tepatnya ‘masalah’ lain”
“Kamu cuma kurang bisa menghargai karya rekanmu.. Jadinya kualitas kerja samamu nggak sebagus saat kamu bekerja secara individu”

Nah,sudah ku duga…
Somehow dia cukup detail memperhatikanku,
Maksudku ‘kami’,grup 11 orang ini..
Tapi bukan itu masalah yang ku maksud.

“Sama halnya kamu yang nggak bisa melakukan semuanya secara normal..” Jawabku mulai menggodanya,tentunya ke arah yang lain.
“Hmm..?” Respon Delia seperti menandakan kalau maksudku tak tersampaikan.
“…….”
“Memang.. Tapi aku nggak butuh melakukannya secara normal selagi semuanya tetap bisa kulakukan”

“Aku juga sama kok,Delia”

Yaa.. Aku juga kesulitan melakukan ‘hal’ secara normal.
Hanya saja aku nggak diberi kesempatan untuk menyerah,yah..
Orang luar selalu mendorongku untuk terus maju,
……
Kalau aku jawab secara lengkap pasti kamu akan kembali ke point-mu sebelumnya,
Bertanya ‘apakah aku puas hanya sekedar bisa melakukannya?’,gitu kan?
Atau mungkin kamu akan menambahkannya lagi..


cerbung.net

Fruits

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2017 Native Language: Indonesia
Sebuah perusahaan yang sudah diakui telah banyak melahirkan karya-karya hebat dari tangan para seniman pekerjanya. Raka,pemuda yang memutuskan keluar dari pekerjaan lamanya karena persaingan ideolagi yang tak kunjung reda,akhirnya memutuskan pergi untuk melamar masuk ke Fruits. Pemuda biasa tanpa banyak pengalaman mendesain karya seni,apa yang bisa dia lakukan?

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset