Gunung Kawi episode 1

Chapter 1

Panas, dan kering. Musim kemarau di bekasi telah menyentuh suhu 39 derajat celcius, mungkin hampir setengahnya dari titik didih, kondisi ini diperburuk oleh sedikitnya pohon di komplek perumahan, seakan-akan kota ini telanjang di hadapan matahari yang gagah perkasa. Dalam kondisi dimana udara terlihat meliuk-liuk di atas aspal panas, ratusan motor dan mobil masih saling memenuhi jalan, dengan asap yang mengepul, klakson yang berbunyi, dan ejekan sumpah serapah yang keluar dari mulut pengendara. Mereka saling berkumpul membentuk barisan yang berantakan, kadang d antaranya memasuki trotoar tempat orang berjalan kaki, berjalan dengan ritme yang sangat lambat.

Saat itu orang-orang mengelus kepalanya dengan sapu tangan, keringat keluar dari ketiak mereka membekas warna kuning. Terutama orang ini, yang berteriak dari pagi memanggil namaku di depan pagar. Pak Tumpal namanya. Dia menggunakan jas hitam, dalaman putih berdasi. Memegang tas di tangan kirinya, helm di tangan kanannya. Dia penagih hutang yang tak kunjung kubayar, dan ini adalah kelima kalinya dia datang kesini. Aku sudah tebal muka dengan tetangga, istriku selalu mengeluh tentang omongan mereka kepada kami, tapi tetap kenyataannya memang bahwa kita tidak bisa membayarnya, mau bagaimana lagi?

“Bapak Rian! Buka pintunya bapak Rian! Kita selesaikan ini baik-baik!!”

Selesaikan baik-baik? Apa kita ingin berantem?

“Pah, papah!”

Anakku saat itu menarik bajuku yang kini tengah mengintip lewat gorden jendela.

“Tadi mas itu ngomong sesuatu loh pah, pas papah lagi di kamar mandi..”

Ketika aku mendengarnya, kuperhatikan bahwa terdapat air mata yang membekas di mata Ria. Sesuatu pasti telah terjadi padanya, pasti karena Pak Tumpal sialan di depan pagar tersebut, walau mungkin ini salahku juga karena Ria yang selalu kusuruh untuk berbicara dengan bapak itu di depan, berbohong bahwa aku sedang pergi bekerja. Jelas dia akan mengintrogasi anak-anak yang polos juga nurut ini, tapi membentak memang sudah keterlaluan.

“Kamu nangis karena mas-mas itu? Masnya ngomong apa tadi?”

“Kaget pah, aku diteriakin, terus…terus…”

Aku tersenyum, berjongkok dan mengelus rambutnya yang ikal, walau rasanya ironis diriku melakukan ini, seperti peduli dan akan segera memarahi pria tersebut ketika Ria akan mengatakan alasannya menangis, namun kenyataannya aku takkan melakukan apapun. Aku terlalu takut pada pria yang berada di depan itu, yang badannya lebih besar dari pagar kecilku, yang tangannya sudah mengepal keras untuk memukul jika saja aku bersikeras untuk tidak membayarnya.

“Tadi dia ngatain papah, ngen…”

Aku langsung menutup mulut Ria. Kata ‘ngen***’ jelas terlalu keras untuk anak kecil, walau dia tidak tahu arti atau gambaran dari kata tersebut, tapi ini keterlaluan!

“Itu… kata-kata yang gak bagus, kamu jangan ngucapin itu di depan orang yah.”

Saat itu Ria mengangguk, menjauhiku bermain dengan adik-adiknya.

Ketika Ria sudah pergi, tak bisa kutahan lagi. Wajahku segera memerah, ekspresi marah dan gemas tidak bisa kutahan-tahan lagi, kukepal jari ini erat-erat, dan… dan… ah… kutarik kata-kataku, tetap rasanya aku yang akan kalah. Kubayangkan diriku menarik kerahnya, memarahinya sebelum kepalan tangannya mengenai mukaku, membuatku bonyok di depan anak-anakku. Ya, tentu saja, aku tidak melakukan hal tersebut karena takut Ria dan adik-adiknya menyaksikan hal memalukan tersebut lalu trauma karenanya. Oh Ria, aku melakukan ini semata-mata hanya untuk dirimu.

“…”

Aku akhirnya hanya bisa menghela nafas, mengikhlaskannya, dan pria tersebut masih berteriak keras, sesekali dia mengelap keringatnya, lalu berteriak kembali sampai akhirnya suara teriakan tersebut menghilang.

“…?”

Aku segera mengintip lagi, dan ternyata pria tersebut meloncati pagar! Dia terjatuh, namun kembali berdiri lagi. Kini dia mengetuk pintu depanku, dan usahanya kali ini bisa saja kutuntut ke pengadilan dengan alasan memasuki properti orang lain dengan paksa. Walau demikian tentu saja sih aku takkan melakukannya, apalagi nanti malah diriku yang dituntut balik karena tidak bayar hutang sesuai perjanjian kontrak yang ditandatangani di atas materai.

Saat itu orang-orang mulai berkumpul melihat pertunjukan ini. Aku kembali mengintip dan ternyata si penagih hutang juga sedang berusaha mengintip kaca rumahku, jantungku langsung copot bertatap langsung dengannya! Wajahnya saat itu seketika memerah marah, dan dia semakin menjadi-jadi berteriak.

“Saya tahu anda disana! Keluar sekarang juga bapak Rian!!”

Aku menghela nafas kembali, kulihat anak-anakku ketakutan sambil menutup kuping mereka. Aku akhirnya membuka pintu tersebut dengan perasaan enggan. Saat itu dia tanpa kupersilahkan segera duduk di kursi panjang di ruang tamu sambil menyeka keringatnya. Ruangan seketika bau amis, mungkin dari ketiaknya. Anak-anak segera berlari sambil menjepit hidungnya, dan kukatakan pada mereka bahwa itu tidak sopan. Ria saat itu kusuruh buat minuman.

“Saya sudah kenal bapak loh, udah lima kali saya kesini. Kenapa bapak masih gak mau buka pintu buat saya?!”

Dia mengelus keringatnya kembali. Aku hanya diam menunduk, ingin jawab pergi tapi jelas dia tahu itu semua bohong. Saat itu Ria dengan cepat sudah selesai membuat kopi, dibuatnya dua untukku dan Pak Tumpal ini, lalu atmosfir kelam ini seketika luntur dengan senyum Pak Tumpal yang padahal baru saja mengucapkan kata ‘itu’ ke anakku, dia mungkin lupa atau keceplosan lalu tidak diambil dalam hati. Dielus-elusnya rambut anakku dan dibalasnya dengan ucapan terima kasih. Aku masih diam juga, dan akhirnya dia memutuskan untuk segera meminum kopi tersebut, dan reaksinya mengatakan bahwa kopi tersebut masih sangat panas untuk diminum. Kini dia meniupkannya sedikit, dan dengan sedikit-sedikit meminumnya. Dia masih menunggu jawabanku.

“Bunganya terlalu besar untuk kali ini, saya pinjam lima juta, terus jadi delapan, sekarang sudah lima belas juta saja.” Aku akhirnya menjawab, takut-takut langsung kubahas saja permasalahan utamanya, kini aku yang bertaburan keringat.

Pak Tumpal segera menghela nafas mendengarku bicara. Dia saat itu juga langsung membuka buku catatannya yang lebar, dengan barisan nama-nama juga angka-angka.

“Jika bapak masih gak mau bayar juga, mungkin hutang bapak bisa berlipat sampai…”

Dia menghitung, kertas catatannya ia pakai sebagai coret-coretan, tidak peduli dengan betapa rapihnya dia menyusun daftar hutang orang-orang yang terlihat banyak juga ia coret, dan ia gantikan dengan angka baru, angka yang nol berlebih satu setiap beberapa bulannya.

“Tiga puluh juta.”

“Gila!”

Dia berkata bahwa ini sudah kesepakatan awal yang kuterima, tapi tak kusangka bisa sampai menembus angka tersebut. Aku jelas tidak benar-benar membaca kesepakatan, asal tanda tangan untuk dapat duit segera, tapi bisa jadi juga aku terjebak dalam penipuan, seperti bisa saja ketentuan ini ditulis kecil-kecil hingga terlewat dan tidak terbaca. Tapi kalo ditanya lagi ini salah siapa, jelas ini salahku seratus persen.

“Bapak bisa nyicil, saya bisa ngaturnya.”

“Nyicil? Sebesar itu bunganya, ini mah bisa nyicil seumur hidup, gila!” Aku berdiri, kugebrak meja, saat ini aku jelas tidak bisa menahan sopan santunku lagi, ini sudah diluar batas nalarku. Sudah berapa banyak yang terjebak penipuan hutang berbunga seperti ini?

“Yah gini aja deh pak.”

Dia mengeluarkan koreknya, memantikkan api ke rokok yang kini berada di bibirnya. Saat itu dia menghempaskan asapnya ke wajahku hingga dibuatnya diriku terbatuk-batuk olehnya.

“Terserah bapak, pokoknya hutang ini harus dibayar, dan jika bapak masih nggak mau bayar juga, jangan salahkan saya jika terjadi apa-apa dengan bapak.”

Nadanya keluar mengancam, matanya menatapku tajam. Saat itu kupikir tak perlu pukulan atau cubit segala, hanya lewat tatapnya saja dia seakan sudah mampu menusuk kalbuku, mengancam hingga bulu kudukku dibuatnya berdiri. Saat itu keringatku dibuatnya keluar dengan deras, bajuku basah seperti lari marathon di tengah terik-terik panas ini, jika saja bekasi telanjang oleh bara api matahari, aku juga, oleh mata dan suaranya yang berat, mungkin juga karena bau asam dari ketiaknya juga. Ah, mungkin seharusnya kipas kunyalakan saja.

“…”

Saat itu suasana diam sesaat, pak Tumpal kembali bersender di kursinya, dan aku hanya bisa menelan ludahku, tiba-tiba kepalaku pusing, aku baru ingat ada kopi di depan meja. Ah, ayo, katakan sesuatu, katakan sesuatu!

“Bapak ngancam?”

Dia tertawa mendengar ucapanku yang dihasilkan dari keberanian yang kukumpulkan. Nadaku yang seharusnya marah menjadi seperti emprit, takluk oleh grogiku, juga makananku sejak pagi yang rasanya ingin kumuntahkan saja sekarang.

“Yah, tau sendiri lah gimana kita debt collector ngejalanin tugas. Mungkin besok boss saya gak ngirim saya lagi kesini, orang lain yang lebih kompeten untuk bisa ngeyakinin bapak untuk dapetin duit.”

Aku kehabisan kata-kata. Setelah di PHK dan belum mendapatkan pekerjaan, penghasilanku tidak menentu. Semuanya dihasilkan dari istriku yang bekerja di bidan, namun itupun habis demi pendidikan anak-anak dan juga biaya makan. Berbagai cara kucoba pikirkan, meminjam ke kakak? Mertua? Teman? Aku sudah kulakukan itu semua, dan bahkan hutang mereka belum kubayar hingga saat ini.

“Begini, bapak pikir gimana saya bisa cari duit? Saya sendiri hutang loh ke intansi bapak, yah karena gak ada uang! Saya mohon pak, pertama saya tidak berpenghasilan, anak saya juga butuh duit buat sekolah dan bapak tau sendiri sekolah makin mahal sekarang kan? Beras juga? Bensin? Istri saya di bidan penghasilannya gak banyak pula. Ayolah pak, coba pahami keadaan kami.”

Aku menyerah! Aku hanya bisa memberi alasan rasional, meminta belas kasihan.

“Saya bilang terserah bapak, jual televisi kek, jual motor kek, atau bapak sekalian saja jadi pesugihan kek, saya gak peduli.”

Pak Tumpal ini segera mengambil bukunya, menyimpannya dalam tas, dan keluar dari pintu. Akhirnya tidak ada yang diselesaikan kecuali memberiku ancaman, dan saran persuasif untuk membayar hutang. Melihat Pak Tumpal ini pergi, Ria segera menyalami tangannya, dan dielusnya lagi kepala Ria dan diselipi uang 5000, katanya untuk uang jajan. Saat itu Ria segera menatapku bingung, diberinya aku handuk, ditanyanya aku apa ada hujan barusan, atau ada hujan di ruang tamu ini? Kubilang ya, ada badai lewat barusan dan kini masih terus berlangsung juga berdiam di kepalaku.

Keringatku kini tak juga turut berhenti walau bapak-bapak itu sudah melewati pagar, hilang bersama asap-asap kendaraan dan udara yang meliuk-liuk.

***

Aku duduk di atas ranjang saat istriku sedang mengganti seragam bidannya ke baju dasternya. Dia tahu bahwa diriku akan berkata masalah tentang hutang piutang lagi, hal yang selalu menjadi sumber perkelahian kita. Semenjak menikah seakan masalah itu terus yang menganggu rumah tangga kami, dan diperparah ketika diriku di-PHK.

Kalau dipikir lagi, hutang kita selalu berkaitan dengan barang-barang yang diinginkan istriku ini, terutama saat aku tidak bisa langsung membayarnya, LCD, AC, Kulkas, dan sebagainya. Mungkin bisa dibilang, miskin-miskin seperti ini kita tetap ingin dianggap setara dengan warga-warga kota walau kita ini tinggal di kampungnya kota, dan aku kadang menyetujuinya, aku merasa aneh jika melihat mitra kerjaku memiliki laptop mahal dan kami tidak, tapi pada kenyataannya tidak ada di antara kami yang butuh, aku hanya mengerti cara menulis di Ms. Word dan bermain solitaire. Lalu lihat kini, kita terjebak hutang, kredit, semata-mata demi barang yang kita tidak butuhkan sama sekali, apa sesungguhnya kita butuh AC ketika kipas saja ada? LCD ketika tv tabung belum juga rusak? Ini mungkin yang di televisi atau koran disebut sebagai sifat konsumtif, atau entah namanya, hedonist mungkin, dan nyatanya memang produk-produk di televisi itu selalu menjadi candu di antara kita, agar dibilang masyarakat modern, orang kota. Selepas PHK-pun sama saja, tidak ada yang sama sekali berubah, seakan rutinitas, kebutuhan untuk keberlangsungan hidup, dan satu-satunya cara untuk memenuhi persyaratan hidup ini adalah dengan hutang dan mencicilnya lewat gaji kecil istriku.

“Jadi gimana pak?”

Kali ini akhirnya dia yang memulai duluan. Istriku kini duduk di sebelahku. Rambutnya hitam dikuncir, matanya terlihat berkantung, lelah karena bekerja dari subuh hingga maghrib, lalu langsung disambut dengan masalah hutang piutang. Rutinitas sih baginya, masalah hutang piutang ini bukan pertama kalinya, tapi mungkin terparah. Tapi lihat, memang seperti narkoba persoalan ini, sudah kelihatan efeknya tapi tetep candu, dan aku tidak yakin dia bisa mendengar 30 juta keluar dari mulutku. Kujawab seadanya, sepantasnya, aku tidak ingin membuatnya kena penyakit stroke mendadak gara-gara ini.

“Yah, dia bilang hutangnya bisa berlipat lagi. Kalo kita tetep gak bayar nanti, yah, dia nyerah. Bilang kalo bakalan ada orang lain yang ngurusin kita, lebih tega katanya…”

“Yah kalo dia ngelakuin apa-apa sama bapak, tinggal kita lapor.”

Dia menjawabnya ringan, memang ada beberapa kasus yang masuk televisi soal penyiksaan dari debt collector yang dikirim dari bank, tapi pertanyaan sesungguhnya adalah apa dia mau aku diapa-apakan (kan yang ditelevisi, kalo tidak salah, sampe mati), dan apakah aku juga punya nyali untuk melapornya?

“Gak gitu mah, maksudku kita harus cari duit.”

Aku akhirnya segera menjawab langsung ke intinya, walau jelas intinya tentang keselamatanku sendiri.

“Gimana? Masih ada yang bisa dihutangin? Bapak mau hutang lagi?!”

Ah, mulai lagi, kini aku yang mulai tersinggung. Nadanya terdengar menyebalkan, sangat menjengkelkan, seakan aku yang dia tuduh satu-satunya biang kerok disini.

“Terserah mamah lah, aku udah capek berantem soal ginian.”

Aku akhirnya menyerah berbicara dengannya, membaringkan badanku, dan tiba-tiba istriku berucap nama suatu wilayah.

“Gunung Kawi pak.”

“Apa?”

Aku kembali memberdirikan tubuhku, berusaha mencerna apa yang istriku katakan.

“Gunung Kawi, tadi aku denger ibu-ibu ngomongin itu.”

“Kenapa gunung Kawi? Dimana itu?”

Istriku melotot ternganga, tidak percaya bahwa aku sama sekali tidak tahu menahu soal gunung ini. Dia seakan menyatakan gunung ini sama terkenalnya dengan gunung merapi dan gunung sumeru, dan aku serius menyatakan bahwa aku tidak pernah mendengar sama sekali perihal gunung ini.

“Malang, Wonosari. Aduh bapak kok gak tahu, tempatnya tuh terkenal banget. Kata ibu-ibu, bisnis suami mereka pada sukses habis ke sana, rejeki ngalir. Tahu ibu Somad? Duh, itu ibu jujur banget, katanya anaknya sukses gara-gara dia bawa kesana.”

Pikiranku langsung tertuju pada ucapan bapak penagih hutang tersebut, ‘nge-sugih’, bahwa hasil uangku berasal dari yang gaib-gaib.

“Kamu serius?”

“Serius. Aku telpon saudaraku biar dia beliin tiket sama kamu bisa tinggal bentar disana. Anak-anak sekalian deh kamu bawa pergi, sekalian liburan, daripada kerjaannya cuman nonton tv di rumah.”

Istriku menjawab mantap, dan aku tak bisa melawannya. Dia segera pergi menuju handphone galaxy S10nya di tas, dan aku hanya duduk pasrah di ranjang ini, membaringkan tubuhku kembali, berpikir bahwa siapa tahu benar, pokoknya apapun demi hutang ini terbayar.


cerbung.net

Gunung Kawi

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2017 Native Language: Indonesia
Terlibat hutang, Rian memutuskan untuk menjadi pesugihan di Gunung Kawi yang terkenal mistis dan mampu membuat orang kaya dalam waktu semalam. Namun dia tidak sadar bahwa terdapat konsenkuensi berat dari tindakannya tersebut.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset